Sore itu Sia bertengkar hebat dengan mama dan Lia. Hanya karena hal sepele tapi membuat semua amarah yang tersimpan di dalam hati selama ini keluar layaknya peluru yang tershimpan di dalam pistol dan siap ditembakkan.
"Aku nggak mau satu sekolah dengan Lia!" protes Sia.
"Kenapa? Harapan Mulia adalah sekolah terbaik di kota ini. Mama mohon kali ini saja turuti permintaan mama. Jangan kecewakan mama lagi. Sudah cukup kamu menyakiti mama dengan mengambil papa kamu dari sisi mama. Jadi mama mohon, sekolahlah di Harapan Mulia," mohon Mama dengan air mata yang berlinang di atas pipinya.
Sakit, itulah yang dirasakan oleh Sia. Entah sampai kapan mamanya akan terus menyalahkan dirinya mengenai kematian papanya. Dan setiap kali Sia membantah ucapan mamanya, wanita paruh baya itu selalu berhasil membuat Sia menurut padanya hanya dengan mengingat penyebab papanya meninggal.
"Itukah yang ada dipikiran mama selama ini? Bukankah mama sendiri yang bilang di hari kematian papa jika kepergian papa selamanya adalah takdir!? Tapi mengapa sekarang mama menyalahkanku lagi?" tanya Sia dengan nada sedikit meninggi. "Jika memang aku memang penyebab kematian papa. Mengapa mama tidak membiarkan aku meninggal bersama papa hari itu!?"
Kedua mata wanita paruh baya itu membesar. "Jika bukan karena pesan papamu, mama lebih memilih hidup papamu daripada dirimu yang pada akhirnya akan selalu menyusahkan mama seperti ini," ucapnya dingin.
Hancur sudah hati Sia, layaknya sebuah kaya yang jatuh berkeping-keping diatas lantai. Seperti itulah hatinya saat ini. Belum kering luka akibat kematian papanya yang terjadi begitu saja, mamanya sudah menorehkan lagi luka diatasnya.
Suara gelegar petir di luar rumahnya seolah-olah menggambarkan bagaimana besarnya pertengkaran diantara ibu dan anaknya. Sia menelan salivanya dengan sulit. Mencoba membendung cairan bening yang meminta keluar dari pelupuk matanya.
"Itukah isi hati mama yang sebenarnya?" ucap Sia lirih. "Kalau begitu kenapa mama tidak bunuh Sia aja sekarang!" teriaknya histeris. Pandangan matanya mulai kabur akibat air mata yang terus memaksa keluar. Jika itu memang keinginan mamanya, Sia rela jika harus pergi dari dunia ini, asalkan mamanya sendiri yang membunuhnya!
"Sudah cukup Sia!" teriak Lia yang berada disisi mamanya sejak tadi. "Minta maaf sama mama! Masih bagus kamu masih bisa hidup sampai sekarang karena mama masih kasihan sama kamu!" tambahnya.
Sia mendengus. "Kalian ibu dan anak sama saja." Selesai berkata, Sia memutar tubuhnya keluar rumah. Menerobos derasnya air hujan dan menghiraukan teriakan Lia yang terus memanggil namanya.
Di bawah guyuran hujan yang deras, Sia terus melangkahkan kakinya tanpa arah. Menghiraukan tubuhnya yang dingin akibat hujan yang masih turun tanpa berniat berhenti. Seakan-akan membantu Sia menutupi kesedihan yang dimilikinya saat ini.
Tanpa disadarinya, ia telah berdiri di tepi lampu merah. Mobil lalu lalang di depannya. Berlomba-lomba mencapai tempat tujuan mereka. Dan di manakah tempat tujuanku saat ini? Kemanakah aku harus melangkahkan kakiku sekarang? Hatinya membatin.
Perlahan Sia berjongkok dan menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Perlahan bahunya mulai berguncang. Di bawah tetesan hujan, suara tangisan yang keluar dari bibir Sia mencoba mengalahkan suara derasnya hujan. Ia terus menangis, berharap setelah menangis sepuasnya ia akan kembali menjadi sosok Sia yang cuek, kuat dan tegar ketika menghadapi mama dan kakaknya. Perlahan Sia mulai tenggelam di dalam kesedihannya hingga sepasang sepatu kets putih itu tertangkap pandangan matanya yang kabur.
Ia mengangkat wajahnya dan detik itu juga menemukan wajah datar seorang laki-laki. Apakah ia memiliki masalah yang sama denganku?
Dan siapa yang menduga jika pertemuan itu kembali mempertemukan kami dan nyatanya pertemuan itu membuat Sia kembali merasakan kesedihan, bukannya kebahagiaan.
***
"Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya mama pada Sia pada saat mereka membereskan peralatan makan malam.
"Baik," jawabnya singkat.
"Baguslah. Mama tidak mau mendapat panggilan dari sekolah karena ulahmu. Jadi bertingkahlah yang baik, jangan kecewakan mama lagi."
Sia memilih menjawab ucapan mamanya dengan gumaman.
"Oh iya Lia, kamu harus mengenalkan pacarmu pada mama. Bukankah katamu dia laki-laki yang baik?"
"Iya, lain kali ma. Kali ini kami sedang sibuk," jawab Lia dengan senyuman kebahagiaan di bibirnya. Ia melirik Sia yang tampak sibuk dengan piring-piring kotornya. "Sia juga tau kok William setampan apa," lanjutnya dengan sengaja membuat piring di tangan Sia tergelincir. Untungnya tidak pecah namun suaranya mengagetkan semuanya.
"Sia! Hati-hati! Kamu mau merusak piring-piring mama?" omel Mama.
"Maaf, aku tidak sengaja," sahutnya pelan. Ia tahu Lia sengaja berkata seperti itu. Lia hanya ingin membuktikan jika laki-laki tampan itu adalah miliknya. Tapi tidak tahukah Lia jika ia cukup tahu diri. Sejak dulu, Sia tidak pernah mengambil milik kakaknya. Sebaliknya, papa mengajarkannya untuk mengalah. Sehingga hingga sekarang Sia-lah yang selalu mengalah pada Lia. Dan itu berlaku untuk saat ini. Meski harus Sia akui jika hatinya mulai berkhianat tapi ia akan tetap bertahan. Demi papa yang disayanginya.
***