"Apa Sunbae tadi sudah lama mengawasiku?" Tanya Sonya penasaran. Mereka sudah duduk di atas rerumputan hijau, saling berhadapan. Tidak ada tempat teduh di atas mereka. Sinar matahari menyinari langsung ke arah Sonya dan Kang Joon, sedikit membuatnya kepanasan. "Ya, aku sudah lama berdiri disana." Jawab Kang Joon dengan singkat. Namun senyuman manis tentu saja menempel di wajahnya. Membuat jantung Sonya berdebar tidak tentu arah. "Hah?" Sonya baru sadar jawaban Kang Joon. "Jadi... Sunbae tahu kalau aku membohongi Ha Na?" Sekali lagi Sonya bertanya dengan nada penasaran. Kang Joon menganggukkan kepala sekali atas jawaban yang ia berikan pada Sonya. "Kenapa tidak protes sama sekali, Sunbae?" "Aku menikmati kebohonganmu, berharap akan menjadi nyata. Bisa berduaan denganmu. Dan sekarang, benar-benar menjadi nyata?" Sonya mengerutkan kedua alis. Meskipun paham tapi dia sengaja melontarkan pertanyaan polos pada Kang Joon. "Apa maksud Sunbae bicara seperti itu?" "Karena aku—," Kang Joon menyadari kalau jam pelajaran sudah lewat beberapa menit yang lalu. Cekatan, laki-laki itu berdiri tegak. Sonya yang tidak sabar menunggu jawaban dari Kang Joon, langsung mendengus kesal melihat Kang Joon berdiri di depannya. "Ayo kita masuk kelas sekarang." "Tapi—," Kang Joon menyembunyikan senyum karena gemas melihat ekspresi Sonya. Lantas, dia mengulurkan kedua tangan untuk membantu Sonya berdiri. "Kita lanjutkan nanti saat pulang sekolah."
***
Sonya bernapas lega. Guru yang masuk pada jam pelajaran pertama tidak ada. Kelas kosong. Saat masuk kelas, Sonya merasa ada sorot mata tajam mengawasi pergerakannya dari sudut ruangan. Ya, sepasang mata milik Ha Na. Namun, Sonya mengabaikannya begitu saja. Dia fokus dengan Da Young yang menduduki kursi miliknya. "Pergi dari bangku itu." Bisik Sonya pada Da Young yang sudah di hadapannya. Sonya berharap tidak ada yang mendengar suaranya. "Tidak mau. Silakan duduk disini." Sahut Da Young tidak peduli kalau Sonya duduk di bangkunya. Sonya mengedikkan bahu acuh. Lalu, dia mengabaikan Da Young, dan duduk di kursinya. "Aku bisa membantumu dekat dengan Kang Joon. Mungkin aku perlu informasi dari nenek dia apa saja yang disukai Kang Joon." Ucap Da Young. Sonya masih mengabaikan Da Young. "Mungkin dia akan bangga karena kamu mengetahui segala hal tentang dia. Aku yakin dia akan sangat tertarik padamu." "Aku bisa melihat nenek Kang Joon, untuk apa aku perlu bantuanmu, bodoh?" Sahut Sonya dengan lantang. Gerakan malas, Sonya menenggelamkan wajah di antara kedua tangan yang ada di atas meja. "Hmm.. Tapi kamu tidak tahu keberadaannya, bukan?" Da Young sepertinya berhasil membuat Sonya tertarik padanya. "Aku juga jarang melihat nenek Kang Joon." Sonya penasaran seraya menegakkan kepala. Dia terkejut melihat Da Young sudah berdiri di sebelahnya. "Ayo bekerjasama." Penuh semangat sembari bertepuk tangan di depan d**a, ditambah senyum lebar membuat Da Young seperti seorang manusia. "Aku tidak pernah tertarik denganmu sejak awal. Bahkan aku tidak mungkin mengikuti ide burukmu ini. Aku bisa saja bertanya langsung pada Kang Joon apa makanan kesukaannya." "Kamu benar-benar keterlaluan. Hantu saja muak denganmu." Teriak Da Young sebelum pergi meninggalkan Sonya. Tidak mau kalah berteriak, Sonya beranjak berdiri. "Hei, kenapa kamu membuatku seakan menjadi manusia jahat, dasar hantu tidak tahu diri!" Seluruh orang dalam kelas langsung memfokuskan pandangan ke arah Sonya. Dengan tatapan tajam. "Sakitmu semakin parah saja." Celutuk salah satu teman Sonya yang duduk paling depan—bernama Jang Ki Moon. Wajahnya yang menoleh ke belakang ke arah Sonya langsung meluruskan pandangan. Sonya menggebrak meja secara kasar. "Hei, aku tidak sakit. Hentikan!" Sonya setengah menjerit. Sebelum dia berdiri untuk mendekati Ki Moon, Sonya menatap tajam Da Young. Kemudian dia berjalan ke depan kelas. "Bisa kauulangi lagi perkataanmu?" Ucap Sonya sedikit menantang Ki Moon. Mereka sudah saling berhadapan. Sonya pasrah andai saja harus bertengkar dan berakhir di meja guru.
"Kamu gadis gila." Jawab Ki Moon dengan wajah bahagia sudah menjawab kalimat itu. "Apa kamu tidak terima? Semua orang sudah tahu." Ki Moon menyapu pandangan ke arah teman-teman secara bergantian, berharap mereka menyetujui ucapannya barusan.
"Ya benar, kamu memang gila." Jawab Go Mi—gadis yang duduk tepat di belakang Ki Moon. Nada bicaranya enteng tanpa dosa. Bahkan tersenyum licik ke arah Sonya.
Pintu kelas sengaja terbuka lebar. Agar kondisi kelas Sonya terpantau oleh guru-guru yang melewati ruangan itu.
Sonya sudah tidak bisa menahan emosi. Sebuah buku yang tergeletak di atas meja, mungkin itu milik Ki Moon, telah berhasil mendarat sempurna ke wajah Ki Moon. Sedangkan buku lainnya, menyusul mengenai wajah Go Mi.
"Hei!" Secara bersamaan, Ki Moon dan Go Mi berteriak histeris. "Aku akan menuntutmu atas penyerangan ini. Kamu tahukan? Orangtuaku jaksa?" Ujar Go Mi, mengancam Sonya.
Sonya menghela napas panjang sembari membuang wajah. Lantas, dia mengusap hidung dengan cepat sebelum membalas ucapan Go Mi.
"Aku akan menuntutmu juga karena sudah membully." Sahut Sonya, bergantian menatap Ki Moon dan Go Mi.
"Bahkan aku juga bisa menuntut kalian semua." Sonya menaikkan sebelah sudut bibir dan melipat kedua tangan di depan d**a. Bola matanya menelusuri seluruh ruangan dan tersirat sebuah ancaman dari sorot matanya.
"Hei, kamu tidak tahu diri. Kamu bahkan tidak memiliki teman disini. Kamu berani mengancam kita?" Dae Ri tidak tahan oleh kalimat Sonya, termasuk sikap gadis itu sudah mulai kelewatan.
Dae Ri berjalan menuju Sonya ke depan kelas.
Sonya mendelik tajam melihat kehadiran Dae Ri. "Aku tidak takut. Aku punya bukti bahkan saksi saat kelian semua mengataiku gila. Itu sudah termasuk pembullyan secara verbal, paham?" Sonya meninggikan suara, berharap Dae Ri goyah.
Benar, Dae Ri mulai khawatir. Wajahnya yang sebelumnya menantang Sonya, berubah sedikit ketakutan. "Kenapa diam saja, hah?" Teriak Sonya ke Dae Ri.
Dae Ri sudah terlanjur maju ke depan. Dia tidak mungkin kembali ke bangku tanpa membalas perbuatan Sonya. Hal itu akan membuatnya malu setengah mati di hadapan teman-teman.
Terpaksa Dae Ri mendorong tubuh Sonya hingga jatuh terpental ke lantai. Beruntung kepalanya terselamatkan. "Hei! Kurang ajar." Teriak Sonya sambil mengelus p****t berulang kali. Benturannya lumayan kasar. Dia meringis kesakitan.
Sonya berusaha bangkit. Lalu, dia akan mengayunkan tangan untuk mendaratkan ke wajah Dae Ri sebagai pembalasan. Sayang sekali, sebuah tangan berhasil menahan gerakan Sonya dari belakang.
Mungkin itu guru. Batin Sonya.
Dugaannya salah besar. Sonya menjerit keras karena orang itu menghalanginya. Refleks, kepala Sonya memutar ke belakang untuk mencari tahu seseorang disana.
Hah, Kang Joon.