"Sunbae." Lirih Sonya. Amarah yang memuncak sirna sudah setelah melihat kehadiran Kang Joon berada di dekatnya. Lantas, Sonya menundukkan wajah menahan tangis, tangannya sibuk mengusap pipi.
"Tenang, ya. Jangan emosi, aku mohon." Pinta Kang Joon seraya meraih tangan Sonya, lalu membawanya ke suatu tempat yang sepi.
Yaitu di belakang sekolah.
Sonya masih menundukkan wajah, pasrah akan dibawa pergi kemana oleh Kang Joon. Bahkan, kalau saja Kang Joon membawanya mati, Sonya akan tetap ikut bersamanya tanpa melakukan protes sekalipun.
"Sunbae," Sonya tiba-tiba memeluk Kang Joon dengan erat. Dia menangis sepuasnya, menenggelamkan wajah di d**a Kang Joon, membiarkan seragam sekolah Kang Joon basah oleh air mata.
Tidak perlu menunggu lama, Kang Joon langsung membalas pelukan Sonya, sesekali mengusap ujung rambut Sonya.
Gadis yang kesepian dan menderita. Melihat semua itu di diri Sonua, membuat Kang Joon semakin tertarik pada Sonya.
Setelah memeluk tubuh Kang Joon, Sonya merasa lebih baik setelah melepaskan kesedihannya. Meskipun kesedihan itu bisa datang kembali, setidaknya sekarang bisa berkurang.
"Maafkan aku memelukmu tanpa izin." Ucap Sonya setelah menjauhkan diri dari Kang Joon.
"Kamu bisa sedih juga, ya?" Kang Joon tak perlu bertanya apa yang dialami Sonya. Dia sudah mengawasi sejak tadi. Yang perlu dilakukan Kang Joon sekarang menghibur Sonya. Sampai membuat gadis itu tersenyum dan ceria lagi. "Senyum dong, aku kangen sama senyumanmu." Goda Kang Joon sembari mengusap ujung kepala Sonya, lagi.
Sonya malah memasang wajah cemberut. Namun, dia tidak memberontak. Malah menikmati sentuhan tangan Kang Joon yang hangat.
Tidak disangka juga, Kang Joon langsung dicium oleh Sonya tepat bagian bibirnya yang berbentuk sensual itu. Sonya mencium Kang Joon dalam keadaan mata terpejam.
Sedangkan Kang Joon, dia sedikit terkejut, membuat bibirnya terbuka lebar.
"Terima kasih sudah menghiburku, Sunbae." Ucap Sonya. "Aku merasa bahagia Tuhan sudah mengirimkan malaikat tanpa sayap padakuz."
"Aku malaikat tanpa sayap?" Tanya Kang Joon, menunjuk dirinya sendiri. Lalu, dia tersenyum lebar.
"Ah... Malas deh." Sonya memukul keras d**a Kang Joon. "Sunbae, mau jadi pacarku tidak?"
Kalimat itu membuat Kang Joon ternganga kedua kalinya.
Sonya tidak bernapas beberapa detik, menunggu jawaban Kang Joon. Dia tidak berharap kalau kakak kelasnya itu akan menerima untuk menjadi kekasihnya.
Tanpa diduga, Kang Joon langsung menganggukkan kepala cepat, dan penuh semangat.
Hal itu membuat Sonya bahagia setengah mati. Lantas, Sonya memeluk lagi Kang Joon yang sudah berstatus menjadi kekasihnya.
"Apa aku harus memanggil Sunbae dengan panggilan Oppa?"
Kang Joon memutar dua bola mata, lalu tersenyum tipis. Pertanda kalau dia setuju dipanggil dengan sebutan Oppa.
"Yaudah, kita masuk ke kelas ya sekaramg" Ajak Kang Joon setengah membujuk Sonya.
"Kapan kita akan pergi berkencan?" Tanya Sonya. Nadanya terlalu bersemangat, gerakan genit Sonya membuat Kang Joon mengerutkan kening namun masih mengulas senyum. "Oppa, kapan kencan pertama kita? Aku sudah tidak sabar melakukan kencan denganmu."
Kang Joon tersipu malu melihat tingkat Sonya yang menggemaskan. Berulang kali dia membuang wajah menahan senyum agar tidak terlepas.
"Astaga. Kenapa langsung berpikir kencan, sih?" Kang Joon menyibakkan tangan ke wajah Sonya agar gadis itu terdiam. "Bagaimana kalau nanti malam kita berkencan?"
Sonya mengangguk penuh semangat. Senyum lebar menghiasi wajahnya yang mungil. "Aku akan berpenampilan seksi. Tunggu saja dan lihat aku."
Kang Joon menggeleng tidak setuju. "Tidak perlu seksi. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat keseksianmu."
"Jadi?" Tanya Sonya, penasaran.
"Jadi apa, maksudnya?" Kang Joon tambah penasaran.
"Ah, lupakan saja." Sonya menggigit bibirnya. "Yuk, kita masuk kelas sekarang." ajak Sonya.
***
Sonya membuang beberapa pakaian yang ia ambil dari dalam lemari. Tidak ada yang cocok ia gunakan untuk berkencan. Terpaksa sekali, dia memutuskan menggunakan celana kulot berbahan jeans dan kemeja cokelat. Rasanya dia sudah lama tidak berbelanja pakaian.
Baiklah. Mulai sekarang, Sonya akan lebih rajin berbelanja pakaian untuk digunakan berkencan dengan Kang Joon.
Sonya terkejut. Ketika menutup lemari pakaian. Hantu wanita cantik muncul begitu saja dari balik pintu lemari.
Meskipun Sonya bisa melihat hantu, dia masih bisa merasa ketakutan kalau hantu mengagetkannya secara tiba-tiba.
"Tolong temukan buku tabungan di kamarku. Berikan ke orangtuaku, aku mohon." Hantu itu bernama Nam Soon. Suaranya lembut, membuat Sonya sedikit luluh.
Sonya hampir hilang kesadaran. Dia hampir saja terbuai oleh permintaan hantu itu. Untung saja Sonya langsung teringat Kang Joon. Ya, dia harus pergi kencan dengannya.
"Jangan ganggu aku, pergi darisini sekarang juga." Teriak Sonya sedikit galak.
Akibat keberadaan hantu itu, Sonya lupa untuk bercermin. Jadi, dia pergi tanpa polesan Make Up.
Sepanjang jalan menuju taman, dimana ia bertemu dengan Kang Joon, Sonya memikirkan hantu itu. Padahal rumah Sonya sudah diberi perisai oleh Nenek, kenapa masih ada hantu yang bisa masuk menembus ke rumahnya.
***
Setelah pulang berkencan, Kang Joon mengantar Sonya pulang kerumahnya. Tanpa disengaja, mereka bertemu Ibu Sonya saat akan memasuki lingkungan rumah mereka.
Ibu Sonya marah besar melihat putrinya pergi bersama laki-laki lain, dan pada larut malan juga mereka baru pulang. Ibu mana yang tidak marah melihat pemandangan seperti ini.
"Sonya, Ibu sudah bilang jangan berhubungan lagi dengan dia. Ibu tidak setuju dan sangat tidak setuju." Ibu Sonya menarik lengan Sonya secara paksa agar menjaga jarak dengan Kang Joon.
Kang Joon hanya pasrah.
"Ibu tidak berhak memisahkan aku dengan Sunbae. Aku sudah berpacaran dengannya." Sonya secara terang-terangan mengakui hubungannya itu ke Ibu. Hubungan yang baru ia jalani beberapa jam lalu.
Ibu tidak terkejut untuk pengakuan itu. Sejak Kang Joon datang kerumah, Ibu sudah memastikan kalau mereka bukan sekedar teman saja.
"Ibu tidak punya hak melarangku berhubungan dengan siapa saja." Sonya berusaha mendekati Kang Joon. Malah dia mendekap lengan Kang Joon dengan erat.
"Sonya, hentikan." Ibu Sonya tambah murka melihat Sonya semakin nekat.
"Apa Ibu pernah ada di sisiku, saat aku sedih dan terpuruk? Saat aku dibully teman-teman? Hanya Sunbae yang ada dan menghiburku. Ibu sangat payah."
"Sonya, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu harus patuh karena dia Ibumu. Keluarga yang kamu miliki." Kang Joon melepaskan diri dari Sonya. Sedikit menjaga jarak, agar Ibu Sonya tidak terlalu membencinya.
"Tapi, Ibu hanya status saja. Dia tidak ada peran penting dalam hidupku. Dia tidak pernah memberiku kasih sayang." Sonya menatap Kang Joon penuh nanar.
Kang Joon ingin memeluk Sonya tapi tidak mungkin itu terjadi.
"Sonya, kamu semakin tidak sopan dengan Ibu, ya?" Ibu langsung menyeret tubuh Sonya dengan kasar, membawa masuk ke dalam rumah.
Kang Joon menghela napas panjang. Tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu menyangkut masalah keluarga.