‘’Aku heran deh, Nel. Tumben kamu kayak gini,’’ cecar Mas Deno sambil menyunggingkan bibirnya kala berada di mobil. Aku yang masih fokus menyetir menoleh sejenak lantas tersenyum tipis.
‘’Heran kenapa? Wajarlah aku kayak gini ke suamiku sendiri. Ada-ada aja kamu, Mas,’’ sahutku sembari menggelengkan kepala lalu fokus kembali menyetir.
‘’Aku tuh pengen suami aku kayak lelaki lain penampilannya,’’ imbuhku meliriknya sejenak lalu kembali fokus memandangi jalanan.
Semoga dia tak curiga dengan sikapku agar semua rencanaku berjalan dengan lancar. Kini aku lebih banyak diam dan fokus menyetir, jadi kami tak begitu banyak mengobrol.
Selalu saja isi pesan dari si pelakor itu menari-nari di benakku, membuat hatiku teriris dan rasa benci hadir pada si lelaki yang duduk di sampingku ini. Tak berselang lama, aku telah tiba di depan Transmart. Bergegas memarkirkan mobilku.
‘’Yuk, Mas!’’ ajakku kepada lelaki yang masih bergeming sedari tadi.
‘’Ah, iya, Nel.’’ Aku dan Mas Deno bergegas memasuki Transmart. Dia mengenggam erat tanganku, aku memandanginya sejenak.
‘’Andai saja kamu tipe lelaki yang setia, Mas,’’ batinku. Aku menggeleng berkali-kali lantas menghembuskan napas gusar.
‘’Nel, kamu kenapa?’’ Dia menatap heran wajahku. Mungkin dia terdengar bunyi helaan napasku.
‘’Ah, enggak apa-apa kok, Mas. Yuk kita jalan!’’
Aku bergegas menarik tangan kekarnya lantas kembali melangkah. Mataku tertuju ke pakaian untuk pria yang begitu tampak keren dengan gaya kekinian tentunya. Perlahan kulepaskan genggaman tanganku dari Mas Deno.
‘’Ke sini deh, Mas!’’ panggilku tatkala dia melangkah ke lain arah.
‘’Kamu yakin mau belikan baju kayak gini buat aku?’’ tanya Mas Deno di saat aku sedang asyik memilih pakaian yang cocok untuknya.
‘’Yakinlah, Mas,’’ sahutku singkat tanpa menoleh.
‘’Ah, ini kayaknya cocok deh untuk kamu.’’
Celana jins berwarna hitam dan baju kaos dengan gaya kekinian, jika Mas Deno yang memakai ini aku yakin dia akan tambah kelihatan tampan dan lebih muda.
Tentu akan membuat si pelakor itu tambah lengket dan jatuh cinta sama suamiku. Ah, membayangkannya saja membuat hatiku kembali tergores. Bukankah ini semua rencanaku?
Aku mengukurkan ke tubuh kekarnya, dia tampak kebingungan.
‘’Nah, iya kan. Apa kubilang, kamu tampan banget kalo pake baju ini. Keliatan lebih muda.’’ Aku terkekeh sedangkan wajahnya tampak kebingungan.
‘’Mas, kok malah bengong? Yuk temenin aku ke kasir!’’ Aku menepuk pundak Mas Deno pelan setelah selesai memilih pakaian untuknya.
‘’Ah, iya. Kamu nggak shoping dulu? Aku yang bayarin nanti.’’
‘’Nggak usah, Mas. Sekarang yang penting kamu aja dulu ya. Bajuku udah banyak di rumah, nggak kepake juga mubazir kan. Kapan-kapan ajalah,’’ kilahku.
Dia tampak mengangguk.
‘’Mas, Mas! Capek aku bersandiwara di depan kamu. Rasa sakit hati ini nggak bisa aku hilangkan,’’ batinku sembari tersenyum sinis.
Aku bergegas melangkah menuju kasir dan membayar semua belanjaanku.
‘’Kok kamu yang bayar? Emang uangmu banyak? Kan uang mingguan belum aku kasih.’’
Dia berbisik di belakangku ketika aku menyerahkan uang kertas ratusan beberapa lembar. Dia tak tahu jika aku punya penghasilan sendiri selama ini, bahkan aku punya tabungan sendiri. Aku diam-diam menulis di KBM, di aplikasi itu ada sistem bagi hasilnya.
Lumayan untuk tambahan biaya hidupku dan Naisya sehari-hari, bahkan uangnya berlebih. Jika terjadi sesuatu nantinya dengan rumah tanggaku, jadi aku masih bisa membiayai hidup putriku.
‘’Nggak apa-apalah, Mas. Sekali-kali kok aku pake uang tabunganku,’’ ucapku lirih dan kembali memasukkan dompet ke tas mewah yang kusandang.
‘’Makasih, Mbak.’’ Karyawan yang duduk di kasir itu tampak tersenyum ramah setelah aku membayar semua belanjaanku.
Aku mengangguk lantas tersenyum. Untung saja Mas Deno tak menanyakan perihal tabunganku, darimana uang yang kutabungkan itu didapatkan. Aku tak mau mengatakan pekerjaanku yang sebenarnya kepada lelaki itu.
Sehari-hari aku menulis di platform KBM dan aku di sana di bayar perbulan. Alhamdulillah, tulisanku disukai banyak orang, terutama ibu rumah tangga yang gemar sekali membaca tulisanku. Juga di sosmed i********: aku juga aktif, followers di sana juga sudah banyak.
Mas Deno masih bergeming berdiri di belakangku.
’’Yuk, Mas!’’ ajakku menarik pelan tangan kekarnya. Oh iya, seketika aku teringat sesuatu. Aku bergegas memanggil wanita yang berseragam yang tengah berdiri di ambang pintu toko.
‘’Mba, Mba!’’ panggilku melambaikan tangan. Dia menoleh dengan tatapan ragu.
‘’Sa—saya?’’
‘’Ah, iya.’’ Aku mengangguk dan bergegas menghampirinya.
‘’Ada yang bisa saya bantu, Mba?’’ tanya wanita berseragam itu dengan ramah.
‘’Aku mau nanya nih, di sini ada tempat mengganti pakaian khusus pria nggak, Mbak?’’ tanyaku, karena sejak tadi mataku tak menemukan ruangan khusus untuk mengganti pakaian lelaki.
‘’Ada, di sebelah sana. Mari saya anter!’’ Dia bergegas melangkah. Aku mengikutinya dan Mas Deno tampak kebingungan, lantas aku menarik tangannya.
‘’Nah, ini, Mbak!’’ tunjuk wanita berkerudung ke ruangan itu.
‘’Ah, ya. Makasih banyak, Mbak.’’
‘’Sama-sama, saya tinggal dulu.’’ Aku mengangguk lantas tersenyum.
Wanita berseragam itu seketika hilang dari pandanganku. Aku memandangi lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu, dia tampak kebingungan.
‘’Mas, ayo cepat ganti baju kamu! Pake ini aja!’’
Aku merogoh kantong belanjaan dan memilih pakaian yang menurutku cocok untuknya. Lantas menyodorkan ke lelaki yang tampak bergeming sedari tadi.
‘’Emangnya kita mau ngapain sih, Nel? Kayak mau syuting aja,’’ sungut suamiku, dia tak kunjung meraih baju yang telah kusodorkan sedari tadi.
‘’Mas, Mas! Jangan gitu dong, sesekali turutin kemauan aku napa.’’ Aku tersenyum tipis memandangi wajah tampannya yang dirundung kebingungan.
‘’Sesekali kamu bilang? Bukan cuma sesekali aja, bahkan udah sering aku turutin kemauan kamu!’’ kesal suamiku tampak dari raut wajahnya itu, aku terkekeh pelan.
‘’Iya, iya deh. Cepat sana, ganti bajumu!’’ Aku kembali menyodorkan baju secara paksa ke tangannya dan mendorong tubuh kekarnya itu ke dalam ruangan khusus.
Dengan terpaksa dia menutup pintu ruangan itu, dia sejenak menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
‘’Disuruh mengganti penampilan aja payah!’’ rutukku sembari menggeleng.
Tak berselang lama, lelaki itu sudah tampak lebih muda dengan pakaian baru yang dikenakannya. Membuatku terkesima dengan penampilannya yang sudah berubah, mulutku terpenganga dibuatnya dan jantungku berdentam hebat. Seolah seperti aku jatuh cinta pada pandangan pertama kembali. Ah, ini tak boleh.
‘’Nel! Kamu nggak boleh kayak gitu, yang ada semua rencanamu nanti gagal!’’ Aku mengingatkan diri sendiri, aku menggeleng berkali-kali. Tampak lelaki itu menutup kembali pintu dan melangkah mendekatiku.
‘’Kok tatapanmu kayak gitu? Apa aku terlalu tampan?’’ ucap Mas Deno dengan pedenya dan menghenyak di sampingku.
‘'Banget, tapi kamu pengkhianat, Mas!’’ Aku membatin.
‘’Nel!’’ panggilnya kembali.
‘’Ah iya, kamu terlalu tampan untuk aku, Suamiku.’’ Entah kenapa aku spontan saja mengatakan seperti itu.
‘’Maksud kamu?’’ Dia tampak terheran.
‘’Ah, maksudku kamu tuh tampan banget. Nggak selevel denganku, secara kan aku jelek.’’ Aku menyunggingkan sedikit bibirku.
‘’Lah, kok kamu ngomong kayak gitu? Kamu tuh cantik banget, Nel.’’
‘’Cantik? Kalo aku cantik nggak mungkin kamu nyari wanita lain lagi di luar sana, Mas!’’ Aku membatin.
‘’Kan aku ngomong apa adanya, Mas. Salah?’’ ketusku.
Seketika aku teringat sesuatu. Ya, aku tak bisa mengundur-undur waktu lagi, hari ini harus kutuntaskan semuanya.
‘’Ma’af, aku cuma bercanda. Jangan terlalu diambil hati deh, Mas,’’ lirihku kembali.
‘’Yuk kita ke mobil!’’ ajakku menarik tangan Mas Deno, lantas menggandeng tangan kekarnya itu walau dengan terpaksa aku lakukan.
Aku bergegas melangkah menuju tempat parkiran mobil dan menghidupkan mesinnya, tampak Mas Deno masih bergeming. Entah apa yang tengah dipikirkannya.
Seketika lewat wanita berpakaian selutut dan menampakkan lekuk tubuhnya itu. Aku mau tahu bagaimana seorang Deno ketika melihat wanita yang berpakaian terbuka, atau dia malah sok menjaga matanya untukku. Dia kan suka berbohong dan bersandiwara.
‘’Hei, Mas! Sendirian aja? Boleh kenalan?’’ sapa wanita itu dengan genit.
Dia menyodorkan tangan mulusnya, baju yang dikenakannya tak berlengan membuat kulit mulusnya itu lebih kelihatan. Aku masih memantau Mas Deno dari dalam mobil.
‘’Ah, berdua. Aku udah punya istri.’’
Dia tampak menelungkupkan kedua telapak tangannya di d**a dan itu membuatku muak, ingin muntah rasanya.
Dasar lelaki bermuka dua! Di depanku dia seolah seperti lelaki baik dan setia. Lalu di belakangku lain lagi, bermain dengan si pelakor.
Cuih! Aktingmu sungguh luarbiasa. Kamu kira aku bakalan percaya begitu saja, kalau kamu bukan tipe suami yang mudah tergoda dengan wanita secantik dan seterbuka itu.
Seketika tampak kekecewaan di wajah wanita itu. Dasar w*************a! Apa si pelakor pakaiannya juga seterbuka itu?
‘’Oh ya? Ma’af kalo gitu.’’ Dia bergegas meninggalkan Mas Deno dengan raut kekecewaan.
Aku menggeser sedikit mobilku agar mendekat ke arah Mas Deno berdiri. Kuturunkan kaca mobil.
Dia menoleh.’’Nel, kamu jangan salah paham dulu, ya? Tadi tuh dia ngajak kenalan, aku langsung bilang kalo aku udah punya kamu,’’ ucapnya bermanis mulut.
‘’Aku udah tahu gimana kelakuan kamu yang sebenarnya, Mas!’’ Aku membatin.
‘’Hemm!’’ Aku hanya menyahut dengan berdehem.
Mas Deno bergegas memasuki mobil dan menghenyak di sebelahku. Tanpa bicara dan tanpa menoleh aku bergegas melajukan mobil.
Tak habis pikir dengan sandiwara yang diperbuat oleh Mas Deno, dia pikir aku tak tahu tentang pengkhianatannya terhadapku. Aku bukan wanita bodoh yang bisa dikhianati terus-menerus. Dasar lelaki bermuka dua!
‘’Nel, kamu marah ya?’’ panggilnya lirih.
‘’Hemm!’’ Aku menyahut hanya dengan berdehem, masih fokus menyetir mobil.
‘’Tuh kan kamu marah, aku minta ma’af. Dia sendiri yang menggodaku dan udah aku katakan kalo aku punya istri,’’ jelas Mas Deno panjang lebar.
Bagaimana pun kamu memberikan penjelasan terhadapku, tetap saja aku tak bakalan mempercayaimu lagi. Karena kamu sudah terlanjur menyakiti hatiku, empat tahun lamanya kamu berkhianat di belakangku. Setega itu kamu terhadapku, Mas.
‘’Iya deh, aku ma’afin. Tapi awas saja kalau kamu berani berkhianat di belakangku, Mas!’’ Spontan ke luar dari mulutku.
Dan jari telunjuk kananku menunjuk ke arahnya. Membuat muka Mas Deno berubah seketika, seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Ya, apalagi kalau bukan pengkhianatannya itu kepadaku.
‘’Kok ka—kamu bicara kayak gitu, Sayang? Kamu ngga percaya sama suamimu ini?’’ lidahnya seperti kelu.
Aku tersenyum sinis dan masih fokus menyetir mobil. Ah iya, seharusnya aku lebih bisa bersabar lagi agar semua rencanaku berjalan dengan lancar.
Ini entah kenapa mulut tak bisa diajak kompromi. Dan keinginan begitu membuncah di d**a, ingin melabrak dan memberi pelajaran kepada lelaki di sampingku ini.
‘’Heem! Maksudku gini. Jangan berkhianat di belakangku, karena do’a seorang istri itu cepat diijabah oleh Allah loh.’’ Aku membetulkan ucapan. Membuat dia terpenganga.
‘’Ada temen aku yang diselingkuhi suaminya. Eh, dia mendo’akan suaminya ditabrak mobil. Seminggu setelah itu, do’anya dikabulin Allah deh. Kamu tahu nggak? Suaminya langsung meninggal.’’ Aku melirik sejenak, dia makin terpenganga dan mukanya seketika masam.
‘’Kenapa, Nel? Kamu nggak percaya sama, Mas? Apa kamu meragukan kesetiaanku?’’
Cuih! Sudah muak dan bosan mendengar ucapan rayuan yang keluar dari mulutmu itu! Dasar lelaki pembohong! Darahku benar-benar mendidih kali ini dibuat olehnya.
Untuk meredam amarahku bergegas kutarik napas pelan dan menghembuskannya. Alhamdulillah, terasa lega kali ini hatiku walau masih ada rasa marahku.
‘’Nel!’’ panggil suamiku kembali karena aku tak menyahut ucapannya.
‘’Ah, iya,’’ sahutku lemah.
‘’Apa kamu meragukan kesetiaan, Mas? Kamu nggak percaya sama aku?’’ tanya lelaki itu mengulangi pertanyaannya yang sama. Aku melirik sejenak ke arahnya. Dan kembali fokus menyetir.
‘’Ada-ada saja, Mas. Mana ada seorang istri yang meragukan kesetiaan suaminya dan nggak percaya dengan suami sendiri. Ngaco kamu, istri yang begituan tanda suaminya bermain di belakangnya. Lah, kamu kan nggak bermain bersama wanita lain di belakangku.’’
Kali ini ke luar dari mulutku sendiri dan aku tertawa kecil. Kembali kutelusuri wajah tampannya itu, dia semakin terperanjat saja dengan ucapanku barusan dan berusaha menyembunyikan muka pengkhianatannya itu.
‘’A—aku nggak mungkinlah mengkhinati kamu,’’ sahutnya dengan bibir kelu, tampak keringat dingin membasahi wajah tampannya. Aku terkekeh dan meraih tissue di depanku lantas menyodorkan ke Mas Deno.
‘’Nih, Mas! Ada AC mobil loh, kok masih terasa panas?’’ Perutku sakit menahan tawa dan menunjuk seketika ke AC yang tengah hidup. Dia tampak gelagapan.
‘’Ah, ya. Mu—mungkin karena udara hari ini terlalu panas.’’ Seketika lidahnya kelu dan mukanya berubah.
Dia bergegas meraih tissue yang kusodorkan dan menyeka keringat dingin yang sedari tadi menetes di wajahnya. Begitu saja kamu sudah keringat dingin, Mas. Hingga tak berfungsi lagi AC di mobil ini.
‘’Ini belum seberapa, Mas!’’ Aku membatin dan tersenyum sinis.
Bersambung.