Sepertinya Mas Deno masih kecewa padaku, tampak saja dari raut wajahnya. Aku yakin, dia pasti kecewa karena aku menolak untuk hamil lagi. Lelaki seperi Mas Deno cukup satu anak.
Aku tak kan sudi untuk hamil lagi, sekali pun dia memaksaku. Aku tersenyum menatap suamiku yang sejak tadi cuma mengaduk-aduk nasi saja, dia seperti tak ada selera untuk menyantap makanan di depannya.
‘’Lah, Mas kamu nggak suka masakan aku?’’ tanyaku berpura-pura.
Tadi akhirnya aku memutuskan untuk memasak walau aku sempat merasa malas untuk memasakkan seleranya. Akan tetapi aku harus berpura-pura bersikap seperti biasa yang tak tahu-menahu tentang perselingkuhannya. Supaya rencanaku berjalan dengan lancar.
Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
’’Bukan. Aku nggak ada selera aja,’’ sahut suamiku lemah.
‘’Dasar kamu, Mas! Aku tahu kamu pasti kepikiran ucapanku tadi pagi yang menolak untuk hamil lagi. Iya kan? Lelaki kayak kamu itu nggak bisa punya anak banyak!’’ batinku sembari menyuap nasi ke mulut.
‘’Ka—kamu sakit, Mas? Apa kita ke rumah sakit aja siap sarapan?’’ Aku mulai berakting.
Aku pun bisa berakting, bahkan lebih luarbiasa aktingku daripada kamu. Oke, kamu lihat saja nanti ya?
Dia menggeleng secepatnya.’’Nggak usah, aku cuman nggak enak badan aja.’’ Dia bergegas bangkit dan meninggalkan piring yang masih tersisa nasi di sana.
‘’Lah, ke mana, Mas? Habiskan dulu napa sih, paksakan makan.’’
Dia tak menyahut ucapanku dan tak menoleh sedikit pun, malah bergegas menuju kamar. Aku menggeleng seketika.
‘’Mas, Mas! Begitu aja kok kamu kepikiran, itu belum seberapa.’’ Aku tersenyum sinis lantas meneguk jus mangga yang tersisa seperempat gelas.
Aku harus mengisi tenaga dulu agar kuat menghadapi kenyataan hidup. Kupaksakan sarapan. Tak lama kemudian.
‘’Bi, bantu aku beresin ini ya?’’ pintaku kepada Bibi Sum.
‘’Baik, Bu.’’
‘’Makasih banyak, Bi.’’
Bibi Sum mengangguk lantas tersenyum khas miliknya. Aku bergegas melangkah menuju kamar. Tampak olehku Mas Deno tengah berbaring di ranjang. Ya, hari ini adalah hari libur kerjanya. Aku menjatuhkan bobotku di ranjang.
‘’Mas, kamu nggak apa-apa kan? Kita ke rumah sakit aja. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu,’’ kataku dengan menyunggingkan bibir. Untung dia tak memperhatikanku.
‘’A—atau Mas marah sama aku, karena aku menolak untuk hamil lagi? Aku tahu Mas marah, tapi Mas harus ngerti juga posisi aku. Aku kasihan banget sama Naisya, kamu tahu kan berapa lamanya kita berjuang untuk mendapatkan Naisya. Jadi, biarlah dia gede dulu.’’
Eh, dia malah langsung bangkit dari berbaringnya.
‘’Nggak apa-apa, aku ngerti kok. Tapi kamu janji ya? Kalo Naisya udah gede sebentar lagi aku ingin kita punya anak lagi.’’
Dia mendekat dan menatap kedua netraku. Ahh! Aku merasa jijik ditatap oleh lelaki pengkhianat seperti dia.
‘’Makasih banyak ya, Mas. Kamu udah ngerti posisi aku.’’
‘’Ya, aku janji deh,’’ imbuhku kemudian, yang membuat dia tersenyum.
‘’Oh iya, kayaknya aku perlu melakukan sesuatu deh,’’ batinku sembari menatap wajahnya yang kusam dan kurang terawat.
Aku perhatikan akhir-akhir ini wajahnya tampak kusam dan tak terawat padahal dia berselingkuh di luar sana, biasanya orang berselingkuh akan selalu merawat badan.
Bahkan sering pergi ke salon demi untuk menyenangkan hati kekasih gelapnya itu. Ini kenapa malah tak terurus begini? Kenapa masih mau si pelakor sama dia?
‘’Sama-sama, Sayang. Nah, gitu dong.’’ Dia menoel hidungku.
Aku merasa jijik, lalu berusaha berpura-pura tersipu malu memandanginya.
‘’Oh iya, Mas. Sekarang kan kamu libur. Kita jalan-jalan ke luar yuk!’’ ajakku seketika karena aku punya rencana yang luarbiasa. Dia seketika diam sejenak.
‘’Ke mana, Nel?’’ Dia menatapku.
‘’Ada deh, mau ya? Kapan lagi coba, Mas,’’ sungutku dengan nada manja.
‘’Ya udah. Sekarang aja kita pergi?’’
‘’Umm! Bagus juga, Mas. Kalo gitu kita siap-siap dulu.’’
‘’Naisya tinggalin sama Bibi Sum aja ya?’’ Aku bergegas bangkit.
‘’Lah, kenapa? Biasanya jalan-jalan ke luar bawa Naisya, ini kenapa nggak dibawa?’’ Dia tampak terheran menatapku.
‘’Aku ingin berduaan dulu sama kamu, Mas,’’ ujarku dengan nada manja. Duuh! Aktingku luarbiasa!
Dia tertawa kecil.’’Duuh! Kamu ini bisa aja ya Sayang. Ya udah deh,’’ sahut Mas Deno dengan pasrah. Aku tersenyum sinis. Susah juga berpura-pura romantis ya.
Aku bergegas beberes dan mengganti pakaian, karena tadi pagi aku sudah melakukan ritualku jadi hanya mengganti pakaian saja.
Oh iya, Naisya kembali terlelap setelah meneguk s**u botol yang tadi kuberikan. Tak berselang lama aku sudah rapi dengan pakaianku. Dan begitupun dengan Mas Deno sudah tampak rapi dengan pakaiannya.
‘’Yuk, Mas! Biar nanti di luar aku bilang aja ke Bibi kalo Naisya sedang tidur, nanti suruh Bibi yang jagain.’’
Aku menyandang tas mewah yang berukuran kecil dan memasukkan benda pipih. Dia mengangguk dan mengikutiku melangkah ke luar. Tampak Bibi Sum tengah beberes di ruang tamu. Seketika matanya tertuju padaku.
‘’Mau ke mana, Bu?’’ Dia memberhentikan pekerjaannya.
‘’Mau ke luar jalan-jalan, Bi. Oh ya, Naisya lagi tidur di kamar. Bibi jaga Naisya, ya?’’ pintaku.
Seketika Bibi tampak terheran. Kuyakin ada yang tengah mengganjal dipikirkannya, karena kemarin aku habis curhat ke Bibi.
‘’Bi, bolehkan?’’ panggilku kemudian.
‘’Eh, iya, Bu. Bolehlah, masa enggak.’’ Dia terkekeh.
‘’Makasih, Bi. Kalo gitu aku pamit dulu.’’
‘’Sama-sama. Hati-hati ya, Bu.’’
‘’Hemm! Pak.’’
Aku mengangguk lantas melangkah keluar dari rumah menuju garasi. Mas Deno membuka pintu mobil.
‘’Mas, biar aku yang nyetir ya. Bolehkan?’’
Tangan kekarnya terhenti ketika membuka pintu mobil dan menoleh padaku. Dia sepertinya heran memandangiku.
’’Kamu kan udah lama nggak nyetir, Sayang. Emang bisa?’’
‘’InsyaaAllah, bisa kok, Mas.’’ Aku tersenyum tipis.
‘’Ya udah, tapi hati-hati ya.’’ Aku bergegas menggantikan posisinya menyetir.
Aku akan bawa kamu ke suatu tempat Mas, makanya aku memutuskan untuk mengambil alih menyetir mobil. Dengan berhati-hati aku menyetir.
Kulirikkan sedikit mata ke arah Mas Deno tampak dia terayun dalam lamunannya. Ahh! Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
Atau tengah membayangkan si pelakor itu? Aku jadi penasaran, seperti apa selingkuhannya itu dan secantik apa dia? Kenapa suamiku bisa tergoda dengan perempuan murahan seperti dia?
Motor dan mobil berlalu lalang di samping mobil yang kukendarai, untung aku pernah menyetir dulunya ketika Naisya belum lahir. Angin sepoi-sepoi menerbangkan ujung kerudungku dan membuat mata terasa mengantuk.
‘’Humm! akhirnya sebentar lagi kita sampe juga, Mas,’’ batinku sambil menyunggingkan bibir.
Tak berselang lama, mobil kami sudah memasuki pekarangan salon perawatan itu.
‘’Loh, ini ke salon perawatan? Katanya kita mau jalan-jalan tadi. Kenapa ke sini?’’ Dia bingung menatapku yang tengah menepikan mobil di parkiran.
‘’Kita ke sini dulu, Mas. Kapan lagi coba.’’ Aku tersenyum menatapnya yang tengah kebingungan.
‘’Yuk turun!’’ ajakku yang bergegas membuka pintu mobil. Dia masih bergeming di dalam mobil.
‘’Mas, ayolah turun!’’ Akhirnya dia pun turun. Dan mata Mas Deno tak henti-hentinya memandangi tempat salon perawatan itu sebelum memasukinya.
‘’Ini salon perawatan untuk pria?’’
Aku tertawa kecil.’’Iya, Mas. Yuk masuk! Ntar malah rame lagi.’’ Aku mengenggam erat jemarinya walau terpaksa.
Lalu langsung memasuki tempat salon itu. Seketika pria tampan yang kuperkirakan usianya lebih muda dariku itu menghampiri kami.
‘’Ada yang bisa dibantu, Mas?’’
‘’Ah, iya. Tolong bantu suamiku ini ya. Mas tahu kan apa yang harus dilakuin?’’
‘’Oke, Mba. Tahu.’’ Dia memandangi penampilan suamiku sejenak lalu mengangguk disertai senyuman kecil. Mas Deno mukanya sedari tadi tampak kebingungan tak jelas.
‘’Nel, ka—kamu serius?’’ bisiknya seketika.
Secepatnya aku mengangguk lalu tertawa kecil.
’’Iya, Mas. Aku ingin suamiku ini lebih tampan.’’
‘’Yuk, Mas!’’ ajak pria muda itu seketika.
Mas Deno malah menatapku, aku memberikan kode dengan mengangguk. Akhirnya dia pun bergegas membuntuti pria tukang salon itu. Aku tersenyum sinis.
‘’Baik banget kan aku? Semoga deh semua rencanaku berjalan dengan lancar,’’ gumamku sembari menjatuhkan bobot di kursi tunggu.
Mas, Mas, kamu belum tahu siapa aku sebenarnya!
Cukup lama aku menunggu Mas Deno yang disaloni oleh pria itu. Sementara aku bergegas merogoh tas kecil mewah yang berisi benda pipih.
Lalu aku mengedarkan pandangan untuk memastikan kalau Mas Deno tak kan melihat apa yang tengah kulakukan. Aman! Aku bergegas mengganti kartu lama dengan kartu baruku.
‘’Selamat siang, Mba! Oh ya, apa Mba sibuk sekarang? Kita ketemuan yuk di café! Kalo Mba nggak sibuk sih, soalnya aku ingin lebih dekat lagi dengan Mba. Kalo boleh sih dan aku juga nggak maksa kok.’’ Kuketik pesan di aplikasi hijau itu dan mengirimkan ke kontak yang bertuliskan ‘’P’’.
Tampak sudah centang dua, tetapi belum berwarna biru. Itu artinya belum diread sama si pelakor itu. Aku menghembuskan napas pelan lantas kembali kuedarkan pandangan. Ternyata Mas Deno belum selesai juga. Kembali kutatap benda pipih itu dan seketika bergetar di tanganku.
‘’Selamat siang juga, Melda! Nggak kok, kebetulan aku libur hari ini. Wah, aku malah udah rencanain mau ngajak kamu. Eh, malah kamunya yang duluan bilang ke aku. Aku bisa kok, kirim aja nanti alamat cafenya ya. Kalo bisa bawa Mas Deno sekalian, heheh,’’ balasnya diakhiri emoticon tertawa.
Aku tersenyum sinis. Aku bergegas memasukkan benda pipih itu kembali ke tas, takut jika Mas Deno mengintip. Kuedarkan pandangan kembali. Ah! Benar saja dia sudah selesai, mulutku terpenganga memandangi lelaki yang menorehkan luka di hatiku itu.
‘’Ya Allah aku baru menyadari, ternyata suamiku tampan banget jika terawat. Humm, tapi sayang dia pengkhianat!’’ Aku membatin dan terkesima dengan lelaki yang sedang bergeming berdiri di sana.
Secepatnya aku menepis rasa yang muncul itu. Ya, aku tak boleh terkesima dengan ketampanan lelaki itu. Nanti malah jadi penghambat bagiku untuk menuntaskan semua rencanaku. Aku tak mau jadi wanita bodoh untuk selamanya.
‘’Jangan bodoh, Nel!’’ Aku memperingati diri sendiri. Aku harus bisa bersikap seperti biasa saja. Dia tampak melangkah ke arahku.
‘’Nel, gimana penampilanku yang sekarang?’’ tanya Mas Deno ketika sudah berada di dekatku.
‘’Ummm, gimana ya?’’ Aku lekas bangkit dan memandanginya dari ujung kaki hingga kepala.
‘’Tampan banget, suamiku.’’ gumamku.
Aku berusaha untuk menepis itu semua dan menggeleng berkali-kali membuat lelaki yang berada di depanku ini seperti terheran dengan sikapku.
‘’Nel? Kamu bilang apa?’’
‘’Enggak ada kok, Mas.’’
‘’Ah, iya, Mas. Bagus sih, tapi bajumu ini harus diganti supaya lebih tampan dan kayak anak muda lagi.’’ Aku merapikan baju yang menggantung di tubuhnya itu lantas tersenyum.
‘’Setelah ini kita shoping,’’ tambahku.
Aku bergegas melangkah menuju kasir membayar biaya salonnya. Mas Deno mengikutiku dengan wajah kebingungan tampak dari raut mukanya.
‘’Yuk, Mas!’’ ajakku ketika telah selesai membayar biayanya dan melangkah ke luar dari tempat salon, kugenggam jemarinya dengan erat walaupun terpaksa.
Semoga rencana selanjutnya berjalan dengan mulus