Di kantor, Leonar menyapa beberapa karyawan yang berlalu-lalang di lobi, termasuk asisten pribadinya—Amelia Septa. Kebetulan sekali Amelia ada di sana. Ia harus memberitahu tentang meeting yang akan mereka lakukan pukul sembilan nanti. Leonar juga harus mencari berkas yang dimaksudkan Franklyn dan segera mempelajarinya, karena waktunya tidak banyak. “Amel, tolong siapkan file presentase untuk meeting nanti. Saya harus cari berkasnya di ruangan Pak Frank. Meeting-nya jam sembilan, jadi kamu juga harus mempelajarinya,” ujarnya.
Amelia sedikit terkejut. “Kenapa mendadak, Pak?”
“Karena saya juga baru tahu pagi ini,” kata Leonar. “Harusnya Pak Frank yang ada dalam proyek ini. Berhubung beliau lagi cuti, saya yang menggantikannya.”
“Baik, Pak. Akan saya siapkan semuanya, Pak.”
Leonar mengangguk lalu berjalan meninggalkan Amelia—menuju ke ruangan Franklyn. Sementara Amelia masih menatap punggung Leonar yang semakin menjauh. Tatapan matanya terlihat sendu, seakan mengerti apa yang dirasakan oleh Leonar saat ini. Senyuman yang Leonar berikan padanya pagi ini adalah sebuah senyum palsu—untuk sekedar menutupi kesedihannya karena pernikahan yang terjadi semalam. Amelia juga tahu bagaimana sakitnya cinta yang dipendam sendirian dalam hati. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang mengalami hal itu nanti.
“Gimana kalau gue juga ngalamin hal kayak gitu? Dia nikah sama cewek lain, terus gue? OMG! Nggak kebayang gue,” Amelia membatin.
Leonar membuka satu per satu laci meja kerja Franklyn. Semua berkas ia periksa, dan akhirmya ia menemukan dua berkas yang dibutuhkan. Senyuman manis terlihat di bibirnya. Setelahnya, ia keluar dari sana dan masuk ke ruangannya yang berada tepat di samping ruangan Franklyn. Leonar begitu serius mempelajari berkas tersebut, karena proyek di dalamnya sangatlah penting untuk kemajuan perusahaan Dixon Company yang dibangun oleh Ayahnya itu. Ia harus bisa memenangkan proyek ini, agar tidak mengecewakan Ayahnya.
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Leonar. Ia menatap kearah pintu, dan mempersilahkan seseorang di luar sana untuk masuk. Dilihatnya Amelia sudah datang membawa Macbook serta buku notes dan alat tulis di tangannya. Leonar tersenyum lalu mempersilahkan Amelia untuk duduk tepat di depannya.
“Ini berkasnya,” kata Leonar. “Kita harus segera membuatnya, karena waktunya nggak banyak.”
Amelia menerima berkas tersebut sambil menghidupkan Macbooknya.
“Maaf ya, jadi ngerepotin kamu,” ujar Leonar.
“Enggak apa-apa, Pak. Ini udah jadi tugas saya.”
Leonar tersenyum. “Makasih ya.”
“Iya, Pak.”
Keheningan pun tercipta. Keduanya mulai fokus pada tugasnya masing-masing. Sesekali mereka berbincang mengenai teknik penyampaian serta beberapa perbincangan lainnya agar klien percaya dan bersedia untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan mereka. Perbedaan pendapat pasti ada, tapi mereka mampu menyelesaikannya dengan solusi yang terbaik tentunya.
Selang beberapa menit, mereka sudah selesai dengan tugasnya. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk beristirahat sejenak sebelum pertemuan dengan klien dimulai. Amelia sendiri masih berada di sana sambil mematikan Macbooknya dan merapikan berkas yang diperlukan. Sesekali ia melirik kearah Leonar yang sedang melamun. Amelia menghela napas pelan. Ia ingin memberanikan diri bertanya tentang Franklyn dan Devina. Mungkin ini terlihat tidak sopan, tetapi rasa penasaran-lah yang mengalahkannya.
Amelia berdeham. “Pak.”
“Ya?”
“Gimana Pak Frank dan istrinya?” tanya Amelia.
“Mereka baik,” jawab Leonar.
Amelia mengangguk. “Terus, gimana sama bapak? Bapak baik-baik aja?”
Leonar menaikkan satu alisnya sesaat, kemudian hanya mengangguk.
“Kalau baik-baik aja, kenapa ngelamun?” tanya Amelia lagi.
“Oh....” Leonar membenarkan posisi duduknya yang semula bersandar, “Saya cuma lelah aja.”
Amelia tahu bahwa jawaban itu bukan berasal dari hati Leonar. Ingin rasanya ia membantu, tetapi apalah daya Amelia. Ia bukanlah siapa-siapa. Dirinya hanya seorang asisten pribadi dan tidak berhak ikut campur dalam masalah pribadi atasannya. Amelia juga tidak ingin memaksakan rasa penasarannya lagi. “Ya udah, kalau gitu saya permisi dulu,” ujarnya.
Leonar hanya mengangguk. Amelia pun beranjak dari sana, namun sebelum itu ia kembali berucap, “Kalau butuh teman curhat, saya siap dengerin, Pak.”
Setelahnya, Amelia keluar dari ruangan tersebut. Sementara Leonar tampak tersenyum menanggapi ucapan asistennya itu.
“Dia emang ngertiin gue banget,” ujar Leonar.
***
Di rumah, Franklyn dan Devina terlihat sedang asyik menikmati keripik kentang sambil menonton film kesukaan mereka. Keduanya juga sangat mesra dan saling menyuapi satu sama lain. Sesekali mereka tertawa saat melihat adegan komedi yang ada di film tersebut. Namun sesaat setelah itu, Devina mendadak murung. Wajahnya sedih dan menarik perhatian Franklyn.
“Kamu kenapa?” tanya Franklyn.
“Tiba-tiba aku kepikiran Leo, deh,” jawab Devina.
“Ngapain kamu mikirin dia?”
Devina mendengus. “Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh. Aku itu cuma bingung aja sama sikap Leo tadi. Dia itu datar banget pas ngomong sama aku. Kamu merhatiin nggak sih?”
“Enggak.”
“Ih, kok jutek?”
“Lagian kamu yang bikin aku jutek,” jawab Franklyn.
“Loh, kok aku?”
Franklyn menghela napas pelan. “Ya ngapain juga kamu nanya soal sikapnya Leo? Mau dia jutek, atau datar, itu bukan urusan kita. Mungkin aja dia emang lagi nggak mau ngobrol sama kita. Jadi, ngapain kamu pusing mikirin dia? Bikin bete aja.”
“Ih, cuma nanya gitu aja salah?” tanya Devina.
“Ya salah-lah. Aneh kamu.”
“Ya ampun!” Devina menepuk dahinya. “Aku nanya juga ada alasannya, Frank. Nggak biasanya Leo sikapnya dingin gitu sama aku. Biasanya dia ramah banget loh. Apa dia nggak suka ya kalau aku jadi kakak iparnya?”
Franklyn hanya menaikkan kedua bahunya—pertanda bahwa ia tak tahu dan tidak mau tahu soal Leonar. Kalau Leonar tidak suka dengan pernikahan ini, itu urusan dia. Yang terpenting, Franklyn sudah memiliki Devina seutuhnya. Jadi, masalah apapun yang dialami Leonar, bukanlah urusannya. Toh, mereka sudah sama-sama dewasa. Pasti sudah bisa menyelesaikan masalahnya masing-masing.
“Ih, tanggapan kamu nggak asyik!” seru Devina kesal.
Franklyn membanting remote tv, kemudian berdiri. Devina turut berdiri dengan wajah terkejutnya. Tatapan mata Franklyn juga begitu tajam, sehingga membuat Devina sangat susah untuk menelan salivanya. “Udah aku bilang, kamu nggak perlu mikirin Leo! Kalau kamu mikirin Leo, kenapa nggak nikah aja sama dia?! Jadi kamu bisa tahu dia kenapa!” kata Franklyn dengan nada meninggi.
“Maaf....”
“Kita ini baru nikah ya. Jadi, jangan cari masalah!”
“Tapi, kan aku cuma....”
“Aku tahu!” seru Franklyn—menyela ucapan istrinya. “Tapi kamu nggak perlu terus-terusan kepo sama dia! Dia itu cuma adik ipar kamu! Ingat itu! Kamu nggak ada hak mikirin dia!”
Setelah berkata seperti itu, Franklyn langsung menuju ke kamar—meninggalkan istrinya yang menangis di ruang keluarga karena teriakannya. Franklyn seakan tidak peduli dengan Devina. Ia justru mengunci pintu kamar dan tetap membiarkan Devina menangis sendirian.
Di kamar, Franklyn tampak begitu kesal. Bahkan ia mengacak-acak seluruh isi kamar untuk melampiaskan kekesalannya. Ia kesal karena istri yang dicintainya masih memikirkan pria lain selain dirinya. Meskipun Leonar adalah adik kandungnya, tetapi tetap saja Devina tidak berhak memikirkan Leonar. Hal itu juga yang membuat sifat posesifnya mencuat kepermukaan—seakan tak rela istrinya memikirkan orang lain.
“Apa pantes, hah?!” teriak Franklyn dari balik pintu—dengan harapan Devina mendengarnya. “Apa pantes seorang istri mikirin cowok lain, selain suaminya?!”
Devina mendengar itu. Tangisannya semakin menjadi. Tanpa sengaja, ia sudah membangunkan amarah dalam hati suaminya. Ia sungguh menyesal.
“Apa kamu nggak mikir gimana perasaan aku?! Harusnya kamu mikir!” teriak Franklyn lagi.
Devina mendekati pintu kamarnya. Ia menangis sesenggukan sambil berkata, “Maafin aku, Frank. Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku cuma heran aja lihat sikap Leo tadi. Aku mohon, jangan marah.”
“Nggak akan aku maafin!”
“Frank, tolong jangan kayak anak kecil,” ujar Devina.
“Anak kecil? Kalau aku anak kecil, kenapa kamu mau nikah sama aku, hah?! Kenapa nggak nikah aja sama Leo yang menurut kamu lebih dewasa?!” teriak Franklyn.
Bukannya meredakan amarah, ucapan Devina justru semakin memperkeruh keadaan. Devina semakin menyesal telah mengatakan suaminya seperti anak kecil. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Ayah dan Ibu mertuanya sudah pergi, dan dia harus meminta bantuan kepada siapa? Kepada Leonar juga tidak mungkin karena akan semakin memperburuk keadaan. Meminta maaf juga tidak ada gunanya karena Franklyn sudah terlanjur marah besar.
“Frank, maafin aku,” ujar Devina memohon. “Aku pilih kamu, karena aku sayang sama kamu.”
“Omong kosong!”
“Aku mohon, percaya sama aku, Frank,” kata Devina.
“Aku nggak bisa percaya sama cewek yang masih kepo sama urusan cowok lain!”
Devina menghela napas berat. “Dia bukan cowok lain, Frank. Dia adik kamu.”
“Bagi aku, itu sama aja!”
Franklyn masih tetap pada pendiriannya. Ia tidak ingin memaafkan Devina sampai istrinya itu benar-benar merubah kebiasaannya memikirkan Leonar.
“Apa yang harus aku lakuin supaya kamu maafin aku, Frank?” tanya Devina.
“Mulai malam ini, kamu tidur di kamar tamu,” jawab Franklyn.
Devina terkejut. “Maksudnya, kita pisah ranjang?”
“Bukan cuma pisah ranjang, tapi pisah kamar,” kata Franklyn.
“Tega ya kamu, Frank!”
Franklyn mendecih. “Bodoamat! Kamu kan yang mulai! Ya harus terimalah resikonya!”
“Tapi kan....”
“Nggak ada tapi-tapi,” ujar Franklyn menyela sambil membuka pintu kamar untuk bertatapan dengan istrinya. “Keputusan aku nggak bisa diganggu lagi.”
Mau bilang apa lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya. Franklyn sudah terlanjur kecewa pada Devina, dan Devina harus bisa terima itu semua. Meskipun kesalahannya tidak terlalu fatal. Akan tetapi, Devina juga harus mengambil pelajaran dari ini semua. Seharusnya ia bisa lebih menjaga perasaan suaminya.
“Oke. Aku bakal turutin apa mau kamu, Frank.”