Setelah melewati perdebatan panjang dengan suaminya, Devina memilih untuk pergi. Entah kemana tujuannya saat ini. Yang jelas, dirinya ingin menenangkan diri dengan cara menyendiri. Ia tak mengerti kenapa suaminya begitu sensitif saat dirinya membahas tentang Leonar. Padahal, Devina tidak punya maksud apapun. Dirinya hanya khawatir dengan perubahan sikap Leonar semenjak pernikahannya dengan Franklyn terjadi. Devina berpikir bahwa adik iparnya itu tidak setuju dengan pernikahan ini. Itu terlihat jelas dari tatapan Leonar terhadapnya pagi tadi.
Devina mengembuskan napas lelah. Ia menepikan mobilnya, kemudian bersandar di kursi kemudi. Kepalanya terasa pusing karena memikirkan suaminya yang saat ini tidak ingin bertemu dengannya. Padahal mereka baru saja menikah. Harusnya hubungan mereka masih sangat romantis. Devina sungguh menyesali perbuatannya tadi. Kenapa dia harus membahas Leonar di depan suaminya? Jika saja rasa penasarannya itu bisa dilawan, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Devina meraih ponsel yang ia letakkan di dashboard, kemudian menekan nomor yang tertera di layar. Ia butuh teman curhat kali ini. Jika ia menyimpannya sendiri, mungkin pusing di kepalanya akan bertambah dua kali lipat nantinya. Dan ia memilih untuk menceritakan hal ini kepada Leonar? Nomor yang ia hubungi adalah nomor Leonar? Bagaimana jika Franklyn tahu? Mungkin masalah mereka akan bertambah besar.
“Ih, kenapa di-reject sih?!” Devina mengerutu kesal.
Ternyata, orang yang diharapkan dapat membantu dirinya justru tidak bersedia menerima panggilannya. Itu sudah jelas karena Leonar sudah berjanji untuk tidak berharap lagi pada Devina, dan membuka lembaran baru. Namun, sepertinya Devina tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba untuk menghubungi Leonar kembali, meskipun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya.
“Ini anak kenapa sih?! Aneh banget!” ujar Devina. “Coba sekali lagi deh. Mungkin dia lagi sibuk tadi.”
Devina mencobanya sekali lagi, dan akhirnya terdengar suara Leonar dari sana. Suara itu terkesan datar dan seperti terpaksa menerima panggilan tersebut. “Ada apa? Gue lagi meeting,” ucap Leonar.
“Ih, jutek amat sih!” seru Devina kesal. “Gue mau curhat, Leo.”
“Sorry, gue sibuk.”
Sambungan terputus begitu saja. Hal ini membuat Devina kesal setengah mati. Baru kali ini Leonar menolaknya mentah-mentah—tidak seperti dulu—sebelum pernikahannya dengan Franklyn terjadi. Devina merasa kehilangan sahabatnya sendiri, dan ia berasumsi bahwa mungkin memang benar Leonar tidak menyukai pernikahan ini. Astaga! Drama ini semakin rumit saja.
Devina tidak punya pilihan lain. Ia harus menemui Leonar dan membicarakannya secara langsung. Ia juga ingin tahu, apa maksud Leonar bersikap seperti ini padanya. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Devina ingin semuanya kembali normal dan tidak ada suasana keruh seperti ini.
Wanita bermata hazel ini pun melanjutkan perjalanannya menuju Dixon Company. Ia tidak terlalu mempedulikan bagaimana nanti jika Franklyn tahu ia menemui Leonar. Saat ini yang ingin ia pedulikan adalah perubahan sikap Leonar terhadapnya. Ia ingin tahu alasan adik iparnya itu menjauhi dirinya.
***
Baru saja Leonar ingin menyandarkan bahunya di kursi, Amelia masuk dan memberitahukan kepadanya bahwa ada seseorang yang ingin bertemu. Hal itu membuat alis tebal Leonar tertaut dengan tatapan bingung kearah Amelia. Siapa yang ingin menemuinya? Jika itu klien, sudah pasti ia tahu jadwalnya. Ia juga baru saja selesai meeting dengan kliennya. Apa ada hal yang belum sempat mereka tanyakan? Begitulah pemikiran Leonar saat ini.
“Siapa?” tanya Leonar.
Amelia membuka lebar pintu ruangan Leonar. Terlihatlah sosok Devina di sana tengah menatapnya sendu. Leonar pun terkejut melihat kedatangan kakak iparnya itu ke kantor. Bukan apa-apa. Leonar hanya takut jika nanti kakaknya akan salahpaham padanya. Ia juga tidak ingin ribut dengan Franklyn hanya karena kesalahpahaman ini.
“Lo ngapain kesini?” tanya Leonar.
Sebelum Devina menjawab, Amelia pamit dari ruangan tersebut dan meninggalkan mereka berdua. Amelia seakan sadar bahwa dirinya tidak berhak berada di sana untuk mendengarkan masalah keluarga mereka.
“Gue kesini karena lo nggak mau ngobrol sama gue di telepon tadi,” jawab Devina.
“Gue sibuk, Dev.”
Devina menggeleng sambil duduk berhadapan dengan Leonar. Ia tahu jika Leonar berbohong untuk menghindarinya. “Lo itu kenapa, hah?” tanyanya.
“Kenapa apanya?” tanya Leonar balik.
“Ya lo kenapa hindarin gue kayak gini? Gue ada salah apa sama lo?”
Leonar menggeleng. “Lo gak salah kok. Gue cuma lagi nggak mau aja dekat sama lo. Lo kan tahu sendiri gimana posesifnya kakak gue. Gue cuma nggak mau ribut sama kakak gue sendiri.”
“Yang mau lihat kalian berantem itu siapa sih, Leo? Gue itu cuma heran aja sama sikap lo yang tiba-tiba dingin sama gue,” kata Devina.
Leonar hanya diam. Kepalanya sudah sangat pusing memikirkan masalah ini. “Kenapa diam? Jawab dong, Leo,” ujar Devina kesal.
“Sorry, Dev. Gue capek. Mendingan lo pulang, terus urusin Kak Frank. Jangan urusin urusan gue,” ucap Leonar.
“Tapi....”
“Gue lagi nggak mood berdebat sama siapapun, termasuk lo. Jadi, tolong ngertiin gue,” kata Leonar menyela ucapan Devina.
Bahu Devina melemas. Percuma saja ia datang jika sikap Leonar benar-benar berbeda seperti ini. Ia tidak menyangka jika Leonar sebegitu dingin kepadanya. Devina pun beranjak dari sana sambil mengembuskan napas kecewa. Sementara Leonar berusaha menetralkan emosinya yang sangat bergejolak saat ini.
“Maaf, Dev. Mungkin ini lebih baik untuk kita berdua,” batin Leonar.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 wib. Waktunya Leonar untuk beristirahat sejenak dari segala aktivitas kantornya dan memenuhi kebutuhan perutnya yang sudah sangat lapar. Ia juga pusing karena kehadiran Devina tadi. Untung saja ada Amelia yang selalu menghiburnya disaat seperti ini. Leonar merasa bersyukur memiliki asisten yang pengertian seperti Amelia.
Leonar terus menatap Amelia yang begitu asyik melahap makanannya. Sepertinya ia juga sangat kelaparan dan Leonar tersenyum simpul melihat gadis itu. Ia mengambil sebuah tissue kemudian membersihkan noda makanan disudut bibir Amelia. Dan hal itu berhasil membuat sang gadis menghentikan aktivitas makannya.
Melihat ekspresi terkejut Amelia, Leonar tertawa kecil sambil berkata, “Kalau makan, pelan-pelan ya. Nanti tersedak makanan kamunya.”
Amelia mengangguk sambil memalingkan wajahnya kearah lain dengan setengah menunduk. Betapa malunya ia saat ini. Jika orang yang dihadapinya bukan orang spesial, mungkin Amelia tidak akan salah tingkah seperti ini. “Ya ampun, jantung gue,” batin Amelia.
“Amel?”
Amelia segera menatap Leonar. “Ya, Pak?”
“Kok jadi gugup gitu?” tanya Leonar.
“Oh, itu... saya... emm....” Amelia tidak tahu lagi harus menjawab apa. Otaknya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama dalam kondisi seperti ini. Ditambah lagi detak jantungnya juga tidak normal. Astaga! Bagaimana bisa ia melewati situasi seperti ini dimenit selanjutnya?
Leonar masih menatap bingung. “Emm... Apa?”
“Ng-gak apa-apa, Pak,” jawab Amelia dengan cengiran. “Mari, dilanjut makannya.”
Leonar hanya tertawa sambil geleng kepala melihat tingkah aneh asistennya itu. Entah mengapa ia merasa bahwa Amelia sedang menyembunyikan perasaannya saat ini. Itu sangat terlihat jelas dari tingkahnya tadi. Leonar juga tidak ingin membahasnya karena hatinya juga belum terbebas dari Devina. Leonar hanya bisa berharap, semoga suatu saat hatinya bisa terbebas dari nama itu dan menggantinya dengan nama yang lain. Amelia Septa, mungkin?
***
Pekerjaan Leonar saat ini sudah terselesaikan. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan waktunya ia untuk pulang. Badannya terasa begitu lelah karena seharian ini ia disibukkan oleh proyek baru milik Franklyn, juga proyek miliknya. Artinya, ada dua proyek yang harus ia tangani bersama para timnya. Itu sungguh melelahkan, bukan?
Leonar sudah berada di lobi dan berpapasan dengan Amelia yang juga baru akan pulang. Mereka berdua lembur hari ini sampai pukul tujuh malam. Wajah Amelia juga terlihat begitu lelah, sehingga membuat Leonar tidak tega membiarkan gadis itu pulang sendirian dengan kendaraan umum. Dirinya pun menawarkan jasa untuk mengantarkan
Amelia pulang ke rumah dengan selamat.
“Pulang bareng, yuk!” kata Leonar.
Amelia menoleh. “Eh? Nggak usah, Pak. Ngerepotin.”
“Nggak repot kok,” kata Leonar.
Amelia tampak berpikir sejenak. Sejujurnya, ia begitu senang Leonar mengajaknya pulang bersama. Tapi, apa ini tidak merepotkan? Pasalnya, arah rumah mereka berbeda dan jaraknya cukup jauh. Ia juga tidak ingin Leonar merasa kelelahan karena mengantarnya pulang. Apalagi tadi mereka lumayan sibuk.
“Em... Saya pulang naik kendaraan umum aja, Pak,” ujar Amelia kemudian. “Lagian kan rumah kita beda arah, Pak. Jauh lagi jaraknya. Bapak juga kan capek habis ngurus beberapa berkas untuk dua proyek sekaligus.”
“Kamu ini ya. Saya nggak merasa direpotkan. Lagian kenapa kalau jarak dan arah rumah kita beda? Toh, masih di benua dan kota yang sama, kan? Jadi, apa salah saya ngantarin kamu pulang?” kata Leonar.
Amelia tersenyum. “Ya nggak salah sih, Pak. Cuma saya kasihan aja sama bapak. Mungkin lain waktu aja kita pulang bareng, Pak.”
“Nggak.”
Leonar menggandeng tangan Amelia, lalu mengajaknya untuk ke parkiran. Bisa dibilang, Leonar memaksa karena ia tidak tega meninggalkan gadis secantik Amelia pulang sendirian. Jika terjadi sesuatu, bisa-bisa ia yang dituntut oleh keluarga Amelia. Dan untuk menghindari hal itu, Leonar harus memaksa Amelia.
Setelah keduanya masuk kedalam mobil, Leonar menjalankan mobilnya dan perlahan meninggalkan parkiran perusahaan. Di sepanjang perjalanan, Amelia hanya diam saja. Sementara Leonar sesekali melirik gadis itu sambil berdeham dan tentunya mengundang perhatian Amelia.
“Bapak batuk ya?” tanya Amelia.
“Oh, enggak kok. Cuma kering aja tenggorokannya,” jawab Leonar canggung.
Amelia segera membuka tutup botol air mineral yang tersedia di mobil tersebut, kemudian memberikannya kepada Leonar. “Minum dulu, Pak.”
“Makasih ya.”
Keheningan pun kembali tercipta. Sebenarnya, Leonar ingin menanyakan sesuatu pada asistennya itu. Akan tetapi, ia merasa ragu dan mungkin sedikit gugup. Pertanyaan ini sangat bersifat pribadi, dan Leonar takut jika nanti Amelia akan marah atau tidak suka kepadanya. “Emm... Amel,” panggilnya.
“Ya, Pak?”
“Kamu udah punya pacar?” tanya Leonar.
Amelia menggeleng. “Belum, Pak. Kenapa?”
“Kamu serius?”
“Ya, Pak. Saya serius,” jawab Amelia dengan cengiran.
“Tapi, saya nggak yakin.”
Amelia mengernyitkan dahi. “Kenapa bisa nggak yakin, Pak?”
“Ya, karena cewek secantik kamu, nggak mungkin nggak punya pacar,” ujar Leonar. “Semua cowok pasti suka dan kagum sama kamu. Jadi, mustahil kamu nggak punya pacar atau gebetan, kan?”
Amelia tertawa kecil. “Nggak semua cewek cantik punya pacar, Pak.”
“Jadi, beneran?”
“Iya, Pak. Saya belum punya pacar,” kata Amelia. “Tapi, kalau bapak mau jadi pacar saya, nggak apa-apa juga sih.”
Keduanya tertawa bersama. Mungkin, Leonar berpikir bahwa ucapan Amelia hanyalah lelucon belaka.Tetapi, tidak dengan Amelia. Apa yang ia ucapkan adalah hal yang sebenarnya. Itu ungkapan hatinya. Tawa itu hanyalah sebagai kedok belaka untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Entah apa yang akan terjadi jika Leonar mengetahui perasaannya. Mungkin Leonar akan menjauhinya, atau mungkin memecatnya. Jika ia dipecat, ia tidak akan bisa membiayai pengobatan Ibunya nanti. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Itu sebabnya, ia menyimpan sebaik mungkin perasaan itu.
“Oh iya, gimana menurut kamu?” tanya Leonar.
Amelia menaikkan satu alisnya. “Gimana apanya, Pak?”
“Gimana kalau kita pacaran aja.”
Ungkapan Leonar berhasil membuat Amelia terkejut dengan jantung yang berdebar tak normal. Apa ini? Kenapa tiba-tiba saja Leonar mengajaknya untuk berpacaran? Astaga! Mungkin otak Leonar sudah rusak akibat kegagalannya mendapatkan Devina. Dan mungkin juga, Amelia hanyalah sebagai tempat pelampiasan agar Leonar bisa melupakan Devina.
Leonar menatap Amelia. “Kenapa? Kamu nggak suka ya?”
“Oh, ng-gak gitu, Pak. Tapi....”
Amelia kembali terdiam. Ia bingung harus menjawab apa saat ini. Pikirannya benar-benar tidak berfungsi. Ya, Amelia memang menyukai Leonar, tapi apa ia pantas menjadi pendamping Leonar? Status mereka jauh berbeda, dan orang kantor pasti akan menggunjingnya setiap hari. Bahkan mungkin akan terus mengganggu kehidupannya untuk menjauh dari Leonar.
“Tapi, apa?” tanya Leonar.
“Tapi, saya nggak pantes sama bapak,” jawab Amelia.
“Kenapa?”
Amelia mengembuskan napas pelan. “Karena kita nggak sederajat, Pak. Bapak orang kaya, dan saya cuma orang biasa. Saya nggak mau orang kantor gosipin bapak karena pacaran sama saya.”
“Tapi, saya nggak pernah pandang kasta, Amel,” kata Leonar. “Mau kamu orang kaya atau enggak, saya nggak peduli. Saya cuma mau membuka lembaran baru sama kamu. Ya, walaupun saya belum sepenuhnya bisa lupain Devina, tapi saya akan coba. Asalkan kamu, mau ngebantu saya.”
“Bapak yakin?” tanya Amelia.
Leonar mengangguk. “Jadi, mau atau enggak?”
“Iya, Pak.”
Leonar tersenyum senang. Ia mengelus rambut Amelia, kemudian berucap, “Makasih, Sayang.”
Seketika hati Amelia merasa bahagia. Seakan ditumbuhi bunga-bunga nan indah didalamnya.
“Gue janji, bakal buat lo lupa sama Devina,” batin Amelia senang.