Keempat

1118 Kata
Setelah mengantar Amelia, Leonar pulang ke rumah dengan wajah lelahnya. Ia ingin segera membersihkan diri dan tidur di kasurnya. Tubuhnya benar-benar sangat lelah hari ini. Namun, langkahnya terhenti saat melihat rumah yang ia tempati gelap gulita. Tak ada penerangan di sana. Apa listriknya padam? Atau mungkin Franklyn dan Devina sedang pergi ke luar kota untuk bulan madu? Begitulah pemikiran Leonar. Ia segera masuk dan menghidupkan lampu ruang tengah. Kemudian ia mencoba mengetuk pintu kamar Franklyn—hanya untuk memastikan pertanyaan yang ada dibenaknya tadi. Leonar mengetuk pintu tersebut berulang kali, namun tidak ada jawaban. Ia pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Namun, saat ia berbalik, Franklyn keluar dari kamar dan langsung menarik Leonar dengan kasar. Hingga membuat Leonar sedikit oleng karena tarikan tersebut. Leonar terkejut melihat penampilan Franklyn yang sangat berantakan. Matanya merah dan juga berair. Rambutnya juga tidak tersisir dengan rapi. Semuanya terlihat mengejutkan. Leonar mendekati Franklyn dan bertanya, “Kakak kenapa?” Franklyn belum menjawab. Ia masih menatap tajam kearah Leonar. Adiknya itu masih bertanya kenapa? Jelas-jelas masalah ini muncul karena dia. Karena dia-lah Devina pergi dari rumah dan tak kunjung kembali. Franklyn sendiri benar-benar tidak mampu mengontrol emosinya lagi. Ia segera menarik kerah kemeja Leonar, dan menatap tajam dari jarak yang begitu dekat. Rahangnya terlihat mengeras, dan cengkeramannya juga sangat kuat sehingga membuat Leonar harus menelan salivanya. “Lo masih tanya kenapa?” Franklyn mendecih. “Jelas-jelas ini semua salah lo! Lo penyebab kekacauan ini!” “Gue? Emangnya gue buat apa, Kak?” tanya Leonar tak mengerti. “Jangan pura-pura nggak tahu lo! Lo sengaja bersikap dingin sama Devina, supaya dia terus mikirin lo, iya kan?! Dari dulu sampai sekarang, lo itu emang anak pembawa sial! Lo penyebab kebahagiaan gue hancur! Kenapa lo nggak mati aja dari dulu, hah?!” teriak Franklyn. Leonar masih terdiam. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Leonar merasa  bahwa dirinya tidak pernah melakukan apapun, apalagi terhadap Franklyn. Dan, untuk apa juga ia berpura-pura bersikap dingin di depan Devina? Ia melakukan semua itu memang sudah seharusnya. Dirinya cuma tidak ingin menunjukkan rasa sayangnya lagi kepada Devina. Tujuannya adalah ingin membuat Franklyn bahagia. Itu saja. Akan tetapi, semua niat baik Leonar hanyalah isapan jempol belaka. Tidak ada gunanya, karena Franklyn justru merasa bahwa dirinya punya niatan jahat dan ingin memisahkan dirinya dengan Devina. Sungguh pemikiran yang menyakitkan. “Kak, gue nggak pura-pura. Gue nggak punya niatan jahat sama kakak,” kata Leonar. “Bohong!” Bau alkohol sangat tercium dari napas Franklyn. Leonar tahu, jika ada masalah, Franklyn selalu melampiaskannya dengan meminum banyak alkohol. Tak heran jika saat ini kesadaran Franklyn sudah menghilang. Dan Leonar berusaha untuk tetap bersabar, meski hatinya perih dikatai anak pembawa sial. “Kakak terlalu banyak minum. Mendingan kakak istirahat sekarang,” ujar Leonar. Franklyn menepis tangan Leonar dengan kasar. “Istirahat?! Gimana gue bisa istirahat kalau istri gue belum pulang, hah?!” Leonar terkejut. Jadi, Devina belum pulang? Pantas saja, sedari tadi Leonar merasa ada sesuatu yang kurang. Ternyata Devina tidak ada di rumah. Tadinya ia mengira, setelah berkunjung ke kantor, Devina langsung pulang ke rumah. Nyatanya tidak. Apakah Leonar harus mengatakan pada Franklyn tentang kunjungan Devina ke Dixon Company? Jika ia mengatakannya, Franklyn pasti akan semakin beranggapan buruk padanya. “Kakak tenang ya. Nanti gue cari Devina,” ujar Leonar. “Kakak istirahat aja di kamar. Masalah ini, besok pagi aja kita bahas.” Leonar mencoba menuntun Franklyn, namun lagi-lagi ditolak. Franklyn lebih memilih masuk sendiri daripada harus dituntun oleh Leonar. Sementara Leonar kembali keluar untuk mencari Devina. Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Devina. *** Sepanjang perjalanan, Leonar tidak menemukan sedikitpun titik terang. Keberadaan Devina tidak ada dimana-mana. Sudah berapa jam ia keliling kota Jakarta, namun hasilnya nihil. Padahal tubuhnya sudah sangat lelah. Ia ingin segera pulang ke rumah dan beristirahat dengan tenang. Tetapi, jika ia pulang tidak bersama Devina, Franklyn pasti akan semakin marah padanya. Leonar benar-benar tidak punya pilihan lain. Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk mencari Devina. Dan Leonar memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Franklyn ternyata sudah menunggu dirinya di depan pintu. Leonar menelan salivanya. Apa yang harus ia katakan? Devina belum ditemukan, dan sekarang tamatlah riwayatnya. “Mana Devina?” tanya Franklyn. “Ehm... Belum ketemu, Kak,” jawab Leonar. Mata Franklyn kembali menatap tajam Leonar. Ia menarik tangan Leonar, lalu meninju bagian pipi kiri dan perut Leonar berulang kali. Segala emosinya ia luapkan dengan menyakiti adiknya sendiri. Ia memukulnya tanpa jeda sedikitpun—membuat Leonar tak berdaya bahkan sampai muntah darah akibat pukulan yang terlalu keras di perutnya. Setelah puas melampiaskan amarahnya, Franklyn mencengkeraman kerah kemeja Leonar. Ia menatapnya dengan lekat dan berkata, “Gue tahu, tadi dia pasti ketemuan sama lo, kan? Iya, kan?!” “I-ya, Kak.” Franklyn mendecih. “Udah gue duga.” “Tapi, gue nyuruh dia pulang, Kak,” kata Leonar. “BOHONG! LO PASTI NYEMBUNYIIN DIA, KAN?!” teriak Franklyn. “Enggak, Kak. Gue juga nggak tahu kalau....” “STOP!” Franklyn menyela ucapan Leonar. “DIMANA ISTRI GUE LO SEMBUNYIIN?!” “Gue nggak tahu, Kak.” Sekali lagi, Franklyn memukul perut Leonar. “DIMANA DIA?!” Leonar hanya mampu menggeleng. Ia sudah tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Perut dan pipinya sudah sangat sakit. Ditambah lagi tubuhnya juga sangat lelah. Jujur, ia memang tidak tahu apapun tentang keberadaan Devina. Ia juga sudah berusaha untuk mencarinya tadi, tapi tidak ada tanda keberadaan Devina dimanapun. Jadi, ia harus apa? “JAWAB!” teriak Franklyn. “UDAH  GUE BILANG, GUE NGGAK TAHU!” Leonar melepas cengkeraman Franklyn dengan kasar. Sudah cukup kesabarannya menghadapi sikap kakaknya itu. Dirinya merasa disudutkan dengan masalah ini. Padahal sebenarnya ia tidak tahu-menahu apa yang sudah terjadi diantara Franklyn dan Devina. Dia hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran. Jika dirinya dituduh seperti ini, ia juga bisa marah. “Gue nggak tahu apapun tentang masalah kalian! Jadi, jangan nuduh sembarangan! Kalau mau, cari aja sendiri istri lo itu! Jangan menyudutkan orang lain atas kesalahan lo sendiri!” Leonar menunjuk tepat ke wajah Franklyn. “Dia istri lo. Harusnya lo bisa mendidiknya dengan baik. Jangan selalu mengkambinghitamkan orang lain. Cara solusi untuk keluarga lo sendiri.” “Oh, lo udah mulai berani ya,” kata Franklyn. Leonar berdecih. “Kenapa? Nggak suka? Yang gue bilang semuanya benar. Harusnya istri lo itu dijaga, biar nggak keluyuran sendirian kayak gini. Semua kesalahan ada di diri lo. Sadari itu.” “Nggak usah ceramah!” “Terserah. Gue capek. Mau istirahat. Selesaikan urusan lo sendiri,” kata Leonar. Leonar segera masuk ke rumah dengan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya yang sakit. Ia tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dirinya hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Semoga Tuhan segera memberinya kebahagiaan di masa depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN