Keesokan paginya, Leonar sudah bersiap untuk pergi ke kantor dengan pipi yang sedikit membiru serta perut yang masih sedikit nyeri akibat ulah Franklyn semalam. Harusnya ia beristirahat saja sekarang. Akan tetapi, ia teringat akan pekerjaannya yang belum selesai. Bagaimanapun juga ia harus tetap profesional, meskipun sedang sakit.
Leonar turun dari lantai dua menuju ruang makan. Di sana sudah ada Franklyn yang sedang menikmati roti bakarnya. Karena masih teringat kejadian semalam, Leonar mengurungkan niatnya untuk sarapan. Lebih baik ia sarapan di kantor daripada harus berhadapan dengan orang arogan seperti Franklyn. Jujur saja, hatinya masih terasa sakit saat Franklyn mengatakan bahwa ia anak pembawa sial. Bahkan ucapan itu masih saja terngiang di telinganya. Ingin rasanya ia menghancurkan pria itu, namun Leonar masih punya pemikiran yang jernih. Lagipula, ia juga teringat akan ucapan Mamanya. Sebisa mungkin Leonar harus bersabar dalam menghadapi sikap Franklyn yang belum sepenuhnya dewasa.
Pria tampan yang menjabat sebagai Wakil Direktur di Dixon Company ini bergegas pergi meninggalkan rumah. Saat kakinya menapak di garasi, Leonar melihat Devina yang baru tiba di rumah. Kakak iparnya itu turun dari mobil, kemudian menatapnya dengan senyuman sumringah di bibirnya. Devina berlari menghampiri Leonar sambil merentangkan kedua tangannya—hendak memeluk Leonar. Untung saja Leonar segera menghindari pelukan tersebut. Ia tak mau membuat Franklyn kembali berpikiran negatif kepadanya hanya karena Devina.
“Lo kok nolak gitu sih?!” ucap Devina kesal.
“Maaf, lo bukan siapa-siapa gue. Jadi, lo nggak berhak peluk-peluk gue,” kata Leonar datar.
Devina mendengus. “Gue kangen tahu!”
“Itu bukan urusan gue. Urusi saja suami lo itu.” Leonar membuka pintu mobilnya, lalu memasukkan tas kerjanya ke dalam. Setelah itu, ia kembali menatap Devina dengan tajam. Kedua matanya menunjukkan rasa tidak suka yang teramat dalam kepada wanita itu. Karena wanita itulah, hubungannya dengan Franklyn jadi berantakan.
“Ingat satu hal, Dev. Jangan bersikap berlebihan sama gue, karena kita cuma sebatas ipar. Gue nggak mau Kak Frank jadi salah-paham karena sikap lo ini. Dan satu hal lagi, kalau mau pergi, sebaiknya izin dulu sama suami. Jangan buat dia khawatir. Karena ulah lo, dia jadi nuduh gue. Mulai sekarang, jauhin gue.”
Leonar bergegas masuk ke mobil, dan pergi meninggalkan Devina yang menangis karena ucapannya. Sudah cukup Leonar memendam itu semua. Ia memang harus mengatakan itu agar Devina sadar dengan posisinya sekarang. Devina bukan lagi sahabatnya, tetapi dia adalah kakak iparnya. Jadi, tidak seharusnya Devina bersikap berlebihan padanya seperti saat mereka masih bersahabat dulu.
Devina masuk ke dalam rumah, mendapati Franklyn yang baru selesai sarapan. Ia mendekati Franklyn dengan tatapan kesal, dan menyalahkan suaminya atas perubahan sikap Leonar kepadanya. Entah kenapa ia sekarang merasa tidak nyaman berada di dekat Franklyn. Devina merasa lebih nyaman saat bersama Leonar. Apa mungkin hatinya sudah berpaling? Semudah itu ia berpaling dari suaminya? Aneh, bukan?
“Kamu darimana aja?” tanya Franklyn.
“Ya terserah aku dong mau kemana,” jawab Devina cuek.
Franklyn menatap Devina dengan tajam. Apakah itu jawaban yang pantas dilontarkan seorang istri terhadap suaminya?
“Kenapa jawabanmu kayak gitu, hah?! Aku ini suami kamu!” seru Franklyn kesal.
“Udah deh ya. Aku lagi nggak mau debat sama kamu,” kata Devina. “Sekarang, jawab pertanyaan aku. Semalam kamu bilang apa ke Leo tentang aku? Sampai tadi aku dicuekin sama dia.”
“Kenapa? Kamu nggak suka?”
“Ya iyalah!” jawab Devina sarkas. “Kamu itu jadi orang jangan terlalu posesif. Aku nggak suka cowok posesif ya. Jadi, ubah kebiasaan jelek kamu itu. Jangan selalu nyalahin orang lain atas kesalahan yang kamu buat sendiri.”
Franklyn menaikkan alisnya. “Memangnya aku salah apa?”
“Ya kamu yang buat aku nggak betah di....”
“Itu karena kamu yang mulai!” Franklyn langsung menyela ucapan Devina. “Kalau kamu nggak mikirin cowok lain, mungkin kejadiannya nggak kayak gini. Ini semua karena salah kamu juga. Jadi wajar, kalau aku benci sama Leo. Ngerti?!”
“Huh! Egois!”
Devina berlari ke kamar Leonar dan kebetulan Leonar lupa mengunci pintu kamarnya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Masalah diantara mereka semakin rumit saja.
***
Leonar meringis saat lebam di perutnya Amelia kompres dengan air. Amelia sendiri terkejut melihat kondisi atasannya saat ini. Ia tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi, karena Leonar sendiri belum bersedia memberitahunya. Amelia hanya bisa diam dan menunggu.
“Makasih ya, Amel,” ucap Leonar.
“Iya, Pak,” kata Amelia.
“Kok manggil Pak?”
Pertanyaan Leonar membuat Amelia mengernyit bingung. “Salah ya, Pak?” tanyanya balik.
“Enggak sih,” jawab Leonar. “Cuma, apa kamu lupa sama yang kita bicarakan semalam?”
“Tentang hubungan kita?”
Leonar mengangguk. “Bukannya kita udah resmi pacaran ya?”
“Em... Jadi saya harus panggil apa, Pak?” tanya Amelia naif.
“Panggil bapak juga nggak apa-apa sih,” kata Leonar sambil berdiri membelakangi Amelia dengan senyuman. “Tapi, kalau mau panggil sayang juga boleh. Tergantung kamu aja.”
Amelia bingung. Ia menunduk sambil meremas jemarinya. Ia tak tahu harus memanggil Leonar dengan sebutan apa. Sejujurnya, ingin sekali Amelia memanggil sayang, tetapi ia terlalu malu untuk menunjukkannya. Ia takut Leonar akan berpikiran bahwa dirinya memang mengharapkan atasannya itu menjadi pasangannya.
Merasa tidak mendapatkan respon, Leonar berbalik dan menatap Amelia yang sudah memerah wajahnya. Seketika senyuman Leonar semakin terlihat menggoda. Leonar sangat menyukai tingkah Amelia yang gugup seperti ini. Itu begitu lucu, menurutnya.
“Kamu nggak mau pilih salah satu ya?” tanya Leonar tetap dengan senyum menggodanya.
Amelia mendongak. “Bu-kan gitu, Pak. Em... Maksud saya....”
“Maksud kamu, bukan gitu, Sayang?” Leonar menyela.
Hal itu membuat kegugupan Amelia semakin bertambah parah. Dasar Leonar. Bisa-bisanya ia membuat Amelia salah tingkah seperti itu. Apa kabar dengan detak jantungnya Amelia? Pasti saat ini jantung itu serasa ingin lepas dari tempatnya. Kasihan Amelia.
Leonar setengah berlutut di depan Amelia. Sementara Amelia semakin menunduk. Gadis ini tak sanggup jika ditatap sedekat itu oleh Leonar. Karena sesungguhnya ia sangat mencintai pemuda itu sejak lama. Bagaimana bisa ia menyembunyikan perasaannya jika diperlakukan seperti ini?
“Apa kamu beneran cinta sama aku?” tanya Leonar serius.
Amelia masih terdiam. Bingung harus menjawab apa. Detak jantungnya juga masih belum normal. Sedangkan Leonar mengangkat dagu lancip Amelia agar bisa menatap wajahnya yang memang sudah sangat merah karena malu.
“Kamu nggak mau jawab?” tanya Leonar sekali lagi.
Amelia tetap diam dengan mata yang semakin tertutup rapat. “Kalau diam, tandanya emang kamu beneran cinta sama aku,” ujar Leonar mengambil kesimpulan.
Setelahnya, Leonar menarik Amelia kedalam pelukannya. Ia memeluknya dengan sangat erat sehingga kedua mata Amelia terbuka lebar. Ia terkejut dengan perlakuan Leonar. Ini pertama kalinya Leonar memeluknya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Leonar sendiri tersenyum saat mendengar degup jantung Amelia. Ia sudah tahu sejak lama tentang perasaan gadis ini terhadapnya. Akan tetapi, ia berusaha untuk berpura-pura tidak tahu, karena saat itu dirinya masih mengharapkan Devina. Kini ia mulai menyadari, bahwa sesungguhnya cinta sejati itu tidak akan menjauh darinya.
“Kamu nggak perlu jawab apa-apa. Sebenarnya, aku udah tahu sejak lama tentang perasaan kamu. Aku tahu kamu diam-diam perhatiin aku. Cuma, aku masih terobsesi sama Devina waktu itu,” kata Leonar. “Ternyata selama ini aku terlalu bodoh.”
“Kenapa?” tanya Amelia.
“Karena selama ini, aku mengabaikan perasaan bidadari sepertimu. Aku lebih memilih Devina, wanita yang jelas-jelas bukan milikku,” jawab Leonar sambil melepas pelukannya.
Amelia tertunduk. “Kalau bapak nggak mau sama saya, juga nggak apa-apa, Pak. Saya nggak mau memaksakan perasaan bapak.”
“Enggak, Amel. Aku nggak mau ngulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Udah cukup aku mengabaikan perasaan tulusmu itu. Sekarang saatnya aku balas semuanya. Sebisa mungkin aku bakal mencintai dan menjaga kamu dari apapun,” ujar Leonar. “Kamu mau kasih kesempatan itu, kan?”
Amelia tersenyum, kemudian menatap Leonar. “Pasti, Pak.”
“Makasih ya.”
Leonar kembali memeluk Amelia, dan kali ini Amelia membalasnya. Di sinilah kisah cinta mereka dimulai. Semoga saja tidak ada hambatan apapun kedepannya.