Saat jam makan siang, Leonar dikejutkan oleh kehadiran Devina. Kedua mata Devina terlihat sembab dengan ujung hidung yang memerah—ciri khas orang yang habis menangis. Bahkan Devina langsung memeluknya tanpa bisa Leonar hindari. Jika Franklyn melihat hal ini, tamatlah riwayatnya.
Devina menangis dan masih tetap memeluk Leonar dengan erat. Seolah ia tidak ingin kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Sementara Leonar sendiri tidak membalas pelukannya. Malah ia berusaha melepaskan pelukan itu.
“Dev, lepas. Gue nggak mau orang-orang jadi salah-paham sama kita. Apalagi Kak Frank,” kata Leonar.
Devina justru menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Leonar merasa sedikit sesak. Namun, kedua tangan kekar Leonar tetap memaksa Devina untuk melepas pelukannya. “Lepas, Dev!”
“Enggak!”
“Lo jangan buat masalah!” Leonar membentak Devina. Namun usahanya hanya sia-sia. Wanita itu tetap membatu. “Sekali lagi gue minta, lepas pelukan lo!”
Devina melepas pelukannya dengan kasar sehingga membuat Leonar sedikit terdorong ke belakang. Wanita ini menatap tajam kearah Leonar sambil berteriak, “Lo itu kenapa sih?! Kenapa lo mau ngejauh dari gue?! Apa salah gue?!”
“Lo yang kenapa?!” ucap Leonar sarkas. “Harusnya lo ngerti sama posisi lo yang sekarang! Lo udah nikah, dan nggak pantes lo peluk cowok lain selain suami lo!”
“Tapi lo....”
“Ya, walaupun gue adik ipar lo,” sela Leonar. “Tapi bukan berarti lo bebas peluk-peluk gue! Harusnya lo jaga perasaan Kak Frank!”
Devina mendecih. “Lo nggak usah sok munafik, Leo! Lo itu suka kan sama gue?! Selama ini lo nggak ikhlas gue nikah sama Frank! Makanya sikap lo berubah kayak gini!”
“Apa maksud lo?”
“Nggak perlu pura-pura lagi, Leo. Gue tahu semuanya. Lo suka sama gue dari dulu, tapi lo takut untuk bilang ke gue,” kata Devina.
Leonar mundur ke belakang. Ia tak percaya wanita itu mengetahui semuanya. Tetapi, darimana dia bisa tahu soal ini? Padahal selama ini, Leonar selalu mengunci pintu kamarnya dan....
“Astaga!” Leonar membatin.
Ia ingat jika pagi ini kamarnya tidak terkunci. Leonar yakin, Devina masuk ke kamarnya dan mencari tahu apa isi di kamarnya itu. Jika Devina tahu dari Amelia, itu jelas tidak mungkin. Karena seharian ini, asisten sekaligus pacarnya itu selalu ada bersamanya. Dan dirinya juga yakin bahwa Amelia tidak mungkin membocorkan rahasia itu kepada orang lain, terutama Devina.
“Lo masuk kamar gue?”
“Yap!” jawab Devina.
“Lancang!”
“Emangnya kenapa? Masalah?” kata Devina.
Leonar mendecih. “Ya, jelas masalah! Lo masuk ke ruang pribadi orang lain tanpa minta izin lebih dulu. Itu pelanggaran namanya.”
“Lo itu kenapa sih?! Sensitif banget!” ujar Devina kesal. “Kalau lo emang suka sama gue, bilang aja. Jadi, gue nggak perlu tanya panjang-lebar.”
“Sorry, gue udah punya pacar. Jadi tolong, jangan ganggu kehidupan gue. Gue nggak mau pacar gue berpikiran buruk sama gue karena lo,” kata Leonar tegas.
Devina mendengus kesal. Ia menghentakkan kaki kanannya ke lantai dengan bibir yang mengerucut ke depan. Wanita ini memang belum dewasa sepenuhnya. Padahal usianya lebih tua dari Amelia, tetapi Amelia lebih terlihat dewasa dibandingkan dengannya. Itu sebabnya mengapa Leonar memilih Amelia untuk menghapus nama Devina di hatinya.
Melihat sikap Devina yang seperti itu, Leonar hanya menatap sinis. Pilihannya untuk melupakan wanita itu sudah sangat tepat. Wanita kekanakan itu memang tidak pantas untuk dijadikan seorang pendamping di masa depan.
“Kenapa? Lo nggak suka gue udah punya pacar?” tanya Leonar.
“Ya, jelas nggak sukalah!”
“Ya, itu urusan lo. Lagian, lo juga bukan siapa-siapa gue. Jadi, lo nggak berhak bersikap kayak gini sama gue," ujar Leonar sarkas.
Devina menggeram kesal. Ia memutuskan untuk segera pergi dari sana agar emosinya tidak semakin membesar. Pintu ruangan Leonar ia tutup dengan kencang. Sementara pemilik ruangan hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap kakak iparnya itu.
“Untung aja gue nggak jadi nikah sama dia,” gumam Leonar pelan.
***
Malam ini, Leonar mengajak Amelia untuk makan malam diluar sebelum dirinya mengantarkan kekasihnya itu pulang. Awalnya, tawaran Leonar ditolak secara halus oleh Amelia. Mungkin Amelia masih sedikit sungkan dengan atasannya itu. Tetapi, setelah Leonar membujuknya dengan memasang wajah memelas, akhirnya Amelia bersedia.
Dan kini, sampailah mereka di sebuah restoran yang bisa dibilang cukup mewah. Restoran ini hanya menyediakan makanan sejenis seafood saja, dan itu merupakan favorit dari Amelia. Meskipun baru berpacaran, Leonar sudah mengetahui apa kesukaan Amelia. Sungguh pria idaman.
“Kamu tahu darimana aku suka seafood?” tanya Amelia heran. “Kan aku nggak pernah cerita ke kamu.”
“Nah, gitu dong. Panggilnya aku dan kamu.”
Bukannya langsung menjawab, Leonar justru menggoda Amelia terlebih dulu. Dan hal itu mampu membuat wajah Amelia kembali memerah seperti tomat. Astaga, Leonar! Ada-ada saja tingkahnya.
“Ih, kamu godain aku terus!” ujar Amelia kesal.
Leonar tertawa. “Iya maaf, Sayang.”
Kembali. Wajah Amelia kembali memerah. Bahkan semakin merah. Sementara Leonar semakin suka dan gemas melihat wajah merah itu. “Ya ampun, muka kamu merah banget loh,” ujarnya.
“Ih, kamu jahat banget!”
“Jahat, tapi suka, kan?”
Lagi dan lagi. Leonar selalu saja membuat Amelia menjadi salah tingkah saat berada di dekatnya. Jika saja Amelia punya sayap, mungkin saat ini dia sudah memilih untuk terbang dan menjauh dari Leonar.
Amelia hanya mendengus sambil mencubit lengan kekar Leonar. Dan Leonar hanya tertawa untuk menanggapi kekesalan kekasihnya itu.
Tak lama, pelayan datang membawa pesanan mereka. Menu hari ini adalah menu yang sangat spesial. Leonar ingin merayakan hari dimana mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
“Ini kebanyakan,” gumam Amelia.
“Nggak apa-apa. Biar kamu gemuk, Sayang,” kata Leonar.
“Bukan cuma gemuk, tapi kolesterol naik.”
“Kan bisa diturunin,” ujar Leonar sambil tertawa. “Jangan protes lagi. Sekarang kamu harus makan yang banyak. Aku nggak mau kamu sakit.”
“Iya, Bos.”
***
Selesai makan malam, Leonar mengantar Amelia pulang ke rumah. Hari ini hatinya sangat gembira. Ternyata Tuhan tidak salah mendekatnya kepada Amelia. Karena hanya bersama Amelia-lah, Leonar bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini tak pernah ia dapatkan saat di rumah bersama Franklyn.
“Makasih ya,” ucap Amelia saat mobil Leonar tiba di depan rumahnya.
“For what?”
“Traktirannya.”
“Nggak perlu berterima kasih. Itu udah jadi tanggung jawabku sebagai pacar kamu,” kata Leonar.
Amelia tersenyum. “Kalau gitu, aku masuk dulu ya. Kamu pulangnya hati-hati.”
“Oke, Sayang.”
Saat Amelia hendak membuka pintu mobil, tangan kiri Leonar menarik lengan kanan Amelia. Membuat gadis itu berhadapan begitu dekat dengannya. Jantung Amelia semakin berdetak kencang saat kedua mata indah Leonar menatapnya sedekat ini.
Leonar tersenyum, kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Amelia yang mungil. Leonar mencium bibir itu dengan lembut, tanpa memaksa Amelia sedikitpun. Sehingga Amelia larut dengan sendirinya oleh kelembutan yang diciptakan Leonar.
Sepersekian menit berikutnya, Leonar melepas ciumannya, kemudian menempelkan keningnya di kening Amelia. Keduanya saling menghirup oksigen bersamaan. Ada rasa yang tak biasa dalam hati seorang Leonar. Sepertinya ia sudah mulai menaruh hati pada gadis cantik itu.
“Kenapa baru sekarang?” Leonar membatin.
Leonar mengecup kening Amelia dan menyalurkan seluruh kasih sayangnya pada gadis itu. Amelia pun tetap terhanyut dengan perlakuan manis Leonar. Ini pertama kalinya bagi Amelia.
“Nanti langsung tidur ya. Jangan lupa mimpiin aku,” ucap Leonar.
Amelia mengangguk dan tersenyum. “Aku masuk ya.”
“Iya, Sayang.”
Setelah memastikan Amelia masuk ke rumah, Leonar pun bergegas pulang. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya yang penat akibat terlalu banyak pekerjaan.