Leonar tiba di rumah. Suasana terasa sepi. Ia pun bergegas masuk kedalam, dan segera menuju ke lantai dua. Leonar hanya ingin menghindari Devina yang terlihat sedang membuat sesuatu di dapur. Untung saja, wanita itu tidak menyadari kehadirannya.
Sesampainya di kamar, Leonar langsung mengunci pintunya. Ia melihat kotak besar yang telah disimpannya selama bertahun-tahun sudah ada di atas meja dalam kondisi berantakan.
“Dasar lancang!” gumam Leonar kesal.
Pria ini menyusun kembali isi dari kotak tersebut, dan kembali menyimpannya di tempat semula. Leonar sedikit menyesal, kenapa tadi ia begitu ceroboh sampai lupa mengunci pintu kamarnya. Padahal di tempat ini banyak rahasia yang ia simpan.
Leonar melupakan sedikit tentang masalah Devina. Ia sedikit melonggarkan dasinya, kemudian mengambil ponsel di saku celananya sambil duduk di tepi kasur. Leonar membuka sebuah notifikasi w******p yang berasal dari Amelia.
Amelia : Kamu udah sampai rumah?
Leonar : Udah, Sayang.
Amelia : Syukurlah. Ya udah, kamu mandi ya.
Leonar : Siap, Bosque sayang!
Amelia : Habis itu istirahat.
Leonar : Iya, Nyonya Leonar Dixon.
Setelah membalas pesan Amelia, Leonar bergegas menuju ke kamar mandi. Sementara Amelia, terlihat senyum-senyum sendiri di kamarnya. Gadis cantik ini begitu bahagia karena keinginannya untuk bersama Leonar tercapai sudah. Hal paling terindah dalam hidupnya adalah menjadi kekasih Leonar.
Amelia memejamkan mata setelah membaca pesan Leonar. Dalam hatinya berdoa, semoga besok juga menjadi hari bahagianya seperti hari ini.
“Selamat malam, Leonar Sayang,” gumam Amelia lalu terpejam.
***
Malam berganti pagi. Leonar berusaha bangun, namun tubuhnya seakan begitu enggan untuk bergerak. Seperti ada sesuatu yang menimpanya. Kedua matanya masih belum sepenuhnya terbuka, karena waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Leonar memaksa kedua matanya terbuka hanya untuk melihat benda apa yang sedang menimpanya. Mata yang semula masih setengah terbuka, kini sudah terbuka sepenuhnya. Lebih tepatnya ia terkejut melihat sosok Devina yang dengan santainya tidur di sampingnya. d**a kekarnya dijadikan sebagai alas untuk kepala Devina.
Seketika Leonar mendorong tubuh Devina, dan segera menyuruhnya untuk pergi dari kamarnya. Jika Franklyn tahu, bisa tamat riwayatnya. Dijelaskan pun percuma saja karena Franklyn tidak mau mendengarkannya. Wanita sialan! Begitulah ungkapan hati Leonar saat ini.
“Cepat keluar dari sini, Dev!”
Devina menggeliat. “Duh, kenapa sih? Berisik banget. Masih pagi loh.”
“Lo gila ya?!”
“Enggak kok. Gue waras,” jawab Devina manja.
Mendengar nada bicara Devina pagi ini, rasanya Leonar ingin memuntahkan seluruh isi perutnya ke wajah wanita itu. Sikap Devina yang seperti ini, justru membuat Leonar semakin ilfeel. Bahkan Leonar menyesal telah mencintai wanita seperti itu.
Memang, dia itu cantik. Tapi kecantikan wajahnya tidak secantik sifatnya. Sangat berbanding terbalik. Leonar tidak menyangka ternyata sifat asli Devina keluar setelah ia berada satu atap dengannya. Memalukan.
“Cepat keluar!” seru Leonar kesal.
“Gue mau di sini bareng lo,” kata Devina.
“Gila lo ya! Lo itu udah nikah! Nggak pantes lo tidur di sini!” Leonar menarik paksa Devina untuk keluar dari kamarnya. “Sekarang lo keluar! Jangan pernah masuk ke kamar gue tanpa izin!”
“Tunggu sebentar, Leo,” ujar Devina. Membuat Leonar menghentikan aksi pemaksaannya. “Lo nggak penasaran, kenapa gue bisa masuk ke kamar lo?”
Leonar berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Devina. Bagaimana dia bisa masuk? Sementara kamarnya ia kunci. Tidak mungkin kan, manusia bisa menembus pintu?
Melihat Leonar yang kebingungan, Devina langsung mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia menunjukkan sebuah kunci kepada Leonar. “Gue duplikat kunci kamar lo.”
“Sialan!” Leonar membatin.
“Kenapa? Kaget ya?”
“Cukup, Dev!” Leonar membentak Devina. Ia mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya juga begitu tajam. “Berhenti gangguin kehidupan gue! Lebih baik, lo urus Kak Frank! Jangan ganggu gue!”
“Nggak bisa, Leo. Gue udah terlanjur suka sama lo. Jadi, gue nggak bisa berhenti ganggu kehidupan lo, Sayang,” kata Devina.
Leonar mendecih. “Cewek gila! Udah punya suami, masih ngarepin cowok lain.”
“Terserah lo mau ngomong apa. Yang jelas, gue bebas masuk kamar lo kapanpun gue mau. Dan nggak ada yang bisa ngelarang gue, termasuk lo, juga Franklyn,” ujar Devina.
Wanita itu beranjak pergi, sementara Leonar menggeram kesal. Ia terus merutuki kebodohannya yang tidak mengunci kamar kemarin. Jika sudah begini, Leonar harus apa? Akankah Franklyn bisa terima jika suatu saat nanti mengetahui kesalah-pahaman ini?
***
Saat hendak pergi ke kantor, Leonar tak sengaja berpapasan dengan Franklyn. Pria yang menjadi saudara kembarnya itu melipat kedua tangannya sambil menatap sangar kearah Leonar. Mungkin Franklyn sudah tahu kelakuan istrinya yang lebih memperhatikan Leonar ketimbang dirinya. Dan mungkin juga ia sudah tahu jika istrinya sering keluar masuk kamar Leonar. Astaga! Itu artinya Leonar dalam masalah besar. Apa yang harus diperbuatnya jika sudah seperti ini?
Meski tatapan Franklyn tidak bersahabat, Leonar tetap berusaha untuk tenang. Ia tak ingin memperlihatkan kegugupannya di depan Franklyn. Dirinya juga tidak terlalu takut karena letak kesalahan ada di istrinya. Ya, meskipun Franklyn tidak akan percaya jika ia memberi penjelasan.
“Kenapa, Kak?” tanya Leonar.
“Puas lo sekarang?” Franklyn balik bertanya.
Leonar mengernyit. “Puas apanya?”
“Nggak usah pura-pura bego deh. Udah jelas lo rebut Devina dari gue, dan buat dia nggak peduli lagi sama gue,” kata Franklyn.
“Gue nggak ngerasa ngerebut dia, Kak.”
Franklyn mendecak. Saat hendak berbicara, Devina datang sambil membawa kotak nasi di tangannya. Devina mengabaikan Franklyn dan menyerahkan kotak nasi itu kepada Leonar.
“Leo, gue udah masakin masakan spesial. Nanti dimakan ya,” ucap Devina.
“Lihat sendiri, kan?” sahut Franklyn sarkas. “Bahkan gue nggak dimasakin, dan nggak dibuatin bekal kayak gitu sama dia. Padahal hari ini gue juga masuk kerja.”
Devina melirik Franklyn. “Itu salah kamu sendiri. Kamu kan yang mulai buat masalah sama aku? Kamu juga yang nyuruh aku tidur di kamar lain. Jadi, wajar aja aku nggak peduliin kamu.”
“Dev, lo nggak boleh gitu. Suami lo itu Kak Frank, bukan gue. Jadi yang harus lo perhatiin itu dia,” kata Leonar sambil menyerahkan kembali kotak makan itu pada Devina. “Kasih bekal itu ke dia. Gue harus pergi sekarang.”
Leonar pergi, sementara Devina menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia menatap Franklyn dengan sinis sambil memberikan bekal itu pada suaminya. Setelahnya ia memilih untuk pergi keluar, mengabaikan panggilan suaminya.