Kedelapan

1130 Kata
Setibanya di kantor, Leonar bergegas masuk ke ruangannya. Mengabaikan setiap sapaan dari karyawannya, termasuk Amelia. Ia benar-benar dibuat kesal pagi ini karena ulah Devina. Kenapa harus ada manusia seperti itu dalam kehidupannya? Jujur, ia sangat menyesal telah mencintai wanita egois seperti Devina. Kalau sudah begini, hubungan persaudaraan antara dirinya dan Franklyn bisa hancur karena sikap Devina. Ya ampun, Leonar benar-benar stres memikirkan hal ini. Kepalanya serasa ingin pecah. Sampai ia meninju meja kerjanya sendiri sebagai pelampiasan kemarahannya terhadap Devina. Melihat sikap Leonar yang seperti ini, Amelia mencoba untuk masuk kedalam. Ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi sebelum itu, Amelia sudah menyiapkan sesuatu agar kekasihnya itu kembali bahagia. Amelia mengetuk pintu ruangan Leonar meski sudah terbuka sejak tadi. Ia hanya ingin menjaga kesopanannya, walau dirinya kini sudah menjadi kekasihnya. Amelia tidak ingin memanfaatkan hal itu untuk menguasai semuanya, termasuk Leonar. Itu bukanlah tipe Amelia. “Boleh saya masuk, Pak Leo?” “Ya,” jawab Leonar tanpa melihat siapa yang berbicara. Amelia bisa memaklumi karena saat ini Leonar sedang dalam keadaan marah karena satu hal yang tidak ia ketahui. Tapi sebisa mungkin ia memahami kondisi hati Leonar hari ini. “Bapak udah sarapan?” tanya Amelia. “Belum.” “Wah, kebetulan. Saya bawa bekal untuk sarapan. Bapak mau coba nggak?” ujar Amelia sambil menyodorkan bekalnya kehadapan Leonar. “Menunya hari ini, sambal ikan teri.” Leonar yang tersadar pun langsung menatap Amelia. Amelia pun menatap Leonar sambil tersenyum manis. Leonar baru menyadari bahwa sedari tadi dirinya telah mengabaikan satu orang yang spesial baginya. Astaga! Lagi-lagi dia harus menyalahkan Devina atas kekacauan ini. Leonar berdiri lalu mendekati Amelia. Ia memegang kedua bahu Amelia dengan tatapan yang begitu teduh. Seolah dirinya menyesal telah mengabaikan gadis yang selama ini selalu baik dan pengertian padanya. “Maafin aku ya, Sayang,” ucapnya menyesal. “Nggak apa-apa kok. Aku bisa ngerti apa yang kamu rasain sekarang,” kata Amelia sambil tersenyum. “Kamu itu manusia, kan?” Amelia mengernyit. “Ya, aku manusia.” “Tapi, kamu nggak kayak manusia. Hati kamu itu baik banget, sama kayak bidadari,” ucap Leonar. “Seberapapun kamu disakiti banyak orang, kamu tetap baik.” “Ya, karena kejahatan nggak harus dibalas dengan kejahatan juga, kan? Aku juga nggak ngerasa baik kok. Aku juga sama kayak manusia lain yang selalu punya kesalahan.” Kalimat Amelia benar-benar terdengar dewasa di telinga Leonar. Ia tak menyangka, di dunia ini masih ada manusia berhati bidadari seperti ini. Kesabaran Amelia memang sangat besar. Sungguh, Leonar tak menyesali pilihannya sekarang. Cukup Amelia yang ia pilih, tidak ada yang lain. Leonar membawa Amelia kedalam pelukannya. Suasana hatinya mendadak teduh berkat kehadiran gadis cantik ini. Amelia selalu mengerti bagaimana membuat suasana hatinya yang buruk menjadi lebih baik. “Aku beruntung pilih kamu,” ucap Leonar. Amelia hanya tersenyum sambil membalas pelukan pria yang menjadi idamannya selama ini. *** Franklyn masuk ke ruang Leonar tanpa mengetuk terlebih dulu. Hal itu membuat Leonar terkejut, dan segera berdiri berhadapan dengan saudaranya. Suasana terlihat begitu tegang karena seperti Franklyn masih ingin memperpanjang masalah pagi tadi. “Udah gue peringatin sejak awal, kan? Jauhi Devina!” kata Franklyn tegas. “Kak, gue udah berusaha. Tapi, dia yang selalu ngikutin gue,” ujar Leonar. “Gue juga udah punya pacar sekarang. Jadi, untuk apa gue ngejar Devina? Dia itu udah jadi istri kakak.” Franklyn mendecih. “Lo pikir, gue percaya?” “Kakak harus percaya sama gue. Gue nggak mungkin ngerebut dia dari lo, Kak. Gue udah nggak punya perasaan apapun sama dia. Percaya sama gue,” kata Leonar mencoba meyakinkan. “Enggak.” “Kak, please, ” pinta Leonar. “Gue nggak akan percaya sampai lo keluar dari rumah dan menjauh dari kehidupan kami untuk selama-lamanya. Toh, perusahaan ini juga bakal diwarisin ke gue. Jadi, lo nggak ada hak untuk ada di sini,” ujar Franklyn. Leonar terkejut. Ia tak menyangka keadaan akan memburuk seperti ini. Bagaimana bisa seorang kakak mengusir adiknya sendiri demi kepentingan pribadinya? Ini tidak adil untuk Leonar. Kenapa harus dia yang pergi? Kenapa tidak mereka saja? Leonar menghela napas berat. Ia mengepalkan kedua tangannya. Cukup sudah kesabarannya kali ini. Selama ini, dia sudah berusaha meyakinkan Franklyn bahwa dirinya tidak akan pernah merebut Devina darinya. Tapi, Franklyn tak mau percaya. Dan sekarang, kesabarannya sudah mencapai tingkat maksimal. “Emangnya lo siapa, hah?! Yang punya perusahaan ini bukan cuma lo, Kak! Jadi, lo nggak bisa seenaknya nyuruh gue pergi dari sini!” “Hey!” Franklyn menunjuk wajah Leonar. “Jaga bicara lo! Gue punya hak lebih besar dibanding lo, Leo!” “Oh, ya?” “Ya, jelas! Gue ini anak tertua,” kata Franklyn angkuh. Leonar mendecih. “Bukannya kita hanya beda lima menit aja ya. Usia kita juga sama. Jadi, lo bukan yang tertua.” “Jaga bicara lo, Leo!” Franklyn hendak memukul Leonar, namun segera ditepis olehnya. Kali ini, Leonar tidak ingin mengalah begitu saja. Sudah cukup perlakuan kasar Franklyn selama ini kepadanya. Dia tidak sanggup lagi untuk menahan semua itu. Hari ini, harus ia luapkan segala kemarahannya pada Franklyn. Kini, Leonar yang berbalik memukul saudaranya. Ia membalas semua sikap buruk Franklyn padanya. Selama ini ia mengalah, bukan berarti ia lemah. Leonar juga punya harga diri, dan dia tidak terima jika harga dirinya terus-menerus diinjak oleh saudaranya sendiri. Setelah puas memukuli Franklyn, Leonar menarik kerah jas yang dipakai saudaranya itu. Tatapannya begitu tajam dan menampilkan semburat kilatan di bola mata hazelnya. Rahangnya mengeras dan cengkeramannya juga begitu kuat sehingga Franklyn sedikit tercekik ke atas. “Dengar baik-baik, Kak. Gue udah nggak mau sama Devina, karena gue udah punya pacar. Selama ini gue emang selalu diam dan ngalah sama lo. Bahkan harga diri gue, lo injak, gue tetap diam. Tapi bukan berarti gue lemah, Kak,” kata Leonar sarkas. “Gue ini manusia biasa yang punya batas kesabaran. Jangan pernah berpikir gue ini lemah, dan nggak mampu untuk balas semua perbuatan lo sama gue selama ini. Gue juga bisa ngelakuin hal ini, bahkan lebih parah dari ini, gue juga bisa. Lo harusnya bersyukur karena gue masih punya rasa kasihan sedikit sama lo.” Leonar melepas cengkeramannya dengan kasar, sehingga Franklyn terdorong ke belakang dan jatuh ke lantai dengan wajah yang lebam dan berdarah. “Sebelum gue ngelakuin hal yang lebih kejam, mendingan lo pergi dari ruangan gue. Dan satu yang harus lo ingat, gue nggak akan tinggalin perusahaan ini sampai ayah yang memintanya sendiri.” Franklyn masih belum beranjak dari sana. Tatapannya masih memancarkan kebencian pada Leonar. “Gue bilang, keluar!” teriak Leonar. Dengan susah payah, Franklyn berdiri dan pergi dari ruangan tersebut. Sementara Leonar segera menutup pintu ruangan dengan kasar. Untung Amelia sedang ia tugaskan untuk membuat janji bersama klien diluar. Jika tidak, mungkin Amelia sudah melarangnya untuk melakukan hal itu. “Maafin aku, Ma, Pa,” Leonar membatin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN