Kesembilan

1813 Kata
Franklyn menggebrak meja kerjanya. Ia marah dan kesal karena kini Leonar sudah berani menentangnya. Bahkan berani memukulnya sampai separah ini. Itu sungguh menyebalkan. Franklyn tidak suka hal itu. Ia tidak suka dengan kekalahan, apalagi saat ini dirinya telah dijatuhkan oleh adiknya sendiri. “Kurang ajar!” Franklyn menggeram berulangkali sambil terus mengutuk perbuatan Leonar padanya. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini. Dia itu bos di perusahaan ini. Kenapa Leonar sangat tidak sopan padanya? Dan dengan beraninya Leonar menentang keputusannya. “Memalukan! Gue nggak terima, Leo! Gue nggak terima!” teriaknya marah. “Gue bakalan balas dendam, Leo. Kita lihat aja, siapa yang bertahan. Gue, atau lo!” Sementara di tempat lain, Devina terlihat begitu asyik menikmati alunan musik diskotik sambil meminum segelas wine dan menyulut sebatang rokok, bersama dengan dua orang teman wanitanya. Kelakuannya ini sungguh tidak disangka. Seorang wanita berpendidikan sepertinya mampu menghabiskan waktu di diskotik sambil tertawa bersama temannya. Devina sama sekali tidak memikirkan dampak dari perbuatannya yang sudah membuat Franklyn dan Leonar bertengkar. Entah setan apa yang merasukinya saat ini. “Dev, lo bilang adiknya Frank suka sama lo,” kata salah seorang temannya—Lusy. Devina hanya mengangguk. “Gimana ceritanya? Lo kan nikah sama kakaknya. Masa iya adiknya juga suka sama lo, Dev,” sahut yang satunya—Sarah. Devina tertawa. “Kalau gue sih nggak masalah. Adiknya juga menarik kok.” “Maksudnya, lo juga suka sama adiknya?” tanya Lusy bingung. “Ya, gitu deh.” “Gila lo, Dev. Terus, gimana sama Frank?” tanya Sarah. Mendengar nama Franklyn, Devina merasa muak. Ingin rasanya ia memuntahkan seluruh isi perutnya ke wajah laki-laki itu. Entah mengapa kini rasa cintanya seakan hilang begitu saja untuk Franklyn. Atau mungkin selama ini sebenarnya ia mencintai Leonar, bukan Franklyn? Ah, entahlah. “Kalau Frank tahu, pasti dia marah,” kata Lusy. “Ah, bodoamat sama dia,” ucap Devina yang sudah setengah mabuk karena terlalu banyak minum. “Gue itu udah nggak cinta sama dia.” “Hey, lo itu nggak boleh selingkuh,” ujar Sarah. “Iya. Kasihan Frank,” sahut Lusy. “Kalau kalian mau, ambil aja. Gue ikhlas kok. Kan masih ada Leo yang lebih keren dan baik,” kata Devina sambil tertawa ringan. “Frank itu nggak sebanding sama Leo. Leo itu lebih baik dan lebih tampan daripada Frank. Kalau kalian ketemu sama Leo, kalian pasti langsung jatuh hati sama dia.” Sarah dan Lusy saling pandang satu sama lain. Mereka tidak menyangka jika Devina bisa senekad ini mencintai pria lain selain suaminya. Walaupun mereka berdua terbilang 'nakal', tapi mereka juga tidak akan mau melakukan hal sekotor itu. Mengkhianati suami dan lebih tertarik pada pria lain yang merupakan adik iparnya sendiri. Cih! Memalukan. “Kalau gue jadi lo, gue nggak bakal khianati suami gue. Mau setampan apapun cowok lain yang datang, gue bakal tetap pilih suami gue,” ujar Lusy. “Munafik!” ucap Devina sarkas. “Ya, terserah apa kata lo sih. Prinsip orang kan beda-beda.” “Gue setuju sama lo, Lusy. Untuk apa melirik cowok lain sementara kita udah punya suami,” sahut Sarah menambahkan. “Emang orang baru itu lebih menarik, tapi yang mampu bertahan, itu yang pantes diperjuangkan." “Bacot!” Setelah mengatakan itu, Devina berdiri. Ia mencoba berjalan, meninggalkan kedua temannya meski sedang sempoyongan. Percuma saja dia berdebat dengan teman-temannya yang sok suci itu. Sambil berjalan, Devina menggumam, “Mereka bisa bicara kayak gitu, karena mereka nggak diposisi gue. Dasar munafik!” *** Amelia terlihat sibuk membereskan meja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Itu artinya ia harus bergegas pulang. Hari ini, dia berjanji untuk membawa ibunya melakukan terapi. Kebetulan, uang yang dikumpulkannya sudah cukup untuk membayar terapi ibunya nanti. Dia begitu semangat hari ini, karena ia ingin sekali melihat ibunya bisa berjalan kembali seperti dulu. Semenjak kecelakaan yang menimpa ayahnya beberapa tahun silam, ibunya harus mengalami kelumpuhan akibat trauma dari kecelakaan itu. Ibunya syok karena mayat ayahnya harus terbakar bersama dengan mobil tangki berisi bensin yang dikendarai ayahnya. Bersamaan dengan itu pula, adiknya yang juga sakit leukimia menghembuskan napasnya di rumah sakit. Saat itu, penderitaan Amelia begitu berat. Ia harus mencari pekerjaan, sementara ia belum selesai sekolah. Ditambah lagi ia harus menjaga dan merawat ibunya yang lumpuh karena kejadian itu. Sang ayah juga meninggalkan banyak hutang dengan rentenir. Hingga pada akhirnya, rumah peninggalan ayahnya disita oleh rentenir itu, dan membuat Amelia terpaksa menyewa rumah bersama ibunya. Amelia memang manusia yang kuat. Buktinya, ia bisa bertahan sampai sekarang berkat kerja kerasnya selama ini. Cemoohan, makian, dan bullyan sudah dialami Amelia sejak dulu. Tak heran jika ada yang mengatainya, ia hanya membalas dengan senyuman. Itu yang membuat Leonar tertarik padanya. Saat sedang memasukkan barang-barangnya kedalam tas, Amelia dikejutkan oleh dua buah tangan kekar yang memeluk pinggangnya dari belakang. Sontak ia menoleh ke samping dan secara tak sengaja mencium pipi kanan Leonar. Kedua mata indahnya melebar seiring dengan senyuman yang ditunjukkan Leonar padanya. “Udah berani cium-cium ya sekarang,” kata Leonar menggoda. Amelia tertunduk malu. “Kamu sih, bikin kaget.” “Ya, kalau mau cium juga nggak apa-apa kok. Kan kita pacaran. Jadi, kamu berhak cium aku dan aku berhak cium kamu,” ujar Leonar yang semakin memeluk Amelia dari belakang. “Itu emang maunya kamu,” kata Amelia. “Kamu selalu paham ya.” Amelia tertawa. “Ya, iyalah.” “Oh iya, malam ini kamu sibuk nggak?” tanya Leonar. “Enggak. Emang kenapa?” “Aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Bisa?” tanya Leonar memastikan. ”Nggak lama kok.” Amelia mengangguk. “Bisa. Mau jemput jam berapa?” “Jam tujuh aku on the way dari rumah,” jawab Leonar. “Oke. Aku tunggu.” Leonar tersenyum bahagia sambil melepas pelukannya. Ia membantu Amelia menyusun barang-barang dan berakhir dengan sebuah pertanyaan, “Mau aku antar pulang?” “Emang nggak ngerepotin? Soalnya aku mau ke tempat terapi. Hari ini jadwalnya ibu terapi,” kata Amelia. “Oh kalau gitu sekalian aja. Biar aku antar. Gimana?” “Kamu nggak capek?” tanya Amelia ragu. Leonar menggeleng. “Untuk kamu, nggak ada kata capek.” “Ya udah kalau kamu maksa.” “Kita pergi sekarang?” tanya Leonar. “Ayo!” Keduanya keluar dari ruangan, kemudian pergi menuju parkiran. Mereka berdua bergegas menuju kediaman Amelia untuk menjemput sang ibu, dan berlanjut ke tempat terapi. *** Malam ini, Leonar terlihat begitu mengistimewakan Amelia. Selama mengitari taman, tangan Amelia tak pernah lepas dari genggaman Leonar. Seakan ia tak mengizinkan gadis itu untuk pergi meninggalkannya walau sekejap. Amelia sendiri merasa beruntung karena kini Leonar sangat menghargai dirinya dan perasaannya. Amelia tak pernah menyangka jika mimpinya bisa menjadi kenyataan. Amelia terus menatap Leonar dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Betapa indahnya ciptaan Tuhan. Begitulah pemikiran Amelia saat melihat makhluk tampan nan seksi itu. Dari wajah dan gaya berjalannya, semua sangat mempesona. Apalagi dengan mata hazelnya. Amelia serasa melayang bila Leonar sudah menatapnya. “Jangan ngelihatin aku terus. Nanti kamu nggak bisa tidur loh,” ujar Leonar yang ternyata menyadari jika sedari tadi Amelia memperhatikannya. “Aku tahu, kalau aku ini tampan dan mempesona.” Amelia tertawa sambil mencubit lengan kekar Leonar. Ia tersipu malu dan terlihat jelas di pipinya yang sudah merona. Aksinya menatap Leonar ternyata ketahuan. Astaga! Mau ditaruh dimana wajahnya jika sudah begini? “Kamu makin cantik kalau lagi malu gitu,” ucap Leonar. Seketika hati Amelia melompat kegirangan. Dipuji seperti itu oleh orang terkasih, rasanya sangat membahagiakan. Walau sesungguhnya ia tidak pernah merasa bahwa dirinya itu cantik, seperti yang dikatakan Leonar. “Kok diam aja? Nggak mau ngomong ya?” tanya Leonar. Amelia gugup. “Eum... I-Itu... a-ku....” “Ciye yang grogi,” ujar Leonar menggoda. Amelia tersenyum malu sambil memukul pelan lengan Leonar. Pria satu ini memang benar-benar jahil. Ia suka sekali menggoda Amelia. “Kamu itu suka banget sih godain aku!” kata Amelia kesal. “Habisnya kamu imut. Makanya aku suka godain,” ujar Leonar. “Daripada godain cewek lain, mending godain kamu, Sayang.” “Masa sih aku imut? Nanti maksud kamu amit-amit.” Leonar tertawa. “Ya nggaklah. Kamu emang beneran imut.” “Terima kasih, Pak Bos.” “Kembali kasih, Bu Bos,” balas Leonar. Leonar dan Amelia duduk berdua di bangku taman. Suasana taman sangat sunyi. Hanya ada mereka berdua di sana, ditemani suara binatang malam, cahaya bulan purnama, dan bintang. Mereka sama-sama menatap langit malam yang begitu mempesona berkat bintang-bintang yang bertaburan di sana. Keduanya tampak begitu bahagia. Untuk pertama kalinya mereka jalan berdua seperti ini saat malam hari. “Amel,” panggil Leonar. “Ya?” “Aku boleh tanya sesuatu?” Amelia mengangguk. “Tentu aja boleh.” “Menurutmu, apa yang harus kamu lakukan saat kakak iparmu, menyukaimu?” tanya Leonar. “Menurut aku, itu nggak mungkin,” jawab Amelia. Leonar mengernyit. “Kenapa?” “Karena aku nggak punya kakak.” “Astaga!” Leonar tertawa. “Ya, kamu menang.” Amelia hanya tersenyum menanggapinya. “Gimana kalau hal itu menimpaku? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Leonar lagi. “Menjauh,” jawab Amelia singkat. “Alasannya?” Amelia tersenyum. Ia menggenggam tangan kiri Leonar, dan menatapnya. “Alasannya adalah kakakmu sendiri. Apa kamu tega melihat saudaramu terluka saat istrinya mendekatimu?” “Enggak.” “Berarti udah mengerti maksudku, kan?” “Apa aku harus pergi dari rumah itu?” Leonar balik bertanya. “Enggak gitu juga,” jawab Amelia. “Kamu nggak harus pergi dari rumah. Yang harus kamu lakukan adalah bersikap tegas dan cuek pada istrinya. Walaupun dulu kalian sahabatan, tapi keadaan sekarang berbeda. Dia bukan lagi sahabatmu.” Leonar mengangguk. “Kamu bener. Jujur, aku udah melakukannya, tapi dia tetap aja gangguin aku.” “Kalau gitu, kamu harus lebih keras lagi padanya. Jangan biarin dia merusak hubungan persaudaraan kamu sama kakak kamu,” kata Amelia. “Ya, aku bakal terus berusaha. Makasih ya, Sayang,” ucap Leonar. “Sama-sama.” Leonar menatap Amelia. Wajahnya semakin dekat dengan tangan menyentuh dagu lancip Amelia. Rona merah kembali terlihat di kedua pipi gadis itu, sehingga membuat Leonar semakin gemas ingin menciumnya. Bibir mereka menyatu dan menciptakan suasana yang begitu romantis malam ini. Tak ada satupun yang mengganggu, termasuk Devina. Malam ini, akan menjadi malam yang sangat mengesankan untuk Amelia dan Leonar. *** Tepat pukul 21.00 wib, Leonar sudah tiba di depan rumah Amelia. Ia mengantarkan kekasihnya pulang dengan selamat. Sebelum turun, Amelia mengucapkan terima kasih pada Leonar untuk malam yang indah ini. Bahkan ia enggan untuk menatap terlalu lama karena rasa malunya. Saat Amelia hendak membuka pintu, Leonar menarik lengannya, kemudian kembali menciumnya. Ciuman yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Astaga! Amelia serasa melayang di awan malam ini. “Mimpikah ini?” Amelia membatin. Setelah ciuman terlepas, Leonar mencium kening Amelia dan mengucapkan selamat malam. Gadis cantik itu bergegas turun dari mobil, karena tidak dapat menahan degupan jantungnya yang tidak karuan itu. Sedangkan Leonar bergegas pulang ke rumah untuk beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN