Tengah malam, Devina baru pulang ke rumah. Jalannya terlihat sempoyongan, dan sepertinya ia memang sedang mabuk. Aroma alkohol benar-benar menguar dari tubuhnya. Beberapa kali ia tersandung karena tidak ada penerangan sama sekali. Saat menyandung kaki kursi, tubuhnya hampir saja terjatuh ke lantai. Seseorang telah menyelamatkannya. Siapa?
Franklyn berusaha menopang tubuh istrinya dan membawanya kedalam pelukan. Ia berusaha menuntun wanita itu untuk masuk kedalam kamar. Saat ini waktu menunjukkan pukul dua dinihari. Dan istrinya itu bisa selamat sampai rumah berkat Lusy dan Sarah. Jika Devina dibiarkan membawa mobil sendirian, tamatlah riwayatnya.
Saat Franklyn merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, tak sengaja ia mendengar Devina meracau dengan menyebut nama seseorang. Bahkan saat Franklyn ingin pergi, tangannya segera ditarik dan membuat dirinya terjatuh di atas tubuh istrinya. Kebetulan sekali, lampu kamar Franklyn sudah padam dan hanya ada cahaya dari bulan purnama yang masuk melalui jendela kamarnya.
“Lo mau kemana, Leo,” ucap Devina.
Seketika tangan Franklyn mengepal di atas kasur. Leo. Nama itu adalah nama yang sangat ia benci dan sangat tidak ingin ia dengar. Kenapa istrinya itu harus menyebut nama Leonar sementara yang membawanya ke kamar adalah Franklyn? Apa istrinya itu tidak menghargai keberadaannya lagi?
“Leo, ayo kita bercinta. Gue suka sama lo.”
Lagi-lagi Devina meracau dan menyebut nama itu. Franklyn paham kalau istrinya itu sedang mabuk berat. Akan tetapi, haruskah ia meracau dengan menyebut nama pria lain? Apakah tidak ada sedikitpun dibenaknya memikirkan Franklyn? Hal ini tentunya membuat kebencian Franklyn terhadap Leonar semakin besar dan menggila. Bahkan ia sempat berpikir untuk melenyapkan adiknya itu dan membuangnya ke tengah lautan agar menjadi santapan hiu.
“Wanna s*x with me, Honey?” tanya Franklyn.
“Yeah, I want, Leo,” jawab Devina dengan suara seksinya.
“Okay, I'll give you tonight.”
Franklyn melumat dengan ganas bibir istrinya. Meskipun masih tercium bau alkohol, Franklyn tidak peduli. Yang terpenting, malam ini dirinya bisa melampiaskan napsunya serta amarahnya pada Devina. Berani sekali dia menyebut nama pria lain di depan Franklyn.
Franklyn terus menciumi Devina, membuat wanita itu terus mendesah dan menggeliat tak karuan. Sebuah senyum terukir di bibir Franklyn. Senyum yang menyeramkan dan terkesan sedang merencanakan sesuatu. Ia pun melucuti semua pakaian yang dipakai istrinya secara paksa, berikut dengan pakaiannya. Dan sekarang, Franklyn siap menerjang wanita yang resmi menjadi istrinya itu dengan menghujani ciuman-ciuman panas dan seksi.
Devina terus saja menggeliat, mendesah, dan meremas rambut Franklyn. Kedua mata tertutup dengan mulut menganga—merasakan kenikmatan yang tiada tara. Ia bahkan semakin gelincatan saat Franklyn mempermainkan klitorisnya dengan lidah. Itu sungguh membuat gairah Devina semakin memuncak. Tak tahu apa yang harus ia katakan selain hanya mendesah.
“Kamu suka, Sayang?” tanya Franklyn disela-sela aktivitasnya memainkan k******s Devina.
“Yes, Leo.”
Sialnya, yang masih disebut adalah nama Leo. Franklyn ingin mendengar Devina mengucapkan namanya, bukan nama laki-laki lain. Seperti saat malam pertama waktu itu.
Ketika Franklyn sudah merasakan cairan o*****e dari Devina, barulah ia memasukkan kejantanannya kedalam v****a sang istri. Ia menghentakkannya dengan kasar sehingga membuat Devina merintih kesakitan. Franklyn melakukan itu karena kesal dengan apa yang diperbuat Devina padanya. Bahkan saat bercinta saat ini pun, Franklyn terus saja merutuki Devina didalam hatinya. Tidak suka jika nama laki-laki lain disebut oleh istrinya.
“Ah... Pelan-pelan, Leo,” ucap Devina merintih.
Hentakan Franklyn benar-benar sangat kasar, membuat Devina merasa tidak nyaman. Vaginanya terasa sangat sakit karena Franklyn langsung menerobosnya tanpa memberikan jeda sedikitpun. Bahkan Devina sampai menangis akibat ulah kasar Franklyn.
Setelah sekian menit berlalu, akhirnya Franklyn mencapai puncaknya. Ia merasakan spermanya akan keluar, hingga dirinya menambah kecepatan gerakannya di atas tubuh Devina. Devina pun semakin mendesah tak karuan saat Franklyn bergerak begitu cepat, dan berakhirlah dengan desahan panjang mereka berdua.
Franklyn berbaring di sebelah kanan Devina—menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Begitu juga yang dilakukan oleh Devina. Devina merasakan vaginanya teramat sakit. Bahkan untuk sekedar menggeser saja sudah membuatnya meringis.
“Lo kasar banget, Leo,” ucap Devina sambil memeluk pria yang dianggapnya sebagai Leo. “Tapi nggak apa-apa. Gue tetap suka.”
Cukup sudah. Franklyn tak mampu lagi menahan amarahnya. Ia menggeser tubuh Devina dengan kasar, kemudian menghidupkan lampu kamarnya. Seketika, terlihat tubuh transparan mereka berdua. Tatapan kemarahan Franklyn juga turut terlihat. Sementara Devina, menganga tak percaya. Kesadarannya pulih dengan cepat saat melihat siapa yang baru saja bercinta dengannya.
“Jadi, yang....”
“Ya! Gue! Emang kenapa, hah?! Lo nggak suka?!” sela Franklyn dengan nada meninggi. “Lo ngarep kalau gue ini Leo, iya?! Mimpi lo ketinggian, Dev!”
Devina mendecak kesal. Ia bangkit dari kasur, kemudian berjalan mendekati Franklyn dengan tatapan angkuhnya. Ia menatap suaminya dari atas sampai ke bawah. Tak ada satupun yang menarik di matanya.
“Iya, gue emang nggak suka. Tapi, apa boleh buat? Semua udah terlanjur. Jadi, gue ikhlasin aja kali ya,” kata Devina dengan kedua tangan melipat di d**a yang masih terekspos itu. “Gue tahu, lo manfaatin mabuknya gue biar lo bisa main seks sama gue, kan? Huh! Norak!”
Franklyn menampar pipi kiri Devina. Membuat wanita itu tersungkur ke lantai dengan pipi yang memerah. Kilatan tajam di mata Franklyn semakin terlihat jelas. Ia tidak akan segan untuk menyakiti wanita itu, bahkan jika diperlukan, mungkin dia akan melenyapkannya.
Franklyn berjongkok di depan Devina, lalu menekan rahang wanita itu dengan tangan kirinya. Seringaian pun muncul di sudut bibir Franklyn. “Lo nggak usah sok ngerasa hebat. Suatu saat, lo juga pasti bakal butuh gue, Dev. Ingat, status lo di sini masih sebagai istri gue. Jadi, gue berhak atas diri lo,” ujarnya.
“Lepasin!”
“Nggak akan gue lepasin,” kata Franklyn.
Pria bertubuh kekar ini menarik rambut Devina, dan menyeretnya ke kamar mandi. Penyiksaan pun terjadi di sana. Franklyn menghidupkan shower dan membiarkan Devina terbasuh air dingin di tengah malam seperti ini. Lebih tepatnya pukul tiga dinihari. Astaga! Itu pasti dingin sekali.
Sambil memandikan Devina—ibaratnya—Franklyn terus memukulinya. Menimbulkan beberapa bekas luka dan memar di sana. Mengabaikan tangisan Devina sambil memohon ampun padanya. Bahkan saat Devina ingin pergi, Franklyn kembali menyeretnya dengan kasar. Inilah kemarahan Franklyn yang sebenarnya. Ia tak akan segan menyakiti orang yang sudah menyakiti hatinya. Sekalipun orang tersebut adalah istrinya.
“Ampun, Frank. Cukup,” pinta Devina.
“Nggak akan gue ampuni lo. Lo udah nyakitin perasaan gue yang masih jadi suami lo. Jadi, lo terima aja hukuman lo ini,” kata Franklyn.
Setelah selesai menghakimi Devina, Franklyn keluar lalu mengunci pintu kamar mandi. Membiarkan Devina terguyur air shower dengan tubuh yang penuh dengan luka dan memar. Franklyn tidak memikirkan lagi bagaimana kondisi Devina nantinya. Yang terpenting baginya adalah kepuasan. Puas karena sudah melampiaskan kekesalan dan amarahnya kepada Devina. Dan besok giliran Leonar yang akan merasakannya.
✒To Be Continue....