Kesebelas

1392 Kata
Langit sudah terang. Franklyn pun sudah bangun dari tidurnya yang hanya beberapa jam saja. Ia membuka kuncian pintu kamar mandi untuk melihat keadaan Devina. Saat pintu terbuka, Franklyn menyeringai. Kondisi Devina sungguh memprihatinkan. Wajah yang pucat, bibir dan tubuh gemetar, dan luka yang menghiasi tubuhnya. Hal ini yang sangat disukai Franklyn. Menyiksa orang-orang yang berani menyakiti hatinya. Dia sangat puas dan bahagia. Franklyn tidak peduli, meski Devina itu masih berstatus istrinya. Salah sendiri, kenapa Devina menyulut api kemarahannya. Jika saja istrinya itu tidak memperkeruh suasana, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Akan tetapi, menyesal pun tidak ada gunanya. Apa yang Devina tanam, itulah yang akan ia tuai. Anggap saja, ini hukuman seorang istri yang berani memikirkan pria lain, selain suaminya sendiri. Itu menurut Franklyn. Franklyn berjalan masuk mendekati Devina. Ia berjongkok, lalu menyibak rambut basah yang sedikit menutupi wajah pucat istrinya itu. Ia kembali menyeringai, merasa senang dengan apa yang dilakukannya. “Lo ngerti sekarang, kan? Inilah sifat asli gue,” kata Franklyn. Devina membuka mata, mengangkat wajahnya untuk menatap Franklyn. Tatapan yang begitu sendu, bahkan airmata sudah menumpuk di sana dan bersiap untuk segera meluncur ke pipi. “Frank, aku mohon, lepasin aku,” ucap Devina dengan suara yang bergetar. “Aku bisa perbaiki semuanya.” “Lo terlambat, Dev,” ujar Franklyn. “Masih belum, Frank.” Franklyn tertawa lepas. Kemudian berhenti dan menatap Devina dengan tajam. Bahkan sangat-sangat tajam. Membuat Devina menunduk ketakutan. “Masih belum lo bilang? Huh! Lo pikir gue bodoh, hah? Udah berapa hari gue kasih lo kesempatan. Gue biarin lo terus-terusan ngurusin si setan itu. Tapi apa, hah? Gue biarin, lo malah makin menjadi. Bukannya berubah,” ujar Franklyn dengan nada tegas. “Aku minta maaf, Frank.” “Ah! Terlambat!” Franklyn menyentakkan tangan Devina yang memegang lengannya. “Kata maaf lo itu udah basi, tahu nggak?! Harusnya sejak awal lo udah berusaha minta maaf ke gue! Bukan malah terus-terusan nempel ke dia!” Lanjutnya. “Iya, aku tahu itu. Tapi, Leo suka sama aku, Frank. Dia udah lama suka sama aku. Pas kamu nyuruh aku tidur di kamar lain, aku jadi tahu kalau kamu emang nggak tulus sayang sama aku. Makanya aku cari perhatiannya Leo,” kata Devina. Franklyn mendecih. “Lo bilang, sayang gue nggak tulus? Gila lo ya?! Kalau gue nggak tulus sama lo, gue nggak akan nikahin lo! Mikir pakai otak! Percuma lo kuliah tinggi-tinggi, tapi pemikiran lo dangkal!” “Tapi kenapa kamu nyuruh aku tidur di kamar lain? Harusnya kamu maafin aku aja,” ujar Devina. “Gue ngelakuin itu, biar lo sadari kesalahan lo! Saat gue bilang gitu, harusnya lo nggak benar-benar pergi! Karena saat lo pergi, gue nyariin lo! Gue nggak setega itu kemarin sama lo!” “Tapi, sekarang....” “Sekarang, beda ceritanya!” sela Franklyn. “Gue nggak ada kasihannya lagi sama lo! Itu karena ulah lo sendiri! Lo sebut nama si setan itu di depan gue! Padahal gue udah mau maafin lo!” “Aku ma....” “Gue tahu lo mabuk!” Franklyn kembali menyela. “Tapi, itu nggak jadi alasan buat lo nyebut nama dia! Kalau dalam keadaan mabuk lo masih nyebut namanya, berarti lo lagi mikirin dia! Lo nggak mikirin perasaan gue gimana!” Franklyn meninju tangannya ke dinding kamar mandi, kemudian berlalu begitu saja. Sementara Devina hanya bisa menangis dan menangis sambil berusaha berdiri untuk menutupi tubuhnya yang transparan dengan handuk. *** Leonar sudah berada di garasi untuk berangkat ke kantor. Hari ini, ia akan disibukkan oleh para investornya untuk membahas beberapa masalah di proyek. Ada juga yang akan membahas masalah project baru mereka. Intinya, hari ini ia akan kelelahan dan tak ada waktu untuk beristirahat barang sekejap. Saat ia hendak masuk ke mobil, tiba-tiba sebuah tangan kekar menahannya. Leonar menoleh ke samping kiri, ternyata Franklyn yang menahan kepergiannya. Seketika itu juga ia menghela napas berat. Apa lagi ini? Apa yang akan dibahas oleh kakaknya itu? Leonar kembali menutup pintu mobil, kemudian berhadapan dengan saudaranya itu. “Kenapa lagi, Kak? Gue lagi sibuk. Banyak hal yang harus gue kerjain di kantor. Kalau lo masih mau ngebahas soal Devina, sorry. Gue nggak bisa ngeladeni lo. Mending lo selesaikan sendiri masalah lo sama dia. Gue nggak ada urusannya sama kalian.” “Siapa yang mau ngebahas dia?” ujar Franklyn santai. “Gue cuma mau bilang 'selamat' sama lo.” “Selamat? Selamat apa?” tanya Leonar heran. “Ya, atas jadian lo sama asisten lo itu.” Leonar terkejut. “Lo tahu darimana, Kak?” “Ck, nggak penting gue tahu darimana. Gue cuma mau bilang gitu aja. Kalau mau pergi, silahkan. Gue juga mau pergi kok,” kata Franklyn sambil berlalu dan masuk ke mobilnya sendiri. Leonar masih mematung di sana, sedangkan Franklyn sudah pergi. Ia masih penasaran, darimana kakaknya itu tahu kalau dirinya sudah menjalin kasih dengan Amelia? Padahal ia tidak pernah mengatakan pada siapapun. Bahkan di kantor pun sikapnya terhadap Amelia tetap seperti biasanya—layaknya bos dengan asisten. Tidak ada yang berubah. Saat Leonar masih berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Devina dari arah belakang. Ia pun menoleh dan terkejut melihat kondisi Devina dengan luka lebam di wajah juga tangannya. Wanita itu menangis di depannya, membuat Leonar merasa semakin bingung dan panik. “Lo kenapa, Dev?” tanya Leonar. “Gue dipukuli sama Frank,” jawab Devina. “Apa?! Lo dipukul?!” Devina mengangguk. “Gue juga dikunciin di kamar mandi sampai pagi.” Leonar semakin membulatkan matanya. Ia memperhatikan ujung jari Devina yang keriput—ciri khas saat terlalu lama berada di air. Ia tak percaya jika kakaknya nekad berbuat seperti ini pada Devina. “G-Gue anterin ke rumah sakit ya. Biar luka lo diobatin,” kata Leonar menawarkan. Leonar melakukan ini karena merasa kasihan. Walaupun ia sudah tidak menyukai Devina, tapi dia masih punya hati. Melihat kondisi kakak iparnya seperti ini, tidak mungkin ia tega meninggalkannya sendirian. Meskipun dirinya harus segera ke kantor untuk melakukan meeting. “Nggak usah, Leo. Mending lo ke kantor. Gue bisa naik taksi,” ujar Devina menolak. “Gue nggak mau Frank salahpaham lagi sama lo.” “Tapi, kondisi lo nggak memungkinkan untuk pergi sendirian, Dev. Entar lo kenapa-napa gimana?” “Emangnya nggak ngerepotin?” tanya Devina. “Enggak. Udah, lo masuk. Biar gue anterin.” Devina mengangguk, kemudian masuk ke mobil. Begitu juga dengan Leonar. Jika Franklyn dan Amelia melihat ini, mungkin mereka akan salahpaham. Masalah semakin rumit saja. *** Franklyn sudah tiba lebih dulu di kantor. Tak sengaja ia berpapasan dengan Amelia di lobi. Franklyn menatap Amelia yang terlihat menunggu seseorang di sana dengan wajah cemas. Pria tampan ini menyeringai, kemudian mendekati kekasih Leonar. Ia berdeham untuk menarik perhatian Amelia. Amelia menoleh, kemudian menunduk—memberi hormat. Franklyn membalas dengan anggukan, lalu menyuruh Amelia untuk duduk di sofa tunggu. Ia beralasan ingin berbicara sebentar dengan Amelia. “Kamu lagi nungguin siapa?” tanya Franklyn. “Pak Leo,” jawab Amelia sedikit canggung. “Oh, dia bakalan terlambat.” “Terlambat kenapa ya, Pak?” tanya Amelia bingung. Franklyn tersenyum. “Karena dia lagi nganterin cewek ke rumah sakit. Tadi kebetulan saya perginya barengan sama dia.” “Eum... Memangnya cewek itu sakit apa, Pak?” “Mungkin cewek itu hamil kali ya. Soalnya saya lihat tadi cewek itu muntah-muntah. Leo juga perhatian banget. Ya, barangkali itu pacarnya. Karena Leo nggak pernah mau cerita ke saya kalau dia punya pacar,” jawab Franklyn, berbohong. Mendengar kebohongan Franklyn, hati Amelia terasa begitu sakit. Dadanya sesak. Ingin menangis, tetapi masih ada Franklyn di sana. Apa benar yang dikatakan oleh Franklyn? Begitulah pemikiran Amelia saat ini. “Ya, tapi ini kan masih dugaan. Belum tentu benar sih,” kata Franklyn lagi. “Kali aja itu temannya.” “Iya, Pak,” ujar Amelia dengan senyum samar. “Omong-omong, katanya dia harus meeting ya dengan investor?” Amelia mengangguk. “Kebetulan, mereka semua sudah menunggu di ruang meeting, Pak.” “Udah ditelepon Leo-nya?” “Sudah, Pak. Tapi nggak ada jawaban,” jawab Amelia. “Kalau gitu, tunggu aja. Atau mau saya aja yang gantikan?” ujar Franklyn menawarkan. “Eum... Boleh, Pak. Kasihan mereka sudah menunggu lama.” Franklyn berdiri. “Baiklah. Ayo!” Amelia mengangguk dan mengikuti langkah Franklyn menuju ke ruangan meeting. Perasaan Amelia saat ini sangat hancur. Mendengar Leonar bersama wanita lain, rasanya seperti ditikam oleh seribu pisau. Sungguh sakit. Bagaimana Leonar menghadapi Amelia nanti?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN