Leonar tiba di kantor dengan tergesa-gesa. Dirinya sudah sangat terlambat, dan berpikir bahwa para investor akan kecewa padanya. Tidak terpikir olehnya jika yang menggantikannya adalah Franklyn. Ia pun berlari melewati lobi, dan terhenti saat melihat saudara kembarnya berjalan beriringan dengan Amelia. Kedua matanya melebar dengan napas tersengal-sengal.
Amelia melihat sosok Leonar di sana. Kedua matanya memanas karena menahan tangisnya sejak tadi, setelah Franklyn mengatakan bahwa Leonar pergi dengan wanita lain. Ingin rasanya ia mencaci-maki pria yang sudah memberinya harapan palsu itu. Akan tetapi, ia juga belum bisa sepenuhnya menyalahkan Leonar. Mungkin saja ini hanya kesalahpahaman semata.
Leonar menghampiri Amelia yang berdiri di samping kanan Franklyn. Kondisinya benar-benar buruk dengan keringat yang mengucur di tubuhnya, membuat kemejanya sedikit basah dan agak berantakan. Sedangkan Franklyn, terlihat begitu angkuh dengan senyuman miringnya. Merasa puas karena telah membuat Leonar kewalahan pagi ini. Rencananya berhasil.
“Maafin aku, Amel. Aku telat,” ucap Leonar tulus.
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Terus, gimana meetingnya?” tanya Leonar.
“Gue yang gantiin,” sahut Franklyn sembari membenarkan dasinya yang agak miring. “Kasihan Amel nungguin lo dari tadi. Tapi lo malah enak-enakan jalan sama cewek lain.”
Leonar mengernyit. “Maksud kakak?”
“Udah deh, lo nggak usah pura-pura. Gue udah tahu semuanya. Amel juga udah tahu,” kata Franklyn angkuh.
“Gue beneran nggak ngerti maksud lo, Kak,” ujar Leonar.
“Maaf, saya permisi.”
Amelia memotong pembicaraan kakak-beradik itu, dan pergi begitu saja. Menghiraukan panggilan Leonar di belakang. Sementara dalam hati Franklyn, ia bersorak gembira, seakan ingin mengadakan pesta atas kemenangannya kali ini. Ia bahagia diatas penderitaan Leonar.
***
Setelah menyelesaikan beberapa tugasnya, barulah Leonar menghampiri Amelia. Kebetulan sejak tadi Amelia hanya berdiam diri di ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan Leonar. Amelia terlihat begitu murung, tak seceria biasanya. Hal ini membuat Leonar merasa begitu sedih dan sepi. Biasanya, Amelia yang selalu datang menghiburnya, tapi sekarang tidak.
Leonar mencoba untuk mendekati gadis itu. Berdeham berulang kali sampai Amelia menyadari kehadirannya. Gadis itu segera berdiri seraya menundukkan pandangannya, enggan menatap Leonar.
“Kamu marah?” tanya Leonar.
“Nggak, Pak.”
“Terus, kenapa menghindar? Panggilannya juga beda,” kata Leonar lagi.
“Nggak apa-apa, Pak.”
Leonar mengembuskan napas kasar. “Kamu lebih percaya sama orang lain ketimbang aku?”
“Nggak gitu, Pak.”
“Terus, kenapa sikap kamu berubah gini sama aku?”
“Saya lagi pengin sendiri, Pak. Saya harap bapak mengerti,” kata Amelia.
Secara tidak langsung, gadis itu mengusir Leonar dari sana. Leonar pun berusaha untuk mengerti dan meninggalkan kekasihnya sendirian.
***
Hari semakin senja. Ini menunjukkan sudah waktunya para karyawan di Dixon Company untuk bergegas pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Leonar. Ia tampak membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja sendirian, sambil terus mengembuskan napas kasar. Biasanya, Amelia yang membantunya. Akan tetapi, tidak untuk hari ini.
Setelah selesai, Leonar bergegas keluar dari ruangannya. Ia berjalan kearah lobi dengan raut wajah yang begitu murung. Dan wajahnya semakin terlihat murung saat orang yang dikasihinya berjalan dengan saudaranya sendiri. Matanya memanas, seakan ingin menangis detik itu juga. Namun, ia menahannya. Dengan jantung yang berdegub kencang, ia menghampiri Amelia dengan menahan tangan kiri gadis tersebut.
“Kamu pulang bareng aku ya,” ujar Leonar.
“Ups! Maaf, Leo. Hari ini, Amelia pulang bareng gue,” sahut Franklyn. “Mending lo jengukin tuh cewek yang lo bawa tadi pagi ke rumah sakit. Biar Amelia gue yang anter pulang.”
Leonar mengepalkan tangan kirinya. Ia menatap tajam kearah Franklyn dengan rahang yang mengeras. “Yang lo maksud cewek lain itu, istri lo! Dia lo siksa semalaman sampai luka, dan gue cuma nganterin dia ke rumah sakit!” ujarnya tegas.
Amelia yang mendengar itupun terkejut. Ternyata, ia salahpaham. Orang yang dicintainya tidak mengkhianatinya sama sekali. Tersirat dari hatinya rasa penyesalan yang teramat dalam. Seharusnya ia lebih mempercayai Leonar ketimbang Franklyn yang memang ingin menghancurkan hubungan baiknya dengan Leonar.
“Gue tahu, lo sengaja fitnah gue di depan Amel, supaya dia benci sama gue! Dasar picik!” kata Leonar lagi.
“Ya, itu terserah gue. Gue kayak gini juga karena lo. Jadi, kita impas, kan?” ujar Franklyn santai.
“Berapa kali gue harus bilang, kalau gue nggak ada urusannya sama masalah kalian! Jadi, jangan mengusik kehidupan gue sama Amelia! Permisi!”
Leonar menarik paksa Amelia untuk pergi dari sana. Sementara Franklyn membiarkan mereka pergi dengan senyuman liciknya. Mungkin, akan ada rencana lain yang mampu membuat Leonar terpisah dari Amelia.
***
Suasana dalam mobil terasa begitu canggung. Sedari tadi, mereka berdua hanya diam saja, terutama Amelia. Gadis itu bingung harus memulai percakapan darimana. Ia juga merasa bersalah karena telah mempercayai orang yang bersikap buruk pada Leonar. Setiap kali ingin bicara, tenggorokannya tercekat sehingga yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memainkan jemarinya di atas paha.
Leonar terdengar mengembuskan napas kasar. Emosinya terhadap sang kakak masih terlalu besar. Kenapa harus Franklyn yang menjadi penyebab ketidakbahagiaannya? Kenapa tidak orang lain saja?
“Aku minta maaf karena telah menyakiti hatimu,” ucap Leonar tanpa melihat Amelia. “Tapi kalau boleh jujur, aku nggak pernah berniat untuk menyakitimu.”
“Ini salah aku, Leo. Harusnya aku percaya sama kamu.”
Leonar menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Ia berbalik menatap Amelia, kemudian menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Tatapannya begitu sendu. Amelia menjadi semakin merasa bersalah pada Leonar.
“Kamu nggak salah, Amel. Wajar kalau cewek cemburu saat tahu pacarnya jalan sama cewek lain.” Leonar mengembuskan napas sekali lagi. “Yang harusnya disalahkan itu kakakku. Dia yang ngebuat kamu jadi salahpaham. Dia sengaja buat kayak gitu supaya hubungan kita hancur, karena dia udah tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya.”
Amelia menangis. “Aku tetap mau minta maaf sama kamu. Aku nyesal banget karena nggak percaya sama kamu. Harusnya aku tanya dulu, bukan malah jutekin kamu kayak gitu.”
Leonar tersenyum. Ia menarik Amelia dan membawanya kedalam pelukannya. Ia mencium puncak kepala Amelia, kemudian berkata, “Sebelum kamu minta maaf, aku udah maafin kok. Aku nggak pernah bisa marah sama cewek sebaik dan secantik kamu. Rugi banget kalau aku marahin kamu, Sayang. Bisa nyesal seumur hidup.”
“Makasih ya,” ucap Amelia sambil tersenyum dalam pelukan kekasihnya itu. “Aku beruntung bisa punya kamu.”
“Ya iya dong. Aku kan beda dari cowok lain,” kata Leonar percaya diri.
Amelia tertawa sambil memukul pelan d**a bidang Leonar. Setelahnya, ia mendongak untuk bisa menatap kekasih hatinya itu. Leonar pun menunduk untuk membalas tatapan Amelia. Pria itu tersenyum, kemudian mencium lembut bibir indah Amelia. Sementara Amelia menutup matanya dan membalas setiap ciuman yang dimulai oleh Leonar.
Masalah diantara mereka pun akhirnya selesai. Dan semoga, besok tidak ada hal yang memisahkan mereka lagi.