Tigabelas

1213 Kata
Amelia tiba di rumah dan bergegas masuk setelah Leonar meninggalkan rumahnya. Saat membuka pintu, ia dikejutkan oleh seorang pria tampan sedang bercengkerama dengan ibunya. Pria itu tak lain adalah Franklyn. Pertanyaannya, darimana Franklyn tahu alamat rumah Amelia? Sang Ibu—Erna—menyuruh Amelia untuk segera masuk. Erna kelihatan begitu senang. Apa yang sudah dikatakan Franklyn pada Erna sehingga ibu dari Amelia itu merasakan kegembiraan? Amelia tidak pernah melihat senyuman selepas itu dari ibunya semenjak kepergian ayahnya beberapa tahun silam. Amelia duduk di sofa, berhadapan langsung dengan Franklyn. Sementara ibunya duduk di kursi roda tepat di samping kanan Amelia. Gadis itu begitu kebingungan. Kenapa pria itu bisa berada di rumahnya? Sedangkan ia tak pernah memberitahukan alamatnya pada Franklyn. “Amel, kenapa kamu nggak cerita ke ibu, sih? Ibu senang kamu punya pasangan sekarang. Udah ganteng, kaya, direktur lagi,” ujar Erna. Amelia mengernyit. “Pasangan?” “Kamu nggak perlu pura-pura lagi, Sayang. Jujur aja sama ibu kamu,” sahut Franklyn. “Maaf sebelumnya, Pak. Kita nggak ada hubungan apapun, hanya sebatas rekan kerja. Bapak atasan saya, dan saya bawahan bapak. Lagian, bapak juga udah menikah. Nggak mungkin saya menjalin hubungan dengan cowok yang berstatus suami orang,” ujar Amelia tegas. “Loh, ini sebenarnya gimana sih?” tanya Erna bingung. “Ibu, Amel memang belum siap untuk bilang ke ibu. Mungkin lain waktu dia akan cerita sendiri, Bu,” jawab Franklyn. Amelia menggeleng sambil mendengus. Ia memandang Franklyn hanya sebelah mata dan begitu sinis. Jadi, seperti ini sifat asli dari seorang Franklyn Dixon? Pikir Amelia. “Oh, begitu,” ujar Erna. “Dia bohong, Bu. Ibu nggak boleh percaya sama dia,” kata Amelia sambil berdiri. “Lebih baik, bapak keluar dari rumah saya sekarang juga. Dan jangan pernah bapak datang lagi kesini.” Franklyn mendecih. Ia berdiri kemudian bergegas keluar dari rumah tersebut. Ia masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan penuh. Sementara Amelia masih memiliki satu tugas lagi untuk meyakinkan Erna bahwa yang dikatakan Franklyn itu tidaklah benar. Semoga saja Erna mau mengerti. *** Franklyn pulang ke rumah dengan perasaan kesal. Caranya untuk menghancurkan Leonar gagal. Sepertinya, ia harus memikirkan cara lain agar hidup adiknya itu hancur. Baginya, Leonar penyebab dari semua masalah ini, dan ia tidak suka itu. Apapun akan ia lakukan untuk membuat Leonar menderita selama-lamanya. Kembaran Leonar ini masuk kedalam kamarnya. Ia menatap Devina tengah tertidur pulas di kasur dengan luka yang masih terlihat jelas di wajahnya. Matanya juga terlihat sembab. Mungkin istrinya itu habis menangis, memikirkan nasib pernikahannya dengan Franklyn. Franklyn mengunci pintu kamar, lalu mendekat ke tempat tidur. Tatapan matanya terus tertuju pada Devina serta luka-luka yang di tubuh istrinya. Ia duduk di tepi ranjang, kemudian mengusap lembut rambut istrinya. Sejujurnya, masih ada tersimpan rasa sayang dan cinta di hatinya. Hanya saja, ia terlalu angkuh untuk menunjukkannya. Saat tangan kiri Franklyn menyentuh sudut bibir istrinya yang terluka, ia merasakan gerakan spontan dari istrinya. Franklyn melihat Devina membuka mata dan terkejut akan kehadirannya disana. Devina terduduk dan meminta ampun pada Franklyn. Mungkin Devina berpikir bahwa Franklyn akan memukulnya lagi karena tidur di kamar tersebut. “Maaf, Frank....” “Kenapa minta maaf?” tanya Franklyn. “Karena aku tidur disini,” jawab Devina ketakutan. “Nggak apa-apa.” Devina sedikit menghela napas lega. “Kamu mau makan? Biar aku siapin.” “Nggak. Aku udah makan,” jawab Franklyn. “Udah kamu tidur lagi aja. Aku mau mandi dulu.” Devina menurut. Ia kembali merebahkan tubuhnya, sementara Franklyn bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. *** Di rumah, Amelia terlihat berbicara dengan Erna. Kerut di keningnya terlihat saat menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi akibat ulah Franklyn. Amelia tidak mengerti, kenapa Ibunya sampai terhasut seperti itu? Hanya karena diiming-imingi sejumlah uang, Erna rela menjual putrinya sendiri untuk pria seperti Franklyn. Amelia paham jika saat ini ia membutuhkan banyak uang untuk tetap melakukan terapi demi kesembuhan Erna. Akan tetapi, ia juga tidak ingin merendahkan harga dirinya hanya karena faktor ekonomi yang minim. Amelia juga bukan wanita bodoh yang dengan mudahnya menerima Franklyn dalam kehidupan pribadinya. Erna terlihat membuang wajahnya kearah lain saat Amelia bersujud di kakinya. Ia seakan enggan untuk menatap putrinya sendiri karena putri kesayangannya itu menolak keinginannya. “Ibu, aku nggak ada hubungan apapun sama dia. Aku juga nggak suka sama dia, Bu,” ucap Amelia. “Kenapa kamu nggak suka? Dia itu kaya-raya. Kalau kamu nikah sama dia, hidup kita bakal enak, berkecukupan. Nggak kekurangan kayak gini,” kata Erna bersikeras dengan keinginannya. “Bu, dia itu cuma atasan aku. Lagian dia udah nikah, Bu. Nggak mungkin aku berhubungan sama suami orang. Itu sama aja ngerendahin diri aku sendiri.” Erna menatap tajam Amelia. “Memangnya kenapa? Toh laki-laki nggak ada batasan. Laki-laki bisa punya istri lebih dari satu.” “Jadi, Ibu mau aku nikah sama dia, terus jadi istri keduanya?” “Memang itu yang Ibu mau,” jawab Erna. “Tega ya Ibu sama aku. Hanya karena harta, Ibu tega ngejual aku. Aku nggak nyangka sama pemikiran Ibu.” Setelah mengucapkan itu, Amelia masuk ke kamar sambil menangis. Sementara Erna terlihat mendengus tanpa merasa bersalah sedikitpun pada putrinya. Ibu macam apa dia? Apa dia sudah tidak waras? Di kamar, Amelia mengambil ponselnya kemudian menghubungi orang yang selama ini telah menguasai hatinya. Ia berharap, setelah menghubungi Leonar, hatinya akan merasa tenang. Panggilan di terima, dan terdengarlah suara Leonar yang teramat lembut dari seberang sana. Amelia merebahkan tubuhnya di kasur dengan ponsel yang menempel di telinga kanannya. “Kamu udah tidur belum?” tanya Amelia. “Belum, Sayang. Kenapa?” “Aku mau curhat. Boleh nggak?” Leonar tertawa di seberang sana. “Ya boleh dong, Sayang. Emang kamu mau curhat apa?” “Soal Ibu,” jawab Amelia. “Ibu kenapa? Sakit?” Amelia menggeleng. “Tadi sewaktu pulang dari kantor, Pak Frank datang ke rumah aku. Dia ngaku-ngaku sebagai pacar aku. Ibu percaya karena dikiranya Pak Frank itu kamu.” “Maksudnya, Kak Frank datang ke rumah kamu dan bilang kalau dia itu pacar kamu?” ujar Leonar memperjelas maksud Amelia. “Iya,” jawab Amelia sesenggukan. ”Aku udah coba jelasin kalau Pak Frank itu bukan kamu. Tapi Ibu tetap ngotot. Dan yang bikin aku sedih, Ibu nyuruh aku untuk nikah sama Pak Frank. Padahal aku udah bilang kalau dia udah nikah.” “Sayang, kamu tenang ya. Besok aku yang bakal jelasin ke Ibu kamu. Sekarang, kamu tidur. Udah hampir jam 12 malam. Besok aku jemput kamu di rumah ya,” kata Leonar. “Iya. Makasih ya udah mau dengar curhatan aku,” ucap Amelia tersenyum. “Kembali kasih, Sayang. Goodnight.” “Goodnight too.” Amelia memutus sambungan teleponnya, kemudian tertidur setelah meletakkan ponselnya di atas nakas. *** Keesokan paginya, Leonar tampak mendekati Franklyn yang tengah duduk santai sambil menikmati kopinya di ruang makan. Kedua tangannya mengepal disisi kanan dan kiri tubuhnya. Tatapannya juga terlihat begitu tajam dan membara karena amarah. Leonar marah sebab Franklyn tengah berusaha untuk menghancurkan hubungannya dengan Amelia. Ia sangat tidak suka jika masalah pribadinya dicampuri oleh orang lain, termasuk Franklyn. Sesaat setelah mendekati meja makan dan berdiri tepat di samping kiri Franklyn, Leonar pun menggebrak meja makan dengan tangan kirinya. Hal itu membuat Franklyn dan Devina terkejut. “Kenapa lo? Pagi-pagi udah gebrak meja,” ujar Franklyn setelahnya. Devina ingin ikut dalam pembicaraan itu, tetapi ia urungkan. Jika ia ikut, keadaan mungkin akan semakin memburuk. Dan yang paling ia takutkan adalah kemarahan Franklyn nantinya. “Justru yang harusnya nanya itu gue! Kenapa lo datang ke rumah Amelia, terus ngaku-ngaku jadi pacarnya di depan Ibunya?! Belum puas lo buat gue menderita, hah?!” ucap Leonar dengan suara lantang. “Gue nggak akan pernah puas. Sampai kapanpun,” ujar Franklyn santai. “Gue ini salah apa sih sama lo?! Kenapa lo selalu ngerusak kebahagiaan gue?! Kita ini saudara!” “Apa? Saudara lo bilang?” Franklyn berdiri sambil mendecih kecil. “Nggak usah ngaku-ngaku deh. Lo itu bukan saudara gue. Jadi, lo itu emang pantes gue tindas.” “Kak, kita ini kembar! Lo nggak bisa ngelak!” “Bodoamat. Gue nggak peduli,” ujar Franklyn angkuh. “Udah ya. Gue mau ke kantor dulu. Bye.” Franklyn mengambil tasnya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Leonar. Bahkan ia enggan untuk berpamitan pada Devina. Sedangkan Leonar hanya bisa diam sambil menatap punggung Franklyn yang menghilang dibalik pintu. Ia tak menyangka jika dirinya mempunyai seorang kembaran yang sama sekali tidak punya belas kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN