Empatbelas

1621 Kata
Leonar memilih untuk tidak sarapan di rumah, meski Devina memaksanya. Selera makannya mendadak hilang karena melihat sikap Franklyn yang sama sekali tidak pernah berubah. Sejak dulu, hidupnya hanya bisa mengganggu dan mengacaukan kehidupan Leonar saja. Memang tidak secara blak-blakan, tetapi Leonar bisa merasakannya. Mulai dari hal kecil, hingga hal besar. Semuanya dikuasai sendiri oleh Franklyn, dan Leonar hanya bisa mendapatkan sisanya. Leonar bergegas menuju ke rumah Amelia karena semalam ia berjanji untuk menjemputnya. Sementara Devina, terlihat duduk di meja makan. Termenung sendiri sambil menatap hidangan di depannya. Mendengar percakapan kedua saudara kembar tadi, membuat kepala Devina mendadak pusing. Hal yang saat ini ada di benak Devina adalah, untuk apa Franklyn mendatangi rumah Amelia dan mengaku sebagai kekasihnya? Apa ini cara Franklyn membalaskan dendamnya pada Devina karena masalah yang lalu? “Kenapa dia mau balas dendam? Bukannya gue udah minta maaf sama dia. Gue juga udah berusaha berubah jadi istri yang baik buat dia. Apa usaha gue belum cukup buat yakinin dia?” gumam Devina. Kedua tangannya meremas beberapa lembar tisu yang ada di meja makan. Mendengar suaminya mencoba mendekati Amelia, hatinya seakan panas. Dan seketika ia teringat bagaimana dirinya melakukan hal sama pada Franklyn. Mengejar Leonar yang merupakan adik iparnya sendiri tanpa memikirkan perasaan Franklyn. “Apa perasaan Frank kayak gini waktu itu? Sakit banget,” ujarnya sambil menekan dadanya yang terasa sesak. “Ternyata sesakit ini saat pasangan gue ngincar cewek lain.” Devina menelungkupkan wajahnya di atas meja makan. Menangis sesenggukan dan membiarkan hidangan yang tersedia menjadi dingin. Ia merasa bahwa karma sudah menghampirinya pagi ini. Memang benar apa kata pepatah. Segala sesuatu yang diperbuat, akan berimbas pada kita. Devina menengadah kemudian membuang napas kasar. Ia menghapus airmatanya, lalu berdiri dengan lantang sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia berujar, “Gue nggak akan pernah ikhlas Frank dekat sama Amelia. Bakal gue kasih perhitungan ke cewek kampung itu.” Setelahnya, Devina bergegas ke kamar. Mengganti pakaiannya, lalu pergi meninggalkan rumah. Mungkinkah ia akan menemui Amelia dan membuat perhitungan? *** Di kantor, Franklyn terlihat sedang menyapa beberapa karyawan dengan ramah. Tersenyum tulus, dan berhasil membuat semua orang heran akan tingkahnya. Untuk pertama kalinya, Franklyn bersedia menyapa karyawan di sana dan tersenyum pada mereka. Suatu keajaiban, bukan? Banyak dari mereka yang berbisik perihal perubahan sikap Franklyn. Bahkan sebagian menganggap bahwa Franklyn baru saja kerasukan jin di jalanan. Ada juga yang berasumsi bahwa Franklyn baru saja mendapatkan jatah dari istrinya tadi malam. Atau mungkin Franklyn baru memenangkan proyek besar untuk perusahaan Dixon Company. “Saya ada pengumuman untuk kalian,” kata Franklyn sambil berdiri di tengah lobi. Semua karyawan mendekatinya. “Hari ini, saya akan mentraktir kalian untuk makan siang di restoran bintang lima. Ya, hitung-hitung ini bonus untuk kinerja kalian.” Semua karyawan saling tatap satu sama lain. Mereka masih tidak percaya bahwa yang barusan berbicara adalah Franklyn Dixon. Padahal selama ini Franklyn selalu menatap karyawannya sebagai kasta terendah. Tetapi, kenapa sekarang berubah? Apa dia benar-benar kerasukan makhluk halus? “Kenapa diam? Kalian nggak mau saya traktir?” tanya Franklyn. “Mau, Pak.” “Bagus. Kalau gitu, nanti siang kita kumpul di sini, dan berangkat bareng,” ujar Franklyn senang. “Saya ke ruangan dulu.” Tak berapa lama setelah Franklyn masuk ke ruangan, Leonar dan Amelia memasuki lobi. Mereka berdua tampak bingung, kenapa para karyawan berkumpul di lobi sambil bercerita dan menyebut nama Franklyn? Leonar menghampiri salah satu karyawan, dan bertanya tentang apa yang baru saja terjadi. Karyawan tersebut menjelaskan apa yang tadi disampaikan oleh Franklyn. Sontak hal itu membuat Leonar terkejut, begitupun dengan Amelia. Setelah mendapatkan informasi yang diinginkan, mereka bergegas masuk ke ruangan Leonar. Di dalam, mereka terlihat berbicara serius perihal Franklyn. “Aku ngerasa ini nggak beres,” ujar Leonar. “Nggak beres kenapa?” tanya Amelia. “Ya kamu kan tahu gimana sifat asli Franklyn. Dia nggak mungkin berubah secepat itu, Amel,” jawab Leonar. “Mungkin dia emang lagi mau traktir karyawan. Kita berpikir yang positif aja, Leo.” Amelia melihat beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Leonar. “Mendingan kamu fokus sama berkas-berkas ini. Banyak yang harus kamu tandatangani. Aku mau ke ruangan dulu.” Leonar hanya mendecak kesal, kemudian duduk dan mengambil satu berkas untuk ia tandatangani. Begitu seterusnya. Sementara Amelia sibuk dengan ruangannya sendiri. Dan tanpa ia sadari, sudah ada laki-laki yang duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya. Amelia terkejut sampai mundur ke belakang. “Pak Frank?” Franklyn tersenyum. “Sorry, udah buat kamu kaget.” “Ng-gak apa-apa, Pak,” ujar Amelia. “Nanti siang kamu ikut ya.” “Ikut kemana, Pak?” tanya Amelia. “Makan siang. Bareng sama karyawan lain,” jawab Franklyn. “Mau, kan?” “Maaf, Pak. Saya harus ikut Pak Leo siang ini. Kebetulan ada meeting sama klien di luar, sekalian makan siang,” ujar Amelia menolak secara halus. “Kalau gitu, barengan aja. Kalian makan siang dimana? Biar nanti kami ikut ke sana.” Mendengar ucapan Franklyn, Amelia bingung harus menjawab apalagi untuk menolak ajakannya. Ia sangat tidak nyaman berdekatan dengan pria yang sudah berstatus suami orang. Apalagi sampai mengajak makan siang bersama. Dan ajakannya terdengar memaksa, padahal Amelia sudah menolak dengan alasan yang tepat. “Amel, kamu mau, kan?” tanya Franklyn. “Nanti saya tanyakan dulu sama Pak Leo. Saya nggak berani ambil keputusan sendiri,” jawab Amelia. “Kamu nggak perlu tanya dia. Bos besarnya di sini saya. Jadi, kamu harus turuti perintah saya,” kata Franklyn. Amelia mendengus. “Maaf sebelumnya, Pak. Atasan saya yang sebenarnya adalah Pak Leo. Jadi, saya berhak minta izin padanya.” “Wow! Ternyata kamu berani juga ya.” Franklyn berjalan mendekati Amelia. Sementara Amelia segera bergerak mundur sambil merapalkan doa keselamatan dalam hati. Ia berharap, Leonar segera masuk ke ruangannya dan menolongnya dari pria jahat ini. Langkah Franklyn semakin mendekati Amelia, dan gadis itu terpojok di dinding. Wajah Franklyn mendekat sambil memberikan seringaian di bibirnya. Tatapan matanya begitu tajam dan mengarah tepat ke mata indah milik Amelia. Hal ini semakin membuat Amelia takut. “Saya nggak suka penolakan. Jadi, jangan tolak saya hanya karena alasan nggak jelas. Leo itu bukan siapa-siapa di sini. Dia cuma numpang kerja. Pemilik dari perusahaan ini adalah saya. Jadi, kamu harus turuti kemauan saya. Paham?” ujar Franklyn sedikit memberi penekanan pada kata ‘paham’. “Tapi saya nggak bisa turuti bapak. Maaf,” kata Amelia. Franklyn mendecih. “Apa kelebihan dia, hah? Sampai kamu lebih menghargai dia dibanding saya.” “Setidaknya, dia bukan pemaksa seperti bapak. Dia juga nggak egois,” jawab Amelia. “Oke, saya memang egois. Saya inginkan kamu, sekarang.” Tanpa aba-aba, Franklyn mencium paksa Amelia dan berusaha membuka kemeja yang dikenakan Amelia. Hal itu membuat Amelia berteriak dan mencoba untuk mendorong tubuh kekar Franklyn. Namun, tenaganya terlalu lemah untuk bisa melakukan itu. Ia hanya bisa berharap semoga Tuhan mengirimkan Leonar ke ruangannya dan menolongnya. Kemeja yang dikenakan Amelia sudah sobek akibat dari tarikan yang dilakukan Franklyn. Pria itu benar-benar memaksanya kali ini. Amelia tidak menyangka sifat dan kelakuan Franklyn berbanding terbalik dengan Leonar. “Jangan, Pak! Lepas!” teriak Amelia. “Saya nggak akan lepasin kamu. Saya harus mencicipi tubuhmu lebih dulu sebelum Leo. Karena saya nggak suka dia menang,” kata Franklyn. Pria tak tahu diri ini terus berusaha melakukan hal tak senonoh pada Amelia. Sementara Amelia berusaha meronta dan berteriak, berharap ada yang mendengarnya. “Tolong!” “Diam! Jangan berisik!” bentak Franklyn. Namun, Amelia tidak peduli. Ia tidak rela dirinya dilecehkan dan dinodai oleh orang yang tidak punya hati ini. Lebih baik dirinya mati terbunuh daripada harus menanggung aib seumur hidupnya. “Tolong!” Saat Franklyn sibuk ingin menguasai Amelia, Leonar yang mendengar teriakan gadisnya pun berlari dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Matanya membelalak sempurna dan melangkah cepat kearah Franklyn. Leonar menarik paksa Franklyn untuk menjauh dari Amelia, dan memukulnya. Ia tak memberi jeda sedikitpun pada saudara kembarnya itu. Kekesalannya memang sudah ada sejak semalam. Dan ini saatnya ia melampiaskan kekesalannya itu pada Franklyn. Leonar terus memukul Franklyn tanpa ampun. Sementara Amelia meringkuk di sudut sambil menangis dan menutupi bagian kemejanya yang sobek. Dan Franklyn, semakin lemas karena pukulan Leonar tidak berhenti sedikitpun. Wajahnya penuh dengan luka, dan perutnya juga sangat sakit. Bahkan ia tak sempat untuk memukul balik Leonar. Setelah puas menghajar saudaranya itu, Leonar menarik paksa kerah kemeja Franklyn. Ia menatapnya lekat dengan tatapan penuh kebencian dan amarah. “Udah gue peringatin lo buat jauhin Amel!” kata Leonar tegas. Franklyn masih bisa menyeringai meskipun dirinya sudah babak belur seperti itu. “Gue nggak akan nyerah gitu aja sama peringatan nggak guna lo!” kata Franklyn. “Gue nggak akan biarin lo deketin Amel lagi. Gue nggak akan segan buat bunuh lo kalau sampai terjadi apa-apa sama Amel. Keluar!” Leonar mendorong tubuh Franklyn kearah pintu. Franklyn masih terus menyeringai sambil menatap kearah Amelia yang terlihat sangat ketakutan. “Gue bakal terus deketin dia, sampai gue dapat apa yang gue mau,” ujar Franklyn. “KELUAR!” Franklyn pun keluar dengan jalan yang agak sempoyongan. Setelahnya, Leonar bergegas membuka jasnya lalu menutupi tubuh Amelia. Ia menuntun Amelia untuk duduk di kursi. Amelia sendiri masih terus menangis. Ia tak mengira bahwa hari ini adalah hari terburuk baginya. Untung saja Leonar segera datang. Bagaimana jika Leonar tidak datang? Mungkin kesucian yang selama ini ia jaga akan lenyap begitu saja. Leonar berusaha menenangkan Amelia. Ia mengambil segelas air yang tersedia di sana, lalu memberikannya pada Amelia. Gadis itu menerimanya dan menengguk sampai habis. “Udah tenang?” tanya Leonar. Amelia hanya mengangguk. Leonar pun memeluk gadisnya sambil mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Ia bersyukur masih bisa melindungi Amelia dari kejahatan kakaknya. “Aku bakalan terus jagain kamu. Mulai sekarang, kita satu ruangan. Meja kamu bakal aku pindahin ke ruangan aku,” ujar Leonar. “Tapi....” “Nggak ada kata ‘tapi’,” sela Leonar. “Ini semua demi kebaikan kamu, Sayang. Aku lakuin semua ini untuk terus ngelindungi kamu.” Amelia tersenyum. “Makasih ya.” “Iya, Sayang.” Leonar melepas pelukannya, lalu memperhatikan lengan kemeja Amelia yang sobek. Ada sedikit luka gores di sana. “Aku obatin luka kamu ya.” Amelia hanya mengangguk. Leonar mengambil kotak P3K dan mengambil kapas, alkohol, dan obat merah. Ia mengobati luka tersebut secara hati-hati agar Amelia tidak merasakan sakit. Setelah membersihkannya menggunakan alkohol, Leonar mengolesi obat merah di luka tersebut. “Ada lagi yang luka?” tanya Leonar. “Nggak ada.” “Syukurlah,” ucap Leonar. “Kamu tadi sempat dicium?” Amelia mengangguk. “Dimana?” tanya Leonar. Amelia menunjuk bagian pipi kanan, kemudian Leonar menciumnya. Amelia terkejut sambil terus menatap kekasihnya itu. “Biar bekasnya hilang,” ujar Leonar. “Di bibir ada nggak?” “Ih, m***m!” Leonar tertawa mendengar penuturan kekasihnya. Sementara Amelia memukul pelan lengan Leonar sambil tersenyum malu. Leonar menghentikan tawanya, kemudian membawa Amelia kembali ke dalam pelukannya. Ia memeluknya sangat erat dan mendapat balasan dari Amelia. “Aku janji, akan terus jagain kamu. Aku nggak akan pernah tinggalin kamu. Kamu harus selalu ada di samping aku,” ujar Leonar. “Iya. Aku percaya kamu bisa jagain aku. Aku juga nggak akan pernah tinggalin kamu,” balas Amelia. Leonar tersenyum, lalu mencium rambut Amelia. Ia sudah sangat yakin bahwa Amelia memang jodoh terbaik yang dikirimkan Tuhan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN