Limabelas

1119 Kata
Di jam makan siang, biasanya orang-orang akan bersantai menikmati makanan mereka. Bercanda-gurau dengan teman, sahabat, atau kerabat dekat. Meskipun singkat, tetapi amat berharga. Namun, hal itu tidak terjadi pada Leonar dan Amelia. Ya, mereka berdua justru sibuk melakukan presentase di depan beberapa klien dan investor di salah satu restoran yang dekat dengan Dixon Company. Bahkan mereka belum memesan makanan apapun, sampai presentase ini berakhir. Maklum, Leonar lebih mengutamakan profesionalismenya dibandingkan perutnya. Setelah beberapa menit menyampaikan perihal keuntungan serta data riset yang akurat, Leonar pun menutup presentasenya. Presentase ini sendiri bertujuan untuk menarik beberapa investor besar untuk tetap bekerjasama dengan Dixon Company. Dengan begitu, perusahaan yang dikelola olehnya dan juga Franklyn akan semakin maju, dan Calvin pasti akan sangat bangga pada mereka. Itulah yang ada di pikiran Leonar saat ini. Tujuannya hanya ingin memperkokoh perusahaan yang sudah dibangun oleh Ayahnya dengan susah payah. Leonar tidak ingin membuat Calvin kecewa. Itu saja. Leonar duduk di kursi sebelah kiri Amelia, kemudian menjawab beberapa pertanyaan dari para investor yang masih belum memahami konsep yang dijelaskan tadi. Sebisa mungkin, Leonar menjawab dengan detail agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya. Meskipun sebenarnya cacing di perut Leonar sudah berdemonstrasi di dalam agar tuan-nya segera memberi mereka makan. “Ada lagi yang ingin ditanyakan?” tanya Leonar. “Cukup. Kami sudah paham,” jawab salah satu perwakilan. Leonar mengangguk. “Kalau begitu, mari kita makan bersama.” Semuanya mengangguk setuju. Mereka mulai memesan makanan dan minuman. Leonar sendiri memesan makanan kesukaan Amelia yaitu seafood. Ia juga memesan jus jeruk dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang agak kering karena terlalu banyak bicara. Setelah beberapa menit menunggu, makanan pun datang dan mereka makan bersama dengan tenang. Sementara di tempat lain, Franklyn tampak melampiaskan kekesalannya pada barang-barang yang ada di ruangannya. Acara makan siang bersama karyawan kantor dibatalkan olehnya. Beberapa karyawan merasa kecewa, namun ada juga yang berusaha untuk memaklumi Franklyn. Franklyn sendiri tidak tulus mentraktir karyawannya. Tujuannya mengumumkan itu adalah hanya ingin menarik simpati Amelia, lalu dirinya bisa mengajak gadis itu untuk makan siang bersamanya. Namun sayang, rencananya justru gagal akibat kecerobohannya sendiri. Jika saja saat itu ia sabar, mungkin kejadian memalukan ini tidak akan menimpanya. Saat Franklyn tengah asyik menghancurkan barang-barang miliknya, deringan ponsel terdengar dari saku celananya. Seketika itu juga, ia menghentikan segala aktifitasnya dan menerima panggilan tersebut tanpa melihat nama si pemanggil. Jawaban yang terlontar dari mulut Franklyn juga terdengar ketus. “Halo!” “Frank? Kamu baik-baik aja?” Franklyn terkejut mendengar suara lembut di seberang sana. Seketika itu ia melihat layar ponselnya, dan tertera nama ‘My Mom’ di sana. Kedua mata Franklyn terbelalak, kemudian segera meminta maaf pada ibunya. “Maaf, Ma. Aku baik-baik aja,” jawabnya. “Kamu yakin?” tanya Delika. “Yakin,” jawab Franklyn. “Tumben mama telepon aku. Ada apa?” “Loh? Emangnya nggak boleh ya?” Franklyn mendengus. “Ya, boleh. Cuma tumben aja. Biasanya mama telepon anak kesayangan mama itu.” “Siapa? Leo?” “Emangnya siapa lagi, Ma?” ujar Franklyn mulai kesal jika mengingat nama Leonar. “Kamu itu juga anak mama. Jadi, jangan cemburuan gitu,” ucap Delika. “Mama telepon kamu cuma mau tanya kabar kamu sama Devina. Udah ada kemajuan belum?” Franklyn mengernyit. “Maksud mama?” “Ih, masa nggak ngerti sih?!” ujar Delika kesal. “Huft! To the point aja, Mom,” kata Franklyn. “Hamil loh, Sayang. Menantu mama itu udah hamil atau belum?” Franklyn menghela napas kasar sambil memijat pelipisnya. Sepertinya Delika menanyakan hal itu di waktu yang salah. Franklyn sama sekali tidak berminat untuk membahas itu, sebenarnya. Ia masih harus fokus pada rencananya untuk mendapatkan Amelia dan menghancurkan Leonar secara bersamaan. Bukan untuk memfokuskan diri pada Devina. Mau istrinya itu hamil atau tidak, itu bukan jadi hal yang penting untuknya saat ini. “Frank? Kok diam aja?” “Mom, jangan bahas itu. Kalau mama mau tahu, mama telepon aja si Devina ya. Aku lagi banyak kerjaan disini. Jadi, nggak sempat untuk mikirin itu,” jawab Franklyn. Devina hanya diam disana. Mungkin ia syok mendengar jawaban dari anaknya itu. Padahal bisa memiliki cucu dari anak-anaknya adalah impian terbesar Delika. Akan tetapi, jawaban Franklyn seakan menghancurkan impian terbesarnya itu. Dan mungkin saja Delika sudah menangis disana. “Udah dulu ya, Ma. Aku mau kerja.” Franklyn mematikan sambungan telepon secara sepihak, kemudian melemparkan ponselnya begitu saja ke dinding hingga pecah. Tak ada rasa penyesalan dalam dirinya karena secara sengaja menyakiti perasaan ibunya. Pantaskah ia disebut sebagai seorang anak? ••• Setelah jam makan siang berakhir, Leonar dan Amelia kembali ke kantor. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali bercanda gurau. Tangan Amelia pun tak lepas dari genggaman tangan Leonar. Sepanjang lobi, mereka terus bergandengan tanpa mempedulikan karyawan yang melihatnya. Banyak dari mereka yang menggosipkan tentang hubungan Leonar dengan Amelia. Dan 90% itu berasal dari karyawan yang mengidap penyakit jomblo ngenes akut. Mereka iri dengan Amelia yang bisa berpacaran dengan bosnya. “Eh, beruntung banget si Amel itu.” “Iya. Gue jadi ngiri sama dia.” Bukan Leonar tak mendengar ocehan itu. Ia memang sengaja bersikap santai dan mengabaikan orang-orang yang menggunjingnya. Selagi Amelia ada di sampingnya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kuat. Akan tetapi, berbeda dengan Amelia. Gadis itu justru berpikir sebaliknya. Ia takut dan merasa tidak enak pada karyawan disana, terutama yang sudah lama menaruh hati pada Leonar. Bahkan dari mereka mungkin menganggap bahwa Amelia adalah seorang pelakor yang dengan berani mengambil gebetan mereka. Amelia berjalan menunduk saat melewati salah satu karyawan yang sudah lama tidak menyukainya. Karyawan wanita itu bernama Nelly Adelia. Ia menjabat sebagai resepsionis di Dixon Company. Nelly sendiri bekerja untuk perusahaan tersebut sebelum Amelia masuk. Ia bahkan sempat mengajukan diri untuk menjadi asisten pribadi Leonar, namun ditolak. Begitu besar ketertarikan Nelly pada Leonar sampai ia rela menjatuhkan harga dirinya agar bisa dekat dengan Wakil CEO itu. Nelly adalah orang pertama yang memusuhi Amelia saat dirinya tahu bahwa gadis itu yang akan menjadi asisten pribadi Leonar. Kesal? Sudah pasti. Ingin protes? Tidak mungkin. Resikonya terlalu besar. Jika ia memberontak, kemungkinan besar ia akan diturunkan jabatannya, atau bahkan dipecat. Menurutnya, lebih baik diturunkan jabatan daripada dipecat. Kenapa? Karena jika dirinya dipecat, otomatis ia tak akan pernah bisa melihat dan bertemu dengan Leonar. Nelly juga orang yang selalu menyebarkan gosip tidak baik tentang Amelia. Sehingga, banyak dari mereka yang tidak menyukai Amelia. Mereka menganggap bahwa Amelia adalah w************n dan perebut gebetan orang. Dan Leonar tahu akan hal itu. Namun, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa memecat Nelly. Setibanya di ruangan, Amelia tampak terduduk lesu di kursinya yang kini sudah berada dalam ruangan Leonar. Ia merasa lelah mendengar ocehan saat di lobi tadi. Ia tidak yakin akan kuat sampai titik terakhir. Mengingat dirinya ini hanyalah seorang gadis biasa yang beruntung mendapatkan pekerjaan baik, serta pacar yang baik pula. “Amel,” panggil Leonar. “Ya?” “Nggak usah dipikirin,” ujar Leonar seakan mengerti perasaan kekasihnya. “Kamu itu layak untuk kumiliki. Jadi, jangan diambil hati omongan mereka. Anggap aja itu cuma angin lewat.” Amelia berusaha tersenyum, meskipun dadanya terasa sesak. Ia menengguk air putih yang ada di mejanya—mencoba untuk melegakan hati dan pikirannya. Namun, beberapa detik kemudian, hatinya mulai kembali sesak. Franklyn mendadak masuk ke ruangan mereka lalu menarik paksa Amelia keluar. Hal itu membuat Leonar dan Amelia terkejut. “Pak, lepasin!” teriak Amelia. “Diam! Lo harus ikut gue!” bentak Franklyn. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN