Leonar mengejar Franklyn lalu melepaskan tangan Amelia dari genggaman saudaranya itu. Tatapan mereka berdua terlihat begitu mengerikan. Perang saudara akan segera dimulai, dan akan menjadi bahan perbincangan terhangat di Indonesia. Pasalnya, perusahaan mereka sangat terkenal sehingga tak pernah luput dari sorotan media. Jika perang ini tercium ke media, dapat dipastikan citra perusahaan Dixon Company akan menjadi buruk. Kemungkinan besar, para investor akan menarik beberapa saham mereka disana.
“Minggir lo!” teriak Franklyn.
Leonar berusaha tetap pada posisinya. Berada di tengah-tengah untuk melindungi kekasih hatinya dari manusia laknat yang ada di hadapannya. Ia tak menghiraukan cacian dan makian yang terlontar dari mulut Franklyn. Baginya, melindungi Amelia adalah tanggung jawabnya. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti atau memiliki Amelia.
“Gue bilang minggir!”
“Lo aja yang minggir!” balas Leonar.
“Anjing!”
“Lo yang anjing!” Leonar kembali membalas. “Lo yang nggak pantes ada disini! Lo sama sekali nggak profesional dan lo juga nggak bisa kasih contoh yang baik ke karyawan! Intinya, kalau sikap lo kayak gini terus, sorry to say, lo nggak layak jadi bos, Brother.”
Mendengar penuturan Leonar, amarah Franklyn justru semakin bergejolak. Hatinya panas dengan tangan yang mengepal erat. Tanpa aba-aba, ia menonjok Leonar hingga membuat pria itu tersungkur ke lantai. Selanjutnya, Franklyn menindih Leonar lalu memukulnya bertubi-tubi. Hal ini justru mengundang para karyawan untuk melihatnya. Sementara Amelia berusaha untuk melerai kakak-beradik itu. Namun, usahanya tidak berhasil. Beruntung, ada pihak keamanan yang segera datang untuk melerai Franklyn dan Leonar.
Keduanya berhasil ditangani, dengan Leonar yang sudah mengalami luka memar di sekitar wajah tampannya. Leonar dibawa Amelia kedalam ruangan mereka. Sementara Franklyn dibawa ke ruangannya sendiri. Di dalam ruangan, Amelia terlihat menangis sambil menggenggam tangan Leonar. Berulang kali ia berucap maaf pada pria itu, seolah kejadian ini terjadi karena dirinya. Sedangkan Franklyn, masih merasa tidak terima di ruangan yang berbeda.
“Amel, udah nggak apa-apa. Aku baik-baik aja,” ujar Leonar.
“Tapi, semua ini karena aku,” kata Amelia lirih.
“Bukan salah kamu. Emang dianya aja yang gila.”
“Dia kakak kamu loh,” ucap Amelia seraya menghapus airmatanya.
Leonar mendecih. “Seorang kakak nggak akan mungkin tega hancurin kebahagiaan adiknya sendiri, Amel. Dia itu nggak layak disebut kakak.”
Saat Amelia ingin protes, Leonar sudah memotongnya terlebih dulu. Ia menyuruh gadis itu untuk mengambil es batu untuk mengompres memar di wajahnya. Amelia menurut dan keluar menuju dapur kantor.
Ketika dirinya hendak masuk ke dapur, ucapan tak mengenakkan pun terdengar jelas di telinganya. Ia mendengar dua orang wanita tengah membahas perkelahian tadi, dan menyalahkan dirinya. Astaga! Ini sungguh menyesakkan baginya.
“Ini pasti gara-gara si Amel.”
Suara itu berasal dari Nelly. Momen ini memang sangat cocok baginya untuk membuat citra Amelia semakin buruk di perusahaan tersebut. Inilah waktu yang tepat bagi Nelly untuk menjatuhkan dan menyingkirkan Amelia agar ia dengan leluasa mendekati Leonar.
“Dia itu emang si pembawa sial,” kata Nelly pada temannya.
“Iya ya. Gara-gara dia, Pak Frank sama Pak Leo berantem.”
“Gue heran, apa sih yang dilihat dari dia? Cantik enggak. Missqueen lagi. Kok mau ya bos-bos itu sama dia?” Nelly menyibakkan rambutnya dengan angkuh. “Masih cantikkan gue kemana-mana, yakan?”
Yang menjadi teman bicaranya hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Sedangkan Amelia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dapur. Jika ia masuk ke sana, sudah pasti Nelly akan terus mem-bully-nya. Ia tak mau menimbulkan masalah lagi nantinya.
Amelia memilih menunggu disalah satu ruangan kosong, dekat dengan dapur. Ia terduduk lemas di kursi yang tersedia. Airmatanya tak berhenti mengalir karena memikirkan masalah yang belakangan muncul dalam kehidupan tenangnya. Masalah ini muncul setelah dirinya masuk kedalam kehidupan Leonar. Sejenak, timbul rasa ingin mundur saja dari kehidupan Leonar, dan mencari kehidupan baru.
Akan tetapi, Amelia masih harus memikirkan ulang rencananya itu. Tidak mungkin semudah itu baginya untuk menghilang dari kehidupan Leonar. Dan sudah pasti, Leonar tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
“Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?” gumamnya pelan sambil menangis.
•••
Leonar terlihat gusar. Amelia sudah terlalu lama keluar dari ruangan. Ia takut jika Franklyn akan berbuat nekad pada kekasihnya itu. Leonar memutuskan untuk menyusul Amelia ke dapur dengan langkah panjangnya. Saat dirinya berada di ambang pintu dapur, ia tak melihat sosok Amelia disana. Yang dilihatnya hanyalah Nelly yang masih terus bergunjing tentang Amelia dengan temannya.
Leonar tidak beranjak dari sana meskipun ia tahu bahwa Amelia tidak berada disana. Ia penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Nelly tentang Amelia. Ia menyiapkan handphone-nya untuk merekam semua pembicaraan Nelly. Sesekali ia mendengus kesal saat Nelly mengatai Amelia sebagai p*****r.
“Huh! p*****r teriak p*****r,” gumamnya pelan.
Setelah mendapatkan rekaman itu, Leonar bergegas mencari Amelia. Ia mencoba kembali ke ruangan, namun tak ada sosok yang dicarinya disana. Ia bingung dan mencoba bertanya pada karyawan yang lewat. Tetapi, tidak ada yang melihat Amelia.
Frustrasi? Tentu saja Leonar merasa frustrasi. Leonar takut jika Amelia dibawa pergi oleh Franklyn. Ia pun segera menghubungi ponsel Amelia. Dan terdengarlah suara parau Amelia di seberang sana. Seketika Leonar bernapas lega.
“Kamu dimana, Sayang?” tanya Leonar.
“Oh, aku di ruangan dekat dapur,” jawab Amelia.
“Kamu nangis ya?”
“Enggak kok.”
“Jangan bohong,” ujar Leonar. “Aku kesana sekarang. Kamu jangan keluar dulu.”
“Oke.”
Leonar bergegas kembali kearah dapur, lalu masuk ke dalam ruangan yang disebutkan Amelia. Ia menatap Amelia sambil mengunci pintu ruangan tersebut. Leonar berjalan mendekat, lalu duduk di samping kanan Amelia.
“Aku tahu, kamu sedih karena ucapan Nelly, kan?”
Amelia menggeleng. “Dia benar. Semua ini salah aku.”
“Kamu juga masih menganggap ucapannya benar saat kamu disebut sebagai p*****r sama dia?” tanya Leonar lagi.
“p*****r?”
“Iya. Aku juga dengar tadi pas nyari kamu,” kata Leonar.
Amelia menghela napas lelah. “Apa aku serendah itu, Leo?”
“Enggak. Justru dia yang rendahan,” jawab Leonar.
“Kamu cuma berusaha hibur aku aja, kan?”
Leonar tersenyum. Ia menarik Amelia kedalam pelukannya. Dikecupnya puncak kepala Amelia sambil membelainya lembut. “Aku bicara fakta. Kamu itu terlalu berharga buat disebut sebagai p*****r. Kalau aku bilang, dia itu menyebut dirinya sendiri. Dia lebih rendah dibanding kamu.”
“Beneran?”
“Iya, beneran,” ucap Leonar yakin. “Kamu itu ibarat perhiasan buat aku. Mahal dan berkualitas. Nggak murahan kayak dia.”
Seketika Amelia tersenyum. Hatinya menghangat saat Leonar mengatakan hal itu.
“Udah, sekarang kamu jangan nangis lagi ya.”
Amelia menarik diri dari pelukan Leonar, kemudian menghapus airmatanya. Ia tersenyum sambil berkata, “Makasih ya. Aku janji nggak akan nangis lagi.”
“Nah, gitu dong. Ini baru pacar aku.”
Amelia tertawa sambil memukul lengan Leonar. Seketika mood-nya kembali baik berkat pria yang ada di sampingnya ini. Ia pun membatin, “Aku juga berjanji, nggak akan ninggalin kamu, Leo.”