Leonar mengajak Amelia untuk kembali ke ruangan. Ia melarang Amelia untuk ke dapur kantor, sebab masih ada Nelly disana. Pria itu hanya ingin menjauhkan Amelia dari orang-orang seperti Nelly. Daripada membiarkan Amelia mendengarkan ocehan-ocehan tidak jelas dari wanita itu, lebih baik Leonar mengajaknya untuk kembali ke ruangan dan melakukan rutinitas mereka seperti biasanya.
Amelia masih memperhatikan Leonar meski kini dirinya sudah duduk di kursi kerjanya sendiri. Ia melihat lebam yang dihasilkan dari perkelahian tadi. Ingin rasanya ia mengobati lebam itu. Sungguh, ia tak tega. Sebegitu buruknya kehidupan Leonar, sampai kakak kandungnya sendiri tega melakukan hal itu padanya.
Leonar tampak tersenyum. Ia sadar jika sejak tadi Amelia terus memperhatikan dirinya. Ia paham apa yang dikhawatirkan kekasihnya itu saat ini. Leonar memutuskan untuk berdeham, lalu menatap gadis cantiknya.
“Jangan menatapku terus,” ucap Leonar.
Amelia mendadak gugup. Ia memalingkan wajahnya kearah lain, sambil tak sengaja menjatuhkan tempat bolpoin di mejanya. Leonar pun tertawa ringan melihat reaksi Amelia.
“Kamu masih sama kayak dulu, Sayang,” ujar Leonar. “Padahal aku nggak terlalu godain kamu. Cuma ngasih peringatan aja. Karena kalau terlalu lama menatapku, kamu akan semakin jatuh cinta.”
Amelia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Sungguh, berada dalam satu ruangan dengan Leonar, membuatnya sangat gugup. Setidaknya untuk hari ini. “Tuhan, kurasa aku akan mati beku disini,” batinnya.
Leonar berdiri dan mendekati kursi Amelia. Ia berlutut disana, dan berhasil membuat Amelia kembali terkejut. Terlebih lagi, Leonar menunjukkan sebuah cincin emas di tangannya. Tatapan Leonar juga terlihat begitu serius.
“Maukah kamu menjadi pendampingku selamanya?” ucap Leonar tulus.
Hal ini membuat Amelia terpaku. Ia diam tak percaya dengan apa yang diucapkan Leonar. Apakah ini tidak terlalu cepat? Begitulah yang ada dipikiran Amelia saat ini.
“Kenapa diam?” tanya Leonar.
“A-pa ini nggak terlalu cepat?” ujar Amelia.
“Enggak. Aku rasa ini memang udah waktunya,” jawab Leonar mantap.
“Tapi aku….”
“Belum bertemu orang tuaku?” sela Leonar.
Amelia mengangguk. “Aku rasa, kita perlu bicarakan ini sama orang tua kita dulu.”
“Kalau kamu terima, kita akan bicara bersama-sama,” kata Leonar.
Amelia terdiam sejenak sambil menatap cincin yang ada dihadapannya. Sejenak ia memikirkan resiko yang akan terjadi kedepannya. Ia takut keluarga Leonar tidak menyukainya, terutama orang tuanya. Sebab Leonar bukanlah dari keluarga yang sembarangan. Sedangkan dirinya, hanya orang biasa saja.
“Masih ragu?” tanya Leonar.
“Eum, aku takut keluargamu nggak suka sama aku,” jawab Amelia.
“Sayang, keluargaku nggak seperti itu. Kalau pilihanku baik, mereka pasti mendukung. Trust me, Babe,” ucap Leonar meyakinkan.
“Lalu, Pak Frank?”
Leonar mendengus. “Jangan pikirkan dia. Ini hubungan kita, dan cuma tentang kita. Nggak ada Franklyn ataupun Devina.”
“Tapi….”
“Mau atau enggak?” tanya Leonar sedikit tegas.
Amelia menghela napas pelan. Sambil menutup mata, ia mengangguk.
“Ya, aku mau,” jawab Amelia.
Leonar tersenyum sumringah, kemudian memasangkan cincin itu di jari manis Amelia. Cincin itu adalah cincin yang hendak ia berikan pada Devina dulu. Cincin emas itu kini ia serahkan untuk Amelia, karena telah berhasil menarik hatinya.
Leonar saat ini sedang bahagia, tetapi tidak dengan Franklyn. Di lain ruangan, Franklyn terlihat begitu murka dengan kedatangan Devina di sana. Ya, setelah menemui orang tuanya, Devina memutuskan untuk menemui suaminya di kantor. Alasan dirinya datang, tak lain dan tak bukan sebab kedekatannya dengan asisten Leonar. Devina ingin meminta penjelasan itu dari suaminya.
Namun sayang, kedatangan Devina justru semakin memperburuk keadaan. Franklyn yang sebelumnya memang sudah marah, kini kemarahannya justru semakin meningkat saat Devina meminta penjelasan padanya. Singa tampan ini benar-benar menunjukkan sisi egoisnya di depan sang istri. Bahkan ia tak peduli jika diluar sana banyak yang mendengar suaranya.
“Udah kubilang, jangan ikut campur!” ucap Franklyn tegas.
“Aku berhak ikut campur! Kamu suamiku!” Devina membalas.
“Berhak kamu bilang?” Franklyn mendecih. “Sejak kapan kamu peduli kayak gini, hah?! Dulu kemana aja?! Waktu kamu gencar dekatin Leo, apa pernah mikirin aku?!”
“Aku kan udah minta maaf soal itu, Frank!”
Franklyn tersenyum meremehkan. “Maaf? Kamu kira dengan kata itu, semua bisa selesai? Semua bisa hilang gitu aja dipikiranku, iya? Aku nggak akan pernah bisa lupain itu semua. Apa yang kamu lakuin itu, udah nyakitin hati aku banget. Jadi, jangan heran kalau aku dekat sama cewek lain.”
“Frank, aku mohon jangan duain aku. Aku udah janji sama kamu nggak akan buat hal yang sama lagi. Aku mohon.” Devina memohon dengan nada lirih. Bahkan wanita ini sampai bersimpuh di kaki Franklyn sebagai bukti bahwa ia benar-benar serius dengan ucapannya. “Aku nggak akan bahas hal ini lagi. Tapi aku mohon, kamu jangan cari cewek lain selain aku. Aku bakal berubah jadi apa yang kamu mau.”
Bukannya iba, Franklyn justru mendorong istrinya lalu duduk kembali di kursinya. Ia membiarkan Devina terduduk di bawah sambil menangis. Yah, mau bagaimana lagi? Franklyn tetaplah Franklyn. Manusia yang sangat keras kepala dan mau menang sendiri, itulah dirinya. Tak ada yang bisa merubahnya, kecuali Tuhan.
Franklyn terus menyunggingkan senyum jahatnya saat melihat Devina menangis sambil duduk di lantai. Seakan tangisan istrinya itu merupakan sebuah tontonan yang begitu menyenangkan baginya. Tak ada rasa iba sedikitpun di hatinya terhadap Devina. Mungkinkah ini balasan yang ia maksudkan?
“Kamu mau tahu gimana kondisiku waktu kamu dekatin Leo?” ujar Franklyn yang membuat Devina mendongak dan menatapnya. “Ya kayak gini. Nangis semalaman kayak orang gila. Kacau, berantakan, ya persis kayak gini. Sekarang kamu ngerasain, kan?”
“Jadi, kamu masih dendam sama aku?” tanya Devina.
“Ya, bisa dibilang gitu,” jawab Franklyn santai.
“Tega kamu, Frank!”
“Ups! Maaf ya, tapi kamu juga sama,” ujar Franklyn sembari tertawa puas. “Sekarang kita impas, kan? Jadi, kamu nggak usah protes kalau aku dekat sama cewek lain. Toh yang mulai duluan kamu.”
Devina mengepal kedua tangannya, kemudian berdiri dan menatap tajam Franklyn. Ia membiarkan airmata itu membasahi pipinya. Yang terpenting saat ini adalah ia harus memberi pelajaran pada pria kurang ajar dihadapannya ini.
Tanpa memberi aba-aba, Devina menampar pipi kiri Franklyn lalu berganti ke pipi kanannya. Devina benar-benar sangat marah atas pernyataan suaminya tadi. Memang, dirinya yang memulai semua kekacauan ini. Tapi setidaknya ia sudah mengakui kesalahannya dan berusaha memperbaiki diri. Kenapa Franklyn harus memperpanjang masalah ini dengan mengincar wanita lain? Begitulah yang ada dipikiran Devina saat ini.
“Berani ya kamu nampar aku, hah?!”
“Kenapa? Nggak suka?” balas Devina.
Franklyn bangun kemudian menampar pipi kiri Devina hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Tamparan Franklyn cukup keras, membuat sudut bibir wanita itu berdarah dan memar.
“Lo pikir, lo siapa, hah?! Berani-beraninya lo nampar gue!” teriak Franklyn. Pria ini mulai mengeluarkan bahasa sehari-harinya saat marah pada Leonar. “Jelas-jelas lo yang mulai masalah ini, kenapa jadi lo yang nggak terima?! Harusnya gue yang marah, bukan lo! Anjing!”
Seketika hati Devina merasa sakit. Franklyn sudah berani menamparnya dan memakinya dengan sebutan binatang. Apakah pria ini pantas ia pertahankan sebagai suaminya? Apakah dirinya sudah salah memilih pendamping?
“Mending lo keluar dari ruangan gue! Gue udah jijik sama lo! Malas gue lihat muka lo yang munafik itu!” ujar Franklyn sambil menyeret Devina untuk keluar dari ruangannya.
Devina di dorong oleh Franklyn saat pintu ruangan itu sudah terbuka. Alhasil, semua karyawan disana memperhatikan mereka. Namun Franklyn tak peduli. Urat malunya seakan sudah terputus begitu saja. Ia bahkan tak segan mempermalukan dan memaki istrinya di depan semua orang. Dimana hati nuraninya?
“Pergi lo dari kantor gue, Anjing!” teriak Franklyn.
Semua yang melihat pun terkejut. Mereka sungguh tak menyangka dengan sikap Franklyn. Tega sekali ia memaki istrinya di depan orang banyak, dan membiarkan istrinya terduduk di lantai sambil menangis. Suami macam apa dia?
Banyak dari mereka yang berbisik menggunjing Franklyn. Sejak dulu, mereka tidak terlalu menyukai Franklyn sebab perangainya sungguh buruk dan tidak mencerminkan sikap seorang bos. Mereka lebih menyukai Leonar yang tampak bersahaja dan mampu membimbing para karyawannya dengan baik. Seharusnya, Leonar yang lebih pantas menduduki jabatan Franklyn, itu opini mereka.
“Pergi!”
Devina pun berusaha berdiri, lalu berjalan perlahan meninggalkan kantor tersebut. Sesekali ia melihat ke belakang, namun hatinya justru semakin sakit saat Franklyn mengacuhkannya dan masuk ke ruangan. Begitu rendah harga dirinya saat ini. Semua orang mengetahui masalahnya, dan Franklyn sudah mempermalukannya di depan karyawan Dixon Company.
Seketika timbul dalam hatinya untuk membalaskan dendamnya pada Franklyn. Amelia. Ya, gadis itu yang menyebabkan Franklyn bersikap seperti ini padanya. Gadis itu juga harus merasakan apa yang saat ini ia alami. Gadis itu sumber masalah dalam rumah tangganya. Ia harus memikirkan cara bagaimana membuat gadis itu menderita selama-lamanya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?