Malam ini, Devina memutuskan untuk tidak pulang. Ia sudah matang akan rencananya untuk membalas dendam pada gadis bernama Amelia. Namun rencana itu akan ia jalankan besok. Malam ini, ia akan bersenang-senang di diskotik bersama teman-temannya. Bila perlu ia akan melakukan one night stand dengan pria-pria disana. Pasti akan sangat menyenangkan, bukan?
Devina berjalan memasuki sebuah diskotik dengan pakaian yang begitu minim. Ia sempat pulang ke rumah orang tuanya sekedar untuk berganti pakaian. Alasan ia memakai pakaian minim super ketat ini adalah untuk menarik simpati pria-pria disana dan mengajaknya untuk bercinta. Layaknya seorang jalang yang haus akan belaian seorang pria.
Memang benar apa yang dipikirkan Devina. Begitu ia memasuki diskotik, semua mata pria tertuju padanya. Bagaimana tidak? Meskipun sudah menikah, ia masih memiliki bentuk tubuh yang seksi dan padat. Bokongnya juga begitu indah, sehingga menarik banyak perhatian kaum Adam. Dan Devina sangat menyukai itu. Inilah tujuannya.
Wanita ini berjalan begitu aduhai menuju meja bartender. Ia memesan wine kemudian duduk dengan santai disana. Sesekali ia memainkan rambut pirangnya yang tergerai begitu saja sambil melirik beberapa pria yang sedang menatapnya. Senyuman pun terpancar di sudut bibir merahnya.
Ada satu sosok pria yang begitu mencuri perhatiannya. Pria itu terlihat begitu seksi dan menggairahkan. Devina pun mulai mencari perhatian saat pria itu terus memperhatikan dirinya. Layaknya seorang singa betina yang lapar akan sentuhan. Bahkan saat meminum wine, ia sedikit memberikan gerakan sensual pada bibirnya untuk membuat pria itu tertarik dan menghampirinya. Ia memainkan lidahnya sambil duduk dengan posisi yang begitu sensual. Ya ampun, aktingnya benar-benar sempurna.
Pria itu semakin tertarik dengan Devina. Ia berjalan menghampiri wanita setengah jalang ini sambil tersenyum manis. Wajahnya sungguh tampan dan mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya. Aroma maskulinnya pun begitu menguar di penciuman Devina.
“I love it,” batin Devina.
Pria itu duduk di samping kiri Devina, masih terus menatapnya kagum. “Hai,” sapanya.
“Oh, hai,” balas Devina.
“Kamu sendirian?” tanya pria itu.
Devina mengangguk. “Iya.”
“Kalau gitu, boleh kenalan?”
“Boleh dong,” kata Devina.
“Aku Jhonny. Kamu?”
Devina membalas uluran tangan Jhonny dengan gaya sensual. Suaranya juga cukup menggairahkan bagi yang mendengarkan. “Aku Devina. Panggil aja Devi.”
“Kamu sangat seksi,” kata Jhonny.
“Really?”
“Yeah.”
“Thank you, Jhon,” ucap Devina.
Jhonny mengangguk. Sejujurnya, ia tak tahan akan gaya sensual yang selalu diperlihatkan Devina. Ingin rasanya ia membawa wanita itu naik keatas ranjang, lalu menusuknya berulang-ulang dengan kejantanannya. Namun, ia sadar bahwa ini masih dalam tahap pengenalan. Tidak mungkin ia langsung menerjang wanita ini, kan?
“Kamu udah nikah?” tanya Jhonny.
“Belum,” jawab Devina santai. “Kamu mau mendaftar jadi calon suamiku?”
Jhonny tertawa. “Emang boleh?”
“Ya boleh dong. Cewek mana sih yang nggak mau sama kamu?” kata Devina.
“Aku jelek.”
“Siapa bilang? Kamu ganteng kok,” ujar Devina.
Jhonny hanya tertawa, kemudian memesan segelas wine untuk dirinya. Setelahnya, ia kembali menatap Devina sambil terus tersenyum. “Kamu nggak takut sendirian disini?” tanyanya.
“Kan ada kamu. Jadi aku nggak takut,” jawab Devina sambil mengelus paha Jhonny dengan gerakan sensual. “Makanya kamu disini aja. Jangan kemana-mana.”
Seketika gerakan itu memicu gairah Jhonny. Ia tak sanggup jika harus menunggu terlalu lama. Ia pun membisikkan sesuatu di telinga Devina, “Kalau begitu, kita ke belakang aja. Disana lebih aman dan sunyi.”
“Got you,” batin Devina senang.
Devina mengangguk lalu mengikuti langkah Jhonny. Sebelum itu, Jhonny sudah menghabiskan segelas wine yang ia pesan tadi. Mereka berdua berjalan menuju arah belakang, dimana ada beberapa kamar khusus untuk para tamu yang kelelahan atau untuk sekedar melampiaskan hawa napsu mereka.
Setelah berada di kamar, Jhonny terlihat mengunci pintu sementara Devina duduk di pinggir kasur dengan gaya sensualnya. Jhonny melihat wanita itu dari atas hingga ke bawah. Semuanya sungguh sempurna di mata pria ini. Dengan langkah pasti, ia mendekati Devina lalu membelai kaki wanita itu hingga ke bagian paha. Ia terus mengelusnya dengan gerakan sensual, membuat Devina semakin terangsang dan menginginkan lebih.
Devina pun menarik kaos putih yang dipakai Jhonny, kemudian mencium bibir pria itu dengan penuh gairah. Jhonny turut membalasnya sambil terus membelai tubuh Devina. Jhonny juga meremas p******a Devina tanpa melepas ciuman mereka. Bahkan ia juga mengelus bagian intim wanita itu, sehingga terdengarlah desahan sensual disana.
Devina benar-benar melayang karena sentuhan Jhonny. Pria itu bahkan sudah membuang celana dalamnya entah sejak kapan. Jari-jarinya sudah bermain diarea intimnya, memasukkannya lalu membuatnya merasakan o*****e yang begitu menggairahkan. Desahan kenikmatan pun terus terdengar hingga Devina mencapai puncaknya.
Kini mereka berdua membuka semua pakaian tanpa meninggalkan sehelaipun di tubuh mereka. Devina merebahkan tubuhnya di kasur, dengan kedua kaki yang terbuka lebar mengarah ke wajah Jhonny. Lidah Jhonny sudah menjulur untuk memberikan sensasi lebih di v****a Devina. Ia memainkan lidahnya disana hingga membuat tubuh Devina gemetar tak karuan saat mencapai orgasmenya. Bahkan suara desahannya tak mampu ia kontrol lagi. Persetan dengan orang-orang diluar sana yang mendengarnya. Yang penting ia puas malam ini.
“Oh, s**t, Jhonny!” teriaknya saat Jhonny lagi-lagi membuatnya o*****e dengan lidahnya. Tubuhnya gelincatan tak karuan dengan tangan kanan menggenggam seprai, sementara tangan kiri meremas rambut Jhonny. “Jhonny! Aaahh! s**t!”
Jhonny tersenyum begitu melihat Devina meracau tak karuan karena ulah lidahnya. Ia terus mempercepat gerakan lidahnya, dan kembali membuat Devina berteriak tak karuan. Sesekali ia menyesap k******s wanita itu untuk menambah sensasinya.
“Oh, f**k me! Jhonny, s**t!”
Setelah berhasil membuat Devina o*****e berulangkali, kini giliran dirinya yang ingin dipuaskan. Ia pun mengarahkan penisnya kearah lubang v****a Devina, lalu menghujamnya dan mendorongnya semakin dalam. Devina kembali mengerang nikmat saat Jhonny sudah mulai menggoyangnya. Pria itu benar-benar membuat Devina puas. Kepuasan ini tak ia dapatkan saat bersama Franklyn. Franklyn selalu bermain kasar dan kadang sampai memukulnya.
“Oh my God! Jhonny, aaahhh! s**t!”
Devina terus mendesah, menutup kedua matanya dengan mulut menganga. Merasakan kenikmatan tiada tara yang sungguh ia impikan malam ini. Jhonny benar-benar hebat.
Jhonny semakin mempercepat gerakannya sambil menyesap kedua p******a Devina. Gairahnya semakin memuncak saat Devina terus mengeluarkan desahan-desahan yang begitu sensual di telinganya. Ia bahkan semakin mencapai klimaksnya dan tempo yang ia buat juga semakin cepat. Dapat dipastikan Devina juga akan mencapai orgasmenya.
Saat keduanya mencapai klimaks, suara desahan pun menggema di kamar itu. Jhonny terjatuh diatas tubuh Devina tanpa melepas kejantanannya dari v****a wanita itu. Devina tersenyum senang karena hasratnya terpuaskan malam ini berkat Jhonny.
“Thanks,” bisik Devina.
“For what?” balas Jhonny.
Devina tidak menjawab pertanyaan itu. Justru ia berbalik memberikan pertanyaan pada Jhonny yang masih setia berada diatasnya. “Kamu mau melakukannya lagi?”
“Are you sure?”
“Yeah.”
Tanpa berbasa-basi, Jhonny kembali melumat bibir Devina sambil meremas p******a wanita itu. Ia juga terus mendorong masuk kejantanannya dan kembali membuat Devina mendesah. Begitulah seterusnya, dan malam ini adalah malam panjang bagi mereka berdua.