Sembilanbelas

1026 Kata
Di tempat lain, Amelia terlihat begitu menikmati sentuhan yang diberikan Leonar. Di dalam mobil, Leonar mencium Amelia dan membelai lembut area leher gadisnya sehingga membuat Amelia terhanyut oleh sentuhannya. Ciuman yang mereka lakukan tidak terkesan kasar. Mereka melakukannya dengan perlahan dan begitu lembut, membuat Amelia sangat terhipnotis oleh kelembutan yang diciptakan Leonar di bibirnya. Setelah puas menguasai bibir Amelia, bibir Leonar mulai mencium leher jenjang Amelia. Tetap dengan kelembutan, membuat gadisnya sedikit mengeluarkan desahan yang begitu seksi di telinganya. Leonar tersenyum seketika. Ia senang jika gadisnya menikmati setiap sentuhannya. Meski sudah sangat b*******h, namun Leonar tak ingin melakukan hal lebih dari ini. Sebisa mungkin ia menjaga kesucian Amelia hingga nanti saatnya tiba. Ia segera menghentikan ciumannya sebelum gairahnya semakin bertambah besar. Ia juga berusaha untuk menjaga nama baik gadisnya serta keluarganya. “Cukup sampai sini aja ya. Kalau kelamaan nanti aku bisa khilaf,” ujar Leonar sambil tertawa dan mengusap rambut kekasihnya. “Kalau khilaf kenapa?” tanya Amelia. “Nanti kamu yang bisulan,” jawab Leonar. Seketika Amelia tertawa akibat jawaban Leonar. Memang benar yang dikatakan Leonar. Bisulan dalam artian hamil. Hanya saja, Leonar tidak ingin spontan mengatakannya. Itu sebabnya ia menggunakan kata perumpamaan. “Kalau udah bisulan?” tanya Amelia yang masih tetap tertawa. “Nanti kamu yang kelimpungan,” jawab Leonar dan berhasil membuat Amelia semakin tertawa. “Kalau udah kelimpungan, nanti kamu yang keliyengan.” “Astaga!” Amelia tertawa sambil memukul lengan Leonar. “Udah ah! Kram perutnya.” Leonar tertawa lalu mengacak rambut kekasihnya. Kemudian ia mencium kening Amelia dengan penuh kasih sayang. “Kamu masuk ya. Habis itu tidur. Jangan lupa cuci kaki, cuci tangan, terus baca doa biar mimpiin aku,” ucapnya. “Huh, emang mau kamu gitu yakan?” “Ya harus dong, Sayang,” kata Leonar. Amelia tersenyum sambil mencubit hidung mancung Leonar karena gemas. “Yaudah, aku masuk ya. Kamu pulangnya hati-hati. Sampai rumah langsung kabari aku ya.” “Pasti, Sayang,” ujar Leonar. Amelia mencium pipi kiri Leonar, kemudian keluar dari mobil. Setelah memastikan Amelia masuk, Leonar bergegas pulang ke rumah. Namun di persimpangan jalan, ia dihadang oleh beberapa orang bertubuh besar dan berwajah seram. Ia tak tahu mereka siapa. Yang pasti, ia tak boleh keluar dari mobil jika ingin selamat. Empat orang tersebut menghampiri mobil Leonar. Sementara empat orang lainnya masih berada di depan. Seakan berjaga agar Leonar tidak melajukan mobilnya saat keempat teman mereka menghampiri Leonar. Keempat orang tersebut menggedor kaca mobil, dan memerintahkan Leonar untuk keluar dari dalam sana. Untung saja Leonar sudah mengunci semua pintu mobil. Jadi setidaknya ia akan aman. Ia membiarkan keempat pria asing itu menggedor kacanya, sementara dirinya sibuk menghubungi polisi. Ia tahu jika ini adalah suruhan orang, namun ia tak tahu siapa. Bisa saja ini suruhan Franklyn, pikirnya. “Heh! Keluar lo!” “Keluar kalau lo mau selamat!” “Keluar!” Tetapi, Leonar mengabaikannya. Ia terus menjelaskan secara detail pada kepolisian melalui telepon darurat. Setelah selesai, ia meletakkan kembali ponselnya sambil menunggu polisi datang. Ia juga tidak terlihat panik, karena teror seperti ini sudah terbiasa untuknya. Ini bukanlah pertama kalinya ia diteror oleh orang-orang asing ini. Selang beberapa menit, suara sirine polisi membuat orang-orang asing itu kelimpungan. Mereka tak menyangka jika polisi akan datang. Mereka pun berlari untuk bersembunyi. Namun dua dari kedelapan orang tersebut berhasil Leonar gagalkan karena ia sengaja menyenggol kaki mereka agar tidak kabur. Ia juga menginginkan sebuah informasi lebih dari mereka. Leonar turun dari mobil, lalu mengikat kedua tangan pria itu. Sebelum polisi datang, Leonar sudah mengamankan satu orang di mobilnya. Sementara satunya lagi ia biarkan tergeletak di jalan dengan kedua tangan diikat. Saat polisi datang, Leonar menjelaskan bahwa hanya satu orang yang berhasil ia dapatkan. Polisi pun membawa pria itu, sementara Leonar meminta izin untuk pulang terlebih dulu. Ia akan kembali ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian setelah berganti pakaian. Ia menggunakan alasan itu untuk menyembunyikan satu pria yang ada di mobilnya. Polisi pun percaya dan mengizinkannya. Leonar bergegas pergi dari tempat itu menuju ke sebuah apartemen yang memang dibelinya beberapa tahun lalu. Ia sering tidur disana saat dirinya bertengkar dengan Franklyn. Dan sudah beberapa bulan ini ia tak berkunjung ke apartemennya sendiri. Ia membawa pria asing itu masuk ke apartemennya, lalu mengikatnya disebuah kursi kayu dengan mulut yang dilakban olehnya. Ditatapnya pria itu dengan tajam, kemudian melemparkan jas kantornya ke sembarang arah. Selanjutnya, ia membuka lakban itu dengan kasar sehingga membuat pria itu meringis kesakitan. Leonar menatap pria itu begitu dekat. “Siapa yang nyuruh lo?” tanya Leonar. “Gue nggak akan bilang ke lo!” Leonar menghela napas pelan. “Gue tanya sekali lagi, siapa yang nyuruh lo? Gue udah tanya bagus-bagus. Jadi, lo harus jawab yang bagus kalau lo mau selamat.” “Gue nggak peduli! Intinya gue nggak mau bilang!” Habis sudah kesabaran Leonar. Orang paling sabar seperti dirinya pun bisa marah. Bahkan lebih mengerikan dari seorang mafia. Ia memecahkan sebuah botol, kemudian mengarahkan pecahan tajamnya kearah leher pria itu. Tatapan Leonar pun semakin terlihat tajam, setajam pecahan botol tersebut. “Lo masih mau hidup, atau nggak?” tanya Leonar dengan nada menyeramkan. “Ma-sih,” jawab pria itu gugup. “Kalau masih mau hidup, mending lo jawab pertanyaan gue. Jangan sampai ujung botol yang lancip ini nusuk ke leher lo,” ujar Leonar. “Ta-pi gue ng-gak boleh ngomong.” Leonar tersenyum jahat. “Terserah lo. Pilihan ada di tangan lo sendiri. Mau hidup atau mati?” “Apa untungnya buat gue kalau gue ngomong siapa yang nyuruh gue?” “Banyak,” jawab Leonar. “Gue bakal kasih lo uang yang banyak. Gue juga bakal nyekolahin anak lo kalau lo punya anak. Gimana?” Pria itu terdiam sejenak. Ia memikirkan tawaran yang cukup menggiurkan dari Leonar. Bahkan itu sudah lebih dari cukup untuk membiayai keluarganya. “Gimana, Bung?” tanya Leonar lagi. “Penawaran nggak berlaku dua kali.” “Gue mau,” jawab pria itu. Leonar tersenyum bangga. Tawaran yang ia berikan berhasil membuat pria ini membuka mulutnya. “Jadi, siapa yang nyuruh lo?” “Gue nggak tahu namanya. Tapi dia cewek, rambutnya pirang, terus mukanya bule kayak lo,” jawab pria itu. “Dia juga lumayan tinggi.” “Cewek? Lo ketemu dimana?” “Di depan kantor Dixon Company.” Leonar terkejut. Di depan kantornya? Yang benar saja. Siapa wanita yang dimaksud? Leonar benar-benar penasaran. “Lo yakin nggak tahu namanya?” tanya Leonar. “Enggak. Dia cuma nawarin dan nyuruh gue sama temen-temen gue buat ngeroyok lo,” jawab pria itu. “Kalau gitu, lo harus terus ikut gue.” “Buat apa?” tanya pria itu. “Biar lo bisa kasih tahu ke gue orangnya yang mana,” jawab Leonar. Pria itu berdecak kesal. “Terus, tawaran lo tadi gimana?” “Gue bakal tepatin. Dan mulai sekarang, lo jadi supir sekaligus bodyguard gue,” kata Leonar. “Oke, deal!” Leonar pun membuka ikatan tali pria itu, kemudian membiarkannya tinggal di apartemen untuk sementara waktu. Sampai ia menemukan siapa wanita yang tega melakukan itu padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN