Leonar terlihat keluar dari kantor kepolisian. Ia menepati janjinya untuk memberikan keterangan perihal laporan yang dibuatnya tadi. Selanjutnya, ia meminta pihak kepolisian untuk terus menginterogasi si pelaku dan memaksanya untuk mengatakan siapa dalang dibalik peristiwa tadi.
Setelah selesai dengan kepolisian, Leonar memutuskan untuk menginap di apartemen. Ia juga harus terus mengawasi pria yang sekarang akan bekerja padanya sebagai bodyguard, sekaligus kunci untuk menemukan si pelaku sesungguhnya. Leonar merasa bahwa ini adalah jebakan seseorang untuk membahayakan dirinya atau kekasihnya. Jadi, ia harus tetap waspada sampai si pelaku berhasil ditangkap.
Leonar mengemudikan mobilnya kembali menuju apartemen. Sepanjang perjalanan, ia bercerita panjang-lebar dengan Amelia melalui telepon. Amelia sangat terkejut mendengar hal itu. Gadis itu menjadi sangat khawatir akan keselamatan Leonar. Begitu juga sebaliknya. Leonar justru lebih mengkhawatirkan Amelia.
Bukan Leonar ingin mendoakan yang buruk pada Amelia. Namun hatinya selalu merasa was-was karena kejadian ini. Ia takut jika tujuan si pelaku adalah Amelia, bukan dirinya. Atau bahkan mungkin keluarganya. Kemungkinan buruk bisa saja terjadi tanpa diduga.
“Kamu harus hati-hati, Leo,” ucap Amelia. Suara terdengar begitu cemas. “Aku takut kamu kenapa-kenapa.”
Leonar tersenyum. “Justru aku takutnya kamu yang kenapa-kenapa, Sayang. Aku takut tujuan mereka itu kamu.”
“Aku? Memangnya aku salah apa?” tanya Amelia.
“Salahnya kamu cuma satu, Sayang,” jawab Leonar sambil tersenyum jahil.
“Apa?”
“Kamu itu kelewat cantik,” ujar Leonar menggoda.
“Ih gombal!” seru Amelia sambil tertawa.
Leonar turut tertawa sambil tetap fokus pada jalanan di depan. “Biarin. Yang penting aku gombalnya sama kamu doang. Nggak ada yang lain,” ucapnya.
“Iya deh, aku percaya,” balas Amelia.
“Yaudah kamu tidur ya. Udah malam. Besok aku jemput kamu,” ujar Leonar sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 00.00. “Jangan lupa kunci pintu sama jendela.”
“Siap, Bos. Kamu hati-hati ya. Kalau udah sampai, langsung istirahat,” kata Amelia.
“Oke, Bu Bos. I love you.”
“I love you, too,” balas Amelia.
Leonar pun memutuskan sambungannya, lalu menancap gas menuju apartemen.
***
Di satu tempat, tampak seperti gudang kosong, pria berbadan kekar yang tadi menghalangi jalan Leonar masuk ke tempat tersebut dengan wajah ketakutan. Mereka berenam terlihat gemetar saat berhadapan dengan seseorang yang mengenakan hoodie hitam di sana.
Wajahnya tidak kelihatan karena tertutup oleh topi dari hoodie tersebut. Tempatnya juga cukup minim cahaya sehingga yang terlihat hanyalah bibirnya saja. Jika dilihat dari bibir, orang tersebut menggunakan lipstick. Sudah bisa dipastikan dia berjenis kelamin perempuan.
Salah satu dari pria berbadan kekar itu berbicara pada orang tersebut. Tubuhnya masih gemetar, dan keringat mengucur dari dahinya. Ketakutan tampak jelas di wajahnya.
“Gimana?” Orang berhoodie merah itu bertanya. “Rencananya berhasil, kan?”
“Ma-af, Bos. Kita gagal,” jawab pria tersebut.
“What?!” Wanita itu menggebrak meja yang ada di dekatnya. Ia terlihat begitu marah saat pria tadi mengatakan kata ‘gagal’. “Gue udah bayar kalian mahal ya! Kalian itu ada delapan orang! Masa kalah sama satu orang?!”
“Dia langsung nelpon polisi, Bos. Jadi, kita kabur. Cuma dua teman kita ketinggalan di sana, Bos.”
“Bodoh kalian semua! Gerakan kalian lambat! Percuma punya badan besar, tapi nyali ciut!” ucap wanita itu.
Keenam pria itu hanya bisa diam dan menunduk, menunggu hukuman apa yang akan diberikan wanita kejam itu.
“Sia-sia aja gue bayar lo mahal! Nggak ada gunanya lo semua!” kata wanita itu lagi. “Sama polisi aja kalian takut!”
“Maaf, Bos.”
“Maaf, maaf! Lo pikir dengan kata itu, lo bisa perbaiki semuanya?! Dasar t***l lo semua!”
“Kami beneran minta maaf, Bos. Kasih kami kesempatan,” kata pria kekar tersebut. “Kami janji, kali ini rencananya nggak bakal gagal.”
Wanita berhoodie merah itu tampak berpikir sejenak. Tak ada salahnya memberikan kesempatan lagi pada mereka. Toh, rencananya juga belum terlaksana sepenuhnya. Jadi, ia masih memerlukan mereka untuk menyelesaikan tujuannya.
“Oke, gue kasih kesempatan. Tapi, kali ini harus berhasil. Paham?”
“Paham, Bos.”
Wanita itu mengangguk. “Sekarang, telepon teman kalian dan bilang lanjutkan rencana B. Mereka harus ikut, karena gue udah bayar kalian mahal.”
“Baik, Bos.”
Wanita itu pun beranjak pergi dari tempat tersebut. Sementara keenam pria itu masih berada di sana dan menghubungi dua temannya yang berhasil ditangkap di tempat kejadian tadi.
***
Keesokan paginya, Leonar tampak bersemangat menjemput Amelia untuk pergi bersama. Leonar tidak sendiri. Ia bersama dengan supir sekaligus bodyguard barunya. Leonar sengaja mengajaknya untuk memberikan informasi padanya tentang wanita yang dimaksud pria itu semalam.
Jarak dari apartemen menuju rumah Amelia membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Dan saat ini, ia sudah berada dijalan selama 20 menit. Itu artinya, 10 menit lagi ia akan sampai di tempat tujuan.
Sebelum tiba di rumah Amelia, Leonar terlihat berbicara dengan kekasihnya itu via telepon. Sesekali ia tertawa dan supir barunya tampak melirik melalui kaca spion yang ada di dalam. Senyum miring terlihat di sudut bibirnya. Apakah ia merencanakan sesuatu?
“Iya, Sayang. Bentar lagi sampai kok. Kamu tunggu ya. Jangan kemana-mana. Tunggu didalam aja,” kata Leonar.
“Nanti nggak tahu kamunya datang kalau nunggu didalam.”
“Nanti aku klakson, Sayang,” ujar Leonar. “Yauda, kamu siap-siap. Aku bentar lagi sampai.”
“Oke, Bos.”
Leonar tersenyum dan mematikan sambungan teleponnya. Kemudian, ia melihat kearah depan, dan sebentar lagi ia tiba di rumah Amelia. Ia menunjukkan rumahnya pada supir barunya.
“Kita berhenti di depan situ,” ucap Leonar.
“Baik, Bos.”
Pria itu memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Amelia. Ia membunyikan klakson sesuai dengan perintah Leonar. Dan tak lama setelah itu, Amelia pun keluar dengan senyum bahagianya.
Leonar pun keluar dari mobil, dan mempersilahkan princess-nya untuk masuk lebih dulu, lalu disusul olehnya. Kedua pasangan ini duduk di kursi belakang dan saling berpegangan tangan. Lebih tepatnya, Leonar yang lebih dulu menggenggam tangan Amelia.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Leonar dan Amelia saling berbagi cerita tentang hal-hal yang menyenangkan. Banyak hal yang menjadi topik pembicaraan mereka berdua pagi ini. Sementara sang supir hanya menguping sambil tetap fokus ke jalanan.
Amelia juga menanyakan pria yang kini menjadi supir Leonar. Pria inilah yang disebutkan Leonar saat menghubunginya semalam. Dan pria itu hanya melirik dari kaca spion, seakan mengawasi pasangan di belakang.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan kantor Dixon Company. Setelah mobil terparkir rapi, si supir membukakan pintu untuk majikannya. Ia begitu sopan pada Leonar, namun terus melirik Amelia dari sudut matanya.
Saat Leonar akan masuk, pria itu bergegas mencegah majikannya. Ia mengatakan ingin berbicara empat mata saja. Leonar pun mengerti dan meminta Amelia untuk masuk lebih dulu kedalam.
“Ada apa?” tanya Leonar setelah Amelia masuk. “Apa ada informasi?”
Pria itu mengangguk. “Ada, Bos. Cewek yang nyuruh saya itu, pacarnya Bos sendiri.”
Leonar mengernyit. Kemudian tertawa karena merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan supirnya. Mustahil Amelia melakukan hal gila seperti itu. Untuk apa kekasihnya itu menyuruh orang lain melakukan pengeroyokan? Sedangkan saat di telepon semalam, Amelia begitu terkejut mendengarnya dan terlihat tak tahu apapun tentang kejadian itu.
“Kenapa ketawa, Bos?”
“Kamu itu ngaco tahu nggak. Mana mungkin pacar saya tega sama saya. Aneh kamu,” jawab Leonar sambil terus tertawa.
“Saya nggak bohong, Bos. Memang pacar Bos yang nyuruh saya.”
“Ck, mungkin kamu salah. Coba dilihat lagi. Kalau udah cocok, baru kamu kasih tahu saya,” kata Leonar. “Saya masuk dulu.”
“Baik, Bos.”
Leonar masuk kedalam dan meninggalkan si supir diluar. Ia masih tertawa sedikit karena terlalu lucu dengan pengakuan supirnya itu. Kekasihnya yang baik hati itu dituduh melakukan hal yang tidak-tidak. Ada-ada saja.
Saat tiba di ruangan, Leonar terkejut akan kehadiran Devina di sana. Pakaian Devina sangat-sangat tidak layak dilihat. Ia juga heran, sejak kapan wanita itu ada di ruangannya? Dan sejak kapan dia datang? Lalu, dimana Amelia?
“Dev, lo ngapain di sini?” tanya Leonar.
Devina menghampiri Leonar yang masih berdiri di ambang pintu dengan tatapan bingung dan juga jijik karena melihat pakaian Devina yang begitu minim.
“Memangnya kenapa? Nggak boleh ya gue lihat lo di sini? Gue kangen tahu sama lo,” ucap Devina dengan sedikit desahan manja. Persis seperti jalang.
“Lo nggak pantes kangen sama gue. Lo itu udah punya suami dan lo juga kakak ipar gue,” kata Leonar datar. “Lagian lo ngapain ke kantor pakai pakaian kayak gini? Jijik tahu nggak.”
Devina tertawa. “Cuma lo deh yang bilang jijik. Buktinya yang lain suka lihat gue pakai pakaian gini. Bahkan lihatnya sampai melintir.”
“Cuma orang gila yang mau ngelihat lo. Nggak usah sok kecakepan deh,” ujar Leonar sambil berdecih jijik mendengar ucapan Devina. “Mending lo keluar dari ruangan gue. Masuk gih ke ruangan Frank. Lo kan istrinya.”
Devina tak menjawab. Ia tersenyum miring, lalu menarik dasi Leonar tanpa aba-aba, kemudian mencium pria itu tepat di bibir. Leonar sangat terkejut karena ciuman Devina terkesan begitu ganas. Bahkan wanita itu sampai memegang alat vitalnya sambil meremasnya.
Tubuh Leonar meremang, dan aksi Devina dilihat jelas oleh Amelia yang kebetulan tengah membawa sebuah kopi di atas nampan. Nampan tersebut jatuh dan menumpahkan kopi yang dibuatnya. Suara gelas pecah pun membuat Leonar terkejut lalu mendorong Devina dengan kuat.
Leonar menghampiri Amelia, kemudian memegang kedua pundaknya. Ia tahu, Amelia pasti salah paham akan hal ini. Amelia juga terlihat menangis. Hatinya pasti sangat terpukul melihat adegan ciuman itu, meskipun Leonar tidak membalasnya sama sekali.
“Sayang, ini nggak seperti apa yang kamu lihat. Aku bisa jelasin semuanya. Kamu percaya sama aku, kan? Aku nggak mungkin duain kamu,” ujar Leonar tulus.
Amelia menghapus airmatanya dengan punggung tangannya, kemudian menyingkirkan tangan Leonar dari pundaknya. Leonar pun sedikit terkejut dengan reaksi Amelia. Ia berpikiran bahwa Amelia tidak percaya padanya.
“Sayang.”
“Kamu selesaikan dulu urusan kamu sama dia. Aku mau keluar sebentar. Permisi,” ucap Amelia sambil berlalu dari hadapan Leonar. Bahkan ia mengabaikan panggilan dari pria itu.
Leonar merasa kesal sekaligus menyesal. Kenapa dia diam saja? Kenapa tidak langsung mendorongnya? Kalau saja ia melakukan hal itu, pasti Amelia tidak akan pergi darinya. Leonar merasa bersalah karena telah menyakiti hati gadisnya.
Sementara Devina, terlihat tertawa bahagia di atas penderitaan Leonar. Ia berhasil membuat kesalahpahaman ini, karena memang itulah tujuannya datang ke ruangan Leonar.
“Lo puas sekarang?” tanya Leonar datar.
“Puas banget dong.”
“Sekarang, lo keluar. Jangan sampai gue mutilasi lo di sini,” ujar Leonar mengancam.
“Oke, gue keluar. Rencana gue juga udah berhasil kok. Bye,” balas Devina sambil melenggang keluar dengan tawa kemenangan.
Sialan!