Duapuluh Satu

1195 Kata
Setelah Devina pergi, Leonar mencoba menghubungi nomor Amelia. Tiga kali ia menelepon, tiga kali juga Amelia menolak panggilannya. Astaga! Masalah baru kembali hadir dalam hubungan mereka akibat kehadiran Devina. Namun dalam hal ini, Leonar juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Kejadian tadi sama sekali tidak diduga oleh Leonar. Ia tak menyangka jika Devina mencium dan menjamahnya tepat saat Amelia masuk ke ruangannya. Hal ini yang menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka berdua, dan memang hal inilah yang diinginkan Devina. Membuat Amelia berpikir negatif terhadap Leonar, lalu mereka terpisah. Devina melakukan ini karena ia merasa bahwa Amelia adalah gadis perebut suami orang. Sejak ia mengetahui Franklyn mendekati Amelia, saat itu juga ia merasa kesal dan timbul perasaan untuk membalas dendam. Meskipun cerita sebenarnya tidak seperti itu. Justru Franklyn lah yang berusaha mendekati Amelia, meski Amelia menolaknya. “Angkat dong, Sayang,” gumam Leonar panik. Ia masih tetap berusaha menghubungi Amelia, namun hasilnya tetap sama. Leonar pun mencoba mengirimkan pesan singkat pada Amelia, dengan harapan gadis itu akan membalasnya. Ia menjelaskan semua kesalahpahaman itu melalui pesan singkat dan menanyakan keberadaan Amelia. Namun, apa yang ia dapatkan? Amelia justru hanya membacanya dan tidak membalasnya. Sakit rasanya. Anak dari pasangan Calvin dan Delika ini terlihat begitu frustrasi. Masalah tak berhenti menimpanya. Setelah yang satu selesai, ada masalah baru yang kembali muncul. Kepalanya sangat pusing memikirkan masalah yang terus datang bertubi-tubi padanya. Tidak bisakah Tuhan memberinya ketenangan sedikit saja? Saat Leonar tengah melamun, ponselnya berdering. Calvin menghubunginya dan Leonar segera menjawabnya, walaupun sebenarnya ia tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. “Halo, Pa.” “Halo, Nak. Papa mau tanya sesuatu,” ujar Calvin. “Soal apa, Pa?” tanya Leonar penasaran. “Kamu nggak sibuk, kan?” Leonar menggeleng. “Enggak, Pa. Ada apa?” “Papa dapat laporan, kamu berantem sama Frank. Itu benar?” tanya Calvin. Leonar menghela napas berat. Ia sudah menduga jika masalah itu akan diketahui orang tuanya dan akan menjadi masalah yang panjang. Sungguh, kepalanya seakan ingin pecah. Bahkan ia berniat untuk melompat dari lantai tertinggi agar hidupnya bisa tenang di alam lain. “Iya, Pa. Maaf,” ucap Leonar. “Karena cewek?” “Iya, Pa,” jawab Leonar tertunduk. “Dia coba untuk lecehin asisten aku, Pa.” “Hah?! Maksud kamu, Amelia?” Leonar mengangguk. “Dia coba dekatin Amelia, tapi ditolak. Papa kan tahu kalau Kak Frank nggak suka penolakan. Dia bakal ngelakuin apapun supaya kemauannya tercapai.” “Astaga! Anak itu bikin masalah aja,” ujar Calvin kesal. “Terus, Amelia gimana?” “Dia baik-baik aja, Pa. Tapi ya, agak trauma juga,” jawab Leonar. “Terus, Devina?” Leonar terdiam. Haruskah ia mengatakan semuanya tentang hubungan Franklyn dan Devina? Apa ini akan baik-baik saja bagi orang tuanya? Ah, entahlah. Leonar juga bingung harus cerita ke siapa, selain orang tuanya. “Pa, hubungan Devina sama Kak Frank lagi nggak baik,” ucap Leonar. Ada nada penyesalan di akhir katanya. Ia menyesal karena masalah ini berawal dari Devina mengetahui isi suratnya dulu dan mengetahui bahwa dirinya telah lama mencintai Devina. Harusnya ia segera membakar surat-surat itu, namun sudah terlambat. “Maksud kamu? Papa nggak ngerti.” Leonar menghela napas. “Sebenarnya ini salahku, Pa. Dulu, aku sempat menyukai Devina dan cemburu saat dia nikah sama Kak Frank. Aku juga sempat tulis surat, tapi belum aku kasih sama Devina. Aku simpan di laci.” “Jadi?” “Waktu itu, aku lupa kunci pintu. Devina masuk ke kamar, terus tahu surat itu. Dia baca semua isinya. Dia jadi ngejar-ngejar aku dan nggak mikirin perasaan Kak Frank. Aku udah coba kasih tahu dia, tapi dia nggak mau dengar, Pa. Kak Frank jadi marah sama aku, terus dia mau balas dendam lewat Amelia,” ujar Leonar. “Hubungannya sama Amelia apa?” tanya Calvin yang masih tidak mengerti maksud dari putranya. “Apa kamu punya hubungan khusus sama Amelia?” “Iya, Pa.” “Ya ampun! Kenapa kamu nggak bilang sama Papa? Kalau kamu bilang dari awal, mungkin papa bakal bantuin kamu,” ujar Calvin. Leonar mengernyit. “Bantuin gimana, Pa?” “Ya, bantuin kamu buat ngelamar si Amel. Biar Frank nggak gangguin kamu lagi,” jawab Calvin. “Maaf, Pa. Aku cuma nggak mau ngebebani Papa sama masalah pribadi aku.” “Leo, kamu itu anak Papa. Papa nggak pernah ngerasa gitu ke kamu. Kan udah pernah Papa bilang, kalau kamu ada masalah, cerita ke Papa. Jangan dipendam sendirian,” kata Calvin menasehati. Leonar menunduk sedih. “Iya, maaf, Pa.” “Yaudah, nanti Papa bilang ke Mama soal ini. Kalau Mama kamu setuju, kami bakal terbang ke Indonesia untuk nemuin calon istri kamu. Kami juga bakal ngelamar dia buat kamu,” ujar Calvin. Leonar terkejut. Ia tak menyangka jika Ayahnya menyetujui hubungannya dengan Amelia yang hanya dari kalangan orang biasa. Istilahnya, sangat berbeda jauh dengan dirinya. Ia bagai Raja, dan Amelia bagaikan Dayang. “Papa serius?” tanya Leonar. “Ya seriuslah.” “Tapi dia bukan anak orang kaya, Pa. Dia cuma cewek biasa. Papanya udah meninggal, terus Mamanya juga sakit dan nggak bisa jalan. Cuma bisa duduk di kursi roda. Apa Papa nggak malu punya calon menantu yang kelasnya beda sama kita?” ujar Leonar mencoba merendahkan status Amelia untuk melihat reaksi dari Ayahnya. Calvin justru tertawa diseberang sana. Ia mungkin merasa bahwa pemikiran Leonar sangatlah lucu. “Nak, dengar. Semua manusia itu sama aja, nggak ada bedanya. Tuhan aja nggak pernah beda-bedain ciptaannya. Masa iya Papa dahuluin Tuhan?” ucap Calvin masih dengan tawa ringannya. “Papa ngerti maksud kamu. Kamu takut Papa sama Mama nggak setuju sama hubungan kamu, kan?” Leonar tersenyum malu. “Iya, Pa. Aku takut Papa sama Mama lihat calon menantu dari materinya. Soalnya kalian jodohin Kak Frank sama cewek yang derajatnya setara sama kita.” “Leo, Papa sama Mama jodohin itu ada alasannya. Sebetulnya ini nggak tepat dibilang perjodohan, karena sebenarnya yang minta dijodohkan itu Frank sendiri. Cuma dia mungkin ngakunya ke kamu kalau mereka dijodohin atas dasar kesepakatan Papa dan Mama. Kamu udah salahpaham sebenarnya,” ucap Calvin menjelaskan fakta yang sebenarnya. Leonar pun sedikit terkejut. Ternyata selama ini yang dikatakan Franklyn itu salah. Bukan orang tuanya yang gencar menjodohkan Devina dengan Franklyn, melainkan Franklyn sendiri yang memintanya karena ia takut menyampaikan maksudnya sendirian. Itu sebabnya Franklyn meminta bantuan pada orang tuanya. Franklyn memang selalu tidak mau kalah dengan siapapun. Selalu memikirkan kepentingannya sendiri daripada orang lain. Orang tuanya pun sudah memahami hal itu. Terkadang, Calvin dan Delika merasa kasihan pada Leonar yang selalu mendapat perlakuan tidak baik dari Franklyn. Padahal mereka saudara kembar. Harusnya mereka akur dan saling menjaga satu sama lain. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. “Leo, Papa tahu kamu sering diganggu sama Frank. Papa juga tahu kamu dulu suka sama Devina. Papa sama Mama ngejodohin mereka punya tujuan tertentu dan itu semua demi kebaikan kamu, Nak,” kata Calvin lagi. “Tujuan apa, Pa?” “Begini, perusahaan Mama menanamkan saham ke perusahaan Papanya Devina. Saat pengajuan proposal, Papanya Devina selalu meyakinkan Mama bahwa proyeknya akan menghasilkan uang yang banyak. Dan perusahaan itu juga sedang dalam krisis sebenarnya. Jadi, Mama pun bersedia menanamkan sahamnya di sana. Ya, sekedar untuk bantuin lah,” ujar Calvin. “Terus?” “Nah, udah ada tuh dua proyek yang dijalankan. Tapi, nggak pernah ada laporannya. Setiap kali diminta sama Mama, alasannya selalu sama. Belum dibuat atau belum dihitung. Jadi, kami punya rencana mau cari tahu sendiri dengan cara jodohin Devina sama Franklyn,” ujar Calvin melanjutkan ceritanya. Leonar mengangguk paham. Ia mengerti maksud dari Ayahnya. Orang tua Devina sengaja menahan laporan itu agar tidak ketahuan oleh Ibunya bahwa mereka telah memakan uang hasil 2 proyek tersebut. Dalam artian, Ayah Devina melakukan korupsi untuk kepentingannya sendiri. Jadi selama ini, yang menyokong perusahaan Ayah Devina adalah Mamanya. Jika tidak, mungkin sejak lama perusahaan mereka akan bangkrut. Devina juga terlihat tidak peduli dengan perusahaan yang dikelolanya sendiri. Ia justru lebih peduli dengan kehidupan pribadi Leonar dan Amelia. Sungguh menyebalkan! “Kayaknya, Tn. Murray korupsi deh, Pa. Kalau perusahaan nggak mau nunjukin bukti laporannya, biasanya ada permainan didalamnya,” kata Leonar. “Iya, Nak. Itu yang lagi Papa selidiki.” “Kalau gitu, nanti aku bantu, Pa,” ujar Leonar. “Oke, kalau kamu nggak keberatan,” ucap Calvin senang. “Yaudah, Papa tutup dulu ya. Ada meeting lagi soalnya. Nanti malam kita sambung lagi.” “Iya, Pa. Bye. Salam sama Mama.” “Iya, Nak. Bye.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN