Duapuluh Dua

1029 Kata
California, Amerika Serikat Calvin mencoba untuk berpikir sejenak bagaimana menghadapi kedua putranya nanti. Sebenarnya, ia tak terlalu mengkhawatirkan Leonar karena ia tahu putranya itu mampu mengontrol emosinya jika berada dihadapannya. Akan tetapi, itu tidak berlaku untuk Franklyn yang notabennya sangat keras kepala. Calvin sendiri bingung, kenapa putranya memiliki sifat yang berbeda dan tidak saling melengkapi? Padahal harapannya sangat ingin melihat kedua putranya akrab dan saling melindungi. Suami Delika ini memijat pelipisnya karena terlalu lelah memikirkan masalah kedua putranya. Belum lagi masalah pekerjaannya yang begitu menumpuk. Ditambah masalah penipuan yang dilakukan Ayah Devina pada istrinya. Calvin harus mengurus semuanya dalam waktu yang bersamaan. Kapan hidupnya akan tenang jika seperti ini? Sejak kecil, Calvin sudah mengalami banyak hal yang cukup mengerikan. Ditinggalkan orang tuanya begitu saja di tepi jalan, kemudian dirawat oleh Ibu angkat yang egois dan hanya memanfaatkannya untuk sebuah alasan, dan saat ingin menikahi Delika pun ia mengalami banyak masalah yang menyebabkan putri dari mantan pacarnya meninggal. Hingga dirinya harus menganti namanya dari Calvin, Elgar, menjadi Asgar. Itu sungguh menyiksa. Calvin menghela napas berat. Kepalanya sedikit pusing. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan meminta asistennya untuk menunda meeting yang harusnya ia laksanakan tadi. Mungkin ia perlu istirahat karena usianya juga sudah tidak muda lagi. Tenaganya juga berkurang, tidak seperti dulu. “Tolong kamu cancel meeting hari ini. Saya mau istirahat dulu,” ucap Calvin pada asistennya. “Baik, Pak.” Calvin pun bergegas keluar dari ruangannya. Ia berjalan melewati lobby sambil menjawab sapaan dari beberapa karyawannya dengan sangat ramah. Setelah berada di parkiran, ia pun masuk ke mobil dan melaju perlahan meninggalkan halaman kantor. Jarak dari kantor ke rumahnya memakan waktu sekitar 10 menit saja. Sambil mengemudi, Calvin menghubungi istrinya yang saat ini sedang mengurus kantor cabang The Angello Company yang ada di California. Ia berharap istrinya tak terlalu sibuk. “Halo, Sayang,” jawab Delika. “Kamu sibuk?” tanya Calvin. “Nggak terlalu sih. Kenapa?” “Kamu bisa pulang sekarang? Ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu,” kata Calvin. “Soal apa, Sayang?” tanya Delika. Calvin menghela napas berat. “Soal anak kita. Penting.” “Oh, oke. Aku pulang sekarang. Sampai ketemu di rumah, Sayang,” ucap Delika. “Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya,” balas Calvin. “Oke.” Sambung terputus. Calvin pun akan segera sampai di rumah. Sambil menunggu Delika pulang, mungkin ada baiknya ia merebahkan diri sejenak di kamar agar pusingnya sedikit berkurang. *** Jakarta, Indonesia Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Amelia masuk ke ruangan Leonar dengan mata yang teramat sembab. Ia mencoba menghindari tatapan Leonar untuk menyembunyikan mata sembabnya itu. Namun, Leonar tak bisa dibohongi. Meskipun Amelia menutupinya, ia tetap mengetahui bahwa gadisnya habis menangis. Ia pun mendekati Amelia sambil memberikan saputangannya. “Kalau kamu mau nangis, nggak apa-apa. Aku ngerti kok kamu marah sama aku. Kamu sakit hati sama aku. Aku juga nggak akan ngelarang kamu buat marah sama aku. Mau kamu maki aku juga nggak apa-apa,” ujar Leonar sambil tersenyum tulus. Amelia masih tidak mau menatap Leonar dan tak menerima saputangan tersebut. Hatinya masih terlalu sakit melihat adegan tidak mengenakan tadi. Kenapa juga ia harus melihatnya? Harusnya ia saat itu tidak datang agar hatinya tidak sesakit ini. Leonar pun memahami kondisi Amelia saat ini. Ia tidak ingin marah karena ini memang salahnya. Ia pun tidak ingin memaksa Amelia untuk memaafkannya. Karena memaafkan disaat hati sedang sakit pasti sangatlah berat. “Kamu mau aku antar pulang?” tanya Leonar. Amelia hanya menggeleng sambil melihat beberapa berkas yang ada di atas mejanya. Berkas itu harusnya ia periksa, kemudian diberikan pada Leonar untuk ditandatangani. Namun, pekerjaannya tertunda karena insiden tadi. Leonar menahan pergerakan tangan Amelia yang tak beraturan di atas tumpukan berkas itu. Saat memegangnya, Leonar terkejut. Tangan itu sangat dingin dan gemetar. Apakah sesakit itu? Amelia menarik tangannya, kemudian berdiri dan berniat untuk pergi. Namun, Leonar menahannya dan menariknya untuk berada dalam pelukannya. Meskipun berulangkali Amelia menolak, Leonar tetap menahannya sampai akhirnya gadis itu lelah dan berhenti meronta. Leonar membelai rambut Amelia secara lembut dan perlahan. Ia memeluknya erat, sedangkan Amelia enggan membalasnya. Namun tak apa. Leonar mencoba mengerti. “Maafin aku ya. Aku tahu, kamu marah. Sekarang, kamu luapin aja kemarahan kamu sama aku. Aku nggak akan marah,” ujar Leonar. Amelia menangis. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Hatinya begitu sulit untuk memarahi pria lembut ini. Akan tetapi, pikirannya ingin marah dan berteriak di depan pria ini. Ia bingung, harus mengikuti kata hatinya atau pikirannya. Mendengar tangisan Amelia, Leonar turut menangis tanpa suara. Ia sangat-sangat menyesal atas kejadian ini. Kenapa kisah cintanya begitu rumit? Ada saja cobaan yang menguji hubungannya dengan Amelia. “Kamu bilang, kamu nggak suka lagi sama dia. Tapi, kenapa kamu cium dia? Aku sakit lihat itu,” Amelia berucap sambil terisak. Ia memukul d**a Leonar pelan. “Kalau kamu masih suka sama dia, lebih baik kita putus aja. Aku nggak mau jadi duri diantara kalian.” Leonar menggeleng keras. “Enggak. Aku nggak mau putus sama kamu. Aku juga nggak suka sama dia. Kamu salahpaham, Sayang. Bukan aku yang cium dia, tapi dia yang cium aku.” Amelia mendongak, menatap Leonar. Tatapannya menunjukkan sebuah kebingungan. “Maksudnya?” Leonar tersenyum, kemudian menunduk untuk mencium kening Amelia. Ia melepas pelukannya, lalu menyuruh gadisnya duduk kembali. Sedangkan dirinya berlutut di depan Amelia sambil menggenggam tangannya. “Aku sama sekali nggak khianati kamu, Sayang. Tadi, dia duluan yang cium aku. Tapi aku nggak ada balas. Aku diam karena kaget. Aku juga nggak tahu kalau kamu datang karena posisi aku belakangi kamu,” ujar Leonar menjelaskan. “Kalau kamu masih belum percaya, kita lihat rekaman CCTV di ruangan ini ya.” “Jadi, kamu beneran nggak selingkuh?” tanya Amelia dengan nada imutnya sambil menghapus airmatanya. Leonar menggeleng. “Enggak, Sayang. Lagian kalau aku mau selingkuh, mana mungkin di sini. Nanti ketahuan kamu jadinya.” “Ih ngeselin!” ujar Amelia sambil tertawa dan mencubit lengan Leonar pelan. “Kamu suka banget sih godain aku! Kesel tahu nggak!” “Biarin. Kan aku jadi tahu kalau cinta kamu besar buat aku,” kata Leonar. “Ih kepedean!” “Ih beneran. Buktinya kamu cemburu sampai nangis kayak gini,” ujar Leonar dengan tawa khasnya. “Udah deh, ngaku aja.” “Ih nyebelin!” Amelia tertawa kemudian memeluk leher Leonar sambil berbisik, “Jangan tinggalin aku ya. Aku sayang sama kamu.” Leonar tersenyum bahagia sambil membalas pelukan kekasihnya. Ia mengangguk. “Aku nggak akan ninggalin kamu. Tapi, ada syarat yang harus kamu penuhi.” “Syarat?” “Iya. Kamu harus mau ketemu sama orang tuaku kalau mereka datang ke Jakarta. Kita bakal bahas lanjutan hubungan kita. Aku juga nggak mau lama-lama,” jawab Leonar. Amelia melepas pelukannya. “Kenapa?” “Takut kamu diambil orang.” “Ih aku kan jelek. Mana ada yang mau sama aku,” ujar Amelia bercanda. “Iya, itu menurut kamu. Dimata aku, kamu itu sangat-sangat cantik. You're so beautiful girl.” Amelia tersipu malu. “Gombal!” “Biarin,” ucap Leonar sambil mencium bibir Amelia singkat. “Aku sayang kamu.” “Aku juga sayang kamu.” Leonar berdiri kemudian memeluk Amelia dengan erat sambil terus mencium rambut gadisnya. Masalah selesai dan semoga tak ada lagi cobaan yang datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN