Leonar pulang bersama Amelia sore ini. Ia tak berhenti menggenggam tangan kekasihnya, sampai mereka pun tiba di depan rumah Amelia. Setelah Amelia keluar, mobil Mercy hitam itu kembali melaju menuju apartemennya.
Di perjalanan, sang supir yang bernama Sugeng itu memulai sebuah percakapan yang begitu sensitif bagi Leonar. Pasalnya ia kembali menuduh Amelia-lah yang menyuruhnya untuk mengeroyok Leonar. Ia berusaha keras membuat Leonar mempercayai perkataannya.
“Kamu jangan asal ngomong. Pacar saya nggak mungkin kayak gitu,” ujar Leonar kesal.
“Saya nggak asal ngomong, Bos. Cewek tadi beneran yang nyuruh saya. Saya berani sumpah, Bos,” kata Sugeng.
Leonar mendecak. “Ada buktinya kalau dia yang nyuruh? Nggak ada, kan? Nggak usah asal deh. Kamu mau saya pecat terus saya laporin ke polisi?”
“Bos, saya rela dipecat karena saya nggak bohong. Saya jujur, Bos.”
Suara Sugeng terdengar memelas dan begitu meyakinkan. Leonar yang mendengarnya pun mulai sedikit meragukan kepercayaannya pada Amelia. Ia berpikir keras, bagaimana bisa kekasihnya menyuruh orang lain untuk mencelakainya? Ini mustahil baginya. Amelia itu terkenal baik dan tidak suka mencari masalah. Bagaimana mungkin dia yang melakukan ini semua?
Leonar mulai gelisah. Jika yang dikatakan Sugeng itu benar, apa yang harus ia lakukan pada Amelia? Apakah dirinya tega melaporkan kekasihnya sendiri pada polisi? Ah, ini benar-benar membingungkan!
“Nggak mungkin Amel ngelakuin itu sama gue. Dia itu cewek baik-baik. Gue curiga kalau Sugeng lagi berusaha ngadu domba gue sama Amel,” batin Leonar.
Leonar terus menatap kearah Sugeng, dengan tatapan sedikit curiga. Ia berpikir bahwa Sugeng tengah berusaha mempermainkan dirinya. Bisa saja, Sugeng masih bekerja sama dengan penjahat yang sesungguhnya.
“Gue harus cari tahu sendiri. Gue nggak bisa percaya sama ini orang,” batin Leonar lagi.
Tak berapa lama, Leonar tiba di apartemen. Ia berjalan mendahului Sugeng yang berada di belakangnya. Sepanjang memasuki apartemen, Leonar terus memikirkan, bagaimana cara agar dirinya bisa mengetahui siapa orang dibalik masalah ini.
Jika dia mempercayai Sugeng, bisa-bisa hubungannya dengan Amelia akan hancur. Dan satu-satunya cara untuk membuktikan itu semua adalah rekaman CCTV di parkiran. Ya, rekaman itulah yang bisa membuktikan semuanya.
Leonar tersenyum penuh kemenangan. Ia bersyukur, Tuhan masih memberinya akal yang jernih untuk menyelesaikan masalahnya. Beruntungnya lagi, ia tidak mudah percaya pada Sugeng. Ia lebih mempercayai kekasihnya daripada orang lain.
“Sugeng, besok saya ke kantor sendiri. Kamu jaga aja apartemen saya ya,” ujar Leonar saat berada di lift.
“Loh, kenapa, Bos?” tanya Sugeng heran.
“Nggak kenapa-napa. Saya ada urusan diluar, jadi harus bawa mobil sendiri. Urusan saya agak padat besok. Kasihan kamu nungguin saya nanti,” kata Leonar.
“Oh, gitu.”
Mereka kembali terdiam saat lift terbuka. Leonar pun kembali berjalan menuju apartemennya, kemudian memasukkan kode di pintunya. Saat pintu terbuka, suara ponsel Sugeng pun terdengar. Sugeng meminta izin untuk mengangkat telepon, dan Leonar mengizinkannya.
Leonar memilih untuk masuk, sementara Sugeng tengah menerima telepon dari seseorang. Meskipun penasaran, Leonar mencoba untuk berpura-pura tidak ingin tahu dengan siapa Sugeng berbicara di telepon, sampai harus menjaga jarak dan sedikit berbisik.
***
Sugeng masuk ke apartemen Leonar. Hampir satu setengah jam Sugeng berbicara dengan orang yang meneleponnya dan itu membuat Leonar sangat penasaran. Siapa yang ditelepon oleh supir barunya itu? Kenapa ia sampai menjauh dari Leonar sampai tidak terdengar suaranya.
Leonar yang saat ini berada di balkon apartemen pun mencoba mencari cara agar ia tahu siapa yang menelepon supirnya itu. Rasa penasarannya terlalu besar sehingga membuatnya terus kepikiran. Mungkinkah ia harus memasang alat penyadap suara?
Ya, mungkin seharusnya Leonar melakukan itu. Namun, pria tampan ini sepertinya tidak terpikir ke situ. Hingga akhirnya, ponsel di sakunya berdering. Leonar segera menerima panggilan tersebut.
“Halo, Pa.”
“Leo, besok Papa sama Mama bakal berangkat ke Indonesia. Kemungkinan lusa sampai. Kamu stay terus ya biar bisa jemput Papa sama Mama,” ujar Calvin di seberang telepon.
Leonar tersenyum gembira. “Oke, Pa. Kabari aja kalau kalian udah sampai. Pasti aku jemput kok.”
“Ya udah, Papa tutup dulu ya. Soalnya mau bantuin Mama packing baju,” kata Calvin.
“Iya, Pa. Safe flight ya.”
Sambungan terputus dan Leonar bergegas untuk tidur, meskipun saat ini pikirannya masih tertuju pada sikap aneh Sugeng. Akan tetapi, ia juga terlalu lelah. Jadi, ia memutuskan untuk tidur dan memikirkannya lagi besok.
***
Pagi ini, Leonar sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia juga sudah menyiapkan beberapa dokumen penting karena hari ini akan banyak meeting diluar dengan beberapa klien dan investor.
Setelah dirasa sudah siap, Leonar pun keluar dari kamarnya. Dia melihat Sugeng sudah berada di dapur dan tersenyum ramah padanya sambil menyapa dan menyodorkan secangkir teh. Tidak seperti hari sebelumnya. Ada apa ini? Pikir Leonar yang merasa curiga dengan tingkah Sugeng.
“Bos, minum dulu tehnya,” kata Sugeng.
“Saya buru-buru. Kamu minum aja,” ujar Leonar sambil berlalu dari hadapan Sugeng.
Sugeng yang merasa ditolak pun tampak sedikit marah. Ia langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
“Bos, dia nggak mau minum tehnya,” ujar Sugeng.
“Bego banget sih lo! Ngasih gitu aja nggak bisa!”
“Maaf, Bos. Tapi dia langsung pergi,” kata Sugeng ketakutan.
“Gue nggak mau tahu. Sekarang, lo kejar dia dan paksa dia minum! Kalau nggak, anak lo gue bunuh!”
“Jangan, Bos. Iya gue bakal ngejar dia,” ujar Sugeng.
Sambungan terputus dan Sugeng langsung mengejar keluar. Ia masuk kedalam lift dan sesampainya di lobby apartemen, Sugeng berusaha mengejar Leonar yang hampir menaiki mobil. Dan secara tak sengaja, Sugeng menyenggol seseorang hingga membuat gelasnya jatuh dan pecah.
Leonar yang mendengar itupun langsung menoleh ke sumber suara. Ia melihat Sugeng terus membungkuk minta maaf pada orang yang tak sengaja ditabraknya. Leonar pun berjalan menghampiri Sugeng yang sedang dimarahi oleh orang tersebut.
“Permisi, apa yang dia lakukan pada anda, Nyonya?” tanya Leonar sopan.
“Dia nabrak saya, terus baju saya basah kena teh dia!” jawab wanita paruh baya itu.
“Maafin supir saya, Nyonya. Nanti saya minta bantuan sama jasa laundry disini,” ujar Leonar.
“Oh, jadi dia supir kamu. Tolong diajari yang bagus ya! Kalau jalan itu lihat-lihat dulu!”
Leonar tersenyum. “Iya, Nyonya. Nanti saya ajarkan dia. Sekali lagi saya minta maaf atas nama supir saya.”
“Oke, saya maafkan. Untung kamu sopan. Kalau nggak, supir kamu ini udah saya lempar pakai pecahan gelas ini,” kata wanita itu sambil berlalu dari sana.
Leonar pun menatap tajam kearah Sugeng. Ia tak habis pikir, kenapa pria itu sampai nekad mengejarnya hanya untuk memberikan teh itu? Ada apa sebenarnya?
“Kamu ngapain keluar bawa teh itu?” tanya Leonar.
“Saya cuma mau Bos minum tehnya,” jawab Sugeng tertunduk.
Leonar menghela napas kasar. “Sugeng, kan udah saya bilang kalau saya, nggak sempat minum teh. Saya buru-buru. Apa kamu nggak ngerti bahasa?”
“Maaf, Bos.”
“Udah, sekarang kamu masuk. Saya mau berangkat ke kantor. Ini udah terlambat gara-gara kamu,” kata Leonar dengan nada kesal.
Sugeng mengangguk dan berlalu. Sementara Leonar meminta tolong pada cleaning service untuk membersihkan pecahan gelas itu, lalu memberinya uang. Setelahnya, Leonar kembali ke pintu utama dan masuk ke mobil untuk segera pergi ke rumah Amelia.