Duapuluh Empat

1161 Kata
Sugeng merasa kebingungan sendiri di apartemen Leonar. Ia terlihat panik sambil meremas rambutnya dan terduduk di sofa, kemudian berdiri kembali. Begitu seterusnya. Keringat terus mengalir di dahinya. Raut ketakutan terlihat jelas sekali di wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sugeng mendadak menjadi panik seperti itu? Mungkinkah ada sesuatu yang membuatnya merasa tertekan? Atau bahkan mungkin, terancam? Ya, kepanikan yang dialami Sugeng terjadi setelah ia mendapatkan telepin dari seseorang, dan ia mengatakan bahwa dirinya sudah gagal untuk meracuni Leonar. Jadi, teh yang ia buatkan untuk Leonar, ternyata sudah berisi serbuk racun yang mematikan. Apa tujuan mereka sebenarnya? Kenapa orang tersebut menyuruh Sugeng untuk membunuh Leonar? Dan siapa dia sebenarnya? Sampai detik ini, masalah ini masih menjadi misteri. Bahkan Leonar sendiri tidak menyadari, bahwa dirinya sedang dalam bahaya. Orang disekitarnya tengah berusaha untuk melenyapkannya. Sugeng berulangkali mendesis dan tetap meremas rambutnya yang sudah basah, karena keringat. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Rencana yang ia lakukan gagal, dan yang memberi perintah mengancam akan membunuh keluarganya. Hal inilah yang menyebabkan Sugeng merasa panik. "Lo udah gagal. Jadi, lo bakal terima resikonya." Ucapan dari si pelaku sebenarnya pun, terus terngiang di telinga Sugeng. Seolah pelaku tersebut berada di sampingnya, dan terus mengingatkan dirinya akan kematian keluarganya. "Ya ampun, gimana ini? Gue harus ngapain?" gumam Sugeng sendirian. Pria ini terlihat begitu frustrasi. Timbul rasa penyesalan di hatinya, karena telah menuruti dan bekerjasama dengan manusia laknat itu. Jika saja ia menyetujui tawaran Leonar, dan tidak berurusan lagi dengan orang itu, mungkin saat ini keluarganya akan aman. Sugeng mulai geram. Cukup sudah! Ia tak sanggup lagi untuk berpura-pura baik di depan Leonar. Lebih baik, ia tunjukkan saja niatannya untuk membunuh Leonar. Ia juga ingin menyelamatkan keluarganya. Sugeng pun berjalan menuju dapur, dan mengambil sebuah pisau di sana. Ia menyembunyikan pisau itu dibalik jaket kulitnya, kemudian bergegas keluar dari apartemen tersebut. Kalian pasti sudah tahu, kemana tujuan Sugeng. Dia akan pergi menemui Leonar, dan menghabisi pria itu di sana. Itulah yang ada dipikiran Sugeng saat ini. ### Tak lama, Sugeng tiba di kantor Dixon Company. Ia berjalan masuk ke lobi, kemudian berbicara pada resepsionis, sekedar meminta izin untuk bertemu dengan Leonar. Setelah mendapatkan persetujuan dari Leonar, resepsionis tersebut mengantarkan Sugeng ke ruangan Leonar. Namun sebelum itu, Sugeng tak sengaja berpapasan dengan Franklyn. Ia mengira itu adalah Leonar, dan mencoba bertanya pada resepsionis yang berjalan di depannya. "Itu bukannya Pak Leo ya?" tanya Sugeng. "Bukan, Pak. Itu kembarannya Pak Leo, namanya Pak Franklyn." Sugeng pun mengangguk, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Leonar. Sementara Franklyn tidak peduli dengan Sugeng yang tadj menatapnya. Sugeng pun sampai di depan ruangan Leonar. Kebetulan Leonar sudah selesai meeting, dan ia sedang beristirahat sekarang di ruangannya. Setelah resepsionis membukakan pintu, Sugeng pun masuk kedalam. Ia melihat Leonar sedang bersandar di kursi kerjanya. "Ada apa? Kenapa kamu kesini? Ada info penting?" tanya Leonar tanpa basa-basi. Sugeng mendadak bimbang. Mungkinkah ia tega melenyapkan orang sebaik Leonar? Selama tinggal bersama Leonar, Sugeng selalu mendapatkan uang dan Leonar juga membiayai sekolah anak-anaknya. Tapi, ia justru mengkhianati Leonar. Padahal, jasa Leonar lebih besar, dibandingkan manusia misterius itu. Merasa tidak direspon, Leonar pun berdeham, dan kembali bertanya, "Kamu kenapa?" "Bos, maafkan saya." Leonar mengernyit bingung. "Maaf untuk apa?" "Maaf untuk semuanya, Bos. Saya nyesel, Bos," ucap Sugeng lirih. "Apa sih maksud kamu? Saya nggak ngerti," kata Leonar. Sugeng tidak menjawab. Ia malah mendekati Leonar, lalu menyerangnya secara tiba-tiba. Leonar terkejut dan sempat mengelak, namun jas kerjanya robek terkena pisau. Saat ini, Amelia sedang keluar untuk mengirimkan berkas pada klien. Tinggallah Leonar sendiri di sana. "Apa ini?! Kamu mau bunuh saya?!" "Maaf, Bos." Sugeng kembali mendekati Leonar, dan mencoba untuk menyerangnya. Namun, usahanya gagal, karena Leonar berhasil menghindar. Astaga! Leonar benar-benar dalam bahaya. Adakah yang bisa menolongnya? Sementara di tempat yang berbeda, manusia misterius itu terlihat asyik bermain dengan mainannya. Mainan yang dimaksud bukanlah boneka, atau semacamnya. Mainan itu adalah manusia. Ya, di hadapannya sudah ada 4 orang manusia yang telah meninggal dunia dengan luka tusukan masing-masing 50 tusukan. Dan setelah menusuk keempat korban, manusia keji ini menyayat bagian-bagian tubuh korban, dan berakhir dengan memutilasinya. Siapa korbannya? Korbannya adalah keluarga Sugeng. Anak-anak, istri, dan ibu mertuanya. Ancaman itu ternyata tidak main-main. Manusia misterius itu benar-benar membunuh keluarga Sugeng, dengan cara yang sadis. Jika Sugeng tahu hal ini, mungkin ia akan semakin terpukul dan depresi. Manusia berhoodie itu tertawa senang, saat dirinya memotong-motong bagian tubuh keempat korban itu. Ia merasa puas. Bahkan setelahnya, ia mengabadikan momen itu di ponselnya. Ia memfoto, dan merekam aksi brutalnya itu. Gila, bukan? "Bos, gimana sama Sugeng?" tanya salah satu anak buahnya. "Dia bakal gue bunuh juga," jawab orang tersebut. "Sekarang, lo jemput dia, dan bawa kesini." "Baik, Bos." Setelahnya, ia kembali tertawa dan terus merekam potongan-potongan mayat itu. Sungguh sadis dan menyeramkan. ### "Sugeng, berhenti!" teriak Leonar yang terus berusaha menghindari Sugeng. Namun, Sugeng tak menggubris teriakan Leonar. Dia terus berusaha menyerang Leonar, bahkan lengan Leonar juga sudah berdarah, terkena pisau. Pikiran Sugeng saat ini sangat kacau. Sesungguhnya ia tidak ingin membunuh Leonar yang sudah membantu ekonomi keluarganya. Akan tetapi, ia juga merasa takut akan keselamatan keluarganya. Sugeng tidak tahu bahwa semua keluarganya sudah tewas dengan cara mengenaskan. Dan usahanya untuk membunuh Leonar, hanyalah usaha yang sia-sia. "Sugeng!" "Maaf, Bos. Saya terpaksa ngelakuin ini," ucap Sugeng. "Apa? Terpaksa? Maksud kamu apa?" tanya Leonar heran. "Gue terpaksa!" Sugeng berteriak dan langsung menyayat lengan Leonad. Leonar mengerang sambil memegangi lengannya. "Gara-gara lo, gue jadi terpojok!" "Gue nggak ngerti maksud lo!" bentak Leonar yang sudah tidak bisa lagi bersabar. "Banyak bacot lo! Gue bakal bunuhblo sekarang juga!" Sugeng menancapkan pisau di lengan Leonar, dan Leonar terduduk lemas sambil memegangi lengannya. Pisau masih menempel di sana. Sugeng tersenyum puas, kemudian ia mencabut paksa pisau tersebut, lalu kembali menyayat lengan yang sudah luka itu. Leonar kembali mengerang kesakitan. Ia tak sanggup untuk melawan, karena tubuhnya semakin lemas. Darah yang keluar juga cukup banyak. Suhu tubuhnya juga semakin dingin, karena menahan rasa sakit di lengannya. "Berhenti!" Amelia datang dan meneriaki Sugeng, saat hendak menancapkan pisau di bagian punggung Leonar. "Buang pisaunya!" "A-me-lia," ucap Leonar terputus-putus. "To-long." Amelia pun merasa ketakutan, lalu berteriak memanggil pihak keamanan. Pihak keamanan pun datang, dan mencoba untuk mendekati Sugeng. Namun, Sugeng dengan cepat menarik Leonar untuk berdiri, dan meletakkan pisau itu di leher Leonar. Hal itu membuat semua yang melihat pun terkejut. Para karyawan berkerumun di sana, setelah mendengar teriakan Amelia yang memanggil petugas keamanan. Nelly, resepsionis yang membawa Sugeng ke ruangan Leonar pun turut terkejut. Ia tak menyangka jika tamu itu ingin melukai pria yang disukainya. Salah satu petugas keamanan, mencoba mendekati Sugeng. Akan tetapi, Sugeng malah mengancam akan menggorok leher Leonar dengan pisau itu. Mereka pun akhirnya mundur ke belakang. Leonar sendiri sudah tidak berdaya, karena telah kehilangan banyak darah. Luka tusukan di lengannya cukup dalam, sehingga membuat tubuhnya semakin lemas. "Tolong, lepasin Pak Leo," pinta Amelia lirih. Sugeng tertawa jahat. "Nggak! Dia bakal gue bunuh! Karena dia, gue jadi terpojok, dan keluarga gue terancam!" "A-pa mak-sud lo?" tanya Leonar disisa kekuatannya. "Lo nggak perlu tahu maksud gue! Yang jelas, gue harus bunuh lo, biar keluarga gue selamat!" Leonar hanya bisa terdiam sambil menutup matanya. Ia sudah tak sanggup untuk melawan. Kondisinya sungguh parah saat ini. Sementara itu, ditengah kerumunan, ada seseorang yang tersenyum jahat, saat mendengar perkataan Sugeng tadi. Seakan-akan, ia senang melihat Leonar tersiksa seperti itu. Setelahnya, ia pergi begitu saja. Siapakah orang tersebut?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN