Dua Puluh Lima

1034 Kata
Ketika hati sudah diselimuti awan hitam, maka tidak akan ada lagi celah untuk kebaikan. Begitu pula yang ada dalam hati Sugeng. Hatinya sudah diselimuti awan hitam pekat, karena kesal pada Leonar. Menurutnya, pria itulah penyebab keluarganya terancam. Jika saja saat itu Leonar mati, mungkin dirinya serta keluarganya akan baik-baik saja. Sugeng merasa bahwa keluarganya akan selamat setelah pembunuhan ini terjadi. Namun pada kenyataannya, itu hanya akan menjadi impian belaka Sugeng. Karena semua keluarganya sudah tewas terbunuh, sebelum ia melakukan aksi tersebut. Sementara itu, Amelia terus menatap kasihan kearah Leonar. Ia melihat Leonar sudah semakin kesulitan bernapas akibat tekanan di lehernya yang disebabkan oleh lengan besar Sugeng. Amelia ingin menolong, namun ia juga sadar bahwa dirinya tidak akan mampu untuk melawan Sugeng. “Tolong, lepasin Pak Leonar,” pinta Amelia. Sugeng hanya mendecih saat mendengar permintaan Amelia. Ia justru menyeringai sambil mengangkat pisaunya untuk segera ia tancapkan di leher Leonar secara berulang-ulang agar pria itu lenyap dari dunia. Namun, disaat yang bersamaan pula, ponsel Amelia berdering dan membuat Sugeng beralih menatap Amelia. Tatapan matanya yang tajam seakan menginterupsi Amelia untuk segera menerima panggilan tersebut. Seakan mengerti, Amelia pun segera merogoh saku rok kerjanya dan menerima panggilan dari nomor tak dikenal itu. “Ha-lo,” ucapnya gugup. “Halo, Amelia. Apa kabar?” Sontak Amelia tertegun. “Kamu siapa?” “Lo nggak perlu tahu siapa gue. Gue punya tugas buat lo dan lo jangan ngebantah.” “I-ya, baik. Tugasnya apa?” “Bilang ke Sugeng, kalau dia itu cuma orang bodoh.” Amelia mengernyit. “Maksudnya apa? Saya nggak ngerti.” “Bilang kalau usaha dia buat bunuh Leonar itu cuma sia-sia, g****k! Karena semua keluarganya udah mati,” ucap si pelaku. Seketika itu juga, Amelia mematung. Ia menatap Sugeng dengan tatapan penuh keprihatinan. Si pelaku ternyata benar-benar memanfaatkan Sugeng hanya untuk membunuh kekasihnya, Leonar. “Oh iya satu lagi. Mendingan lo jauhi Leonar deh, daripada entar lo bernasib sama kayak Sugeng. Leonar itu nggak cocok sama lo.” Setelah itu, sambungan pun terputus secara sepihak. Tubuh Amelia melemas dengan tangan kanan yang sudah turun ke bawah sambil menggenggam erat ponselnya. Kedua matanya masih menatap Sugeng dan Leonar secara bergantian. Amelia bingung, harus menyampaikan kabar duka ini atau tidak pada Sugeng. Meskipun ia kesal karena pria itu akan membunuh Leonar, tapi ia juga masih mempunyai hati nurani. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan Sugeng nanti saat mengetahui kematian keluarganya. Sugeng terus menatap Amelia. Yang ditatap justru semakin menangis. Hal itu membuat Sugeng heran, sekaligus penasaran. Hal apa yang sudah membuat gadis itu menangis sambil menatap dirinya? “Lo kenapa? Siapa yang barusan telepon?” tanya Sugeng. Amelia gemetar. Ia bingung harus bagaimana menyampaikan hal ini. Sungguh, ia tidak tega. “Jawab!” bentak Sugeng. Amelia terkejut. “Yang… barusan telepon itu… bos kamu.” “Dia bilang apa?” tanya Sugeng lagi. “Dia bilang….” Amelia menggantungkan ucapannya. Sesekali ia menelan salivanya dengan begitu berat. “Apa aku harus bilang ke dia, Tuhan?” batinnya berkata. “Heh! Dia bilang apa?!” tanya Sugeng dengan nada meninggi. “Di-a bilang… keluarga kamu udah mati,” jawab Amelia terbata. Bukannya menangis ataupun terkejut mendengar berita itu, Sugeng justru tertawa mengejek. Seakan ia tak percaya dengan kenyataan pahit itu. Ia merasa bahwa Amelia hanya mempermainkan dirinya agar segera membebaskan Leonar dari cekikannya. Amelia pun mendadak bingung dengan sikap Sugeng yang sepertinya tidak mempercayai dirinya. “Kok ketawa? Ini serius loh. Keluarga kamu udah dibunuh sama mereka.” “Bullshit!” “Kalau nggak percaya, kamu telepon aja bos kamu itu. Kamu tanya sama dia,” ucap Amelia kesal. Sugeng segera mengambil ponselnya dengan tetap menahan Leonar di lengannya. Ia menghubungi nomor si pelaku, namun tidak ada jawaban sama sekali. Saat Sugeng berusaha untuk menelepon kedua kalinya, panggilannya justru di-reject. Sugeng pun mulai panik dan sesekali menatap kearah Amelia. Pria ini merasa bahwa mungkin gadis itu benar. Keluarganya telah dibunuh dan ia sudah terlambat untuk menyelamatkan mereka. Sugeng membanting ponselnya ke lantai hingga pecah berserakan. Ia mulai frustrasi, namun tetap mempertahankan cekikannya di leher Leonar. Leonar sendiri sudah mulai lemas, karena sedikit demi sedikit oksigen dalam tubuhnya berkurang. Bahkan untuk menggerakkan tubuhnya saja, Leonar sudah tidak sanggup. Ia sempat menatap Amelia yang terus menangis saat melihat dirinya. Sungguh, ia tak tega. “Sialan! Ini semua gara-gara lo!” teriak Sugeng di telinga Leonar. “Kalau aja dari kemarin lo mati, keluarga gue pasti selamat!” “Kamu nggak bisa salahin Pak Leonar! Yang salah itu kamu! Kenapa kamu mau disuruh buat bunuh Pak Leonar?!” sahut Amelia yang semakin kesal, karena Sugeng tak kunjung menyadari kesalahannya. “Mendingan lo diam! Nggak usah ngebacot!” “Kamu yang diam! Cepat lepasin Pak Leonar!” balas Amelia tak mau kalah. Sugeng tertawa jahat dan itu terdengar cukup menyeramkan, membuat semua orang yang menyaksikan kejadian ini merasa ketakutan, kecuali Amelia. Itu karena Amelia sudah diselimuti rasa kesal yang mendalam, terlebih lagi kekasihnya sedang berjuang antara hidup dan mati. “Nggak usah ketawa! Cepat lepasin Pak Leonar!” “Gue nggak bakal lepasin dia! Gue bakal bunuh dia!” Saat Sugeng hendak menancapkan pisaunya ke leher Leonar, kekasih dari Amelia itupun mendadak mendapatkan kekuatan yang tak terduga. Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk melumpuhkan Sugeng hanya dengan memukul alat vitalnya dengan kuat. Sontak hal itu membuat Sugeng meraung kesakitan dan cekikan itu berhasil terlepas dan Leonar pun terkulai lemas di lantai. Amelia segera mendekati Leonar dan meminta pihak keamanan untuk segera menahan Sugeng sampai polisi datang. Sugeng pun dibawa ke ruang keamanan dengan pengawasan yang ketat tentunya, sampai polisi tiba di sana dan meminta beberapa orang untuk menjadi saksi di kantor kepolisian. Sementara Amelia membawa Leonar ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Ia berharap, Leonar akan bertahan demi dirinya. Jujur, ia belum siap untuk kehilangan Leonar. Mobil yang dikendarai Amelia pun bergerak menuju ke rumah sakit, sedangkan Sugeng sudah dibawa oleh pihak kepolisian, berikut para saksi. ### Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, kondisi Leonar perlahan mulai stabil. Hanya saja, tubuhnya masih terasa lemas dan tak mampu untuk terlalu banyak bicara. Ia hanya bisa menatap Amelia yang terlelap di samping tempat tidurnya. Dirinya merasa bersalah karena telah menyusahkan Amelia. Akan tetapi, ia juga bersyukur pada Tuhan, karena bukan Amelia yang menjadi sasaran Sugeng. Lebih baik dirinya yang merasakan sakit daripada Amelia. Leonar mencoba untuk membelai rambut Amelia, namun secara perlahan agar gadis itu tidak terbangun. Leonar tahu bahwa Amelia sangat kelelahan karena mengurus dirinya. Sebuah senyum pun terlihat di kedua sudut bibirnya. “Maafin aku ya, karena udah nyusahin kamu,” ucap Leonar pelan. Leonar terus membelai rambut Amelia, sehingga membuat gadis itu merasa nyaman dan menyunggingkan senyuman manis yang mampu membuat Leonar bahagia. “Aku janji, nggak akan ada kejadian kayak gini lagi. Aku nggak mau kamu susah karena aku. Kamu lebih pantas bahagia,” ujar Leonar sambil menutup matanya dan ikut terlelap bersama Amelia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN