“Mbak Asih, anaknya udah sehat? Kemarin katanya anaknya sakit ya,” tanya Bening sambil mengambil sendok. Pagi itu rumah terasa berbeda. Bukan ramai, bukan ribut, tapi hidup. Ada suara panci dari dapur, langkah kaki kecil, dan celotehan lembut Mbak Asih yang dari tadi sibuk menyiapkan meja makan. Wangi bawang goreng tipis yang baru saja ditumis memenuhi udara, bercampur dengan aroma teh panas yang mengepul dari teko. Rumah yang dua hari terakhir senyap seketika punya denyut lagi. Mbak Asih merapikan taplak meja sambil ngedumel kecil. “Udah mendingan, Bu. Maaf kemarin ninggalin ibu sendiri.” “Gak apa apa, Mbak. Aku masih bisa masak yang simpel-simpel kok, kayak nasi goreng, telur dadar, roti lapis,” jawab Bening sambil tertawa kecil. Mbak Asih ikut tertawa, satu tangan menopang pinggang

