“Gue harus ketemu Papa pagi ini,” gumam Bening sambil meraih blouse putih dari lemari. Ia bicara pada dirinya sendiri, bukan pada siapa pun. Kepalanya masih penuh dengan kata-kata yang berputar sejak malam. “Sebelum gue makin kesel sendiri.” Ia memasukkan blouse itu ke tubuh, merapikan kerahnya, lalu mematut wajah di cermin. Rambutnya ia ikat setengah, sisa yang terurai ia sisir perlahan. “Oke. Rapi. Jangan gemeteran depan Papa. Jangan sampe nangis ngomongnya,” bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Setelah selesai berdandan di walk-in closet, ia kembali mengintip kamar. Banyu masih tidur dalam posisi yang sama sejak tadi. Lengan kirinya terkulai ke samping, rambutnya sedikit acak-acakan. Bening berdiri beberapa detik di ambang pintu. “Mas…” panggilnya pelan, meski tahu tidak akan ada

