Bening menutup pintu ruangan Wiratama tanpa menoleh lagi. Suara pintu itu terdengar lebih jelas daripada biasanya, meski ia sudah menekannya perlahan. Koridor masih sepi. Hanya suara langkah karyawan di kejauhan. Ia menarik napas pendek lalu mempercepat langkah menuju lift. Dalam kepalanya muncul bayangan wajah Papa tadi. Tatapan dinginnya. Cara ia menyandarkan tubuh ke kursi sambil menatap langsung ke arah Bening. “Apa aku tadi terlalu keras?” kalimat itu muncul begitu saja, membuat langkah Bening sempat melambat. “Tapi Mas Banyu lagi sakit. Jadi ya wajar dong kalau aku harus bilang. Kalau aku diam, Papa bakal seenaknya lagi.” “Aku tidak salah. Aku cuma... mungkin nadanya kepanjangan. Tapi isinya benar.” Rasa bersalah dan rasa kesal bertubrukan di dadanya tanpa memberi ruang untuk be

