Banyu dan Bening tiba di rumah. Suasana hening di dalam mobil sedikit meredakan ketegangan yang mereka rasakan di kantor polisi. Mereka sama sama diam beberapa detik setelah mesin mobil dimatikan. Bening melepaskan sabuk pengamannya pelan, sementara Banyu menatap ke depan seperti memikirkan sesuatu yang belum selesai. Setelah keluar dari mobil, mereka berjalan beriringan menuju pintu depan. Banyu memegang kunci dan bersiap membukanya. Bening berdiri di sampingnya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Banyu menoleh singkat. “Kamu mau makan siang apa?” Bening mengerjap. Pertanyaan itu datang lebih cepat dari dugaan. “Hmm. Aku belum kepikiran, Mas.” “Aku bisa pesan antar. Atau kamu mau sekalian dibuatkan Mbak Asih?” Bening membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab, suar

