Bab 72

2769 Kata

“Lokasi terakhir yang bisa kami lacak masih di sekitar kantor Bu Bening,” kata salah satu dari mereka. Pukul sembilan malam, pabrik tua itu hampir tidak memiliki suara selain derit angin yang masuk lewat sela pintu besi yang sudah berkarat. Lampu lampu kecil yang dibawa anak buah Banyu menjadi satu satunya sumber cahaya. Lantai berdebu, beberapa sisa mesin lama dibiarkan terbengkalai. Tempat itu memang sering dipakai Banyu untuk pertemuan rahasia karena jauh dari keramaian. Empat orang berdiri menghadap Banyu. Mereka orang orang yang sudah lama bekerja untuknya. Tidak bertanya hal yang tidak perlu, tidak ribut, dan mengerjakan tugas dengan cepat. “Setelah itu?” Banyu menatap dingin. Suaranya dalam dan menekan, bukan karena marah, tetapi karena menahan banyak hal. “Setelah itu hilang, P

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN