Semenjak tadi sore Caca hanya hilir mudik tidak karuan. Sekali kali ia menggigit kuku. Berpikir keputusan apa yang akan diambil untuk hari esok. Apakah tetap tinggal selama tiga bulan ini, yang akan membuat kedua orang tuanya cemas memikirkan dimana kini keberadaannya, tapi akan sangat bersyukur ketika ia pulang nanti.
Amarah sang ayah juga bisa dipastikan akan menguap begitu saja karena ia sudah pulang dengan selamat. Atau besok langsung pulang bersama Rama dan memohon kepadanya agar tidak membocorkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi, dengan resiko sang ayah masih dalam amarah yang menggebu. Tidak menutup kemungkinan akan kembali diusir dari rumah ketika ia pulang nanti.
Caca mengacak rambut panjangnya. Ia masih bingung harus memilih apa diantara dua pilihan tersebut. Untuk saat ini belum ada yang menarik diantara dua pilihan.
"Bu … Ibu …!" seru Caca. Menutup wajahnya dengan telapak tangan, dan berteriak histeris menyeru Bismi yang ada di dapur. Caca terkejut saat hujan deras yang disertai dengan angin kencang membuka pintu jendela kamar. Disusul dengan matinya lampu, sehingga suasana kamar semakin mencekam.
Selama tinggal di desa itu, saat malam kadang memang hujan turun dibarengi dengan angin kencang, kadang petir yang menggelegar. Tapi, ada Rama yang tidur di lantai dan tidak mati lampu.
Sekarang? Lampu mati dan Rama pun tidak ada di rumah. Tadi sore Bismi mengatakan Rama akan pulang sedikit malam karena akan menata barang-barang yang diantarkan tukang becak tadi. Maka dari itu hingga detik ini Rama tidak kunjung pulang, apalagi di luar tengah hujan deras. Tentu saja ia masih bertahan di sana sampai hujan reda.
Namun, entahlah. Tidak ada yang tahu apakah Rama masih di sawah pak kades atau di rumah mereka. Ooppss.
Teriakan Caca yang menggelegar dari kamar, membuat Bismi panik. Takut gadis itu kenapa-kenapa di dalam kamar sana. Dengan langkah yang tergopoh-gopoh ia menyusul Caca ke kamar. Di tangannya ada lampu minyak tanah yang terbuat dari kaleng lem penambal ban becak dayung.
"Caca kenapa, Bu?" susul Solihin. Tak kalah paniknya dengan Bismi.
"Ibu tidak tahu, Yah. Aku kita lihat Caca kenapa," sahut Bismi. Langsung membuka pintu kamar Caca.
"Ibu …" lirih Caca. Wajahnya yang telah basah dengan air mata terangkat. Bibirnya bergetar karena takut.
Solihin langsung mengambil alih lampu minyak yang ada di tangan sang istri. Agar bisa leluasa Menenangkan Caca yang kini tampak ketakutan setengah mati.
"Ca, kamu tidak apa-apa, Nak?" ucap Bismi. Memeriksa hingga ke ujung kaki, keadaan Caca. Takut ada hewan melata atau apapun yang menyakiti sang menantu.
Caca menggeleng cepat. Menghambur ke dalam pelukan Bismi dan memeluk dengan erat. Seakan ia akan hilang jika pelukan tersebut melonggar.
"Aku takut, Bu. Aku takut kegelapan," lirihnya. Tanpa melepaskan diri dari Bismi.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu ada di sini. Caca tidak perlu khawatir lagi." Bismi menenangkan. Mengusap punggung Caca agar lebih tenang dan tidak ketakutan lagi.
Solihin mendekat. "Lebih baik Ibu bawa makan dulu ke dapur. Setelah itu baru temani dia di kamar sampai Rama pulang." Menutup dan mengunci pintu kamar yang masih terbuka. Sehingga percikan air hujan masuk dan membasahi lantai kamar.
"Baik, Ayah. Kalau begitu Ibu bawa Caca ke dapur dulu." Menuntun Caca pergi ke dapur. Sesuai dengan perintah yang diberikan sang suami padanya.
Dengan bermodalkan Cahaya lampu minyak tanah, Bismi menyuapi Caca makan malam. Agar ia mau makan meskipun hanya sedikit. Takut ia sakit karena masuk angin. Sehingga Bismi rela melakukan apapun agar Caca mau makan.
Selama makan malam, sesekali Caca menoleh ke arah pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dan dapur. Berharap sosok Rama muncul diambang pintu.
Namun, sayangnya hingga mereka selesai makan malam, tidak ada tanda-tanda Rama akan pulang. Diluar pun hujan bukannya berhenti, tapi malah turun semakin deras.
"Bu, apakah bekal yang dibawa Rama tadi pagi cukup untuk makan malamnya?" tanya Solihin. Sebelum Bismi membawa Caca masuk ke kamar.
Bismi berpikir sejenak. "Sepertinya tidak, Yah. Tapi, Ayah tidak perlu khawatir. Tadi pagi Rama mengatakan akan memanen singkong yang ada di tepi ladang. Sebelum menjual, biasanya Rama akan menyisakan dua atau tiga buah ubi untuk dibawa pulang," terangnya.
"Ya, sudah kalau begitu." Solihin berlalu. Pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sholat isya yang sempat tertunda karena suara teriakan Caca tadi harus segera ditunaikan. Sebelum ia beristirahat dan tidur.
***
Rama. Satu nama yang sedari tadi membuat seorang wanita menanti dengan penuh rasa khawatir. Wajah tuanya tampak gelisah, meskipun mulut tidak berkata apa-apa.
Seraya mengusap lengan sang menantu agar bisa tidur di tengah rasa takutnya. Bismi juga sesekali menoleh ke pintu kamar berharap Rama muncul di sana. Tapi, rasanya itu tidak mungkin terjadi. Karena hujan masih enggan berhenti, seakan tidak ingin Rama pulang ke rumah hari ini.
Caca yang sedari tadi berpura-pura tidur, mengintip dari kelopak matanya yang menyipit. Melihat bagaimana sang ibu mertua yang kini tengah memeluknya, begitu khawatir karena Rama belum pulang. Takut ada lagi hal buruk lagi yang menimpanya di luar sana.
Ingin rasanya Caca bertanya di mana kira-kira kini Rama berada. Karena tidak ada alat komunikasi apapun yang bisa digunakan untuk mencari tahu di mana keberadaanya. Ada pun, jika ingin menggunakan ponsel harus pergi ke ujung desa dan mendaki bukit untuk mendapatkan sinyal.
Daripada mencari sinyal sejauh itu, lebih baik langsung mencari keberadaan Rama di sawah atau rumah yang tadi.
"Rama," ucap Bismi pelan. Sedikit mengangkat kepalanya melihat seseorang menyingkap tirai lusuh yang menutupi pintu kamar.
"Ibu di sini?" sahut Rama. Yang baru saja pulang dan menerobos hujan deras karena tidak sanggup menahan rasa lapar yang sedari tadi ia rasakan.
"Sstt …" Bismi menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. "Caca baru tidur. Sana kamu ganti baju, biar Ibu siapkan makanan." Sangat pelan. Bismi beringsut turun dari ranjang. Takut Caca terbangun dari tidurnya.
Padahal gadis itu tidak mampu menutup mata karena suara atap yang berisik di sapu angin. Didampingi dengan suara air hujan yang begitu deras mengguyur dan terdengar seakan atap tersebut akan rubuh atau terbang dibawa angin. Pengalaman yang tidak pernah dialami Caca jika tinggal di Jakarta.
"Baik, Bu," sahut Rama. Seraya meraih handuk dan mengambil pakaian ganti di lemari. Sebelum menyusul langkah sang Ibu yang telah lebih dahulu pergi ke dapur.
Namun, saat ia ingin keluar dari kamar langkahnya berhenti. Melihat selimut yang menutupi tubuh Caca sedikit tersingkap. Sehingga kaki mulusnya tidak tertutup oleh selimut.
Rama mendekat. Caca pun menahan nafas, mendengar langkah kaki yang semakin dekat. Dan ia tahu yang mendekatinya adalah Rama, bukan Bismi.
Suasana kamar yang remang, serta suhu udara yang dingin, membuat otak Caca bertraveling kemana-mana. Takut tiba-tiba saja Rama beringsut naik dan …
Namun, sepertinya perkiraan Caca meleset jauh. Jangankan untuk iya, iya, menyentuhnya saja Rama tidak. Pria itu mendekat semata-mata hanya untuk memperbaiki letak selimut tipis tersebut agar ia tidak kedinginan.
Setelah itu, Rama keluar dari kamar dan meninggalkan Caca sendirian di kamar. Dengan rasa takut yang kembali menyelimutinya. Apalagi hujan semakin deras dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti.
"Aku takut Ibu dan ayah khawatir makanya aku pulang. Jika menunggu hujan reda, sepertinya besok subuh aku baru pulang. Lagipula perutku sangat lapar," tutur Rama. Saat Bismi mulai menghidangkan makanan di meja kayu, yang biasa mereka gunakan untuk makan.
Sederhana saja. Ikan asin yang dibakar dan sambal matah disiram dengan sepotong jeruk nipis. Sudah lebih dari cukup bagi Rama untuk menghabiskan sepiring besar nasi hangat.
"Alah, alasan kamu saja. Katakan saja kalau kamu itu bela-belain pulang karena khawatir sama Caca, kan? Takut Caca ketakutan karena suara hujan dan angin." Mata Bismi menyipit. "Ram, selain suara hujan dan angin, Caca juga takut dengan kegelapan."
"Hujan, angin? Gelap?" Kedua alis Rama bertaut. Heran dengan apa yang dikatakan sang Ibu. Karena selama ini ia tidak pernah tahu jika Caca takut dengan suara hujan dan angin. Kini malah ditambah pula dengan kegelapan.
Bismi mencebikkan bibirnya. "Ck, jujur saja kenapa, Ram. Kamu dan Caca sudah lima hari menikah dan tidur berdua. Masak tidak tahu Caca takut dengan hujan dan angin.. Hampir setiap malam hujan, masak kamu tidak tahu apa-apa. Atau …"
"Caca tidur di kasur dan aku di lantai, Bu. Selama ini tidak pernah sekalipun Caca mengatakan apa-apa padaku," terang Rama. Sebelum lanjut menyuap nasi yang telah dicampur dengan sambal.
Dari cara pria itu makan, membuat seorang gadis yang bersembunyi di balik dinding ingin ikut mencicipi apa yang dimakannya. Terlebih Rama menyuap dengan pelan, sehingga terlihat seperti video slow motion , yang ada di channel YouTube.
Sungguh. Caca benar-benar lapar saat ini. Tadi ia pun makan hanya sedikit dan sepertinya suhu yang dingin telah berhasil membangunkan cacing di dalam perutnya.
"Ah, begitu," lirih Bismi. Kedua pundaknya turun. Patah hati jika mendengar ternyata selama ini Caca dan Rama tidak tidur di ranjang.
Rama yang telah selesai dengan makan malamnya, menggenggam tangan sang ibu. "Bu, jangan terlalu berharap Caca bisa menerima pernikahan kami. Caca itu adalah gadis yang begitu sempurna dan aku?" Menahan nafas sejenak. "Aku hanya pria tua yang tidak memiliki apa-apa, Bu. Mana mau gadis cantik seperti Caca menikah denganku, jika bukan karena kesalahpahaman waktu itu. Jadi, aku mohon sama Ibu. Jangan berharap banyak darinya. Aku sendiri sudah ikhlas jika Caca memilih pergi besok pagi."
"Rama …"
"Sudahlah, Bu. Aku dan dia ibarat minyak dan air. Tidak akan pernah bersatu meskipun telah dimasukkan ke dalam wadah yang sama."
Menyakitkan. Tapi, Rama harus mengucapkannya. Agar sang ibu berhenti berharap Caca mau menerima pernikahan mereka berdua. Lagipula usia mereka terpaut sangat jauh, sehingga mempertegas perbedaan yang dari awal memang sudah mencolok.
****
Caca yang sedari tadi melihat dan mendengar apa yang dibicarakan Rama dan sang Ibu, memilih kembali ke kamar. Karena Rama pun sudah selesai makan itu artinya sebentar lagi ia akan kembali ke kamar.
Tidak ingin ketahuan, Caca lekas beranjak. Kembali ke kamar dan berpura-pura tidur. Padahal ia kini tengah menimbang lagi keputusan yang akan diberikan besok pagi.
Caca tidak ingin salah mengambil keputusan dan malah semakin memperkeruh hubungan dengan kedua orang tuanya.
Namun, melihat Bismi sangat menyayanginya, Caca pun kembali berpikir. Apakah ia akan tetap tinggal selama tiga bulan dan mencoba menerima status sebagai istri Rama, dan pergi begitu rasa itu tidak kunjung hadir.
Atau langsung pulang besok pagi dan menghadang masalah yang telah terlanjur ia buat.
Caca menghela nafas panjang. Tidak ada satupun yang bagus dijadikan sebagai pilihan. Apalagi mengingat penampilan dan usia Rama. Sangat-sangat jauh dari kriteria suami idamannya.
***
Suhu dingin yang semakin menusuk hingga tulang. Udara segar yang menyapa indra penciuman. Sebenarnya membuat Caca ingin tidur lebih lama lagi. Akan tetapi, aroma harum yang menggoda cacing di dalam perutnya, sehingga mata yang dihiasi bulu-bulu lentik tersebut mengerjap. Menghalau jauh rasa kantuk yang tadinya menguasai.
Perlahan. Caca beringsut duduk. Mengusap wajahnya dan melangkah keluar. Tanpa membereskan ranjang yang masih berantakan. Terbiasa diurus asisten rumah tangga selama dua puluh empat jam, tentu saja Caca tidak tahu apa yang harus dilakukan setiap bangun tidur.
"Ish, Ram. Jangan dimakan. Ini untuk Caca dan kamu tidak boleh memakannya!" tegas Bismi. Meraih potongan ikan yang ada di tangan Rama.
Ikan nila yang dibeli Bismi tadi subuh di pasar, yang ia bakar khusus untuk Caca dan tidak boleh ada satupun yang boleh memakannya. Termasuk Rama.
"Bu, ini itu cuma sepotong. Bahkan tidak akan mampu membuat cacing di perutku kenyang." Rama mencebikkan bibirnya. Meletakkan kembali potongan ikan tersebut ke piring.
Layaknya anak kecil yang dimarahi oleh ibunya, Rama berjalan keluar dari dapur. Mengundang senyuman di bibir Caca. Melihat betapa lucunya Rama saat ini.
"Ca, sudah bangun, Nak? Ayo mandi dan langsung makan!" ajak Bismi. Seraya mendekati Caca dengan sepiring ikan bakar di tangannya. "Ini sangat enak. Jangan sampai Rama datang dan menghabiskannya."
Kedua sudut bibir Caca terangkat. "Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih. Ayo mandi agar kita bisa makan bersama-sama."
"Iya, Bu."
Mandi. Untuk melakukannya Caca harus kembali ke kamar terlebih dahulu. Mengambil handuk dan pakaian, agar bisa langsung mengenakan pakaiannya di dalam kamar mandi. Tanpa berkeliaran dengan sehelai handuk dari kamar mandi menuju ke kamar.
Dan saat Caca kembali ke kamar, ia tertegun melihat Rama yang tengah merapikan ranjang dan kamar pun sudah tampak rapi dan bersih. Membuat Caca ragu apakah harus masuk atau tidak. Ia tiba-tiba saja tidak enak hati melihat Rama yang melakukan tugas seorang istri.
"Masuk saja. Agar kamu bisa cepat mandi dan berkemas. Karena aku tahu apa keputusan yang ingin kamu ambil. Hari ini pulang ke kota. Dan kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengatakan apa-apa kepada kedua orang tuamu. Kecuali, kamu yang tiba-tiba saja menyasar dan tidak tahu jalan pulang." Rama berucap seraya melipat selimut yang ada di tangannya. Sehingga ia tidak tahu bagaimana ekspresi wajah Caca saat ini.
Gadis itu tampak kecewa dengan apa yang diucapkan Rama. Karena tadinya Caca sempat berniat untuk mencoba tinggal selama tiga bulan. Semata-mata demi membahagiakan Bismi. Tapi, sayangnya Rama sudah membuat pula keputusan untuknya. Jadi tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan. Pulang adalah pilihan yang tepat saat ini.
Selama sarapan, tidak ada yang membuka suara. Karena selesai mandi Caca sudah rapi dengan kaos lengan panjang dan celana training panjang, yang dibeli Rama dua hari yang lalu untuknya. Tanpa bertanya lagi, Bismi dan Solihin sudah tahu apa pilihan yang telah diambil oleh Caca.
Pagi ini untuk pertama kalinya Caca bisa makan dengan ikan bakar yang sangat enak. Tapi, entah mengapa ikan yang dilumuri banyak bumbu itu terasa sangat hambar dan sulit ditelan. Karena melihat kedua mertuanya tampak murung semenjak ia selesai mandi tadi.
"Bu, aku akan pergi mengantarkan Caca pulang ke rumahnya. Doakan aku bisa pulang dengan selamat," ucap Rama. Sebelum meraih tangan Bismi dan mencium punggung tangannya. Tapi, tidak ada respon apa-apa yang diberikannya, karena kecewa dengan keputusan yang dibuat Caca.
Bahkan saat Caca berpamitan untuk pergi saja, Bismi tidak merespon sama sekali. Dadanya terasa sesak melihat sang menantu akan pulang dan kemungkinan besar tidak akan pernah kembali lagi. Ia tahu itu. Karena ia tahu, semarah apapun orang tua, tetap tidak akan tega melihat hal buruk menimpa anaknya.
Waktu berputar. Tibalah saatnya Rama dan Caca pergi meninggalkan rumah. Setelah benar-benar berpamitan, tapi tetap tidak mendapatkan respon apapun dari kedua orang tua Rama. Pasangan suami-istri itu hanya diam tanpa suara. Diantara banyak kata yang diucapkan Rama dan Caca, hanya salam yang mereka balas.
Karena Bismi dan Solihin benar-benar tidak ingin Caca pulang ke rumah kedua orang tuanya. Meskipun sikap Caca sangat menyebalkan dan pendiam, mereka berdua sudah terlanjur menyayangi menantunya itu.
Tidak ada kendaraan kecuali sepeda dan becak dayung, membuat Caca dan Rama terpaksa berjalan kaki menuju ke tempat biasanya angkutan umum berhenti menunggu penumpang yang akan pergi ke kota. Mini bus tersebut hanya datang sekali dalam seminggu untuk mengantar dan menjemput warga yang ingin pergi ke kota.
Jarak yang ditempuh cukup jauh. Sekitar setengah jam jika berjalan kaki. Tapi, itu tidak masalah bagi Caca. Yang terpenting ia bisa segera pulang dan meminta Rama menalaknya ketika tiba di Jakarta.
"Ck, ck, lihatlah. Pasangan ini. Mereka berdua tidak cocok disebut sebagai pasangan suami-istri. Yang wanita begitu kecil dan mungil dan yang pria begitu besar dan tua. Yang wanita sangat cantik dan muda, yang pria … ah, sudahlah. Sama sekali tidak cocok disebut sebagai pasangan suami-istri, tapi bapak dan anak," celetuk seorang pria. Dengan sepeda motor maticnya, mengikuti langkah Caca dan Rama.
Rama yang sudah tahu bagaimana sikap dan perilaku Roland, hanya diam saja. Tetap berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Ia sama sekali tidak menganggap keberadaan Roland, yang jika dilayani hanya akan menimbulkan masalah baru.
Namun, tidak bagi Caca. Ia menoleh dengan tatapan tajam kepada Roland.
"Kalau aku tidak salah ingat, kau adalah orang yang memfitnah kami?" tanya Caca. Langkanya tiba-tiba saja berhenti. "Wah, wah, aku pikir malam itu aku salah lihat karena melihat betapa buruknya rupamu. Tapi, nyatanya di pagi yang cerah ini membuatku sadar ternyata kau itu lebih buruk rupa dibandingkan saat aku lihat malam itu."
Roland menoleh. Motornya langsung berhenti dan langsung menatap tajam kepada Caca, yang ternyata memiliki mulut tajam. "Apa katamu?"
"Buruk rupa. Kenapa? Tidak suka?" tantang Caca. Dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya.
"Ck, ck, selain murahan ternyata mulutmu juga tidak pernah disekolahkan. Apa jangan-jangan dikota sana kau sebesar-besarnya seorang wanita penghibur? Sehingga mau saja menyerahkan diri kepada pria tua seperti dia?" balas Roland. Tidak ingin kalah dengan Caca. Jarinya pun menunjuk Rama yang berdiri membelakanginya dan Caca.
"Apa katamu? Kau …"
"Sudah, Ca. Jangan ladeni dia. Sebaiknya kita pergi agar ini semua bisa selesai!" sergah Rama. Memutus perkataan Caca yang ingin membalas Roland.
"Apa? Pergi? Seenaknya kamu mengajakku pergi, disaat pria tidak tahu diri ini menghinaku?" Caca beralih kepada Rama. "Aku ini istrimu, dan bisa-bisanya kamu diam saja seperti ini. Dia merendahkan harga diriku!" Menatap tajam kepada Rama, yang tertegun dengan ucapannya.
Istri? Apakah Rama tidak salah dengar saat Caca menyebut dirinya sendiri sebagai istri?