Wajah Caca tampak masam. Jalannya tampak cepat dengan deru nafas yang tak kalah cepatnya. Menyusuri jalan pulang untuk mengadukan sikap Rama kepada sang mertua.
Caca benar-benar tidak terima karena Rama sama sekali tidak membela diri. Apalagi membelanya mereka dari mulut tajam Roland. Itulah sebabnya kini Caca kembali ke rumah dengan rasa kesal yang telah mencapai ke ubun-ubun. Diikuti Rama dari belakang, yang masih saja tertegun dengan sikap keras yang ditunjukkan Caca tadi. Dan jangan lupakan, gadis itu tidak jadi pulang karena menerima tantangan dari Roland. Entah itu sebuah anugrah atau musibah bagi Rama.
"Ca," ucap Bismi. Tertegun melihat Caca yang tiba-tiba saja kembali, padahal seharusnya angkutan yang membawa mereka ke kota sudah berangkat. Tapi, kenapa Caca malah kembali. Masuk ke rumah dengan emosi yang sangat menggebu. Langsung bersila di ruang tamu. Disusul Rama yang kini berhenti di depannya. Bismi benar-benar tidak tahu apa yang tengah terjadi dengan anak dan menantunya.
"Ram, ada apa?" Bismi meraih lengan Rama. Agar Rama berhenti dan menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Ayo masuk, Bu. Ibu harus ikut menjelaskan kepada Caca, apa yang dilakukannya tadi akan berdampak buruk untuk kita semua," sahut Rama. Tampak gelisah dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka berdua.
Bismi yang sedang membersihkan halaman rumah, menyandarkan sapu lidinya ke samping rumah. Segera menyusul Rama dan Caca ke ruang tamu. Karena kini suara Caca pun sudah terdengar di ruang tamu tersebut. Suara yang begitu tinggi dan menyiratkan emosi yang begitu besar.
"Om, aku ini istri Om atau bukan, sih? Bisa-bisanya Om diam saja dan malah meminta aku untuk minta maaf kepada pria sialann itu! Harga diri aku sudah diinjak dan aku pula yang harus minta maaf? Mengenaskan!" sergah Caca. Tidak peduli dengan keberadaan Solihin dan Bismi yang kini ada di dekatnya. Yang jelas Ia bisa melampiaskan emosi yang telah meletup-letup minta dilepaskan.
Rama bungkam. Solihin apalagi. Pria paruh baya itu saat ini benar-benar tidak menyangka jika Caca sekeras itu. Yang berani mendekat hanyalah Bismi, itupun hanya untuk duduk diam dan menyimak terlebih dahulu sebelum menimpali perkataan Caca.
"Aku itu kecewa sama, Om. Bukannya membela istri sendiri tapi malah membawaku pergi. Suami apa yang begitu?" gerutunya. Dengan suara mulai rendah daripada yang pertama.
"Ca, maaf." Bismi memberanikan diri untuk mendekat. "Caca kenapa-kenapa marah-marah kepada Rama? Apakah di jalan tadi dia …"
Caca menoleh. Wajahnya yang putih memerah. Semakin memperkuat suasana horor di ruang tamu tersebut. Bahkan Bismi langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Bu, bayangkan!" Caca memperbaiki posisi duduknya. Menghadap kepada Bismi. "Ibu bayangkan, ya, tadi di jalan ada orang yang ngata-ngatain aku wanita murahann, biasa jual diri di kota sehingga mau saja sama om Rama. Dia juga mengatakan aku tidak cocok sebagai istri, tapi sebagai anak. Dan Ibu tahu? Bukannya melawan dan membelaku om Rama justru mengajakku untuk pergi. Gila aja!" Matanya berputar malas. Bibir mencebik kepada Rama yang kini bungkam.
Mulut Caca yang cerewet dan pedas tidak akan pernah bisa menang jika dilawan. Lebih baik ia diam daripada menimbulkan masalah baru yang lebih besar.
"Siapa yang mengatakan itu kepada kalian berdua?" tanya Bismi, sebelum membela salah satu diantara mereka berdua. Lagipula, tidak mungkin rasanya Rama tidak mau membela Caca, yang notabenenya adalah istrinya.
Caca menggeleng. "Aku tidak sempat berkenalan dengannya, Bu. Ibu tanya om Rama saja siapa namanya. Karena tidak mungkin aku ajak orang itu berkenalan terlebih dahulu sebelum berkelahi."
"Ah, ya, kamu benar, Ca." Bismi mengusap lengan Caca. "Siapa yang mengatakan Caca seperti itu, Ram? Sampai-sampai kamu tidak mau membelanya. Dia ini istri kamu, lo!" Beralih kepada Rama dengan menekankan kata di ujung kalimat. Seakan mempertegas bahwa Caca adalah istrinya Rama.
Entah sadar atau tidak Caca mengangguk. Seakan membenarkan ia adalah istrinya Rama. Padahal beberapa jam yang lalu masih tidak rela menjadi istrinya Rama. Maklum aja lah, ya, namanya juga anak-anak.
"Roland," sahut Rama. Dengan wajah yang ditekuk dan ia tampak terbebani dengan satu nama yang baru saja diucapkan.
Meskipun hanya satu kata yang terucap. Begitu singkat, padat, dan jelas. Tapi, mengubah suasana yang mencekam, terasa semakin mencekam saja. Semakin membuat wajah Solihin dan Bismi menegang.
Roland. Satu nama yang begitu akrab di telinga mereka berdua. Satu nama yang selalu saja mencari gara-gara dengan keluarga mereka. Hanya karena Roland tidak mampu memiliki Reni, tapi sebentar lagi mereka akan menikah apalagi yang diinginkannya dari Rama?
"Ro-roland? Ya, Allah … apalagi yang dia lakukan?" Bismi menggeleng. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini jika Caca kelewat batas memberikannya pelajaran.
"Ca, sejauh apa kamu membela diri dari dia?" tanya Bismi pelan. Di tengah jantungnya yang berdegup kencang karena mengetahui orang yang dilawan Caca adalah Roland.
Tubuh Bismi seakan diguyur air es karena membayangkan bagaimana pertengkaran antara Caca dan Roland tadi. Resiko dari perlawanan tersebut sudah terlihat jelas di pelupuk mata. Tinggal menanti dampak tersebut datang dan menghampiri. .
"Tidak terlalu jauh, Bu. Karena om Rama keburu menahanku dan tidak ingin aku melanjutkannya." Caca mendengus. "Andai saja om Rama tidak menahanku, mungkin aku bisa menamparnya dua atau tiga kali lagi!" Mengepalkan tangannya dengan erat. Rahangnya tampak mengeras membayangkan bagaimana wajah Roland yang mengejeknya dan Rama.
Disaat orang-orang mengatakan Roland adalah pria yang jauh lebih tampan daripada yang lain. Kulitnya yang kuning langsat dan rahangnya tegasnya, tidak akan mudah baginya untuk menggaet hati perempuan. Hanya saja kebiasaannya yang berjudi, mabuk-mabukan, dan suka main perempuan tidak cocok dijadikan sebagai imam di dalam rumah tangga. Ia lebih cocok dijadikan tambang emas dan hanya untuk bersenang-senang saja.
Mulut Bismi terbuka. "Ka-kamu menampar dia?"
Caca pun mengangguk. "Ya, Bu. Hanya satu kali saja." Dengan wajah yang polos ia menjawab. Tidak tahu di dalam hati mertua dan sang suami, ada desiran darah yang begitu besar. Takut. Tiba-tiba saja salah satu dari orang tua Roland datang dan mengamuk di depan rumah mereka.
"Ca, kamu …"
"Bismi! Keluar kamu!"
Suara sergahan dari seorang wanita terdengar dari halaman rumah. Semakin membuat Bismi takut, ada hal buruk yang akan menimpa mereka semua.
"Ca, kamu tunggu disini, dan jangan kemana-mana. Abaikan segala sesuatu yang ada di luar. Mengerti!" tegas Bismi. Sebelum bangkit dari tempat duduknya. "Ram, tolong jaga Caca. Jangan biarkan dia keluar apapun yang terjadi."
Takut Caca menambah masalah dengan keluarga Roland, Bismi meninggalkan pesan sebelum keluar dan menutup pintu rumah. Siap atau tidak. Ia harus menghadapi kemarahan dari wanita paruh baya yang kini menyerukan namanya di halaman. Mengundang perhatian warga lain yang selalu saja tertarik dengan urusan orang lain.
Caca mengerjap. Melihat Bismi yang buru-buru pergi tanpa mengajaknya turut serta. Seakan takut ia membuat masalah yang lebih besar lagi di luar sana.
"Dengarkan ibumu satu kali ini, Nak. Sambil melihat apa yang akan terjadi jika kita berurusan dengan keluarga Roland. Setelah ini kamu juga akan tahu dan mengerti kenapa Rama tidak mau membelamu." Solihin yang sedari tadi duduk di sudut ruangan, akhirnya membuka suara. Berharap Caca paham dan mau mengerti jika Roland bukan orang sembarangan.
Daripada mencari masalah dengannya lebih baik mengalah dan diam.. Takut segala urusan semakin sulit, terutama untuk menjual hasil bumi. Bayangkan jika kedua orang tua Roland tidak mau menerima hasil ladang mereka. Mereka harus pergi ke desa tetangga untuk menjual. Dengan harga yang tidak tahu kenapa jauh lebih murah dan perjalanan yang cukup jauh. Tentu sangat-sangat merugikan karena banyak yang harus dipotong untuk sampai ke desa tetangga.
Caca diam. Kali ini ia akan mencoba kewarasannya untuk berpikir. Akan tetapi, jika masalah yang ada semakin melebar, ia tidak akan segan-segan untuk ikut campur dan melibas orang-orang dzolim tersebut.
"Kalau kamu tidak bisa menjaga dan mengajari anak dan menantumu sopan santun, bawa dia ke rumah saya! Biar saya yang mengajari sampai mereka paham bagaimana caranya menghargai orang lain!" sergah wanita paruh baya, yang sedari tadi berteriak di depan halaman.
Neli. Ibunya Roland datang menyerang, tidak terima karena Roland yang mengadu banyak hal padanya. Pengaduan yang berbanding terbalik dengan kenyataan.
Bismi menahan nafas. Tidak ingin kelepasan bicara yang akan memperburuk keadaan. "Maaf, Nel. Saya mewakili Rama dan Caca, meminta maaf atas apa yang dilakukannya, jika itu tidak berkenan di hati Roland. Saya juga akan berusaha mengawasi mereka berdua agar tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
"Enak saja kamu yang meminta maaf! Yang harusnya meminta maaf anakmu yang tidak bisa mengajari istrinya sopan santun dan menantumu yang tidak tahu diri itu. Paham?" Neli menggeram. Menunjuk-nunjuk pintu rumah yang kini tertutup rapat.
Saat ini ia benar-benar tidak terima atas apa yang dilakukan Caca dan Rama kepada Roland. Yang katanya menertawakannya menikah dengan Reni, untuk menutupi rasa malu. Dan mengatakan Roland mau saja menjadi tempat pelampiasan Reni.
Neli tersinggung. Anak semata wayangnya dinilai rendah oleh Caca yang baru saja beberapa hari menginjak kampung mereka. Sebagai seorang ibu harga dirinya dipertaruhkan di sini. Tapi, Neli tidak pernah tahu jika Roland hanya mengarang kebohongan semata.
"Baik. Jika itu yang kamu inginkan. Saya akan mengatakan kepada Rama agar datang ke rumah dan meminta maaf kepada Roland." Dengan kerendahan hati Bismi menjawab. Menerima keinginan Bismi meskipun akan melukai Rama.
Namun, Bismi yakin Rama mau mendengarkan apa yang dikatakannya. Seperti biasa, mau mengalah agar masalah cepat selesai.
"Eh, bukan cuman Rama saja. Tapi, menantumu yang murahan itu juga harus datang untuk meminta maaf!" Neli menambahkan.
"Jaga ucapanmu, Nel. Menantu saya bukan wanita murahann. Kamu boleh merendahkan kami, tapi jangan Caca! Jangan sekali-kali merendahkan dia jika tidak tahu bagaimana cerita yang sebenarnya! Lagipula anakmu itu belum tentu menyampaikan informasi yang benar!" sergah Bismi. Emosinya terpancing juga. Saat Neli merendahkan Caca yang merupakan korban dari fitnah Roland.
Neli mencebikkan bibirnya. "Alah! Jangan sok membela dia. Kamu pikir saya tidak tahu, dia datang dan menyerahkan diri kepada Rama, yang lebih cocok menjadi ayahnya. Apa namanya kalau bukan murahan? Karena tidak mungkin wanita baik-baik yang masih muda mau sama anakmu yang bujang lapuk itu!"
"Apa yang kau katakan!!" Mata Bismi membesar. Rahangnya mengeras. Atau ucapan yang dikatakan Neli.
Cukup sudah. Cukup selama ini Neli merendahkannya sekeluarga, tapi tidak untuk Caca. Caca adalah anak baik-baik yang berasal dari keluarga terpandang. Ia hanya menjadi korban fitnah dari Roland.
Cukup beruntung karena yang ditemui Caca hari itu Rama, bukan orang lain. Tidak bisa dibayangkan jika Caca difitnah melakukan hal yang tidak baik dengan pria lain. Betapa marahnya Reno jika tahu hak itu.
"Menantumu wanita murahann, yang mau saja melayani pria tua dan miskinn seperti putramu!"
"Kau …"
"Wah, wah, wah, itu mulut apa pisau? Kok tajam banget, ya?" susul Caca. Membuat ucapan Bismi terpotong dan mata Neli membola. Melihat dengan angkuhnya Caca muncul dari dalam rumah dan menatap dengan tajam.
Dari air wajahnya yang memerah, sudah sangat jelas Caca dalam keadaan marah besar.
"Anda seenaknya mengatakan suami saya sebagai pria tua. Tapi, anda sendiri sudah tua tapi kelakuan masih mirip anak-anak! Mau-maunya datang kesini dan mencecar orang karena mendengar pengaduan anak anda yang tak kalah bodohnya dari Anda. Beraninya main ngadu dan tidak berani menghadapi masalah sendiri" Caca berkacak pinggang. "Itu apa tadi? Ngata-ngatain saya wanita murahann? Memangnya salah, dekat-dekat dengan suami sendiri?" Menunjuk Neli dengan dagunya.
"Hei, kau …"
"Apa? Hah, apa? Mau ngelak apalagi? Apa yang saya katakan itu kenyataan! Anak anda lo yang mulai duluan. Bisa-bisanya ngatain saya wanita murahann dan saya nggak layak jadi istrinya Rama. Kenapa? Kenapa anak anda gitu?" sergah Caca. Tidak peduli dengan Rama yang menarik lengannya agar kembali masuk ke rumah.
Caca jika dibiarkan, yang ada akan membuat Reni terkena serangan jantung. Mulutnya yang tajam belum ada yang bisa menandingi. Apalagi hanya Neli. Reno saja sebagai ayah angkat tangan.
"Tapi, apa yang dikatakan Roland itu benar. Kalian berdua sangat mirip ayah dan anak, dan belum tentu pernikahan kalian berjalan dengan baik. Paling lama hanya satu Minggu karena kau adalah wanita bayaran yang di booking Rama. Kalau tidak, mana mau kau sama dia!" Menunjuk Rama yang terpaku. Mendengar ucapan yang sudah tak bisa ditolerir lagi.
Neli benar-benar telah menjatuhkan harga dirinya dn Caca secara bersamaan. Ia harus turun tangan dan menyudahi kesabarannya.
Namun, saat Rama maju satu langkah, Caca menahannya. "Oh, ya? Kau katakan saya wanita bayaran yang di booking Rama?" Kepalanya menggeleng. "Salah! Saya datang kesini memang sengaja untuk mengejarnya. Karena sakit hati cinta yang saya miliki ditolak begitu saja hanya demi seorang wanita kampung!"
Caca pun menoleh kepada Rama. Berdiri tepat di hadapannya dan mendongak. Tubuhnya yang mungil tentu saja ia harus mendongak jika harus melihat wajah Rama.
Pria itu meneguk ludahnya. Saat Caca tersenyum penuh arti, dan membuat sinyal bahaya di otaknya menyala.. Memberikan sinyal waspada atas segala ucapan dan pergerakan Caca.
"Aku mencintainya dan itulah alasannya." Caca berjinjit. Mengalungkan tangannya di tengkuk Rama dan meniggalkan kecupan sekilas di bibirnya. Membuat mata Neli membesar melihat apa yang dilakukan Caca.
Begitupun dengan warga yang sedari tadi menonton pertengkaran mereka. Mereka semua gelagapan dan menutup wajah dengan telapak tangan masing-masing. Begitupun dengan Bismi. Kedua pipinya bersemu merah melihat Caca, dengan sadar melabuhkan sebuah kecupan di bibir Rama.
Kecupan yang membuat Rama membeku dan tak mampu bergerak. Bahkan bernafas saja ia sudah lupa bagaimana caranya. Saat Caca mengecup bibirnya, yang baru pertama kali merasakan hangatnya bibir seorang gadis.