Matahari sudah bergerak semakin naik dan hari semakin terang, kagaduhan pagi ini sudah berakhir berganti perutku yang mulai gaduh. Harusnya kami masak sewaktu mama keluar tadi, tetapi, ternyata kami masuk, yah masuk kamar yang akhirnya mengakibatkan sebuah hal yang sama-sama diinginkan. Meski akhirnya kami harus tetap bersabar dan menahan diri karena memang ini masih terlalu pagi. Bukan salah mama sebenarnya tadi, aku dan Rama saja yang tidak tahu diri. “Lapar,” ucapku di tengah orang-orang yang masih berkumpul di depan pintu dapur. “Bibik mau masak tadi, non. Sudah Bibik cuci-cuci … ya sudah saya masak dulu.” “Bik, biar aku sama non Sinta yang masak,” ucap Rama lalu berdiri. “Non … lagi,” celetukku merasa sebal. “Oh iya lupa, biar aku sama Sinta sayang yang masak.” Aku yang tadi mel

