“Sin, Sinta ….” “Iya, Ma.” Panggilan mama terdenger untuk ke beberapa kalinya, memaksa aku untuk menyahut juga. Spontan tanganku langsung menyilang di d**a saat menyadari keadaanku, astaga kok bisa. Yah bukannya tidak sadar hanya saja tiba-tiba terbesit rasa malu atau apalah saat tensi menurun. “Aku sudah melihatnya,” ucap Rama sepertinya pria itu sengaja menggodaku. “Aku tandain juga.” Rama menunjuk ke bagian d**a dengan dagunya wajahku langsung menghangat seketika. Ya aku tahu mungkin hal ini sebuah hal yang biasa, tapi, aku baru kali pertama rasanya tidak karu- karuan yang jelas. Sulit sekali memberi penejelasan perasaanku sekarang, antara suka, malu, kesal, panik dan banyak lagi. Aku mengedarkan pandangan untuk mencari dimana sebagian pakaianku berada. “Aku ambilkan,” ucap Ram

