“Keselamatan keluargamu, calon anak serta ibumu sekarang berada di tanganmu. Aku harap kamu melakukan sebuah pilihan yang tepat untuk masalah ini.” Terdengar seperti sebuah ancaman ah … itu memang sebuah ancamam yang dilontarkan oleh pria bertampang timur tengah itu padaku. Setelah mengantarkan dokter itu keluar, pria itu kembali kekamar, hanya sendiri. Aku tidak mendapati Bu Thalita maupun Rey yang tadi bersamaku ikut serta masuk kembali ke dalam kamar. “Anda siapa dan kenapa mengancam saya?” dengan sisa tenaga dan kekuatan yang ada aku mulai bertanya kepada pria yang berada di depanku itu. “Siapa aku? Bukan sebuah hal yang penting,” jawab pria itu kemudian. “Aku ingin pergi,” ucapku dan berusaha beranjak dari atas tempat tidur, tetapi, kepalaku masih terasa begitu berat dan badanku

