Bukan … itu bukan Rama, aku pasti salah lihat mungkin hanya mirip saja. Aku yakin dia melihatku dan kalau benar itu Rama dia pasti mengenaliku. Mungkin hanya rasa karena aku begitu merindukannya saja sehingga aku menganggap pria itu adalah Rama. Tetapi, kenapa dadaku terasa sesak dan perasaan ini bebitu tidak nyaman. Kerinduan ini benar-benar telah menyiksaku, sangat menyiksa. Aku menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan menahan perasaan yang membuncah dalam dadaku. “Kamu kenapa?” Aku sedikit kaget saat tiba-tiba Rey menoleh dan mendongak melihatku. Tanpa sadar aku mencengram pegangan kursi roda kuat kuat untuk meredakan gejolak dalam hatiku dan menetralisir perasaanku yang tiba-tiba menjadi begitu kacau. “Tidak ada,” jawabku menutupi. Aku melihat Bu Thalita masih asyik berbicar

