“Ada apa?” Aku dan pelayan perempuan itu hampir bersamaan menoleh ke arah suara. “Tidak ada, Nyonya. Saya hanya menawarkan Nona ini minum apa,” jawab pelayan itu kemudian meski berusaha terlihat tenang, tetapi, wajahnya menampakkan ketakutan. Aku mengangguk mengikuti alasan pelayan tersebut dan tersenyum kaku. “Oh … harusnya kamu tidak datang sepagi ini, tetapi, karena ini hari pertamamu aku masih memakluminya karena belum mengerti kebiasannya seperti apa. Untuk selanjutnya kalau aku memintamu datang jam sembilan berarti kamu datang jam sembilan bukan sebelumnya.” Bu Thalita berbicara dengan melihat ke arahku. “Baik, Bu. Saya akan datang sesuai dengan jam kerja saya setelah ini,” jawabku kemudian. “Ikut aku,” perintah Bu Thalita kemudian berjalan menuju ruangannya. Pelayan yang bera

