“A-apa job desk saya?” tanyaku sedikit terbata, tatapan wanita di depanku itu terlihat cukup tajam saat mengarah padaku. Aku tidak tau kenapa merasa sedikit berdebar saja saat wanita itu terus menatapku. “Tugasmu hanya membantuku mengatur jadwal, mengingatkan aku untuk semua urusan penting dan menemaniku kemanapun selama jam kerja. Normalnya kamu bekerja padaku selama delapan jam perhari hanya saja aku butuh waktumu selama dua puluh empat jam. Aku bisa membutuhkanmu kapan saja dan kamu harus selalu siap dengan ponselmu.” Bu Thalita menjelaskan. Wanita yang sepertinya seusia dengan mama itu masih terus menatapku, mungkin menunggu jawaban karena aku belum meng iyakan apapun. Belum ada kesepakatan apapun yamg telah aku setujui, karena aku masih mencerna maksud dari setiap kalimat yang wani

