Tubuh ini terasa begitu kaku dan seperti sulit untuk di gerakkan, Rama melepas kan genggamannya pada tanganku. Kini aku merasakan tangannya menyentuh pingangku dan aku masih terdiam hanya menatap sepasang mata Rama. Kedua tangan Rama menekan pinggangku hingga tubuhku benar-benar merapat padanya tanpa jarak sedikitpun. Dadaku berdebar degubnya semakin mengencang itu yang aku rasakan sekarang. Apakah aku mulai suka padanya? Entahlah, tapi, dia bukan pria dengan wajah tampan laksana pangeran yang selalu aku impikan. Ada yang berseteru di dalam batinku dua sisi yang saling bertentangan antara logika dan perasaan. Satu hal yang harus aku akui yang selalu ingin aku hindari, aku mulai merasa nyaman dengannya. Apakah aku mulai menerima takdirku? Menerima pernikahan dan perjodohan yang aku angga

