LIMA

1568 Kata
Hidup itu keras. Hidup seperti batu loncatan yang jika salah melangkah, bisa  terjatuh ke dalam lubang. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan, takdir, maupun kehidupan. Aku hanya lelah! Aku hanya lelah menunggu kapan semua ini akan berakhir. Mengapa? Mengapa harus aku? Mengapa aku yang dipilih? Rasanya muak melihat semua hal yang terjadi dalam keluargaku. Dimulai dari kekacauan pertama yang menimbulkan kekacauan selanjutnya. Dan jika kekacauan itu berada di titik yang teratas, akulah korbannya. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir akan jadi apakah aku nantinya jika masih belia saja sudah disuguhi kekerasan? Seringkali aku berpikir, kenapa ini tidak adil di mataku? Bukankah semua orang mengatakan bahwa hidup itu adil? Tapi mengapa aku seolah dilarang untuk merasakan keadilan itu? Hukum alam. Yah, aku akan terus menggunakan pandangan itu. Suatu saat nanti hukum itu akan berlaku. Akankah hal semacam ini berlanjut sampai aku memiliki kehidupan baru nanti? Sepertinya tidak adil kalau aku menyalahkan diriku sendiri. Tidak. Aku tidak salah. Mereka yang salah. Orangtuaku yang salah. Keluargaku yang salah. Mereka yang mengubahku seperti monster. Dan mereka tidak pernah tahu kalau anak mereka telah berubah menjadi monster akibat ulah mereka sendiri. Dan lagi. Hari ini kudengar lagi mereka mendebatkan hal sepele. Aku sudah muak tiap mendengar mereka berdebat panjang dan berakhiran dengan sebuah tamparan yang melayang dari tangan Papa ke pipi Mama. Aku hanya cukup melihatnya dari balik pintu kamarku. Melihat hal yang aku sendiri tidak mau terjadi padaku nantinya.   Luna   Luna menekan telapak tangannya pada telinga. Ia duduk meringkuk di pojok kamar semalam suntuk mendengarkan pertengkaran orangtuanya. Ia jengah setiap malam harus dihadapkan dengan suara teriakan melengking, bentakan, hingga barang-barang pecah. Yang bisa dilakukannya hanyalah diam dan mendengar. Telinganya seakan dikutuk untuk mendengar pertengkaran demi pertengkaran orangtuanya sehingga membuatnya semakin tersudut makin dalam, ditarik oleh pusaran kegelapan. Ia tak tahu harus menangis atau tertawa. Pandangannya yang ditujukan pada dinding bisu begitu monoton. Setelah bunyi hantaman gelas di atas lantai teredam oleh suara isak tangis, barulah kepalanya terangkat. Tak lagi didengar pertengkaran itu. Mungkin mereka sudah lelah. Ia pun lelah. Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Luna berbaring di bawah kolong ranjang. Memeluk lutut dan mencoba memejamkan mata meskipun ia tak mampu menyelami mimpinya sendiri.   *   Kelas sudah dipenuhi oleh murid-murid setelah bel berdentang. Mencengkeram tali tas slempang, Luna mencoba menghindari tatapan kawan-kawannya yang menghakimi. Mereka menertawainya sepanjang jalan dan melemparkan cemoohan. “Eh, ada anak tukang judi nih lewat.” Dan tawa meledak di seantero kelas. Tatapan Luna nanar. Ia benci tiap kali dicemooh kawan-kawannya. Telapak tangannya mencengkeram erat tali tas. Matanya berkabut dalam amarah, disertai gemuruh di d**a dan darah yang mengalir deras sampai buku-buku jarinya. Bono, temannya yang berseru tadi, memandangnya penuh tantangan dari atas meja. Luna tak akan memberikan kesempatan kedua kali ini. Ia jengah harus mengalah dan diam. Maka, ia menerjang ke depan, mendorong Bono sampai terjengkang jatuh. Mereka bergulat selama sekian detik dengan sorakan lantang teman-teman sekelasnya. “Luna!” Kerah Luna dicengkeram Bu Meri, guru Matematikanya. Luna merapikan rambut, tetapi tidak melenyapkan tatapan kebencian dan amarah dari kedua matanya yang bagaikan api berpijar. Telunjuknya teracung di depan wajah Bono yang telah babak belur setelah terkena bogem mentahnya. “Dia menghina saya!” “Enggak, Bu! Dia nyerang saya duluan. Coba tanya teman-teman!” Dan dengan kurang ajarnya siswa-siswi di kelas tersebut mengangguk membenarkan bualan Bono. Bibir Luna bergetar. Tangannya terkepal. Ia tak bisa menahan emosi yang bergejolak di d**a sehingga pelupuk matanya terasa berat dan basah dalam bendungan air mata. “Luna! Ikut ibu ke kantor BK!” Lantas, ia diseret oleh Bu Meri menuju kantor BK untuk diberi penanganan setelah apa yang sudah dilakukannya pada Bono. Bono melayangkan senyum miring, makin membuat hati Luna berang. Di kantor BK, Luna berbicara empat mata dengan seorang guru BK berwajah kalem bernama Bu Retno. Kepalanya tertunduk mengamati jari-jemarinya yang dipangku dan dimain-mainkan. Ia enggan membalas tatapan tanya Bu Retno yang melembutkan. Sepanjang jam konsultasi yang dilakukan gadis itu hanya diam membisu. “Luna, ayo cerita sama Ibu. Kamu ada masalah di rumah?” Luna menggeleng, masih memainkan jarinya. “Ya sudah kalau kamu belum mau cerita sama Ibu. Kalau butuh apa-apa, bilang ke Ibu, ya. Ibu pasti dengerin cerita kamu dan nyoba kasih solusi.” Bu Retno tersenyum. “Sekali lagi jangan diulangi perbuatan tadi.” “Tapi Bono jahat,” hanya itu yang keluar dari mulut Luna setelah sekian waktu terdiam di kantor BK. “Nanti biar Ibu panggil Bono sekalian. Ini peringatan pertama. Ibu tidak mau ada kekerasan di sekolah. Sekali lagi kamu bertindak seperti itu, Ibu terpaksa memberikan surat panggilan. Mengerti, Sayang? Jangan diulangi lagi, ya.” Luna mengangguk patuh. Setelah dipersilakan pergi oleh Bu Retno, Luna pamit undur diri. Matanya masih menyala tajam. Dendam tampaknya belum berhasil pergi dari dirinya. Apalagi saat dilihatnya teman-teman sekolahnya yang sengaja menguping di depan kantor BK, bibirnya mengerucut ke depan. Hampir-hampir ia melayangkan tinju ke muka salah satu dari mereka yang mencibirnya, namun teringat olehnya pesan Bu Retno. Luna dengan terpaksa menyimpan rasa kesal itu dan memendamnya dalam hati.   *   Di taman yang dipenuhi oleh bebungaan yang berjarak cukup jauh dari rumahnya, Luna duduk di atas salah satu kursi besi berwarna putih dengan ukiran-ukiran bunga. Ia mengamati angsa-angsa putih yang berenang di danau kecil, kupu-kupu hinggap di kelopak bunga-bunga yang segar dan sehat, kanak-kanak berkejaran, pasangan kekasih yang bergandengan tangan yang sedang kasmaran, dan orangtua yang berjalan bersampingan dengan tongkat. Satu-satunya hal yang disukainya saat ini hanyalah memandang cinta dari sudut pandangnya melalui orang lain. Meski batinnya berbisik pilu berharap dapat menemukan orang yang mencintainya tulus. Luna mengayun-ayunkan kaki. Ia memejamkan mata merasakan semilir angin yang menerbangkan rambutnya. Beberapa helai menari-nari riang di sekitar wajahnya. Ia mulai membayangkan sesosok malaika tampan yang dijatuhkan ke bumi untuk menemani dirinya. Mulai dibayangkan wajahnya yang sempurna. Mata yang cemerlang, hidung mancung, bibir tipis, alis tebal... apa lagi? Rambut dipangkas sangat pendek dan disisir rapi. Lengkap dengan senyum tulus dari bibirnya. Ia ingin dapat meraihnya. Tangannya terulur ke depan meminta disambut. Dan yap! Tangannya benar-benar disambut oleh seseorang. Matanya spontan terbuka. Dilihatnya sesosok pemuda sebayanya yang mengumbar senyum manis. Nyaris sendi-sendi Luna lepas dari tubuhnya melihat sosok pemuda itu. Ah! Bagaimana mungkin imajinasinya menjadi kenyataan begini? Sudah gilakah ia? Luna mengerjap-ngerjapkan mata. “Kamu dilihatin orang loh.” Pemuda itu melepas tangan Luna yang berkeringat tiba-tiba. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona. “Saya aneh, ya?” “Nggak kok.” Pemuda itu tertawa. “Boleh duduk? Kamu sendirian, kan?” Luna mengangguk mempersilakan pemuda itu duduk di sampingnya. “Nama kamu?” tanyanya mencoba mengakrabkan diri. “Luna. Kamu?” “Dika.” Waktu membawa mereka makin akrab. Dika menjelaskan bahwa ia sedang bosan sehingga memutuskan untuk memutari taman dan melihat Luna duduk seorang diri. Dika memonopoli perbincangan dan mencoba memancing Luna dengan pertanyaan-pertanyaan. Berjam-jam mereka larut dalam obrolan dan tak sadar bahwa waktu telah mengeratkan mereka pada jalinan yang lebih akrab. Dika yang sangat atraktif dan aktif membuat Luna mulai nyaman. Berkali-kali ia dibuat tertawa saat cowok tersebut menceritakan lelucon yang sangat konyol. Dengan kehadiran Dika, Luna tak lagi kesepian. Ia memiliki teman bicara. Entah apakah memang Dika adalah malaikat yang sengaja diturunkan oleh Tuhan ke bumi untuk menemaninya, ia tak begitu yakin. Namun keberadaan Dika mampu menambal hatinya yang kosong. Ia senang.   *   Pada hari-hari berikut, seperti biasa, Luna mendengarkan pertengkaran orangtuanya. Ia berlari keluar rumah menerobos gerimis, tak peduli dingin merajam tubuh. Yang dilakukannya adalah terus berlari di tengah kegelapan dan di bawah tempias hujan. Sambil menangis tersedu-sedan. Dari belakang, seseorang berteriak memanggil namanya, membuat gadis itu berhenti dan memutar badan. Dilihatnya Dika berlari membawa payung mendekatinya, lantas memayungi Luna untuk menghindari derasnya hujan yang mengguyur tubuh gadis itu. Luna sesenggukan, memeluk dirinya dalam gigilan. “Kamu ngapain lari-lari di bawah hujan deras begini?” Dika berteriak lantang. “Aku mau pergi dari rumah.” “Pergi dari rumah? Kenapa?” “Aku nggak mau di rumah.” Luna terisak-isak. “Sini, ikut aku aja ya.” Dika menggandeng tangan Luna menuju tempat yang teduh. Di sebuah pos ronda yang terbengkalai, mereka menepi dari derasnya hujan. Luna masih menggigil kedinginan. Bibirnya pucat pasi. Rambutnya basah kuyup, sama seperti kaus dan celananya. “Kamu kenapa ada di sini?” tanya gadis itu di tengah gemelatuk giginya sambil memeluk dirinya sendiri. “Tadi aku ingin ke rumah kamu. Terus ngelihat kamu lari-lari keluar rumah. Ya udah aku ikutin.” Dika mengusap-usap lengan Luna yang gemetar. “Tuh kan, kamu jadi kedinginan. Makanya jangan ujan-ujanan.” Ia memalingkan wajah Luna yang pucat. Ditatapnya bola mata Luna yang berkaca-kaca. Pipi Luna yang basah akibat tetesan hujan yang bercampur dengan air mata diusapnya lembut. “Jangan nangis ya.” Luna menggigit bibir bawahnya menahan air matanya agar tak tumpah ruah. Dika memeluknya memberikan tempat paling nyaman. Ia mengusap-usap lengan dan rambut Luna yang basah, membuat kaus yang dikenakannya juga ikut basah. Wajah Luna kini memerah antara hangat dan rona lain. Ia tak pernah diperlakukan sebaik dan semanis ini. Selembut ini. Orang-orang bertindak jahat padanya. Namun Dika, cowok itu tidak sama seperti yang lain. “Ada aku di sini, Lun,” kata Dika mencoba menenangkan Luna yang kini mulai dibuai rasa kantuk. “Aku selalu ada buat kamu. Jangan sedih ya.” Ia menepuk puncak kepala Luna dan mengecupnya. Gadis itu memejamkan mata. Kehangatan menyublim dalam dirinya. Sudut-sudut bibirnya terukir senyum merekah. Hujan perlahan-lahan berhenti. Namun mereka tetap berangkulan mencari kehangatan. Luna mendengar suara Dika makin lama makin mengecil dan lenyap ditelan oleh mimpi panjangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN