CANDY
Ketika ada waktu luang, aku selalu menggunakannya untuk membedah jurnal Mama. Bagaimana tidak terkejut jika dia… memiliki cerita yang hampir sama denganku? Apakah ini semacam kutukan yang diturunkan secara turun temurun? Aku hanya dapat menggigit jari membaca baris per baris tulisan Mama di jurnalnya.
“Hai, Dy…” suara Farah menyentak perhatianku. Segera kututup jurnal Mama dan mendekapnya seolah itu adalah salah satu benda pusaka yang diwariskan dari keluarga kerajaan dan menganggapnya sakral.
“Hai,” kataku sambil melemparkan senyuman simpul. “Duduk yuk sini.” Aku menepuk tempat di sebelahku.
Farah duduk dengan canggung di sebelahku. Dia tampak malu-malu ingin mengutarakan sesuatu. Kelihatan sekali kalau dia berusaha memberitahuku namun terlalu takut atau malu.
“Kenapa?” tanyaku.
Farah menunjukkan sesuatu di depanku. Seperti sebuah kotak kecil. Penasaran, kutunjuk benda itu dengan pandangan tanya.
“Apaan tuh?”
“Ini… hadiah buat Jega,” kata Farah. Pipinya bersemu memerah.
Aku menahan tawa melihat ekspresinya. Hmm… sepertinya dia berniat memberikan itu atas dasar… naksir? Aku memang tidak pernah melakukan hal aneh seperti yang dilakukan kebanyakan orang ketika mereka jatuh cinta. Bahkan aku tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta itu seperti apa. Tapi dari beberapa hal yang kulihat dalam realita kehidupan ini, sepertinya yang dilakukan Farah itu normal. Ya, untuk remaja yang sedang jatuh cinta.
“Kamu suka sama Jega?” tanyaku menahan tawa.
“Jangan keras-keras…” Farah mendekatkan telunjuknya di ujung bibir. “Aku tahu kok, aku terlalu bermimpi. Tapi kalau mengagumi, emangnya salah ya?”
“Nggak kok,” aku menjawab cepat, takut dia akan salah mengartikan. “Je itu kan… ehm, terlalu…” Tidak tega rasanya kalau aku menjelaskan pada Farah kalau Jega anak konglomerat yang terkenal playboy di SMA ini. Apalagi dia sudah sering gonta-ganti pacar sesering gonta-ganti mobil.
“Iya aku tau kok, Dy. Tapi aku cuma mau ngasih ini.” Farah memberikan tampang memelas, memamerkan sebuah kotak di depanku. “Aku… aku… aku suka sama dia dari kelas 10, Dy. Please bantuin aku buat ngasih ini. Hari ini tuh ultah dia. Temenin aku, please.”
Aku mengangguk-anggukkan kepala. Sebenarnya yang kutakutkan adalah bagaimana kalau Farah mulai dipermalukan di depan umum lagi? Aku jadi tidak tega kalau hal itu sampai terjadi.
“Oke,” kataku setengah hati. Bagaimanapun juga Farah memintaku menemaninya. Mungkin aku bisa membelanya nanti kalau dia dipermalukan untuk yang ke sekian kalinya. “Yuk.”
Aku berdiri dengan senyuman terkembang, mengulurkan tanganku, dan Farah menyambutnya dengan senang hati. Kami berdua berjalan mencari Jega. Biasanya anak itu sedang latihan basket di jam-jam seperti ini. Jadi kami melenggang menuju lapangan basket.
Tidak sulit menemukan Jega. Dia terlihat gesit dan cekatan ketika mendribble bola. Beberapa anak bersorak riuh saat Jega berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Dirga anak basket. Dan dia sering bercerita padaku mengenai semua teman-teman anggota basketnya. Jega belum pernah mempermalukanku di depan umum. Tapi Dirga bilang, Jega memang suka melakukan itu pada orang yang dianggapnya konyol dan terlalu lancang berdekatan dengannya. Aku jadi mengkhawatirkan Farah. Bagaimana kalau Jega sama brengseknya seperti cowok di sini?
Aku tidak melihat Dirga di sana. Mungkin dia tidak ikut berlatih, entahlah. Saat Jega berseru untuk istirahat, secepatnya Farah berjalan ke arahnya. Dia tampak berhati-hati ketika menyapanya. Jega mengamati Farah dari tempatnya sambil melemparkan pandangan ke sekelilingnya seolah berusaha meyakinkan dirinya kalau yang dihampiri Farah bukan dia.
“H-hai, Je,” kata Farah gelagapan. “Happy birthday, ya. Nih aku buat sendiri.” Farah ngulurin kotak itu ke arah Jega.
Aku mengamati dengan perasaan was-was. Semua anak di lapangan basket mulai bersorak-sorai dan bersiulan. Dan bisa kulihat dari sini ekspresi Jega ketika melihat apa yang diperbuat Farah padanya—yang barangkali dianggap mempermalukannya? Belum-belum aku sudah mencium bau kalau Jega akan mempermalukan Farah di depan umum lagi.
Tetapi yang kulihat, Jega menerima hadiah dari Farah.
“Ciyeeee…”
Teman-teman yang lain mulai bersorak gaduh. Nafasku tercekat di tenggorokan memikirkan kelanjutannya. Apakah Jega akan menerima itu dan mengucapkan terima kasih? Andai aku memiliki kemampuan membaca pikiran, pasti bisa k****a apa yang ada di otak Jega. Tetapi, melihat ekspresinya pun sebenarnya aku sudah bisa menebaknya.
“Lo mimpi apa sih?” Jega memandang remeh Farah.
Yep, seperti dugaanku, Jega membuka kotak tersebut dan menumpahkan isinya. Lebih parahnya, cupcakes yang diberikan Farah dilempar tepat mengenai muka Farah. Aku yang melihat kejadian itu mengangakan mulutku lebar.
“Mimpi banget lo,” lanjut Jega. Farah hanya berdiri mematung, membiarkan sorakan-sorakan masuk di telinganya dan menjatuhkannya. “Ngaca dong! Udah pantes belum ngasih gue beginian, hah?”
Cowok itu benar-benar keterlaluan. Dia menumpahkan cup cakes itu tepat di muka Farah sedangkan Farah dengan pasrahnya membiarkan dirinya dipermalukan di depan umum. Aku paling tak bisa diam kalau sudah dipermalukan di depan umum. Sebisanya aku melawan. Lebih-lebih kalau melihat orang lain diperlakukan sehina itu, aku tak bisa berdiam diri macam orang tak punya hati. Maka, aku berjalan cepat menuju ke arah Jega.
“Heh, kamu itu manusia atau bukan sih?!” teriakku berapi-api sambil menunjuk tepat di depan muka Jega. “Kalau kamu nggak suka seenggaknya kamu hargain kek!”
“Nggak usah sok belain deh. Gue nggak pernah ikutan ganggu hidup lo!” Jegar ikut-ikutan menunjukku. Nadanya sarat akan kekesalan.
“Bisa nggak sih kamu itu belajar ngehargain orang? Hah? Aku tau kalau kamu itu terpandang di sini. Tapi kelakuan kamu itu nggak pantes buat jadi orang yang terpandang!”
“Diem ya, Dy! Gue nggak pernah ada urusan sama lo! Lo itu emang gangguan mental ya! Nggak ibu nggak anak, sama aja! Sama-sama gila!”
“Apa kamu bilang?!”
Aku terlanjur marah mendengar kalimat terakhir Jega. Tubuhku bergerak hendak menerjang dan menghajarnya. Belum sempat kuraih dia dan memukulnya, Dirga menarikku menjauh sedikit. Aku mencoba melepaskan genggamannya pada tanganku namun dia enggan melepasnya sampai aku benar-benar menyerah dan tidak melawan.
Sebisanya aku menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam.
“Je, kamu udah janji kan nggak akan gangguin orang yang aku sayang? Aku kira kamu emang sahabat aku,” kata Dirga. Praktis, mataku berkedut mendengar kalimatnya.
“Tapi tuh cewek bikin gue emosi!” Jegar kembali menunjukku dengan tatapan benci.
“Yang seharusnya emosi itu aku!” Aku masih tidak mau mengalah. Memang begitulah aku, paling tidak suka disalahkan dan mengalah. “Aku nggak suka kamu permaluin temen aku di depan umum! Dan ngatain Mamaku gila!”
“Emang kenyataannya gitu, kan?!”
“Udah, cukup!” nada Dirga terdengar lebih keras dan kasar. Dia mendekati Jega, membisikkan sesuatu tanpa bisa kudengar apa yang mereka omongkan—lagipula siapa yang mau mendengar obrolan mereka?
“Awas ya lo!” Jega menunjukku lagi sebelum akhirnya pergi dengan ekspresi kesal.
Aku mendekati Farah dan membantunya membersihkan krim cup cakes yang ada di rambutnya. Farah terisak tertahan. Pelupuk matanya sudah dibendungi air mata dan dia menyekanya dengan telunjuknya.
“Dy, nanti kita bisa bicara?” tanya Dirga sambil menyentuh pundakku.
Kulirik tangan Dirga yang ada di pundakku tanpa mengubah ekspresi kesalku. Kemudian kuanggukkan kepala sebagai tanda setuju. Setidaknya aku bisa membuat Dirga tidak mendekatiku untuk saat ini. Dia melenggang pergi, meninggalkanku yang masih membantu Farah membersihkan cup cake dari wajah serta rambutnya. Dipandangnya aku sebentar dan aku membalas pandangan itu sebentar pula. Dari kejauhan kulihat dia melangkah santai. Ingin rasanya aku berlari, mengajaknya ke tempat dimana aku bisa menenangkan pikiran, kemudian kutumpahkan semua kekesalanku di pundaknya. Namun semua itu hanyalah sebagian dari pikiran bodohku. Maka, kuhapus secepatnya pikiran itu.
*
DIRGA
Sampai di dalam UKS, kulihat Nada yang sedang tiduran di bangkar. Dia bersin beberapa kali dan mengerang kesal. Perawat di UKS memintanya untuk pulang saja daripada kesakitan di sekolah. Akan tetapi Nada yang memang keras kepala memilih untuk istirahat saja di UKS sampai jam pulang.
Melihat kedatanganku, wajah Nada langsung sumringah. Dia melambaikan tangan, lantas bersin dan mengusap hidungnya kesal.
“Hai, Ga! Hattchiii!”
“Udah pulang aja,” kataku menghampiri bangkarnya. “Tuh, wajah kamu udah pucat gitu.”
Nada memberengut. Dia mematut wajahnya dari layar ponselnya yang mati. “Aku jelek ya kalau sakit?”
Kusunggingkan senyum kecil. Aku mengacak-acak rambutnya sampai membuatnya mengerang kesal dan mencubit lenganku pelan. Lagi-lagi dia bersin dan menggosok hidung. Kuangsurkan tisu di atas meja padanya. Dia menerima dengan senyum merekah dan mengusap ingus yang sedari tadi mengganggu penciumannya.
“Tadi Candy ribut sama Jega.”
Mendengar deretan kalimat yang meloncat dari mulutku, Nada memelototkan mata. “Hah? Kenapa lagi? Ya ampun... Candy. Apa sih yang ada di pikiran dia?” Bola matanya terputar.
“Jega yang mulai duluan kok. Candy terbawa emosi dan nyerang Jega.” Aku menghela napas panjang. Candy yang kukenal sekarang tidak sama seperti Candy yang dulu. Candy yang sekarang sangat brutal dan doyan bertengkar. Seandainya dia mau terbuka sedikit saja denganku dan berbagi rasa sakitnya.
“Tapi dia nggak apa-apa, kan?” Nada masih terdengar panik. Meskipun sudah dimusuhi Candy selama belasan tahun, Nada tak pernah menyurutkan perhatiannya.
“Nggak apa kok. Nanti aku mau ngobrol sama dia. Kamu mau bareng pulangnya?”
Nada menggeleng cepat. Dia bersin dan menggosok hidungnya lagi. “Nggak ah. Kalian ngobrol aja berdua. Kayaknya cuma kamu, Ga, yang bisa bikin dia tenang. Nggak ada orang lain yang bisa bikin hatinya yang keras melunak. Kamu banyak-banyak perhatiin dia dong.”
Aku tertunduk. Bagaimana aku bisa memerhatikan dia kalau dia saja menghindar terus?
“Dia kayaknya nggak suka kalau aku deketin, Nad.”
Nada mengerucutkan bibir ke samping. Dia mengusap ingus menggunakan tisu dan menggelengkan kepala. “Aduuuuh kepalaku sakit banget nih.”
“Kan udah dibilang, Tuan Puteri. Pulang aja daripada nanti teler di sekolah. Kalau kamu pingsan gimana? Siapa yang gendong?”
“Kamu dong!” Nada menjulurkan lidah.
Aku tertawa gemas. Aku mengacak-acak rambut Nada, membuatnya mengerang dan menghindar sambil mengerucutkan bibir kesal dan tertawa kemudian.