Aisya masih sibuk dengan ponselnya disana, tepatnya di dalam mobil saat Nada mengantarkannya sekolah. Sebenarnya fokusnya tidak pada benda tersebut, tapi pada ingatannya kemarin malam, yaitu ketika laki-laki yang sudah menuduhnya merusak hubungan Arkhan dengan Aila, kemudian meminta maaf atas kesalah pahaman itu sekaligus menawari gadis itu untuk menjadi temannya. Teman? Aisya selalu tersenyum miris mengingatnya. Apa iya Syarif benar-benar mengatakan itu dari dalam hatinya? Bukannya terpaksa karena rasa bersalahnya yang sudah menuduhkan hal yang tak benar pada gadis itu. Kalau diingat lagi bagaimana sikap laki-laki itu selama ini, tak pernah menunjukkan kesan mengajak berteman, hanya tatapan dingin, juga sikapnya yang tak bersahabat, apa laki-laki itu yakin dan sadar dengan yang diuc

