"Hari ini aku akan mengajakmu berkencan." Ucap Chris percaya diri, di dalam mobil mewah miliknya setelah kami makan siang di restoran tadi.
"Tidak mau!" tolakku mentah-mentah.
"Kau tidak profesional, Natalie Mckent, aku adalah investor proyek besar perusahaanmu, sudah sepantasnya sebagai sekretaris memberikan pelayanan terbaik untuk klien bisnismu bukan?" kilah Chris.
"Bosku bukan kau, tapi Mr. Jones," jawabku cepat.
"Dan aku sudah mendapatkan izin dari bosmu itu, Mr. Jones."
"A-pa?! Bagaimana bisa?!" protesku kesal.
"Tentu saja bisa, karena aku adalah Chris Raven," sahutnya bangga.
"Cck, aku tetap menolak."
"Dan akan kulaporkan ketidak patuhanmu pada Mr. Jones nanti."
"Chris!! Berhentilah menjadi menyebalkan!"
"Karena aku memang suka membuatmu kesal."
Aku melotot saat itu juga seraya membuang nafas dengan kasar.
"Kau harus menemaniku berkeliling New York nanti malam, aku tunggu kau sepulang kerja nanti."
"Sudah kubilang aku tidak bisa! Karena aku sibuk nanti malam," tolakku.
"Kalau begitu besok malam lagi."
"Aku bilang tidak bisa Chris! Aku mohon mengertilah, aku tidak bisa pergi ke mana-mana setelah pulang kerja!"
Chris menatap tajam ke arahku dengan pandangan penuh selidik.
"Kenapa?? apa kau sibuk dengan teman kencanmu sehingga kau tidak ada waktu untuk menemaniku begitu?"
"Kau jangan konyol! Apa pun yang kulakukan itu bukan urusanmu!" sahutku tak terima.
"Siapa dia? Katakan padaku kau berkencan dengan siapa selama ini?" tanya Chris seraya mencengkeram kasar pergelangan tanganku dengan ekspresi wajah serius.
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu! Kau tidak berhak mengaturku Chris!"
"Dengar Natalie, dengan siapa pun kau pergi ataupun berkencan dia akan berurusan denganku!" Chris mengancam, cengkeraman tangannya semakin kencang dan menyakitkan di pergelangan tanganku.
"Lepaskan aku Chris, kau menyakitiku!!" seruku kesakitan seraya mencoba melepaskan tangannya dari tanganku.
Mata kami bertemu satu sama lain dalam diam, seolah kami hanyut dengan pikiran masing-masing. Aku tak tahu apa arti tatapan Chris padaku, yang jelas dapat kurasakan kerinduan di matanya sekarang, namun susah payah aku mencoba menipisnya.
Tanpa mengatakan apa pun aku berbalik dan hendak membuka pintu mobil, namun tanpa aku duga, Chris memutar tubuhku dengan menarik tubuhku agar menghadapnya lagi.
Ia menciumku tiba-tiba dengan kedua telapak tangannya yang menyentuh pipiku agar aku tak bisa lepas dari ciumannya.
"Ehmmm....ehmm...!!!"
Susah payah aku ingin melepaskan ciumannya yang tiba-tiba itu dengan mendorong kuat dadanya yang keras bagai beton, namun semua terasa sia-sia hingga aku pun menyerah dan terpaksa meladeninya walaupun aku tetap pasif tak membalas sama sekali cumbuannya di belah kenyal milikku.
"Aku mencintaimu Natalie Mckent, selalu... Karena itu tak akan kubiarkan orang lain memilikimu kecuali aku, kau harus ingat itu." Ucapnya setelah ia melepas ciumannya.
Enggan berdebat, aku pun memilih pergi dan meninggalkannya dengan keluar dari mobil tanpa mengucapkan apa pun kemudian berjalan cepat menuju gedung kantor Lennar Corp. yang ada di depanku sekarang.
***
Sesampainya di kantor, Asley pun mendekatiku dan bertanya bagaikan seorang detektif saat aku baru saja duduk di ruang kerjaku.
"Natalie, katakan padaku bagaimana makan siangmu dengan Mr. Raven? Astaga, kau beruntung sekali bisa makan berdua dengan CEO tampan dan berkharisma seperti dia!" Tanyanya penuh semangat.
"Hah..??" Aku yang bingung harus menjawab apa, hanya bisa melongo melihat reaksi Asley yang bagiku berlebihan itu.
"Ayo ceritakan padaku, Natalie?! Kau tahu wanita-wanita disini sudah mulai bergosip tentangmu tadi," ujar Asley kembali.
"Gosip?? Bagaimana bisa?!" tanyaku dengan suara tertahan.
"Tentu saja karena kepopuleranmu itu sejak kedatanganmu di perusahaan ini!" sahut Asley dengan suara seperti bisikan.
"Sudahlah, kita lanjutkan nanti lagi pembicaraan kita ya. Aku takut Mr. Jones akan mencekikku jika dia tahu aku mengganggu sekretaris kesayangannya ini," ucap Asley seraya berlalu pergi meninggalkanku yang hanya bisa melongo menatap Asley pergi begitu saja.
Gosip? Populer??
Astaga, kenapa mereka semua begitu berlebihan sekali?!
"Natalie, aku tunggu kau di ruanganku segera." Perintah Mr. Jones di sambungan teleponku saat itu tak berapa lama.
Maka tanpa menunda waktu aku pun segera bangkit menuju ke ruangan Mr. Jones.
Tok tok tok.
"Ya, masuk!" Sahut Mr. Jones dari balik pintu saat aku mengetuk pintu ruangannya.
"Apa ada yang bisa saya bantu, pak?" tanyaku dengan kedua tangan melipat ke bawah.
"Aku hanya ingin memberikanmu selamat karena berkat presentasi mu tadi para calon investor banyak yang mau bekerjasama dengan perusahaan kita di proyek Denver ini. Bagus, Natalie aku bangga pada kinerjamu," tutur Mr. Jones memuji, senyum tipis kulihat di wajahnya yang selama ini kaku tanpa ekspresi itu.
"Terima kasih pak, saya hanya melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini sesuai dengan kemampuan saya. Saya masih perlu banyak belajar karena saya masih baru di perusahaan besar ini," sahutku merendah.
Mr. Jones berdiri dari tempat duduknya dan kini ia berjalan ke arahku.
"Aku bangga karena aku tidak salah memilihmu sebagai sekretarisku, Miss. Mckent. Kuharap untuk ke depannya kau akan selalu membuatku bangga," ujar Mr. Jones.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak, mohon bimbingannya." Aku menyahut dan Mr. Jones hanya mengangguk dengan senyuman penuh wibawanya padaku.
"Bagaimana makan siangmu dengan Mr. Raven? Apa berjalan baik-baik saja tadi?" tanya Mr. Jones tiba-tiba dan tentu saja pertanyaan itu membuatku tercekat.
"Berjalan lancar, Mr. Jones.
Mr. Raven tidak banyak membuat saya kesulitan," sahutku dusta.
"Bagus! Aku sudah memberikan izinku pada beliau tadi jika Mr. Raven membutuhkan bantuan selama beliau berada di New York, kau harus membantunya," ucap Mr. Jones tegas.
"Baik pak, saya akan berusaha sebaik mungkin," jawabku susah payah di lidahku yang kini terasa kelu.
"Baiklah, kau boleh kembali bekerja, Miss. Mckent."
Oya! Satu hal lagi, nanti malam kita bisa pulang bersama? Anggap saja ini hadiah dariku karena kau sudah bekerja dengan baik tadi."
Aku yang saat itu hendak pergi meninggalkan ruangan kerja Mr. Jones pun seketika itu langsung terkejut dengan tawarannya.
***