Rinduku padamu

1769 Kata
"Selamat pagi, Natalie," sapa sebuah suara dari belakang saat aku melangkahkan kakiku menuju meja kerjaku pagi itu. "Hay, James selamat pagi," balasku menyapa saat kulihat James Woods rekan kerjaku menyapa dengan senyum secerah paginya. "Kau cantik sekali pagi ini, Natalie. Apakah karena ini hari pertamamu presentasi jadi kau begitu mengagumkan seperti ini?" godanya padaku dengan senyum lebarnya melihat penampilanku dari atas hingga ke bawah dengan tatapan berbinar. Mendengarnya aku pun menjadi tertawa dengan canggung. "Apa terlihat seperti itu, James? Aku hanya ingin yang terbaik untuk hari ini saja," sahutku asal. "Nice, Natalie! Aku mendukungmu. Semoga lancar dan sukses ya nanti! Karena kudengar klien bisnis Mr.Jones kali ini bukan pengusaha biasa namun dia adalah pengusaha besar yang hampir menguasai wilayah amerika hingga eropa di usianya yang masih muda. Bukankah itu menakjubkan!" James berkata dengan penuh semangat. "Iya, kudengar juga begitu. Terima kasih ya, James. Kau membuatku semakin bersemangat hari ini!" sahutku dengan senyum sumringah dan James membalasnya dengan mengacungkan dua jempol tangannya padaku dengan penuh semangat dan senyum merekah. Setelah itu aku pun duduk seraya menghembuskan nafas dalam-dalam, entah kenapa aku sangat gugup hari ini? Apakah benar karena ini presentasi pertamaku atau ada hal lain yang memang benar-benar membuatku gugup? Ingat ucapan James tadi membuatku teringat dengan seseorang, pengusaha muda yang sukses dan hebat. Semoga saja itu bukan 'dia'. .. .. "Hey, kau lihat tidak tadi klien bisnis baru Mr. Jones?" "Ya, aku melihatnya! Sungguh keren, dia sangat tampan! Kurasa Mr. Jones akan kebakaran jenggot karena mendapatkan rival baru yang setingkat dengan dia, hihihii..." "Andai saja aku bisa mendapatkan pria seperti itu, aku akan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini." "Haaiiss, kau jangan asal bicara, dia sudah beristri dan pasti istrinya itu selevel dengannya bukan seperti kita ini yang hanya karyawan biasa." Sekilas aku mendengar percakapan beberapa karyawan wanita di kantin kantor saat aku tengah mengambil minum pagi itu. Kurasa calon investor proyek Denver sudah datang tepat waktu seperti yang dikatakan Mr. Jones kemarin. Aku harus bersiap-siap. "Semangat Natalie, kau pasti bisa!" Asley menyemangati saat aku bersiap-siap masuk ke ruang rapat kantor dan aku hanya membalas Asley dengan bahasa isyarat ucapan terima kasih. Maka dengan penuh keyakinan dan percaya diri aku pun mulai membuka pintu besar ruang rapat di depanku. Kulihat beberapa orang sudah berkumpul dan duduk di masing-masing tempat mereka. Beberapa direksi dan investor lain yang sudah siap dengan penampilan terbaik mereka, jas mahal dan rambut klimis mereka seakan menunjukkan status sosial mereka yang tinggi. Beberapa orang dari mereka menatap ke arahku saat aku melangkah masuk ruangan dengan nafas sedikit tertahan, senyum ramah berusaha aku tampilkan sebaik mungkin di depan mereka sekarang satu persatu. Hingga pandanganku berhenti pada sosok yang tampak duduk di sebelah Mr. Jones. Seseorang yang amat kukenal, tatapan itu begitu tajam saat menatap ke arahku. Aku terpaku sejenak saat melihat kehadirannya di sini, hingga nafasku serasa terhenti selama sekian detik dengan jantung yang berpacu kencang tak bisa kuhindari lagi. "Kau sudah datang, Miss. Mckent. Perkenalkan Mr. Raven, ini Natalie Mckent sekretaris saya yang akan memberikan presentasi kepada Anda dan semua yang orang yang hadir di sini, semoga tidak mengecewakan anda nanti." Mr. Jones mencoba memperkenalkanku pada pria berjas abu gelap yang duduk sejak tadi menatapku tanpa berkedip itu. Aku yang berusaha untuk sadar dari kenyataan pun berusaha tersenyum dan menyembunyikan wajah terkejutku saat ini. "Hallo, Mr. Raven senang berjumpa dengan Anda dan selamat datang di New York. Mohon bimbingannya jika nanti saya banyak melakukan kesalahan dalam presentasi nanti," ucapku seraya membungkukkan setengah badanku di depannya. Tanpa aku duga pria yang ternyata orang yang paling kuhindari itu pun berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya padaku untuk berjabat tangan. "Senang berjumpa dengan Anda Miss. Mckent semoga kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik nanti," ucap Chris Raven penuh percaya diri dengan menunjukkan senyuman memikatnya yang menjadi andalannya selama ini. "Tentu saja Mr. Raven. Saya harap Anda tidak kecewa dengan presentasi saya nanti," sahutku seraya membalas jabatan tangannya dengan senyum yang di paksakan. "Baiklah, bisa kita mulai sekarang presentasinya Miss. Mckent," Mr. Jones memberikan perintah. Aku yang saat itu sudah siap dengan segala sesuatunya bahkan kenyataan terburuk yang sejak kemarin aku takutkan menjadi kenyataan, akhirnya pun memulai presentasiku dengan berusaha tetap bersikap profesional di depan mereka semua yang hadir di ruangan rapat ini. Dapat kulihat tatapan tajam Chris Raven yang seperti tak pernah lepas saat menatap ke arahku yang saat itu tengah memberikan presentasi proyek Denver. Namun, aku berusaha tak ingin lengah ataupun terpengaruh dengan kehadirannya sekarang. ... "Sekretaris Anda luar biasa Mr. Jones. Saya rasa Miss. Mckent bisa membuat para investor lain tertarik dengan proyek Denver ini," puji Mr. Adam Bruggs yang merupakan salah satu direksi Lennar Corp. "Terima kasih, Mr. Bruggs itu di luar ekspetasinya saya. Miss. Mckent masih sekretaris baru, namun ke profesionalnya dalam presentasi ini perlu di apresiasi," sahut Mr. Jones bangga. "Mr. Bruggs benar, Mr. Jones. Setelah melihat proposal dan presentasi sekretaris Anda saya semakin yakin untuk bisa bekerja sama dengan Lennar Corp," ucap Chris Raven tiba-tiba. "Suatu kehormatan bagi kami, Mr. Raven. Semoga ke depannya kita bisa terus bekerja sama dengan baik nanti," sahut Mr. Jones senang. Chris Raven menyunggingkan senyum penuh artinya. Sungguh pertemuan yang begitu tak terduga bagi Chris Raven kalau ia akan bertemu secepat ini dengan Natalie Mckent, kakak ipar sekaligus pujaan hatinya selama ini. Tujuannya datang ke New York memang adalah bisnis namun yang sebenarnya tidak hanya itu. Apalagi jika bukan untuk bertemu dengan Natalie Mckent? Dia tahu New York adalah kota untuk Natalie, karena itu saat ia mengetahui ada sebuah perusahaan dari New York yang menawarkan kerja sama dengannya, dia memutuskan dengan cepat untuk menerimanya dan datang menuju ke New York langsung dengan harapan ia bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya. Dan takdir ternyata sedang berpihak padanya sekarang. Entah kebetulan atau tidak, sungguh tak terduga jika ia akan bertemu dengan Natalie secepat ini. Bagaimana ia harus memendam rindu pada wanita itu bertahun-tahun dalam status pernikahan yang tak diinginkannya. Dan saat melihat secara langsung wanita pujaan hatinya itu lagi, Chris begitu bahagia. Ia merasa hidup kembali dan ingin segera menumpahkan rasa rindu itu saat melihat sosok Natalie kembali. Namun egonya lebih besar dari rasa rindu itu. Luka itu masih menganga lebar, saat Natalie memutuskan untuk pergi dan meninggalkannya kembali dengan pulang ke New York. Hatinya terluka, dan rasa rindu itu berubah menjadi rasa sakit yang tak terhingga. ©️©️©️©️©️ "Kau mau makan siang denganku, Natalie?" tawar James saat itu cukup mengejutkanku. "Ah, ya?" sahutku masih bingung harus menjawab apa karena sejak selesai rapat tadi otak dan pikiranku entah ada dimana. "Hey, apa ada masalah? Kau baik-baik saja kan? Bukankah rapat tadi berjalan sukses, banyak orang yang memuji kinerjamu, Natalie. Itu membuatku ikut senang!" ujar James. "Terima kasih, James tapi rasanya aku tidak bisa ikut makan siang hari ini." "Miss. Mckent hari ini akan menemani saya makan siang, jadi maaf sekali kalau dia tidak bisa ikut dengan Anda." Sebuah suara yang sangat kukenal dari arah belakang mengejutkanku untuk kesekian kalinya. Tak bisa berkata apa-apa, James dan beberapa orang yang masih ada di ruangan itu kini beralih menatap ke arahku dengan tatapan penuh tanya. "Mr. Raven??" James seketika menciut saat melihat sosok asing, namun berkharisma itu di depannya. "Ya, maaf sekali anda tak bisa mengajak Miss. Mckent makan siang sekarang karena hari ini dia sudah berjanji untuk menemani saya makan siang sekaligus bicara mengenai proyek kita." Chris berucap dengan penuh percaya diri. "Ooh ya ya, baiklah kalau begitu. Tidak masalah Mr. Raven, maaf ketidak tahuan saya," sahut James dengan wajah gugup. "Bagaimana Miss. Mckent apa anda sudah siap?" tanya Chris berlagak formal. Aku yang saat ini belum sepenuhnya menguasai keadaan yang cukup mengejutkan ini, hanya terdiam terpaku seperti orang bodoh. Akhirnya mau tidak mau aku pun mengikuti drama yang dimainkan Chris Raven dan mengikuti langkahnya dengan tidak banyak tanya karena aku sadar saat ini banyak mata yang menatap ke arahku dengan berbagai ekspresi dan penuh tanya sekarang. "Kau pasti sengaja melakukannya, Chris Raven!" tegurku kesal sesampainya kami di dalam lift dan tak ada orang lain. Dengan gaya cueknya, Chris hanya menaikkan sudut bibirnya padaku, yang saat itu meliriknya sekilas dengan sudut mataku. "Bukankah kau senang aku datang dan bisa menolongmu untuk sekian kalinya dari rayuan hidung belang?" sahutnya enteng. "Dia bukan hidung belang Chris tapi temanku!" protesku kesal. "Fufufu..., Okay okay. Tapi kau tidak suka jenis-jenis pria seperti dia kan?" ejeknya dengan nada meremehkan. "Bukan urusanmu!" jawabku ketus. "Kau tidak banyak berubah honey, masih saja pemarah dan galak, dan itu membuatmu semakin terlihat sek-si," Chris mengucapkan itu dengan penuh penekanan. Tentu saja aku melotot seketika saat mendengarnya. Ting. Pintu lift terbuka begitu saja dan akupun mengurungkan niatku tadi untuk menendang pria menyebalkan di sampingku ini. "Ayo, Miss. Mckent silahkan ikut aku menuju mobil," ucap Chris dengan gaya formalnya kembali dan aku hanya menatapnya sebal. Kenapa aku harus dipertemukan dengan dia lagi di depanku sekarang? Sungguh sial. .. .. "Kenapa kau ke New York?" tanyaku ketus. "Tentu saja untuk menemuimu," jawab Chris acuh. "Chris! Seriuslah sedikit! Kau tidak bisa begini terus!" tegurku kesal. "Lalu kau minta aku untuk bagaimana? Aku sudah menuruti semua keinginanmu selama ini, jadi wajarkan jika aku datang ke sini karena merindukanmu?" Chris menyahut enteng seraya memasukkan potongan beef ke mulutnya dan mengunyahnya cuek. "Bagaimana dengan Lindsay? Apakah dia tahu kau di sini?" tanyaku ingin tahu. "Ya, dia tahu aku di sini," sahut Chris dengan nada enggan. "Hubungan kalian baik-baik saja kan? Kau menjaganya dengan baik kan Chris?" tanyaku dengan ekspresi serius. "Dia baik-baik saja, kau tak perlu khawatir. Sekarang aku yang bertanya padamu, kau berkencan dengan siapa saja selama ini?" "Chris?! Kau jangan konyol! Aku kakak iparmu." Sahutku dengan suara tertahan karena kini kami berdua sedang berada di sebuah restoran di tengah kota New York. "Aku tak peduli. Persiapan saja dirimu karena beberapa minggu ke depan atau bahkan sampai berbulan-bulan aku akan terus mengawasimu di sini," ucap Chris keras kepala. "Tidak bisa begitu! Kau tidak berhak mengaturku Chris Raven!" "Kenapa tidak? Bukankah itu wajar bagi adik ipar yang perhatian dengan kakak iparnya?" "Kau-! Benar-benar menyebalkan!" protesku kesal seraya bangkit dari tempat duduk dengan wajah marah kemudian berjalan dengan langkah cepat menuju ke toilet. Kutatap dalam-dalam bayangan diriku di dalam cermin besar yang ada di toilet restoran mewah itu. Kubasuh wajah ini dengan kesal, ya aku kesal dan marah karena harus terjebak di situasi ini lagi! Bagaimana aku harus menghadapi Chris setiap hari selama aku dan dia akan sering bertemu karena proyek kita dalam pekerjaan dan... bagaimana kalau dia tahu kalau aku sudah memiliki seorang putra? Aku harus bagaimana?? Tentu saja aku tak bisa menyembunyikan keberadaan Aaron selamanya pada Chris ataupun Lindsay nanti bukan? lantas apa yang akan kulakukan?? Aarghh!! Aku menjerit dalam hati dengan wajah frustasi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN