Akhir pekan sore, tempat wisata yang tadinya padat kini satu persatu manusia kembali untuk bersiap di rutinitas mereka masing-masing. Mempersiapkan kehidupan aktif untuk hari kerja esok. Kembali ke dunia sebenarnya; sebagian orang bilang saat mulai bekerja, itulah dunia sebenarnya.
Hazel berada di umur yang masih muda untuk kategori pekerja, tapi ia terlalu tua untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Kalau ia setuju dengan perkataan sebagian orang, bukankah ia seharusnya menjadi seseorang yang telah lama mengenal dunia sebenarnya? Ia mulai membantu bekerja di restoran sejak remaja awal. Di luar sana banyak anak-anak bekerja di saat umur mereka sangat muda, tapi sebagian orang itu bukannya belajar dari anak-anak yang sudah mengenal dunia sebenarnya, mereka memasukan anak-anak kembali ke rumah pendidikan. Alasannya mereka belum siap, katanya.
Hazel mengambil kesempatan di saat restoran mulai sepi pengunjung saat sore hari untuk berselancar, ia ingin menyapa matahari yang akan tenggelam di ujung laut. Rutinitas special yang sangat ia cintai, seolah ia rela mati. Ia menyeret pelan papan selancarnya, berbalut celana pendek dan baju kaos yang banyak menampakan kulitnya, ia membiarkan matahari keemasan pekat menyinari badannya.
Hazel terus mendorong papan selancarnya ke laut, ia mulai duduk di atasnya, kedua tangannya mengayuh agar papan terdorong semakin jauh ke tengah. Semakin dekat pula ia dengan matahari yang membulat kemerahan. Ia mulai berfikir, tidakkah matahari pernah letih menerangi bumi sendirian, ia seperti pekerja yang menghabiskan 12 jam dan berganti shift dengan sang bulan. Jika itu manusia – mereka pasti terus mengeluh.
Hazel tidak sadar, jauh di belakangnya seorang gadis yang pemalu dan anggun memperhatikan dirinya. Ia juga sedang menikmati indahnya sang mentari, tapi kakinya tidak menyentuh hangatnya air laut, melainkan dinginnya batu di bibir pantai.
Tiada ombak besar hari ini, Hazel hanya bermain dan menari kecil di atas laut bersama temannya si papan selancar, sesekali ia jatuh kehilangan keseimbangan. Suhu semakin dingin, mentari juga menyipit. Akhirnya mata mereka bertemu, dua orang gadis yang sama-sama tertutup – tidak terikat, yang satunya sedang duduk mengampung di atas papan selancar dibawa ombak ke tepi, dan yang lainnya sedang duduk di atas batu yang lembab.
Hazel yang semakin ke tepi menyentuh bibir pantai, ia semakin larut dalam rasa malu. Ia tidak tahu harus bagaimana, akhirnya hanya memilih melewati gadis muda yang sedang duduk di batu dengan kepala tertunduk dan langkah yang di percepat. “Tadi itu… sangat keren…” Suara yang sangat santun dan lemah lembut tidak memberhentikan langkah Hazel, ia mengucapkan ingin terima kasih, namun kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. “Anu… maaf, apa ini tempat rahasia mu?” Pertanyaan yang tidak Hazel duga membuat langkahnya terhenti, “Tidak,” jawaban spontan yang keluar dari mulutnya begitu saja, “Tidak perlu minta maaf,” mereka masih di posisi saling membelakangi satu sama lain.
“Tapi, gimana kamu bisa tau tempat ini? Siapa yang memberitahumu?” Hazel mulai melempar pertanyaan seperti mengintrogasi.
Tempat ini cukup jauh dari pemukiman, sebab tertutupi beberapa pepohonan salah satunya jenis pohon stigi dan batu yang cukup besar, dan untuk sampai ke sini jika tidak berenang melewati pantai atau sampan, kau harus mendaki gundukan tanah yang cukup tinggi, ombak di sekitar perairan ini biasanya lebih besar dari pada perairan yang semakin mengarah ke timur. Itu sebabnya Hazel memanfaatkannya untuk memperdalam kemampuan berselancarnya. Bukan berarti ini tempat rahasia, para orang lokal sangat hafal tempat ini, hanya saja jarang digunakan – biasanya dimanfaatkan oleh para nelayan.
“tidak, Bukan… sebenarnya aku hanya berjalan-jalan saja, kemudian menemukan tempat ini. Sungguh.” Sofia mencoba meyakinkan lawan bicaranya.
“Kau. Siapa namamu?” awalnya Hazel ingin menanyakan perihal indahnya mentari yang tadi sempat mereka lihat bersama, tapi entah bagaimana hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. “Aku… Sofia” Hazel yang tadi masih membelakangi gadis itu mulai menyandarkan papannya di dekat bebatuan kosong, ia mengambil tempat kosong lainnya dan duduk di samping Sofia.
Sofia hanya memperhatikan Hazel dengan seksama bagaimana lembutnya gadis itu memperlakukan benda mati yang terus menghidupkan hatinya. “Ngomong-ngomong kau tadi keren,” dia mengulang pujiannya yang ia kira tidak di dengar oleh Hazel sebelumnya.
“Kau tidak perlu mengulanginya,” Hazel menjawab singkat, ia terlalu malu untuk menatap wajah Sofia dan mengucapkan terima kasih. “Ah maaf,” Sofia tiba-tiba merasa bersalah.“Tidak, tidak bukan begitu maksudku. Aku hanya malu. Tapi terima kasih Sofia atas pujiannya. Walaupun aku sudah menggunakan papan selancar selama beberapa tahun, aku ini masih di tingkat yang sangat rendah.”
“kenapa kau bilang begitu?” Sofia merasa heran dengan ketidak puasan Hazel.
“Itu karena aku hanya terjebak di kemampuan yang sama, aku tidak meningkatkan apa-apa. Ombak pantai di sini tidak pernah sangat besar untuk menjadikan seorang peselancar profesional.”
“Kau begitu kau cukup mencari pantai yang memiliki ombak untuk kemampuan tingkat lanjut kan?” Tanya Sofia yang ragu dengan yang telah ia tanyakan. Ia tidak begitu mengerti. “Maaf, aku tidak begitu paham tentang ini,” ucapnya setelah Hazel hanya diam.
“Bukan salahmu, aku juga tidak mengerti.” Hazel terdiam sesaat, “awalnya aku mengenal ini dari seorang pelancong, ia seorang profesional yang pernah menaklukan ombak di Sipora dan Plengkung. Aku jatuh cinta ketika ia menunjukan foto-foto itu. Aku diberi papan selancar sebagai hadiah, lalu…” Hazle diam dan tidak ingin menyambung yang ia maksud, “Itu karena disini tidak ada titik yang bisa dipakai untuk berselancar. Itulah kenapa aku bilang aku jauh dari kata keren. Yang ku kuasai hanya dasarnya. Kau paham kan sekarang masudku?” Tanyanya kepada gadis yang hanya diam mendengarkan hazel bercerita, ia mulai penasaran dengan kelanjutan cerita Hazel yang terputus tapi ia takut untuk bertanya. Tetapi ia hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Hazel.
“Ngomong-ngomong namamu?” ia bertanya dengan hati-hati. “Maaf, aku lupa dan terus mengoceh. Kau bisa panggil aku Hazel.” Hazel tersipu, ia merasa nyaman berbicara dengan gadis muda ini. Ia merasa bisa memahaminya – lagi pula mereka sama.
Saking asiknya mereka bercerita, mereka mengabaikan fakta bahwa langit semakin gelap, bulan kini mengambil alih pekerjaan matahari untuk menyinari langit.
“Aku ini pemalu-,” Sofia ingin berbagi cerita sebelum Hazel memotong, “Bagaimana kalau kita melanjutkan percakapan kita sambil berjalan,” Hazel berdiri di atas batu dan meloncat di atas pasir yang tidak tersentuh air laut. “Ah ia.”
“Aku tidak bermaksud memotongmu tadi, tapi hari sudah mulai malam, aku harus membersihkan diri dan melanjutkan pekerjaanku. Kau bagaimana?” Hazel menyambung perbincangan mereka seolah tak ingin putus hubungan. Ia sangat nyaman dengan hubungan baru yang tanpa campur tangan Nadya.