Menatap langit yang sama

1074 Kata
“Hei b******k! Maaf maaf aja nih, kau yang membuatku jadi tidak ingin menghormatimu. Sekali lagi kutanya, itu temanmu kan?” lelaki di depannya seperti tidak terkejut mendapat panggilan kasar dari Hazel dua kali, “Sepertinya ia, abaikan saja Hazel, maafkan aku, bersikap tidak sopan. Aku tidak tahu kau bakal sebegitu marah hanya di peluk. Lagipula itu tidak membuatmu kehilangan apapun, sebaliknya aku yang kehilanganmu.” “Dasar t***l!” ia menarik nafas kesal, “sudah-sudah, ini sudah malam, aku hanya ingin memastikan bahwa kau orang yang sama yang mengirimku pesan dan memastikan kau sepertinya tidak berbohong, tapi bisa tidak kita pelan-pelan saja, aku punya banyak pertanyaan tapi tidak bisa ku tanyakan sekarang semua, aku benar-benar lupa dan bukannya berpura-pura. Apa itu cukup menjelaskan keraguanmu?” Hazel meyakinkan lelaki yang tiba-tiba membuat dadanya sesak memanas di cuaca yang dingin ini. “Jujur saja itu tidak cukup. Tidak, aku masih ingin berbicara-“ “Tidak bisa ya, aku besok bekerja lebih pagi, kalau sangat ingin datang saja.” Hazel berbalik badan meninggalkan lelaki itu tanpa pamit, menaruh tongkat bisbolnya di bahunya dan memegang kencang siaga. “Dan sepertinya kau harus mengurus perempuan yang tadi berlari,” jarak antara mereka semakin jauh, “Ya ampun untuk apa aku begitu peduli dengan wanita lain… hih…” ia mulai merinding, sepertinya kalimat terakhirnya tidak sampai di telinga lelaki itu. “Awas saja kalau kau datang lagi.” Tapi entah kenapa perempuan yang berlari itu mengingatkannya pada wanita yang keluar dari toilet dengan mata sembab. Sekali lagi ia menghela nafas panjang. “Apa ini takdir?” Pertanyaan yang selalu berulang sejak ia ditinggalkan Hazel sendiri di kesunyian tengah malam. Ia berjalan menyusuri bibir pantai sampai ujung, di sana ia memarkirkan mobil vannya, teman-teman masih asik bernyanyi dan membuat suara gaduh 3 meter dari bibir pantai. Ia melihat seorang perempuan yang ia ingat namanya Anggi sesekali mencuri pandang kepadanya. Tapi ia abaikan, di pikirannya sudah penuh dengan Hazel. Hazel masa kecil dan Hazel berumur 20an tak jauh berbeda, ia maish saja membuat hatinya bisa berdegup kencang, pikirannya penuh dengan hanya Hazel saja. Kini dirinya menjadi tamak. “Eh kalian tadi berpapasan ga?” Tanya seorang teman dari komunitas camp kepada Pandji yang baru saja datang. “Sama siapa?” Tanyanya datar, dan tidak memalingkan wajah dari api unggun. Ia membaringkan dirinya di atas matras, menatap langit yang hampir kosong, bulan sendirian malam ini sama seperti dirinya. Tak terasa angin dan ombak yang saling berlomba untuk sampai ketepi membuat Pandji mengantuk dan terlelap. “Sudahlah Gi, apa sih yang kamu lihat dari dia.” Bisik seorang wanita yang melewati dirinya yang diam-diam menyelimuti Pandji yang sudah terlelap. * Di tempat lain, di bangunan yang menjulang tinggi. Seorang pria mapan yang hanya menggunakan handuk kimono dengan d**a setengah terbuka menonjolkan otot-otot yang terbentuk karena ditempa dengan keras, menyandarkan dirinya di kursi tepi kolam air hangat di tengah malam dengan segelas whisky premium di tangannya, ia menenggak pelan, “Sudah kuduga lidahku tidak cocok dengan minuman mahal meskipun rasanya seenak ini.” Lelaki itu berdiri dan menuju mini barnya mengembalikan sebotol whisky yang baru saja ia buka. Ia ke dapur mengambil dua botol soju. Menikmati malam di langit terbuka dengan ketinggian dan pemandangan langit yang bersih dan hanya menyisakan bulan sendirian seperti dirinya, sedikit membuatnya sedih dan meringis. “Yah siapa peduli, aku hanya perlu bersikap baik, maka aku akan mendapatkan apa yang tidak aku dapatkan ketika kecil,” ia kembali mengingat pantai tempat ia berdiri tadi pagi. Setelah dari pantai ia hanya menghabiskan harinya menghadiri rapat dan rapat. Kini waktunya untuk dirinya meluruskan pinggang dan kaki, sembari menikmati angin malam yang sepoi-sepoi dan botol soju yang membuatnya dapat lelap malam ini. Bagaimana rasanya berjemur di pantai? Tidak – bagaimana rasanya berdiri di papan selancar di tengah laut? Ingatan acaknya tadi pagi sedikit mengganggu, terlebih seorang gadis pantai yang amat sombong, jika mengingat gadis itu ia rasanya ingin marah. Tapi ia penasaran dengan aktivitas yang eksotis itu. Ingin sekali ia mencobanya. Meski ia bukan pencinta laut apalagi aktivitas ekstrem. * Hazel bangun dengan terkejut, jam menunjukkan pukul 7.40, “Sialan! Terlambat,” ia berlari berganti pakaian tanpa mencuci muka apalagi menggosok gigi. Rumah dan restonya hanya berjarak 5 menit, sedangkan resto dan dive rentalnya hanya berjarak tiga bangunan. Yang dulunya bangunan sekotak milik orang lain, Hazel beli dari hasil menabung, ia sangat ingin membuka rental, meskipun untuk sekarang isinya hanya peralatan dari koleksinya saja. “Maaf terlambat lagi, Paman!” Hazel mengagetkan seisi dapur. Namun bukannya hanya orang dapur yang kaget, ia juga kaget Nadya ada di sana. “Apa kau habis berselancar apa bagaimana? Tanya Nadya. “Bukan, aku cuma telat bangun aja, kayaknya jam bekerku rusak.” “Coba bawa saja besok, Hazel. Biar paman perbaiki.” Hazel hanya mengiyakan dengan mengangguk. “Halah, itu mungkin hanya perlu diganti batre aja. Dia itu selalu saja begitu Yah, tidak paham sama barang-barangnya sendiri.” Nadya tertawa dan membuat suasana yang genting jadi lebih santai dan ceria. “Eh kau tidak apa di sini? Bibi bagaimana?” Tanya Hazel khawatir. “Wah kau bisa khawatir juga ya,” ia terkekeh kecil menggoda Hazel saat paman tidak ada dii sekitar mereka. “Jangan bercanda Nad,” tegas Hazel, ia kesal sampai lupa memanggilnya kakak, padahal mereka lebih tua 3 tahun. “Nenekku dari seberang mampir, sama cucunya yang lebih muda dari kamu 2 tahun.” Jelas Nadya. “Mau aku kenalin? Dia-“ “Ga perlu ka. Mau berapa banyak orang yang mau mu kenalin ke aku.” Ia sedikit kesal dengan beberapa keputusan Nadya. Sesekali ia ingin memberontak walaupun itu sikap yang kecil. “Hm…” Nadya hanya mengamati Hazel dari jarak 3 meter, memerhatikan dia yang fokus pada pekerjaannya membuat wajahnya yang tanpa ekspresi namun terlihat bahagia. Sepertinya hanya dengan melakukan hobi dan pekerjaan yang dapat membuatnya bisa menikmati hidup dan lebih jujur pada dirinya sendiri. “Zy… “ Panggilnya memecah lamunan Hazel yang sesekali termenung memikirkan banyak hal, salah satunya tentang pertemuan dan takdir. Namun Hazel tidak membalas panggilan Nadya, ia asik membersihkan kompor sampai tidak sengaja menyenggol spatula yang baru saja digunakan menggoreng. Ia menangkap spatula yang hampir jatuh dengan tangan kosong untuk menghindarinya kotor. “Sial!” ia menahan panas spatula yang menyentuh kulit telanjangnya, meringis kesakitan. “Ha, Hei kau tidak apa?!” Nadya panik dan memancing keributan. Paman yang melihat itu dengan tanggap menarik Hazel ke arah wastafel dan menghidupkan keran, air mengguyur tangan Hazel yang memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN